
Orang tua Diandra sebenarnya mengerti jika apa yang saat ini dikatakan oleh ibu Austin hanyalah sebuah alasan untuk menunda pernikahan. Hal itu dikarenakan harus menunggu proses perceraian selesai.
Tidak mungkin Austin bisa langsung menikahi Diandra saat masih berstatus sebagai istri Yoshi. Jadi, hal terbaik agar Diandra tidak curiga adalah membawa berobat ke luar negeri putri mereka tidak akan mengetahui jika pernah menikah dengan Yoshi.
Sang ibu kini ingin memberikan pengertian pada putrinya agar tidak berpikiran buruk pada calon ibu mertua yang dianggap sangat baik karena masih mau menerima sebagai menantu perempuan di keluarga Matteo meski dalam keadaan cacat.
"Diandra, kenapa berbicara tidak sopan seperti itu pada calon ibu mertuamu? Padahal mereka mengupayakan semua yang terbaik untukmu. Apalagi kami tidak punya apapun untuk bisa membayar biaya rumah sakit serta terapi agar kamu bisa berjalan lagi."
"Jadi, tolong hargai usaha orang lain dan jangan banyak protes seperti anak kecil." Ia bahkan merasa geram pada putrinya yang dianggap tidak bisa menghargai orang yang lebih tua.
Apalagi tidak bisa membaca niat baik Austin dan orang tua yang telah menerima putrinya tanpa memandang kasta rendahan yang tentunya jauh di bawah mereka.
Diandra saat ini merasa tertampar dengan kalimat pedas dari sang ibu dan kebingungan untuk menanggapi karena merasa bersalah dan menatap ke arah wanita yang terlihat sangat cantik dan elegan meskipun sudah tidak lagi muda.
"Maafkan saya karena tidak bermaksud untuk berpikir buruk atau tidak tahu berterima kasih. Saya hanya ...." Ia tidak bisa melanjutkan perkataan begitu mendengar tanggapan dari wanita yang hanya tersenyum padanya sambil menggelengkan kepala.
"Jangan membuat suasana di antara kita menjadi kaku karena saat ini ingin lebih hangat dan kekeluargaan." Lina Rosmala saat ini merasa bersalah karena tadi sempat membuat ketegangan antara ibu dan anak, sehingga ingin memperbaiki ketidaknyamanan yang saat ini melanda.
"Aku ingin bisa berbicara dengan santai tanpa ada ketegangan di antara kita semua." Kemudian beralih menatap wanita paruh baya di sebelahnya. "Jangan memarahi putrimu yang baik ini."
"Bahkan putraku sangat tergila-gila padanya. Jika sampai Austin mengetahui bahwa wanita yang dicintai dimarahi habis-habisan gara-gara ulah ibunya, pasti akan mendiamkanku karena kesal saat membuat hubungan ibu dan anak renggang."
Ibu Diandra yang tadinya marah pada putrinya karena selalu saja bersikap sesuka hati, saat ini makin merasa tidak enak pada sosok wanita dengan paras cantik tersebut.
"Sepertinya aku akan membela jika nak Austin melakukannya. Putriku memang selalu seperti ini karena dari dulu suka membantah saat tidak sesuai dengan pikirannya. Jadi, sebagai orang tua harus mengingatkan jika itu salah."
"Jika dibiarkan berbuat salah, nanti akan menjadi kebiasaan dan tidak ingin nak Austin menjadi korban keegoisan putri kami." Bahkan saat berbicara, menatap tajam pada putrinya agar mau berubah menjadi seorang wanita yang lebih lembut.
Sang ayah saat ini berpikir bahwa semua yang dikatakan oleh sang istri memang benar adanya, sehingga langsung mendukung. "Apa kamu dengar itu, Diandra? Kamu seharusnya bisa membacanya baik orang lain untukmu. Bukan malah mengungkapkan nada protes seperti itu."
"Kami jadi malu karena keluarga nak Austin yang telah banyak membantu kita keluar dari masalah. Jika tidak ada mereka, sudah dipastikan kamu tidak akan berada di ruangan perawatan terbaik seperti ini."
Menyesal selalu terjadi belakangan dan dirasakan oleh Diandra saat merasa bersalah pada calon ibu mertua yang tadi ditanggapi dengan wajah murung.
__ADS_1
"Iya, Ayah. Aku menyadari telah melakukan kesalahan dan tidak akan mengulangi hal seperti ini lagi dan akan melakukan apapun seperti yang diperintahkan oleh Austin."
Meskipun begitu, ia saat ini tengah berpikir bahwa sosok wanita yang ada di hadapan tersebut seperti tengah merahasiakan sesuatu.
Namun, tidak ingin bertanya karena khawatir dianggap curiga. 'Kenapa aku merasa sikap semua orang sangat aneh? Mereka semua tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku, bukan?'
Diandra saat ini masih berakting tersenyum pada ibu dari Austin dan berharap apa yang ditakutkan tidak benar. Bahwa tidak ada yang menyembunyikan apapun padanya.
'Mungkin ini hanyalah perasaanku semata karena efek dari kecelakaan yang kualami dan tidak bisa membuatku berjalan lagi. Rasanya sangat asing, tapi semoga kekhawatiran tidak berdasar,' gumam Diandra yang saat ini ingin bertanya pada calon ibu mertua yang terlihat sangat hangat padanya.
"Apakah saya boleh bertanya mengenai menantu idaman versi Anda? Aku ingin menjadi istri yang pantas untuk Austin. Meskipun bukan dalam faktor finansial karena bukanlah seorang wanita karir hebat yang bekerja dengan gaji tinggi."
