Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Mencari tahu sendiri


__ADS_3

Beberapa hari setelah kejadian teror yang diterima oleh Austin dan langsung dilaporkan ke kantor polisi, kini terlihat ada beberapa bodyguard yang berjaga di rumah dan selalu membuntuti kemanapun Diandra pergi.


Austin memang tidak menyuruh Diandra pergi dengan bodyguard karena sang istri sangat risih dan akhirnya hanya menyuruh mereka untuk membuntuti dari belakang.


Austin bahkan sudah membelikan nomor baru, sedangkan nomor yang lama dipakainya dan sering mendapatkan video kecelakaan. Ia bahkan sering memblokir nomor baru yang selalu mengirimkan video kecelakaan dan diyakininya ingin membuat konspirasi untuk sang istri agar bisa mengingat tentang kejadian kecelakaan yang dialami hingga menyebabkan amnesia.


Akhirnya ia memilih untuk menonaktifkan nomor sang istri tanpa berniat untuk mencari tahu siapa yang mengirimkan video karena nomor-nomor itu selalu berganti seperti sekali pakai.


Austin yang saat ini baru saja melepaskan SIM card dari ponsel dan langsung mematahkannya karena marah. Ia bahkan tidak bisa menahan gejolak amarah yang membuncah di dalam hatinya saat ini ketika mengingat dua kemungkinan tentang siapa yang mengirimkan teror pada istrinya.


"Aku benar-benar akan menghabisi mereka jika sampai menyentuh sehelai rambut istriku." Ia yang selalu menghubungi sang istri untuk memastikan baik-baik saja, seperti sekarang, mau mencet tombol panggil.


Jika ia juga selalu menelpon para bodyguard untuk mengatakan selalu mengawasi sang istri, kali ini menelpon wanita yang sangat dicintainya tersebut tengah melakukan apa di rumah. Bahkan melarang untuk membukakan pintu dan menyuruh pelayan yang melakukannya karena khawatir jika mendapatkan paket seperti yang ia terima pada malam itu.


"Halo, Sayang." Diandra saat ini baru saja selesai berbicara dengan pelayan untuk menu makan malam hari ini, kini berjalan menuju ke ruang santai karena ingin beristirahat sebentar sambil menunggu jam pulang putranya.


Ia pesannya selalu menjemput putranya dengan mengemudikan mobil sendiri tanpa sopir dan dikawal oleh bodyguard yang diminta sang suami mengikuti kemanapun pergi.


"Kamu lagi apa, Sayang? Nanti seperti bahasa setelah menjemput Aksa, harus langsung pulang dan jangan mampir ke manapun, oke?" ucap Austin yang selalu menasehati sang istri agar tidak pergi berbelanja ataupun membeli yang lain demi keselamatan.


Diandra yang sebenarnya merasa sangat tidak nyaman ketika sang suami over protektif dengan alasan ada orang jahat yang berusaha untuk menyakitinya, tapi ketika ditanya siapa, hanya beralasan saingan bisnis yang ingin menyerang kelemahan agar menyerah untuk ikut bersaing dalam tender besar yang diincar oleh para pengusaha sukses.


Ia sebenarnya merasa ragu dengan jawaban dari sang suami, tapi tidak bisa membantah ataupun bertanya lebih jauh karena pria itu selalu mengelak jika ia membahas siapa rekan bisnis yang dimaksud.


"Iya, Sayang. Apa kamu tidak bosan selalu mengatakan itu padaku? Aku yang mendengarnya saja sudah sangat risi. Kamu seorang menganggap aku adalah anak kecil yang tidak paham dengan perintahmu karena setiap hari mengatakan itu." Diandra saat ini menatap jam dinding dan setengah jam lagi ia akan berangkat ke sekolah putranya.


Apalagi putranya sangat senang dan bahagia begitu mengetahui ia sudah berjalan kembali. Jadi, selalu meminta untuk dijemput secara langsung dan dipamerkan pada teman-teman sekolah bahwa sekarang mempunyai seorang ibu yang normal dan tidak cacat dengan duduk di kursi roda seperti dulu lagi.


