Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Berbicara dengan dokter


__ADS_3

Yoshi saat ini masih berada di dalam ruangan dengan menatap kosong ke arah dinding yang menghiasi tempatnya beristirahat selama ini. Ia kakak saat ini seperti orang yang tidak punya arah karena belum kunjung mendapatkan ponsel.


Ia bahkan tadi meminta tolong pada cleaning service untuk membelikan ponsel agar bisa menghubungi orang-orang. Bahkan sebelumnya sudah mencatat beberapa nomor penting sebelum sang ibu tadi pergi membawa ponselnya.


"Mama, semoga baik-baik saja dan tidak mengalami masalah karena perbuatan Austin Matteo. Mama bahkan sudah tua dan seharusnya mendapatkan hidup dengan bahagia di rumah tanpa mengkhawatirkan apapun, tapi yang terjadi malah sebaliknya."


"Mama harus terlibat masalah di usia yang sudah paruh baya dan sama itu gara-gara aku." Yoshi yang saat ini menghembuskan napas kasar karena memikirkan nasib dari sang ibu yang selama ini merawatnya dengan baik ketika tidak sadarkan diri selama di rumah sakit.


Ia mana memutar otak untuk membuat seorang Austin Matteo mencabut tuntutan pada sang ibu. "Apa yang harus kulakukan agar mama terbebas dari hukuman?"


Saat memikirkan segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah wanita yang telah melahirkannya tersebut, kini terbersit hal yang tengah muncul secara tiba-tiba di otaknya.


Namun, ia resep menghilangkan kepala karena ragu akan melakukan hal itu demi menyelamatkan sang ibu dari penjara. "Tidak, bukankah itu sangat kejam?"


Ia saat ini berusaha untuk memenuhi pikirannya dengan energi positif agar tidak melakukan hal segila itu. Bahkan berpikir jika melakukan apa yang saat ini terbersit di kepalanya, membuatnya merasa seperti seorang pria jahat.


"Aku benar-benar sudah gila karena memiliki ide seperti ini!" sarkas Yoshi yang saat ini memijat pelipis karena merasa pusing dan mencoba untuk menghilangkan ide yang ada di kepalanya saat ini.


"Bagaimana mungkin aku berpikir untuk menculik Diandra demi bisa menyelamatkan mama agar Austin mencabut tuntutan." Ia saat ini terdiam selama beberapa saat karena berpikir apakah ia akan melakukan itu atau membiarkan sang ibu berada di penjara.


Ia saat ini masih merasa bimbang apa yang harus dilakukan untuk bisa membuat sang ibu terbebas dari hukuman yang dikarenakan tuntutan Austin.


"Apakah aku harus melakukan ini karena terpaksa untuk menyelamatkan mama?" Austin bahkan saat ini masih merasa bingung harus bagaimana.


Apakah ia akan melakukan hal sekilah itu demi menyelamatkan sang ibu, masih membuatnya ragu dan bimbang. Hingga ia tidak berhenti memijat kepalanya karena saat ini otaknya benar-benar terforsir dan membuatnya pusing.


Bahkan ia berpikir jika itu adalah satu-satunya cara untuk bisa membuat sang ibu selamat dari hukuman. Kini, ia mengembuskan napas kasar saat berada di ruangan yang penuh dengan kesunyian tersebut.


"Apakah aku harus melakukannya demi menyelamatkan Mama dari hukuman? Aku tidak bisa membiarkan Mama menjalani hukuman di penjara hanya gara-gara aku." Ia saat ini menatap kosong ke arah pintu yang dari tadi ditunggunya terbuka dan melihat cleaning service membawa pesanannya karena membutuhkan ponsel segera untuk menghubungi seseorang.


Berpikir jika harus menyelesaikan semua masalah yang terjadi karena disebabkan dirinya, sehingga berniat untuk berbicara dengan dokter agar bisa segera keluar dari rumah sakit.


Ia saat ini bergerak perlahan untuk menurunkan kakinya. "Apakah aku bisa berjalan karena sudah lama tidak menggerakkan kakiku? Aku terlalu lama koma dan pasti otot-otot belum bekerja."


Dengan berusaha untuk menguatkan diri, ia berpegangan kuat pada ranjang perawatan untuk bisa menapakkan kakinya di lantai. Hingga ia pun saat ini merasa sangat kesusahan hanya untuk berdiri menopang beban tubuhnya.