Sebenarnya ia tidak percaya diri bersanding dengan putra dari wanita di hadapannya tersebut, tapi luluh dengan semua yang dilakukan oleh Austin.
Ketulusan yang ditunjukkan oleh Austin seolah berhasil mengalahkan prinsip hidup yang dipegang teguh olehnya. Bahwa dari dulu tidak ingin menikah terpaksa karena keadaan.
Namun, setelah mengalami kecelakaan dan berakhir tidak berdaya, sehingga seperti merasa kehilangan tujuan hidup dan langsung menyerahkan diri ketika ada yang melamar.
Apalagi pria itu adalah seorang pimpinan di tempatnya bekerja yang pastinya akan bisa menyelesaikan semua masalah yang dihadapi oleh orang tua, yaitu terlilit utang.
Saat Lina Rosmala hendak menanggapi pertanyaan dari Diandra, mendengar suara bariton pria paruh baya yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Apakah tidak apa-apa jika kami meninggalkan Anda di sini karena ingin pergi ke kantin?" tanya ayah Diandra yang sebenarnya ingin ibu dari Austin berbicara empat mata agar bisa berbicara secara secara tenang.
Lina Rosmala seketika menganggukkan kepala dan tersenyum simpul. "Silakan saja. Aku akan berada di sini sampai suamiku kembali dari kantor nanti. Jadi, tenang saja, aku akan menjaga calon menantuku ini dengan baik."
Saat ini, orang tua Diandra sama-sama tersenyum simpul.
"Baiklah kalau begitu. Kami pergi dulu untuk mencari makanan." Ibu Diandra kini memberikan kode pada sang suami agar segera keluar dari ruangan perawatan dan membiarkan ibu dari Austin berbicara dengan tenang tanpa ada gangguan.
Berpikir mungkin bisa lebih akrab jika hanya berdua saja di dalam ruangan perawatan tersebut.
Kemudian pria paruh baya yang mengerti, langsung melangkah menuju pintu keluar bersama sang istri.
__ADS_1
Hingga Diandra dan Lina Rosmala saling bersitatap. Keduanya seolah bingung untuk memulai pembicaraan.
"Tidak perlu memakai bahasa formal ketika berbicara denganku karena kita tidak akan bisa akrab." Lina Rosmala memutuskan untuk berbicara seperti yang diinginkan.
Berharap Diandra tidak lagi menganggapnya seperti orang lain. "Kamu akan menjadi calon menantu satu-satunya di keluarga kami. Jadi, bukankah sudah sewajarnya menganggapmu sebagai putri sendiri?"
"Lagipula dari dulu aku ingin mempunyai anak perempuan, tapi tidak bisa. Jadi, sekarang merasa sangat bahagia ketika putraku sudah menemukan wanita yang dicintai setelah terpuruk selama bertahun-tahun."
Diandra yang saat ini menyipitkan mata karena kalimat terakhir wanita paruh baya tersebut seolah membuatnya dikuasai rasa penasaran dan ingin tahu.
"Aku benar-benar senang dan sangat bersyukur karena mempunyai calon mertua yang baik dan mau menganggap seperti putri kandung sendiri. Apakah bisa menceritakan mengenai apa yang membuat Austin terpuruk."
Jika selama ini hanya mengetahui bahwa Austin sering berhubungan dengan banyak wanita tanpa memakai perasaan, tiba-tiba mengingat jika pria itu baru saja mengungkapkan rahasia.
"Apakah ini berhubungan dengan putra Austin? Karena tadi sudah mengetahui setelah ia jujur saat mengatakan mempunyai seorang anak laki-laki dan membutuhkan figur seorang ibu."
Diandra masih ingin mendengarkan penjelasan mengenai anak laki-laki itu yang merupakan darah daging Austin serta wanita yang telah melahirkannya.
Sebenarnya tadi Lina Rosmala sudah mendapatkan pesan dari putranya agar mengarang cerita sesuai dengan apa yang diputuskan.
Bahwa Austin tadi menyuruh untuk mengatakan jika wanita yang merupakan ibu dari Aksa sama sekali tidak memperdulikan semenjak melahirkan karena lebih fokus pada karir dalam dunia keartisan di luar negeri.
Meskipun pada awalnya merasa bahwa kebohongan putranya terlalu berlebihan, tapi karena tidak ada pilihan lain, sehingga menyampaikan cerita penuh kepalsuan pada wanita yang terlihat sangat bersemangat untuk mendengarkan cerita darinya.
"Kami sebenarnya selama ini sudah banyak mencarikan jodoh untuk Austin, tapi sama sekali tidak tertarik untuk menjalin hubungan dengan wanita lain karena tidak percaya diri saat memiliki seorang putra yang sangat disayangi.
"Bahkan dulu putraku mengatakan tidak ingin memberikan ibu tiri pada Aksa, sehingga memilih lajang hingga usia terbilang tua. Namun, setelah bertemu denganmu, Ternyata semuanya berubah karena putraku berbicara dengan ayahnya untuk merestui pernikahan kalian."
"Sepertinya putraku sudah menemukan sosok ibu yang baik untuk Aksa. Cucuku itu bernama Aksa dan sangat menggemaskan."
Diandra yang dari tadi mendengarkan cerita calon ibu mertua tersebut, merasa aneh ketika mendengar sebuah nama yang baru saja disebutkan.
"Aksa? Kenapa aku merasa aneh ketika mendengar nama yang seperti sangat familiar di telinga "
__ADS_1
Di saat bersamaan, Diandra seketika menoleh ke arah pintu yang baru saja terbuka dan mendengar suara.
To be continued...