
"Wah ... wah! Tumben sang casanova minum sendirian tanpa ada wanita yang menemani," ucap sosok pria yang baru saja datang dan mendaratkan tubuh di dekat sahabatnya.
Pria yang tidak lain bernama Oscar Damian tadi mendapatkan telpon dari sahabatnya tersebut saat meracau ketika dikuasai oleh alkohol.
Jadi, ia segera datang ke tempat biasa yang selalu menjadi langganan mereka bertiga karena biasanya Mirza sangat susah diajak ke sana karena pekerjaan yang tidak memperbolehkan untuk minum-minuman beralkohol.
Sementara itu, Austin yang sudah menghabiskan satu botol minuman whisky dengan jenis Jameson Black Barrel.
Whisky dari Jameson, Black Barrel adalah favoritnya karena memiliki banyak tong bourbon dan sherry isi pertama dalam campuran, memberikan rasa yang jauh lebih kaya daripada Jameson biasa, dengan nada sherry yang kuat.
Kini Austin mengarahkan dagu ke arah botol minuman yang masih utuh. "Nikmati saja minumannya dan jangan banyak bicara karena aku saat ini sangat ingin menghabisi seseorang."
Kemudian Austin menuangkan minuman beralkohol tersebut ke dalam gelas yang sudah diberi potongan es batu. Ia hari ini benar-benar sangat marah karena ditolak oleh wanita yang membuatnya ingin merasakan nikmatnya bercinta.
Kemudian meneguknya hingga habis. Ia kali ini menoleh ke arah sahabatnya yang melakukan hal sama, tapi tidak langsung menghabiskannya karena hanya meneguk sedikit.
"Apa kau pernah bercinta dengan wanita?" Austin yang merasa kepalanya sangat berat kini bersandar di atas sofa karena saat ini berada di private room seperti biasa.
Sementara itu, Oscar yang baru kali ini mendengar pertanyaan bernada vulgar dari sahabatnya, jika kita tertawa terbahak-bahak karena merasa sangat aneh atas sikap tidak biasa yang ditunjukkan oleh seorang pria yang selama ini terkenal bergonta-ganti pasangan.
"Tumben kau bertanya seperti itu dan itu membuktikan bahwa selama ini kau tidak pernah membawa para wanita ke tempat tidur, bukan? Padahal kami semua berpikir bahwa kau sudah sering melakukannya dengan para kekasihmu."
Austin yang sudah menyangka dan tidak heran atas pemikiran semua orang padanya, kini hanya tertawa terbahak-bahak. Namun, ia tidak merasa heran saat semua orang berpikir seperti itu karena kebanyakan selalu menilai dari luar saja.
"Dasar bodoh! Aku memang sering berkencan dengan banyak wanita cantik dan seksi, tapi tidak berniat untuk bercinta dengan mereka semua. Kau tahu kenapa? Itu karena aku merasa sangat yakin jika mereka semua sudah tidak perawan."
Austin memang sangat menyukai para wanita yang cantik dan seksi, tapi dalam hati kecilnya berkata bahwa mereka semua bukanlah seleranya karena tidak mungkin hanya berkencan dengannya.
"Aku memang berengsek, tapi ingin mendapatkan seorang wanita yang polos untuk kunikahi dan menghabiskan waktu bersamaku hingga tua sampai ajal menjemput."
Saat ini, Oscar yang baru saja melihat sosok lain dari sahabatnya ketika mengungkapkan hal yang tidak pernah dipikirkan olehnya ataupun sahabat yang lain.
Selama ini, mereka mengetahui bahwa pria yang duduk dengan bersandar pada punggung sofa tersebut sudah dicap sebagai playboy dengan banyak wanita. Namun, tidak pernah menyangka hari ini bisa melihat isi hati dari seorang Austin Matteo.
Oscar ini bertepuk tangan sebagai bentuk apresiasi atas kejujuran dari sahabatnya yang sedang mabuk.
"Ternyata benar semua perkataan orang bahwa ketika mabuk, bisa mengatakan kejujuran tanpa ditutup-tutupi."
