Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Kacau balau


__ADS_3

"Papa, jangan lepaskan selang oksigennya karena keadaan Papa masih belum stabil." Yoshi berniat untuk kembali memasangkan selang oksigen, tapi mendapatkan penolakan ketika sang ayah menahan tangannya.


"Tidak! Papa ingin berbicara hal serius sebelum semuanya terlambat. Papa ingin melihatmu menikah sebelum dipanggil Tuhan." Patrick berbicara dengan sangat lirih tapi masih terdengar sambil menatap ke arah putranya yang terlihat sangat terkejut.


Ia paham bagaimana perasaan putranya saat terkejut dengan apa yang baru saja diungkapkan. Namun, ia merasa yakin jika usianya sudah tidak lama lagi dan ingin melihat untuk yang terakhir kalinya saat putra satu-satunya menikah di depan matanya.


"Menikahlah dengan putri dari rekan bisnis Papa karena kami sudah membicarakan masalah perjodohan di antara kalian. Papa tidak mau mati sebelum melihatmu menikah. Ini adalah permintaan terakhir Papa."


Tentu saja saat ini Yoshi merasa sangat bingung untuk menanggapi permintaan dari sang ayah. Ia tidak mungkin langsung menceritakan mengenai keinginannya untuk menikahi Diandra karena khawatir jika mendengar itu, pria yang sangat disayanginya tersebut akan kembali terkena serangan jantung.


Apalagi ia tahu jika sang ayah selalu mementingkan rekan bisnis serta teman karena tidak pernah mengingkari janji dalam hal apapun.


'Apa yang harus kulakukan sekarang? Bagaimana aku bisa menikah dengan wanita yang bahkan sama sekali tidak kucintai. Bagaimana dengan nasib Diandra yang sangat membutuhkanku? Aku bahkan sangat mencintai Diandra dan hanya ingin menikahi dengannya.'


Saat Yoshi merasa sangat kebingungan untuk menanggapi perintah dari sang ayah yang akan mengungkit soal kematian, kini mendengar suara dari sang ibu serta dokter yang datang memeriksa.


"Tolong periksa keadaan suami saya, Dokter! Syukurlah suami sudah sadar," lirih Asmita Cempaka dan saat ini berniat untuk berbicara dengan sang suami.


"Sayang, apa yang kamu rasakan saat ini? Katakan semuanya pada dokter." Mengusap lembut lengan sama suami untuk memberikan aura positif agar merasa yakin akan sembuh dan tidak akan terjadi sesuatu hal yang buruk.


Sementara itu, dokter langsung memeriksa tanda-tanda vital dari pasien. Namun, membulatkan mata dan merasa sangat terkejut dengan perkataan dari pria paruh baya yang diperiksanya.


"Sayang, hubungi temanku dan katakan niatku untuk bisa melihat Yoshi menikah. Aku ingin melihat putraku menikah sebelum ajal menjemput," ucap Patrick yang sama sekali tidak memperdulikan sang dokter yang memeriksanya.


Sementara itu, Asmita Cempaka membulatkan mata karena sangat terkejut dengan keinginan dari sang suami dan juga sekaligus kalimat terakhir yang membuatnya seketika berurai air mata.

__ADS_1


"Sayang, jangan berbicara hal-hal buruk karena besok kamu akan dioperasi dan tidak akan terjadi sesuatu hal yang buruk padamu. Kamu panjang umur dan kita masih hidup bersama sampai bisa menimang cucu." Suaranya terdengar sangat serak karena berbicara dengan perasaan membuncah.


Bahkan ia saat ini menoleh ke arah sang dokter untuk mendapatkan sebuah dukungan. "Bukankah suami saya akan baik-baik saja, Dokter?" tanya Asmita Cempaka dengan masih berlinang air mata dan suara serak dipenuhi oleh kesedihan serta kekhawatiran.


Sementara itu, yang saat ini baru saja selesai memeriksa, menyuruh perawat untuk melakukan tensi darah.


"Kita akan mengetahuinya setelah hasil tes keluar, Nyonya. Tapi pasien tidak boleh banyak bicara dan harus beristirahat serta memakai terus selang oksigen agar tidak jadi terjadi sesuatu hal yang buruk."


Kemudian sang dokter melihat perawat yang tengah memeriksa tensi pasien dan menghembuskan napas berat begitu melihat hasilnya.


