
Diandra pagi ini bangun pagi-pagi sekali terasa lebih fresh dan pikiran jauh lebih tenang karena semalam ia banyak membahas mengenai beberapa hal, mulai dari kehidupannya kehidupan Yoshi.
Ia merasa seolah beban yang selama ini berada di pundaknya seolah menghilang setelah mengungkapkan semua hal yang dirasakan pada pria itu. Bahkan tidak merasa malu lagi pada pria yang sudah mengetahui segala hal mengenai dirinya.
Diandra benar-benar merasa sangat nyaman berada di sisi Yoshi dan berharap akan membuatnya bisa selalu bersama pria sebaik itu.
Ia tidak ingin mengukir harapan setinggi mungkin dengan berharap pria itu akan tetap bersamanya karena khawatir jika realitanya tak seindah ekspektasi.
Mungkin ia memang berpikir jika memiliki seorang suami seperti Yoshi, hidupnya akan dipenuhi kebahagiaan karena pria sebaik itu sangatlah langka di zaman sekarang.
Namun, ia sadar diri jika menikah tidaklah semudah membalikkan telapak tangan karena harus menyatukan dua hati dan dua keluarga. Bahkan belum apa-apa saja ia sudah merasa tidak percaya diri karena merasa bagaikan bumi dan langit jika bersanding dengan Yoshi.
Hingga ia pun tidak ingin terbuai dengan semua kebaikan pria itu dan sadar diri agar tidak berharap lebih meskipun mengetahui jika Yoshi sudah mengajaknya untuk menikah.
Setelah bersiap, ia kini telah rapi dan berniat untuk berangkat ke kantor dengan naik ojek online. Hari ini memang tidak berencana untuk memasak karena sangat malas dan berencana untuk makan di kantin saja.
Setelah ia memastikan penampilannya sudah rapi dan tidak ada yang kurang, Diandra keluar dari kamar dengan membawa tas jinjing miliknya.
"Semoga pekerjaan di hari ini berjalan dengan lancar," ucap Diandra yang saat ini tengah berdoa sebelum berangkat dan keluar dari apartemen.
Jika sebelumnya ia takut keluar sendirian, sekarang merasa percaya diri dan tidak takut lagi jika sewaktu-waktu Austin datang.
Ia berpikir Austin tidak akan bisa berbuat macam-macam padanya jika berteriak dan meminta tolong pada siapapun yang dilihatnya. Bahkan setelah Yoshi berkali-kali bilang akan menjadi malaikat pelindung untuknya, sehingga ia merasa sedikit lega dan yakin jika pria itu akan selalu ada untuknya.
Kini, ia pun mulai berjalan menuju ke arah lift dan saat memencet angka satu, mendengar notifikasi dari ponsel miliknya. Begitu membuka tas dan tersenyum simpul membaca pesan dari seseorang yang dianggap adalah Dewa penyelamatnya.
Aku sudah berada di bawah. Turunlah. Kita berangkat bersama ke kantor karena rumahku dengan apartemen Naura sejalan.
Diandra tadinya berpikir bahwa Yoshi tidak akan datang menjemputnya karena semalam tidak ada perbincangan mengenai berangkat bersama. Ia pun sebenarnya juga merasa tidak enak jika berangkat bersama pemimpin perusahaan.
Pasti akan ada banyak gosip yang menerpanya dan membuatnya tidak bisa bekerja dengan tenang. Namun, ia berubah pikiran dengan tidak memikirkan pandangan orang-orang karena menjadi sempurna di mata orang itu tidak akan pernah bisa.
Diandra akhirnya fokus pada hidupnya tanpa memikirkan pandangan orang lain, sehingga kali ini tidak menolak kebaikan dari Yoshi yang ingin menjemputnya dan mengajak berangkat ke kantor bersama.
"Pasti Yoshi sangat khawatir padaku jika si berengsek itu tiba-tiba datang dan menggangguku. Apalagi ia mempunyai kekuasaan yang bisa dengan mudah mencari di mana keberadaanku. Tapi aku sekarang sudah tidak takut lagi padanya karena ada Yoshi di sisiku."
Diandra keluar dari lift begitu pintu pintu besi tersebut terbuka dan membulatkan mata saat pemandangan pertama yang dilihatnya adalah pria yang langsung melambaikan tangan padanya.
"Kenapa ke sini? Kenapa tidak menunggu di mobil saja karena aku akan keluar?" Diandra geleng-geleng kepala saat melihat Yoshi sudah berada di depan lift dan menunggunya.
