
Diandra yang seketika mengangkat pandangan, kini bisa melihat sosok pria dengan kaos casual berwarna putih dan celana pendek sudah berdiri menjulang di hadapan.
Refleks ia bangkit berdiri dan membenarkan pertanyaan pria yang ditebaknya adalah kekasih dari wanita yang ditolongnya.
"Tuan Yoshi?" tanya Diandra mendapatkan sebuah anggukan kepala sebagai tanda bahwa ia benar.
Sementara itu, sosok pria berusia 29 tahun, bernama Yoshi Zaydan Narendra dengan wajah penuh kekhawatiran, seketika memberikan banyak pertanyaan pada sosok wanita yang berdiri di hadapannya.
"Bagaimana keadaan Nauraku? Ia tidak terluka parah, kan? Apa dokter belum keluar untuk memberikan penjelasan? Lalu bagaimana kronologi kecelakaannya?"
Yoshi yang merasa sangat khawatir, sampai melupakan untuk mengucapkan terima kasih pada wanita yang sudah menolong tersebut. Ia kini mendengarkan penjelasan wanita yang menceritakan kronologi kejadian hingga berada di rumah sakit saat ini.
Masih dengan wajah penuh kekhawatiran juga sampai terjadi hal buruk pada bagian kepala, ia saat ini tidak sabar untuk bisa segera mengetahuinya.
Yoshi tadinya ingin langsung masuk ke ruangan IGD karena untuk melihat keadaan wanita yang disayanginya tersebut. Namun, tidak jadi melakukannya begitu mendengar suara dari wanita yang terlihat memegangi perut.
"Tuan, bolehkah saya titip tas sebentar karena ingin pergi ke toilet. Oh ya, sampai lupa." Kemudian Diandra membuka tas miliknya dan mengambil ponsel, lalu menyerahkan pada pria yang diakuinya memiliki paras rupawan.
"Ini ponsel dari nona Naura. Saya sudah tidak tahan, jadi titip tas dulu." Tanpa menunggu jawaban dari pria yang berdiri di hadapan, Diandra segera berlari ke toilet yang ada di sebelah kanan IGD.
Sementara itu, Yoshi saat ini terdiam sambil menatap siluet wanita yang berlarian dan membuatnya geleng-geleng kepala.
Ia baru kali ini melihat seorang wanita yang bersikap apa adanya tanpa jaim seperti kebanyakan wanita yang dikenalnya. "Ia pasti sudah tidak tahan lagi, hingga berlari terbirit-birit seperti dikejar hantu."
Yoshi akhirnya tidak jadi masuk ke IGD dan berdasarkan tubuhnya di kursi yang ada di sebelah kanan ruangan pertolongan pertama tersebut. Ia yang saat ini memegang ponsel, segera memeriksa apakah ada sesuatu yang mencurigakan.
Ia membaca beberapa pesan mengalihkan perhatian begitu mendengar suara dering ponsel dari dalam tas dan mengetahui bahwa itu milik wanita yang baru saja pergi ke toilet.
Yoshi sama sekali tidak berniat untuk mengangkatnya dan membiarkan hingga wanita itu kembali. Namun, sering ponsel tersebut terus berbunyi meskipun tidak diangkat karena sudah tiga kali menelpon.
Karena ia berpikir bahwa mungkin itu adalah telpon penting dan khawatir jika ada sesuatu yang terlewatkan, padahal wanita itu sudah sangat baik hati menolong, sehingga membuatnya ingin membalas budi dengan mengangkatnya.
Yoshi saat ini langsung menggeser tombol hijau ke atas dan berniat untuk membuka mulut karena ingin mengatakan bahwa pemilik ponsel sedang berada di toilet, tapi tidak jadi melakukan itu karena suara di seberang telpon berbicara panjang lebar.
"Halo, Nak. Bagaimana? Apa kamu sudah mendapatkan pinjaman untuk biaya operasi ayahmu? Ibu tidak bisa memutuskan jika belum ada uangnya. Bagian administrasi pun sudah bertanya mengenai biayanya. Ibu saat ini benar-benar bingung, Nak."