Bahkan peluh membanjiri pelipisnya saat ini dan membuatnya seperti baru melakukan lari maraton saja. "Kenapa hanya untuk berdiri saja sangat sulit dan harus membuatku berpegangan kuat pada ranjang. Bagaimana mungkin aku bisa berjalan jika seperti ini?"


"Aku tidak mungkin akan diizinkan keluar dari rumah sakit dalam kondisi seperti ini," lirih Yoshi yang saat ini berusaha untuk melangkah dengan masih menopang beban berat tubuhnya pada ranjang perawatan.


Hingga ia benar-benar tidak kuat, sehingga membuatnya seketika kembali ke ranjang dan mengemaskan tubuhnya di sana. "Ternyata benar apa yang aku takutkan."


"Semuanya benar-benar seperti mati rasa dan otot-ototku sudah lama tidak bekerja, sehingga seperti tidak punya tenaga untuk sekedar berdiri maupun melangkah. Apa yang harus kulakukan sekarang?" ucapnya yang saat ini melihat pintu terbuka dan berpikir jika cleaning service datang membawa pesanannya.


Namun, ternyata bukan seperti yang dipikirkan yang karena saat ini terlihat seorang dokter dan perawat datang dan kebetulan ada yang ingin ditanyakan olehnya.


Sang dokter yang tadinya hendak memeriksa pasien untuk mengecek keadaannya, mengerutkan kening begitu melihat pria di hadapannya duduk di tepi ranjang.


"Apa Anda berusaha untuk turun dan berjalan?" tanya sang dokter yang kini seolah mengerti apa yang dilakukan pria itu dan ternyata benar karena langsung menganggukkan kepala.

__ADS_1


Yoshi seketika menatap ke arah kedua kakinya dan menyentuh beberapa kali, tapi bisa merasakannya dan tidak mati rasa. Jadi, berpikir jika ia tidak lumpuh.


"Dokter, apa yang terjadi pada kedua kakiku? Kenapa aku tidak bisa berjalan? Apakah aku saat ini lumpuh? Ataukah ini karena efek koma yang sangat lama?" tanya Yoshi yang saat ini ingin penjelasan dari dokter agar membuatnya mengetahui semua yang terjadi padanya.


Sementara itu, sang dokter yang kini melihat raut wajah penuh kekhawatiran dari pasien yang sudah lama ia tangani, berjalan mendekat dan menepuk lengan kekar pria yang memakai seragam Rumah Sakit tersebut.


"Anda tidak perlu khawatir karena itu merupakan sebuah hal yang wajar bagi pasien yang baru saja bangun dari tidur panjang. Itu semua karena otot-otot yang tidak pernah dilatih, sehingga tidak berfungsi dengan baik ketika Anda langsung mengajak untuk bekerja, yaitu berjalan tadi."


Ia saat ini memegang bagian bawah pria itu untuk memastikan pemikirannya benar. "Ini masih berfungsi dan tidak mati rasa, kan jika disentuh seperti ini? Saat dipijat seperti ini, masih terasa, kan?"


Refleks Yoshi menganggukkan kepala karena ia tahu jika apa yang tadi dipikirkannya benar dan didukung oleh penjelasan sang dokter yang membuatnya merasa lega.


"Lalu, apa yang harus saya lakukan untuk bisa berjalan lagi seperti biasanya, Dokter?" Ia bahkan dari tadi tidak mengalihkan perhatiannya dari kedua kaki.


Ia saat ini benar-benar ingin keluar dari rumah sakit dan kembali ke Jakarta untuk bisa menemani sang ibu yang mengalami masalah dan mungkin akan tinggal di kantor polisi selama proses pemeriksaan.


Kini, sang dokter memeriksa tanda-tanda vital dari pasien sebelum menjelaskan agar tidak ada kekhawatiran berlebihan karena itu merupakan sebuah hal yang wajar dialami oleh pasien yang baru saja sadar dari koma.


"Anda bisa melatih otot-otot seperti melakukan gerakan ringan dan juga olahraga agar perlahan-lahan mulai bekerja dan bisa berfungsi dengan baik. Semua itu dibutuhkan proses dan Anda harus bersabar melewatinya karena yang terpenting sekarang adalah anda sudah bangun dari tidur panjang."


Sang dokter kini berbicara dengan perawat agar mencatat apa yang ingin Ia sampaikan mengenai kondisi pasien yang baru saja diperiksanya.