Jadi, tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk menjemput putranya karena berangkat diantar oleh sang suami, sekalian ke perusahaan. Diandra saat ini mengejutkan bibirnya karena mendengar kalimat yang sama dari sang suami.


"Aku sebenarnya juga bosan mengingatkan hal seperti ini padamu, tapi untuk kebaikan istri sendiri, tidak akan pernah berhenti melakukannya. Sainganku itu bisa melakukan apapun untuk menyerang kelemahanku, yaitu kamu dan putra kita. Jadi, aku harap kamu mengerti, Sayang." Austin sudah merancang kejutan untuk sang istri yang dua hari lagi akan ulang tahun.


Ia berencana untuk merayakan di rumah dengan menggunakan jasa party karena khawatir jika pergi ke restoran ataupun hotel untuk makan makanan seperti tahun lalu, akan bertemu dengan orang-orang jahat yang mengincar istrinya.


"Sayang, dua hari lagi kamu ulang tahun, mau minta apa sebagai hadiah?" Ia sengaja bertanya seperti itu agar sang istri berpikir ia tidak membuat pesta kejutan. Padahal sudah merancang kejutan besar untuk wanita yang sudah kembali normal seperti dulu lagi tersebut.


Diandra merasa sangat kecewa karena malah ditanya dan tidak diberikan kejutan. Namun, sengaja tidak menunjukkannya karena mengetahui jika sang suami akhir-akhir ini memang sibuk dan pastinya tidak sempat memberikan surprise seperti satu tahun lalu.


"Aku tidak minta apa-apa karena sudah sangat bahagia memiliki kalian. Terserah kamu mau membelikan aku apapun, pasti akan dengan senang hati kuterima, Sayang." Saat Diandra baru saja menutup mulut, ia mendengar suara ketukan pintu dan di saat bersamaan kepala pelayan melangkah masuk.


"Maaf, mengganggu, Nyonya. Ada telpon dari pihak sekolah tuan Aksa. Sekarang disuruh ke sekolah karena ada insiden kecil yang menimpa tuan," ucap wanita paruh baya yang saat ini terlihat gelisah begitu mendapatkan telepon dari salah satu guru di sekolah.

__ADS_1


Diandra yang memang dibelikan nomor baru oleh sang suami, sehingga tidak ada yang diizinkan untuk mengetahui nomornya. Jadi, berpikir karena itulah, pihak sekolah dari putranya menelpon rumah saat mengabarkan tentang putranya.


Refleks ia bangkit berdiri dari sofa dengan raut wajah penuh kekhawatiran. "Insiden apa yang terjadi pada putraku? Apa kata gurunya?" Diandra ya saat ini merasa harus cepat berangkat ke sekolah, beralih berbicara dengan sang suami di telepon.


"Sayang, sudah dulu, ya! Aku akan berangkat ke sekolah Aksa untuk memeriksa apa yang terjadi!" Tanpa menunggu sang suami berbicara karena sudah dipenuhi oleh kekhawatiran, sehingga saat ini langsung mematikan sambungan telepon.


Ia Ini mendengar penjelasan dari pelayan yang berbicara pada intinya saja karena memang guru menceritakan poin penting mengenai insiden yang terjadi di sekolah.


"Tuan Aksa saat istirahat bermain dengan teman-temannya di ayunan, tapi karena ada yang cukup kuat mengayun, hingga membuatnya terjatuh dan terluka di bagian punggung. Saat ini sudah mendapatkan pengobatan dari pihak sekolah yang memanggil dokter. Tuan Aksa tidak berhenti menangis dan memanggil-manggil Anda, Nyonya."


Sang pelayan yang baru saja menyampaikan semua yang dikatakan oleh pihak sekolah, ini melihat majikannya tersebut terburu-buru keluar.


"Aku ke sekolah sekarang!" ucap Diandra yang saat ini langsung mengambil kunci mobil dan dompet di dalam laci ruangan kamarnya.


Ia bahkan sedikit berlari ketika menuju ke mobil dan tidak mempedulikan bodyguard yang dengan sigap mengikutinya dari belakang dengan mengendarai mobil berwarna hitam.