"Masih tinggi, Dokter," sahut wanita berseragam putih yang mencatat pada lembaran kertas mengenai laporan kesehatan pasien.


"Anda tidak boleh banyak pikiran, Tuan. Karena operasi akan sangat beresiko dilakukan jika tensi Anda terus tinggi." Kemudian berani menatap ke arah istri dan anak pasien. "Tolong hibur pasien agar tidak berpikir macam-macam dan kalau bisa turuti apapun keinginannya demi kebaikan."


Asmita Cempaka saat ini menoleh ke arah putranya untuk meminta jawaban atas keinginan dari pria yang sangat dicintainya tersebut.


"Sayang, bagaimana? Kamu bersedia kan menikah dengan putri dari rekan bisnis papamu?" tanya Asmita Cempaka yang saat ini menunggu jawaban dari putranya.


Berbeda dengan saat ini yang dipikirkan oleh Yoshi karena masih merasa bingung harus bagaimana. Ia pun berinisiatif untuk berbicara dengan dokter yang tadi memeriksa sang ayah agar bisa mengambil keputusan yang tepat.


Karena tidak ingin menyesal jika sampai salah mengambil keputusan. "Sebentar, Ma. Aku akan menemui dokter dulu untuk menanyakan keadaan papa."


Hingga ia pun mulai berjalan menuju ke arah meja sang dokter yang berada di sebelah kanan ruangan saya dengan perasaan berkecamuk dan langkah kaki yang lunglai.


Ia benar-benar sangat takut jika mendengar penjelasan buruk dari dokter, tapi tetap saja ingin mengetahui semua hal yang berkaitan dengan keadaan sang ayah demi bisa mengambil keputusan yang tepat.

__ADS_1


Begitu ia menghampiri meja sang dokter yang tengah duduk, seketika membungkuk hormat dan mengucapkan salam. "Dokter, tolong katakan mengenai keadaan dari papa saya."


Sang dokter yang baru saja memeriksa lembaran berisi laporan kesehatan pasien, kini menganggukkan kepala dan mempersilahkan pria tersebut duduk.


"Tentu saja saya akan menjelaskannya karena tidak mungkin mengatakan di depan pasien karena nanti malah akan semakin bertambah drop keadaannya," ucap pesan dokter yang kini kebetulan baru saja menerima amplop coklat berisi laporan pemeriksaan menyeluruh dari pasien.


"Saya barusan memeriksa laporan hasil dari tes kesehatan pasien dan memang harus segera dilakukan operasi untuk ayah Anda karena jantungnya sudah mengalami penyumbatan yang sangat beresiko kematian."


"Hanya saja, saat ini pikiran pasien tengah dikuasai oleh kekhawatiran luar biasa, sehingga tensinya sangat tinggi." Kemudian mulai jelaskan berbagai macam resiko dari tensi darah yang tinggi saat melakukan operasi.


"Jadi, kalau bisa, Anda harus menuruti apapun perintah dari ayah agar membuatnya senang dan bahagia, sehingga bisa menurunkan tensinya," ucap sang dokter yang saat ini menunjukkan hasil rontgen dan menjelaskan perihal jantung yang sudah bermasalah.


Yoshi yang saat ini sibuk mengepalkan tangannya yang gemetar karena dipenuhi oleh kekhawatiran pada dua orang yang sama-sama disayangi olehnya.


'Diandra, apa yang harus kulakukan sekarang? Aku ingin menghubungimu dan mengatakan apa yang kualami saat ini? Tapi kamu pasti akan sangat terluka, lalu aku akan membuatmu kembali bersedih.'


'Tidak, kamu tidak boleh tahu tentang semua ini. Bahwa aku terpaksa harus memenuhi keinginan papa untuk menikah dengan wanita yang bahkan sama sekali tidak kucintai,' lirih Yoshi yang saat ini menghembuskan napas kasar dan bangkit berdiri dari kursi.


"Terima kasih, Dokter. Saya akan melakukan apapun demi kesembuhan papa. Tolong lakukan yang terbaik untuk papa saya agar bisa kembali sembuh seperti sedia kala."


Kemudian ia bangkit kembali mengucapkan salam dan membungkuk hormat, lalu berlalu pergi meninggalkan pria berseragam putih tersebut dengan perasaan kacau balau.


To be continued...


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2