Sang perawat pun boleh mencatat poin-poin penting yang baru saja didengar.


Sementara itu, Yoshi memang mengakui jika perkataan dari sang dokter benar, tapi ia berpikir tidak akan bisa berlama-lama di sana hanya dengan menunggu kabar dari sang ibu.


Ia yang saat ini sibuk dengan pemikirannya mengenai keputusan yang akan diambil, kini memilih untuk bertanya pada dokter karena masih ada di hadapannya.


"Dokter, ada yang ingin saya tanyakan."


"Iya?" Sang dokter saat ini terdiam sambil menatap ke arah pria yang terlihat fokus dan membuatnya berpikir ada sesuatu hal yang penting yang ingin disampaikan padanya.


Yoshi saat ini terdiam karena tengah mengumpulkan energi untuk menceritakan apa yang terjadi dan rencananya. "Dokter, saya berniat untuk pulang ke Jakarta dan melakukan terapi di sana. Saya harus menyelesaikan masalah yang terjadi dalam keluarga."


"Mungkin untuk sementara akan memakai kursi roda dan setelah urusan saya selesai, baru akan memikirkan kondisi kaki ini. Anda pasti sudah mendengar apa yang terjadi pada ibu saya tadi." Yoshi saat ini berharap sang dokter mengiyakan permintaannya dengan mengizinkan ia kembali ke Jakarta.


Meskipun harus memakai kursi roda, ia tidak mempermasalahkan hal itu karena yang terpenting sekarang bisa kembali ke Jakarta untuk menemani sang ibu berada di kantor polisi saat diperiksa.


Saat ini, karena masih memikirkan permintaan pria tersebut. Ia sebagai dokter selama ini berusaha untuk menyembuhkan total pasien, tapi permintaan hari ini membuatnya merasa harus mempertimbangkan dengan baik.


Apalagi ini menyangkut nama baiknya serta rumah sakit dan membuatnya tidak bisa gegabah mengambil keputusan. Memang tadi mendapatkan kabar dari salah satu perawat mengenai ibu pria itu yang pergi bersama dengan dua polisi.


Meskipun tidak tahu wanita paruh baya tersebut terjerat kasus apa, sebenarnya tidak ingin ikut campur ataupun mencari tahu. Namun, karena pasien saat ini membuatnya harus mengambil keputusan penting, sehingga bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"Mungkin saya akan mempertimbangkannya setelah mengetahui semuanya," ucap sang dokter yang saat ini berharap pria tersebut mengatakan semuanya agar ia bisa mengambil keputusan penting untuk pasien yang seharusnya tidak boleh keluar dari rumah sakit karena belum pulih sepenuhnya.


Jika terjadi sesuatu hal yang, pastinya nama baiknya serta rumah sakit akan tercemar dan berdampak buruk bagi siapapun yang bekerja di sana.


Yoshi merasa jika masalah pribadi tidak perlu diumbar ataupun diceritakan pada orang lain, tapi berpikir jika saat ini perlu melakukannya karena itu demi bisa keluar dari sana dan menyelamatkan sang ibu, sehingga mulai menceritakan semuanya.

__ADS_1


Berharap sang dokter mengizinkan ia keluar dari rumah sakit agar bisa kembali ke Jakarta dan melakukan segala cara untuk membebaskan sang ibu dari tuntutan Austin Matteo.


"Jadi, seperti itu ceritanya, Dokter. Saya benar-benar tidak tega melihat ibu harus menjalani hukuman sendirian. Itu semua dilakukannya demi saya. Jadi, saya harus pergi dan kembali ke tanah air untuk menemaninya."


"Tidak masalah saya harus menggunakan kursi roda, setelah masalah selesai, akan melakukan latihan seperti yang anda katakan agar bisa berjalan kembali." Yoshi saat ini menyatukan kedua tangan dan menampilkan wajah penuh pengharapan agar keinginannya dipenuhi oleh sang dokter ia saat ini masih terdiam seolah memikirkan keputusan.


Sementara itu, sang dokter mengerti semuanya karena mengetahui jika wanita paruh baya tersebut selama ini dengan baik menjaga sang putra.


Bahkan selalu bersabar, serta yakin jika suatu saat putra semata wayang sadar. Kini, ia terdiam selama beberapa saat untuk mengambil keputusan. Hingga beberapa saat kemudian membuka suara untuk menanggapi permintaan pasiennya tersebut.