Selama dalam perjalanan menuju ke sekolah, ia memikirkan keadaan putranya yang pastinya kesakitan ketika terluka di bagian punggung."Sayang, sebentar lagi Mama tiba."


Ia bakal menambah kecepatan ketika mengemudi agar bisa segera tiba di sekolah putranya. Namun, ketika tiba di pusat kota, jalanan macet dan membuatnya merasa kesal karena lalu lintas padat merayap.


Diandra yang saat ini fokus menatap ke arah banyaknya mobil yang berjajar di hadapannya ketika macet, beberapa kali menghembuskan napas kasar dan memenuhi keheningan di dalam mobil.


"Kenapa hari ini sangat macet sekali? Ada apa sebenarnya?" Ia saat ini melirik ke arah spion di mana mobil bodyguard tepat berada di belakangnya.


Setelah beberapa menit berlalu, ia yang mengemudikan kendaraan dengan lirih dan lama-lama mulai normal lalu lintas, sehingga membuatnya sangat lega karena bisa menambah kecepatan menuju ke sekolah putranya.


Saat tiba di lampu merah, ia berhenti tepat di bagian paling depan sendiri dan menunggu hingga lampu hijau menyala. Namun, saat ia fokus menatap ke arah jalanan di depannya, seketika membulatkan mata ketika melihat kecelakaan hebat di perempatan yang melibatkan sebuah mobil dan truk.


Jantung Diandra seketika berdetak kencang melebihi batas normal dan membuat tubuhnya memanas begitu melihat kecelakaan tragis dari mobil sedan yang terbalik karena dihantam oleh truk besar.


Bahkan ketika tidak berkedip menatap kecelakaan tersebut, kepalanya terasa pusing dan membuatnya memegang ke pelipis. Hingga ia seketika memejamkan mata dan ada bayangan hebat yang terlintas.


Ia melihat bayangan seperti dirinya sedang berada di dalam mobil dan seperti dulu yang pernah sempat terlintas, yaitu masih mengenakan gaun pengantin dan tangannya digenggam erat oleh seorang pria.


Merasa ingin tahu siapa pria itu karena memastikan dan terus memejamkan mata serta mengingat dengan menoleh ke arah sebelah kanan untuk melihat siapa pria di balik kemudi yang memegang erat telapak tangannya.


Diandra yang masih memejamkan mata, saat ini seketika melihat sosok pria yang jelas-jelas bukan suaminya tersenyum padanya dan jantungnya berdetak sangat kencang begitu mengingat kejadian saat ia mengalami kecelakaan yang membuatnya merasakan kesakitan luar biasa karena hantaman dari belakang hingga membuat mobil terbalik.


Ia bahkan saat ini sudah berkeringat dingin dan wajahnya memerah karena dipenuhi oleh peluh yang mengalir di pelipis. Hingga seketika membuatnya membuka mata dan masih berdebar kencang jantungnya.


Saat belum bisa menormalkan perasaannya begitu mengingat momen kejadian ketika ia mengalami hal yang sama seperti mobil terbalik di hadapannya, indra pendengaran menangkap suara ketukan pintu mobil dan membuatnya menoleh.

__ADS_1


Ia seperti baru tersadar dari pingsan ketika menyadari suasana di sekitarnya sangat kacau dan macet, hingga mendengar klakson dari beberapa mobil yang memenuhi jalanan.


Apalagi kejadian kecelakaan tersebut tepat berada di perempatan lampu merah dan pastinya mengakibatkan jalanan macet parah dan diatur oleh beberapa relawan agar bisa lebih lancar.


Posisi Diandra yang berada di barisan paling depan sendiri, semakin membuat macet karena dari tadi tidak berjalan. Jadi, ada banyak kendaraan yang klakson.


Hal itulah yang membuat salah satu bodyguard keluar dari mobil dan menghampiri majikannya untuk melihat apa yang terjadi. "Nona Diandra."


Diandra yang saat ini menormalkan perasaan membuncah yang dirasakan, mengambil napas teratur dan berdehem sejenak. Kemudian membuka kaca mobil untuk bisa berbicara dengan bodyguard suruhan suaminya.