__ADS_1
Seolah menunjukkan kekhawatiran jika ia berjalan sendiri keluar dari apartemen dan merasa jika sikap Yoshi sangat berlebihan karena terlalu mengkhawatirkannya.
Yoshi saat ini hanya tertawa melihat respon Diandra yang terkejut. Tadi ia memang khawatir jika sampai tiba-tiba ada Austin yang datang ke apartemen dan menculik Diandra.
Memang semalam ia berbicara pada pihak keamanan yang bertanggung jawab di area apartemen dengan menunjukkan foto Austin dan melarang masuk ke area apartemen dengan alasan membahayakan salah satu penghuni.
Namun, tetap saja tidak bisa menghilangkan kekhawatirannya pada Diandra. Jadi, tadi sengaja berangkat lebih awal agar bisa menjemput wanita itu. Apalagi semalam tidak mengatakan ingin berangkat bersama.
Jadi, ia khawatir jika sampai terlambat datang dan Diandra sudah terlebih dulu berangkat ke kantor.
"Aku dari semalam memikirkan mengenai ancaman Austin padamu, tapi tidak menemukan kira-kira apa rencana pria itu." Saat Yoshi baru saja menutup mulut, ia seketika tersenyum simpul begitu mendapatkan pujian dari wanita yang menarik hatinya.
"Tentu saja kamu tidak menemukan rencana pria itu. Karena kamu bukanlah seorang pria bajingan seperti Austin. Jadi, sangat susah menebak isi pikiran pria yang memiliki watak licik," umpat Diandra yang berjalan di sebelah Yoshi dengan menatap ke arah parkiran untuk mencari mobil pria itu.
Namun, ia tidak menemukan mobil yang semalam dan mengerutkan kening begitu berjalan ke arah mobil sport berwarna merah menyala.
Bahkan dia berkali-kali mengerjapkan matanya melihat mobil mewah yang sering dilihat di televisi dan mengetahui bahwa harganya sangat fantastis. Seperti silau kedua matanya melihat semua kemewahan yang dimiliki oleh Yoshi dan membuatnya makin tidak percaya diri.
Apalagi berada di samping seorang pria hebat serta berasal dari keluarga konglomerat, sudah dipastikan nasibnya akan seperti di film-film yang tidak mendapatkan restu dari orang tua.
Apalagi para orang tua pasti akan memikirkan bibit bebet bobot unggul untuk anaknya. Sementara ia, berasal dari keluarga sederhana yang bahkan untuk berubah saja tidak ada uang dan harus menjual diri terlebih dahulu.
Bahkan mungkin jika orang tuanya mengetahui hal itu, ia akan berakhir melihat sang ibu bunuh diri karena tidak ada ibu di dunia ini yang bisa melihat putrinya hancur karena menjual diri demi pengobatan sang ayah.
Ia memang sengaja memakai mobil kesayangannya yang jarang di gunakan karena berharap Diandra bisa mengakui kehebatannya lebih dari Austin.
Jujur saja ia sebenarnya merasa khawatir jika sampai Austin berhasil merebut Diandra dengan memanfaatkan kelemahan wanita itu. Bahkan ia takut jika Diandra lemah hati dan merasa seperti wanita yang diperjuangkan oleh seorang pria.
Jadi, berpikir Diandra mungkin akan luluh atas semua perbuatan Austin karena berpikir memiliki ikatan batin setelah bercinta.
Hal itulah yang membuatnya kemarin sampai mengatakan mengajak menikah. Hal yang membuatnya ingin melindungi Diandra sekaligus memiliki wanita yang telah membuatnya jatuh cinta.
Namun, sadar bahwa ajakannya untuk menikah terlalu cepat dan membuatnya berakhir ditolak. Bahwa fisiknya yang terbilang jauh dari kata kekurangan serta materi yang pastinya tidak bisa diremehkan, bahkan tidak bisa membuat seorang wanita mengatakan iya ketika ia melamar.
Mungkin jika wanita lain, akan langsung bilang setuju tanpa pikir panjang. Hal itulah yang menjadi perbedaan antara wanita lain dengan Diandra dan membuatnya hanya menginginkan wanita itu.
Apalagi harus bersaing dengan seorang CEO muda seperti Austin Matteo yang pastinya akan sering bertemu dalam dunia bisnis. Ia mengerutkan kening karena melihat Diandra seolah ragu-ragu untuk masuk ke dalam.