"Baiklah. Anda bisa keluar dari ruang rumah sakit dengan surat dari saya. Hanya saja, sebelumnya anda harus menandatangani surat perjanjian yang menyatakan tidak akan menuntut jika terjadi sesuatu hal pada Anda," ucap sang dokter yang saat ini melihat perubahan wajah pasien.


Wajah yang tadinya murung karena dipenuhi oleh kekhawatiran memikirkan keadaan sang ibu, kini berubah berbinar penuh kelegaan karena bisa keluar dari rumah sakit untuk menemani wanita yang selama ini berjasa pada hidupnya.


"Terima kasih, Dokter. Saya tidak akan pernah melupakan jasa Anda dalam hidup saya. Saya benar-benar tidak bisa membalas kebaikan anda yang selama ini menangani saya dengan baik. Sekali lagi terima kasih atas semuanya." Ia bahkan tidak berhenti membungkuk untuk mengungkapkan terima kasihnya pada pria berseragam putih tersebut.


Apalagi saat ini sudah merasa lega karena akhirnya bisa menjadi anak yang berguna untuk sang ibu.


"Iya, Anda bisa pulang besok dengan memesan tiket terlebih dahulu. Saya akan mengurus semuanya dan setelah itu Anda menandatangani surat perjanjian yang diberikan oleh pihak administrasi nantinya."


"Lebih baik sekarang Anda beristirahat untuk memulihkan tenaga. Oh ya, apakah Anda akan pulang sendirian? Bukankah ibu Anda sudah kembali ke tanah air?" Sang dokter sebenarnya merasa iba karena pria itu saat ini sendirian berada di ruangan perawatan tersebut setelah sang ibu dibawa oleh para polisi.


Sementara itu, Austin saat ini menggandengkan kepala karena berniat untuk menunggu sampai kepala pelayan datang dan menemaninya. "Tidak, Dokter. Saya akan kembali ke tanah air setelah pelayan saya datang."


"Dia yang akan menggantikan ibu saya untuk menjaga di sini, tapi lebih baik kembali ke Jakarta agar bisa menemaninya saat berada di kantor polisi. Saya tidak bisa berdiam diri di sini hanya untuk menunggu kabar mengenai ibu saya."


Austin mengakhiri apa yang ia pikirkan begitu melihat cleaning service yang tadi ia suruh sudah datang membawa paper bag berisi ponsel pesanannya.


" Baiklah kalau begitu. Semoga semua berjalan lancar sesuai dengan keinginan Anda." Kemudian sang dokter berbalik badan dan berlari pergi meninggalkan pasien.


Ia sekilas melirik ke arah cleaning service yang menghubungi hormat padanya ketika berjalan masuk.


Sementara itu, Yoshi seketika berbinar wajahnya dan membuatnya ingin segera memeriksa ponsel baru yang dibelikan oleh cleaning service tersebut.


"Tuan, ini ponselnya bisa langsung dipakai karena tadi pegawainya sudah mengatur semuanya agar memudahkan Anda." Menyerahkan paper bag di tangannya.


Kini, Yoshi seketika tersenyum melihat benda pipih yang baru saja dikeluarkan dari kotak tersebut. "Terima kasih karena mau kurepotkan."


"Ini kartunya, Tuan." Kembali mengulurkan kartu kredit yang tadi diambil dari dalam dompet miliknya.


Sementara itu, Yoshi saat ini menerima kartu kredit miliknya yang tadi dikatakan oleh sang ibu berada di laci.


Ia bahkan mendapatkan uang dari sang ibu untuk berjaga-jaga jika ingin sesuatu. Kini, ia mengambil dompet miliknya dari laci dan mengambil beberapa lembar uang, lalu memberikannya pada pria tersebut yang sudah menolongnya.


"Ini untukmu. Terima kasih karena sudah mau membantuku. Nanti aku akan meminta bantuanmu lagi jika membutuhkannya." Yoshi kini meminta nomor ponsel pria itu agar ia bisa dengan mudah menghubungi jika nanti membutuhkan bantuan lagi.


"Siap, Tuan." Kemudian langsung menyebutkan nomor ponselnya dan dicatat oleh pria ya sudah memberikannya beberapa lembar uang yang menurutnya sangat banyak dan berlebihan, tapi benar-benar membuatnya senang karena bisa mendapatkan tambahan.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2