"Iya. Ada apa?"


"Biar saya yang mengemudikan mobilnya, Nona. Anda pasti sangat shock melihat kecelakaan di depan mata," ucap pria dengan mengenakan setelan berwarna hitam tersebut yang sangat mengkhawatirkan wanita dengan wajah pucat di balik kemudi.


Menyadari jika apa yang dikatakan oleh bodyguard benar, hingga membuat Diandra mengangguk lemah dan bergerak untuk pindah ke kursi sebelah kiri tanpa berniat untuk keluar.


Itu Karena ia merasa sangat lemas dan tidak ingin pingsan jika sampai berjalan memutar dengan keluar dari mobil, sehingga memilih untuk menggeser tubuhnya di sebelah setelah membuka pintu mobil agar bodyguard segera masuk ke dalam.


Ia bahkan saat ini masih bisa mengingat kecelakaan yang menimpanya, tapi belum bisa berpikir jernih saat ini.


Kini, ia melihat pria dengan tubuh tinggi besar tersebut sudah masuk ke dalam mobil dan mengemudikannya untuk meninggalkan area perempatan yang sangat macet itu.


Sementara itu, Diandra sama sekali tidak bersuara karena sibuk dengan pemikirannya mengenai ingatan yang sekilas muncul beberapa saat lalu. Bahkan belum bisa menormalkan perasaannya yang membuncah ketika ingatannya perlahan kembali.


Ia bahkan saat ini seperti melihat kecelakaan yang dialaminya ketika mobil terbalik itu ada seorang wanita di dalamnya. Bahkan merasa seperti mengalami Dejavu, seolah wanita di dalam mobil tersebut adalah dirinya yang dulu kecelakaan setelah menikah dengan pria yang kini diingatnya adalah Yoshi.


'Yoshi?' gumam Diandra yang saat ini hanya bertanya-tanya di dalam hati tanpa bersuara karena tidak ingin pria di sebelahnya tersebut mendengar keluh kesahnya dan juga mengetahui jika saat ini ingatannya perlahan kembali.


'Dulu aku mengalami kecelakaan di hari kami menikah saat berniat untuk pulang. Yoshi, ke manakah dia? Apa Yoshi masih hidup atau sudah meninggal?' Diandra saat ini bertanya-tanya tentang sosok pria yang dulu membuatnya menerimanya untuk menjadi suami meskipun sudah mengetahui jika bukanlah pria normal.


Hingga ia kini merasa sesak seperti susah untuk bernapas begitu menyadari apa yang terjadi di hidupnya karena ternyata menjadi istri dari seorang pria yang selama ini sangat dibencinya.


'Austin Matteo menjadi suamiku karena memanfaatkan amnesia yang kualami dan menipuku dengan mengatakan Aksa adalah putranya dari wanita lain?' Diandra saat ini mengepalkan tangan sebelah kiri dan memalingkan wajah agar tidak dilihat oleh pria yang fokus mengemudi di sebelahnya.


Ia bahkan saat ini menahan perasaan bergejolak yang dirasakan dan sangat yakin jika wajahnya sudah berubah memerah ketika mengingat tentang ingatannya yang sudah kembali.


Bahkan ia merasa sangat marah pada diri sendiri karena menyadari jika saat ini merupakan istri dari seorang Austin Matteo yang dari dulu sangat dibencinya karena telah membeli harga dirinya.


'Kenapa aku sangat bodoh karena mempercayai semua perkataan pria berengsek itu? Austin Matteo memanfaatkan amnesia yang kualami untuk menikahiku. Lalu apa yang terjadi pada Yoshi? Apa dia sudah meninggal? Aku harus mencari tahu sendiri,' gumam Diandra yang saat ini meraih ponsel miliknya dari gaun yang dikenakan.


Kemudian langsung mengetik ke mesin pencarian dengan mengetikkan nama lengkap Yoshi. Bahkan ia melakukannya dengan perasaan tidak karuan karena apa yang baru saja diingat hari ini membuatnya benar-benar sangat shock.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2