__ADS_1
Yoshi saat ini hanya terdiam mendengarkan dan tanpa sengaja mengetahui apa yang sedang dialami oleh wanita yang dianggapnya sangat baik karena sudah menolong orang yang tidak dikenal.
"Diandra? Apa kamu masih di sana, Nak. Maafkan Ibu karena membuatmu harus pusing memikirkan orang tua yang tidak berguna karena selalu menyusahkan putrinya."
Suara bergetar dan terdengar menyayat hati serta menjadi sebuah tangisan kini didengar oleh Yoshi saat ini. Entah mengapa ia merasa sangat trenyuh mendengar seorang ibu yang sangat merasa bersalah pada putrinya.
Padahal itu semua karena keadaan yang memaksa dan bukan disengaja. Ia yang selama ini hidup bergelimang harta tanpa merasakan susahnya menjadi orang miskin, seketika membuatnya ingin membantu wanita yang telah menjadi Dewi penolong itu.
Dengan berdehem sejenak sebelum berbicara, Yoshi pun mulai memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi. Karena ia tanpa sengaja mengetahui nama wanita itu tanpa bertanya, kini mulai membuka suara.
"Maaf, Nyonya. Saya adalah temannya Diandra. Saat ini, Diandra sedang berada di toilet. Tadi ia menyelamatkan seorang yang mengalami kecelakaan, jadi kami saat ini berada di rumah sakit."
"Oh ... maaf karena langsung berbicara panjang lebar. Kalau begitu, nanti saya aku menelpon lagi," ucap Laksmi Mustika yang hendak mematikan telepon karena merasa sangat malu telah mempermalukan putrinya di depan teman.
Yoshi seketika menjawab karena ingin mengatakan sesuatu. "Tunggu, Nyonya. Karena tadi saya mendengar kabar mengenai ayah Diandra yang membutuhkan biaya untuk operasi, saya bisa membantu dengan meminjamkan uang. Memangnya berapa yang dibutuhkan untuk biaya operasinya?"
Sementara itu di seberang telpon, sosok wanita paruh baya yang saat ini seketika menangis tersedu-sedu begitu mendengar tawaran baik dari teman putrinya.
Ia bahkan sampai tidak bisa berkata apa-apa karena merasa sangat terharu bisa berbicara dengan orang baik yang berniat untuk menolong orang miskin sepertinya yang bahkan tidak punya jaminan apa-apa untuk membayar utang.
Sementara itu, Yoshi yang saat ini menatap ke arah ponsel karena tidak mendengar lagi suara dari seberang telpon dan memastikan bahwa sambungan masih belum terputus.
"Halo! Nyonya? Apa Anda masih di sana?" tanya Yoshi yang kini menunggu jawaban dari seberang telpon dan begitu mendengar suara serak biar bisa dipastikan saat ini tengah menangis, membuatnya mengerti.
"Iya, aku masih di sini. Hanya saja, merasa sangat terharu dengan kebaikanmu, Nak. Terima kasih karena mau meminjami kami uang. Padahal kami hanyalah orang miskin yang tidak mempunyai jaminan apa-apa untuk digadaikan."
Laksmi Mustika yang saat ini mengusap bulir air mata di wajahnya, merasa sangat lega karena bisa membuat sang suami segera dioperasi.
Sementara itu, Austin yang tidak ingin membuang waktu dan ingin segera menolong, menanyakan hal penting. "Memangnya, berapa uang yang Anda butuhkan dan tolong kirimkan nomor rekeningnya agar bisa segera saya transfer."
"Seratus lima puluh juta, Nak. Kami mungkin seumur hidup akan mencicilnya karena sadar bahwa uang sebanyak itu tidak bisa didapatkan dengan mudah, tapi tanpa tahu malu malah meminjamnya."
Sementara itu, Yoshi saat ini tahu bahwa bagi kalangan menengah ke bawah, uang sebanyak itu memang sangat mustahil didapatkan. Namun, baginya tidaklah sulit.