__ADS_1
'Sial! Seharusnya aku merekam kejadian hari ini agar bisa menjadi bahan ejekan saat besok ia sadar karena meracau akibat efek minuman,' gumam Oscar yang saat ini hanya bisa bergumam sendiri di dalam hati.
Akhirnya ia yang merasa sangat penasaran atas ulah sahabatnya karena seperti remaja yang tengah patah hati dan galau akibat diputuskan oleh cinta.
"Jadi, kau juga mempunyai keinginan untuk menikah? Aku pikir selamanya kau tidak akan mengakhiri masa lajang karena merasa sangat bahagia dengan semua yang kau miliki."
"Lagipula kau sering mengatakan pada semua orang tidak ingin menikah dan berakhir hanya dengan satu wanita. Lalu, Kenapa tiba-tiba dalam sekejap ingin menikah? Sepertinya ada satu wanita yang membuatmu berubah selemah ini."
Oscar yang tadinya duduk jauh dari sahabatnya, kini bergerak mendekat dan ingin semakin mengorek informasi yang membuatnya penasaran.
Karena ia yakin bahwa sahabatnya tersebut tidak akan berbicara saat dalam kondisi sadar. "Memangnya siapa wanita itu? Apakah Cinta, Meyra, Naila, Lara, atau ...."
Oscar segitiga menggelengkan kepala karena tidak jadi mengatakan nama wanita yang ada di pikirannya. "Aah ... tidak mungkin!"
'Wanita dengan penampilan kampungan itu tidak akan masuk dalam daftar anggota calon istri seorang Austin Matteo, kan?' gumam Oscar yang saat ini tengah bergumam sendiri di dalam hati karena tidak ingin jika sahabatnya mendengar umpatannya.
Sementara itu, Austin yang saat ini berusaha untuk menegakkan tubuh, menoleh ke arah sahabatnya yang masih tidak beranjak dari sebelah kirinya.
Ia memicingkan mata dan mengarahkan sebuah tinju pada lengan kekar dibalik kemeja berwarna hitam yang membalut tubuh sahabatnya.
"Kenapa tidak dilanjutkan? Kenapa nama Diandra tidak masuk dalam daftar yang kamu sebutkan? Padahal ia wanita yang membuatku ingin mengakhiri masa lajang. Kau pasti berpikir bahwa aku sudah gila, tapi ...."
"Aku sangat yakin seratus persen bahwa Diandra saat ini masih perawan dan belum pernah bercinta dengan siapapun. Sama sepertiku yang merasa jijik pada para wanita cantik dan seksi yang selalu mengumbar tubuhnya pada semua pria."
Oscar seketika menepuk jidat. "Astaga! Padahal kau adalah salah satu dari pria itu karena sangat menikmatinya, bukan?"
Oscar merasa sangat konyol mendengar perkataan sahabatnya yang sedang mabuk dan membuatnya kesal, sehingga ia meneguk habis gelas berisi minuman berwarna kecoklatan tersebut dan membasahi tenggorokannya hingga terasa panas.
Kini, ruangan yang selama ini menjadi tempat favorit mereka, sudah dihiasi oleh suara tawa Austin yang terbahak.
"Iya, kau memang benar karena aku salah satu dari pria yang sangat suka melihat keseksian para wanita saat mengumbar lekuk tubuh."
"Namun, hanya suka melihat bukan berarti suka memasuki. Aku jijik pada mereka karena berpikir bahwa mereka sering dimasuki!" Begitu menutup mulut, Austin meraih gelas yang berada di atas meja dan seketika melemparnya hingga bernasib nahas.
Kini, gelas yang sudah hancur berkeping-keping tersebut menghiasi lantai dan Austin mengarahkan jari telunjuk ke sana.
"Kau lihat gelas itu? Setelah seperti itu, mana mungkin bisa diperbaiki lagi. Itu ibarat para wanita yang sudah tidak perawan. Mereka sudah rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi. Aku masih perjaka tulen dan tidak ingin menerima barang bekas seperti mereka."
__ADS_1
Austin bangkit berdiri dari sofa dan menepuk dada berkali-kali untuk menunjukkan wibawanya. "Aku adalah pria yang menjaga keperjakaan sampai saat ini, jadi ingin menikah dengan wanita perawan."