"Ada apa? Kenapa tidak langsung masuk?" tanya Yoshi yang saat ini masih menunggu di sebelah wanita yang seolah enggan untuk beranjak dari tempat berdiri.
__ADS_1
"Lain kali jangan pakai mobil ini lagi karena aku benar-benar merasa seperti hanya akan mengotori atau bahkan membuat lecet mobil mewah ini." Diandra bahkan tidak berani untuk sekedar menyentuh mobil itu.
Bahkan jika boleh memilih, ia lebih suka naik ojek online yang menurutnya jauh lebih efisien dan tidak terjebak macet.
Namun, karena terlanjur dijemput dengan mobil mewah, sehingga membuatnya segera masuk ke dalam dan duduk dengan sangat berhati-hati seolah takut jika jok berwarna merah itu akan rusak karena beban tubuhnya.
'Ternyata seperti ini rasanya naik mobil mewah? Bukannya merasa senang dan bangga pernah duduk di kursi mobil mewah ini, yang ada malah ketakutan jika sampai merusaknya.'
'Meskipun Yoshi tidak akan pernah meminta pertanggungjawaban dariku dengan meminta uang, tetap saja rasanya tidak pantas dan aneh duduk di dalam mobil mewah seperti ini. Apalagi pasti biaya perawatan sangat mahal dan gajiku setahun tidak cukup.'
Diandra bahkan kini bisa melihat Yoshi masih berada di luar mobil karena memang belum ditutup pintunya. "Ada apa?"
Yoshi sebenarnya tengah menutupi kebodohannya karena tidak bisa memahami perasaan seorang Diandra yang benar-benar merasa tidak nyaman berada di dalam mobilnya.
'Dasar bodoh! Aku malah terkesan pamer pada Diandra yang tidak suka kemewahan. Kenapa aku tidak memikirkan matang-matang tadi? Akhirnya Diandra malah ilfil padaku.'
Lamunan Yoshi seketika buyar begitu mendengar pertanyaan dari Diandra. "Maafkan aku karena membawa mobil ini saat menjemputmu. Besok, aku tidak akan membawanya lagi."
Kemudian ia berjalan memutar dan segera masuk ke dalam setelah beberapa saat lalu menutup pintu mobil di sebelah Diandra. Hingga ia pun merasa sangat lega karena kekhawatirannya tidak berlaku.
"Tidak perlu meminta maaf. Aku tahu bahwa kamu membawa mobil ini karena mobil yang kemarin, pasti kamu bawa ke tempat service untuk membetulkan sabuk pengamannya, kan? Aku tadi lupa dan baru mengingatnya saat memakai sabuk pengaman ini."
Diandra menunjukkan sabuk pengaman yang sudah dikenakan, tapi sebenarnya memang ia benar-benar tidak nyaman duduk di mobil mewah itu. Hingga ia merasa bersalah saat melihat raut wajah dari Yoshi yang seperti merasa tidak enak padanya.
Jadi, ia mencoba untuk mengalihkan perhatian pria di balik kemudi tersebut dengan menguraikan suasana penuh ketegangan di antara mereka.
"Kamu pasti tidak pernah merasakan naik bus atau kendaraan umum, kan? Karena setiap hari naik mobil mewah yang sangat diimpikan oleh banyak orang."
Sementara itu, Yoshi yang sudah terbiasa mendengar pertanyaan bernada pernyataan dari Diandra karena memang sering mendapatkannya dari beberapa teman dekat.
Bahkan merasa bahwa pertanyaan mereka sangat mewakili orang-orang yang berpikir bahwa hidupnya sangatlah makmur tanpa ada kekurangan sama sekali.
Padahal setiap hari harus mendengar kalimat-kalimat tidak enak didengar seperti hidup nyaman karena sponsor dari orang tua yang berasal dari keluarga konglomerat.
Seolah semua kerja kerasnya tidak akan pernah dilihat oleh orang lain. Bahkan meskipun ia belajar giat hingga berhasil mendapatkan gelar, tidak membuatnya mendapatkan pujian itu adalah murni hasilnya.
Hal yang sangat lazim pada pemikiran banyak orang itu sebenarnya sangat mengganggunya, tapi tidak mungkin ia akan berteriak ataupun marah-marah karena ada banyak orang yang menginginkan berada di posisinya saat ini.
"Kamu salah! Tentu saja aku pernah naik bus." Yoshi tidak melanjutkan perkataannya karena bergumam sendiri di dalam hati.
__ADS_1
'Aku pernah naik bus saat berada di London ketika liburan ke tempat kakek.'
To be continued...