Ia berniat untuk mengambil uang dari tabungan pribadi tanpa melibatkan perusahaan.
__ADS_1
"Jangan dipikirkan masalah itu, Nyonya. Yang terpenting sekarang adalah ayah Diandra bisa segera dioperasi dan sembuh. Saya tunggu nomor rekeningnya. Saya tutup dulu karena ada dokter yang ingin berbicara dengan saya."
Yoshi segera bangkit berdiri dari kursi setelah mematikan sambungan telepon tanpa mendengarkan jawaban dari wanita itu dokter keluar dari ruangan gawat darurat.
"Apa Anda adalah kerabat dari pasien wanita yang baru saja mengalami kecelakaan?" tanya seorang pria dengan seragam biru.
"Iya, Dokter. Bagaimana keadaannya?" Yoshi yang masih memegang ponsel sambil menenteng tas, kini terlihat wajahnya penuh dengan kekhawatiran.
Sang dokter yang awalnya mengamati apa yang dibawa oleh pria di hadapannya, kini beralih menjelaskan tentang kondisi pasien yang baru saja ditangani.
"Pasien mengalami gegar otak ringan karena efek terbentur pada kemudi saat kecelakaan. Tapi semuanya tidak terlalu parah karena segera dibawa ke rumah sakit. Tolong Anda urus pendaftaran dan administrasi agar bisa segera dipindahkan ke kamar yang dipilih."
Kemudian sang dokter berbalik badan untuk kembali ke dalam ruangan gawat darurat.
Sementara itu, Yoshi yang berniat untuk segera ke ruang pendaftaran dan mengurus administrasi untuk memilih kamar, kini mendengar suara notifikasi dari ponsel yang saat ini berada di tangan kanannya.
Kini, ia membacanya dan melihat pesan dari wanita yang tadi dihubungi telah mengirimkan nomor rekening. Tanpa membawa waktu, Yoshi langsung mentransfer sejumlah uang yang tadi disebutkan.
Berpikir bahwa ia melakukan itu sebagai bentuk balas budi pada wanita yang telah menolong sepupunya. Kemudian mengembalikan ponsel ke dalam tas milik wanita itu dan berjalan menuju ke arah ruangan administrasi untuk mengurus semuanya.
Sementara itu di depan toilet, Diandra meringis menahan rasa nyeri pada perut. "Kenapa aku tiba-tiba sakit perut begini? Perasaan aku tadi tidak makan yang aneh-aneh."
Diandra yang masih memegangi perutnya sambil meringis menahan rasa nyeri, ini menepuk jidat saat mengingat bahwa tadi siang ia makan nasi uduk yang dibeli pada pagi hari.
"Sepertinya karena aku makan nasi yang sudah dingin karena memang harusnya untuk sarapan, bukan makan siang. Apalagi tadi sayurnya tidak dipisah dan langsung tercampur nasi."
Diandra yang berjalan menuju ke arah IGD, kini mengerutkan kening karena tidak melihat pria yang tadi duduk di sebelah kanan ruangan tersebut.
"Ke mana pria yang bernama Yoshi itu? Apa tadi dokter memangilnya?" Karena tidak kuat berdiri lebih lama, kini Diandra segera mendengarkan tubuh di kursi dan memilih untuk menunggu sampai pria yang tadi ia titipi tas kembali.
Diandra yang merasa perutnya tidak nyaman, kini masih memikirkan mengenai bagaimana caranya mendapatkan uang untuk biaya operasi sang ayah.
Karena tidak ingin menjadi anak yang durhaka dan tidak peduli pada orang tua, ia kini mengambil keputusan, meskipun dirasa berat.
"Baiklah, aku akan menghubungi bajingan berengsek itu untuk mendapatkan uangnya, agar ayah bisa segera dioperasi. Keperawananku tidaklah semahal nyawa ayah," lirih Diandra yang kini memutuskan untuk menjadi seorang wanita hina demi bisa menjadi putri berbakti.
__ADS_1
To be continued...