"Itu adalah prinsip seorang Austin Matteo! Ingat itu baik-baik! Itulah kenapa aku tadi bertanya padamu, bagaimana rasanya bercinta? Aku sekarang ingin bercinta dengan wanita yang menolakku mentah-mentah."
Austin kini menatap telapak tangannya. "Padahal kelinci kecilku sudah berada di tanganku, tapi ia bisa lari dan aku tidak bisa menangkapnya."
Melihat ekspresi wajah sahabatnya yang seperti seorang aktor film peraih penghargaan karena sangat menghayati peran, sebenarnya membuat Oscar ingin tertawa terbahak-bahak karena tidak terbiasa melihat sikap lemah yang memperlihatkan kegalauan karena seorang wanita.
Namun, ia tidak mungkin melakukan hal gila itu karena mengetahui bahwa sahabatnya bisa berbuat apapun padanya.
'Konyol sekali melihatnya seperti seorang remaja galau karena diputusin oleh pacarnya. Jika aku menertawakannya, mungkin botol whisky tersebut mendarat ke kepalaku dan berakhir di rumah sakit dengan banyak jahitan di kepalaku.'
'Tahan diri untuk tidak menertawakan sahabatmu jika masih ingin selamat,' gumam Oscar yang kini bangkit berdiri dan berusaha untuk membantu duduk sahabatnya yang sudah semakin mabuk.
"Kau terlalu banyak minum hari ini dan membuatmu meracau tidak jelas. Lebih baik kita pulang. Aku akan mengantarkanmu dan mengambil resiko untuk diomeli oleh mamamu."
"Tidak! Aku tidak ingin pulang ke rumah. Mama pasti akan menjaga telingaku saat melihatku dalam keadaan kacau seperti ini. Antar aku ke apartemen karena ingin menenangkan diri di sana."
Austin segera bangkit dari tempat duduk dan tidak bisa berdiri tegak karena efek kepalanya terasa berat. "Aaah ... kepalaku rasanya seperti mau pecah."
Oscar seketika menahan beban tubuh sahabatnya yang jatuh terhuyung ke arahnya. "Astaga! Berat sekali. Lain kali jangan terlalu banyak minum karena menyusahkan orang lain yang mengantarmu pulang."
"Aku benar-benar heran bisa melihatmu patah hati karena ditolak oleh seorang wanita seperti Diandra. Sebenarnya apa yang menarik dari Diandra? Hingga membuatmu bisa berakhir sangat mengenaskan seperti ini."
"Apa keperawanan sangat penting buatmu? Bukankah pria dan wanita yang saling mencintai bisa sama-sama menerima kekurangan masing-masing tanpa memikirkan masa lalu?" Oscar mengungkapkan pemikirannya karena selama ini berpikir bahwa yang penting baginya adalah adanya kecocokan dengan pasangan.
Sementara Austin yang sudah berjalan sambil dipapah oleh sahabatnya, kini tidak berniat untuk menjawab pernyataan itu karena sibuk menutupi telinga.
Suara musik DJ yang memekakkan telinga, membuatnya ingin segera keluar dari sana dan begitu bisa tiba di tempat parkir, merasa sangat lega. Ia seketika melepaskan tangan sahabatnya lalu berlari dan langsung berjongkok.
Austin kini sudah mengeluarkan semua isi perutnya dan membuatnya lemas dan tidak langsung bangkit dari posisi.
Di sisi lain, Oscar saat ini tengah menatap siluet belakang sahabatnya dan geleng-geleng kepala.
Namun, karena ingin mengamati mengabadikan hal yang tadi tidak sempat dilakukan, ini segera mengambil konsep dan merekamnya sambil tersenyum karena mendengar suara teriakan pria yang patah hati karena ditolak seorang wanita.
"Diandra! Aku akan mendapatkanmu bagaimanapun caranya!" teriak Austin yang baru saja berdiri setelah muntah-muntah.
__ADS_1
Oscar yang masih merekam Apa yang dilakukan oleh sahabatnya, kini berkomentar, "Inilah sang Casanova yang terkena karma dari perbuatannya saat mempermainkan banyak wanita karena sekarang ditolak oleh wanita bernama Diandra."
To be continued...