
"Tolong jelaskan padaku mengenai apa yang terjadi di antara kita bertiga. Apakah aku adalah orang ketiga dalam hubungan kalian? Lalu, apa yang kulakukan di masa lalu?" Austin bahkan merasa seperti orang bodoh di hadapan pria dan wanita itu.
Karena sama sekali tidak tahu apapun tentang apa yang terjadi karena efek kecelakaan yang dialami. "Aku mengalami kecelakaan tiga tahun lalu dan mengalami amnesia disosiatif. Aku tidak bisa mengingat memori beberapa tahun sebelum kecelakaan."
Sementara di sisi lain, Diandra sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaan dari Austin karena berpikir harus menyembunyikan semua kenyataan tentang jati diri Austin.
'Aku tidak akan mengungkapkan kebejatannya dulu demi Aksa,' gumam Diandra di dalam hati.
Merasa ingin menyelesaikan semuanya karena ia merasa sesak berada di dalam satu ruangan bersama pria penyebab hancur masa depannya, Diandra kini menatap ke arah sosok pria yang ingin dimanfaatkan untuk membantunya lolos dari Austin.
Ia memberikan sebuah kode pada Yoshi dan berharap pria itu mengerti apa yang diinginkannya. 'Semoga Yoshi tidak mengacaukan aktingku untuk mengelabuhi Austin.'
"Ya, sebenarnya kami saling mencintai dan kamu adalah pria berengsek yang telah membuat kami berpisah. Kamu memang mencintaiku, tetapi aku tidak pernah mencintaimu. Kecelakaan yang menimpamu adalah hukuman untuk bajingan sepertimu."
Austin yang masih belum paham karena penjelasan Diandra kurang jelas dan terkesan ambigu. "Maaf, tapi apa kamu bisa menjelaskan lebih detail padaku?"
"Aku tidak akan pernah menjelaskannya karena sangat membencimu!" sarkas Diandra yang beralih menatap ke arah Yoshi. "Aku ingin berbicara berdua denganmu."
Refleks Yoshi menganggukkan kepala dan merasa senang karena Diandra mau berinteraksi dengannya seperti dulu. Apalagi ada banyak hal yang ingin disampaikan pada wanita yang masih sangat berarti di hatinya.
"Baiklah. Kita pergi sekarang! Ada banyak hal yang harus kamu ketahui." Yoshi menunggu Diandra berjalan keluar terlebih dahulu.
__ADS_1
Sementara itu, Diandra yang merasa harus segera pergi dari ruangan yang membuatnya merasa sesak, melangkahkan kaki jenjangnya menuju pintu keluar dan melihat Yoshi membuka pintu untuknya.
"Diandra, tunggu! Jelaskan padaku dulu tentang masa lalu kita agar aku bisa memperbaiki semuanya!" teriak Austin yang berusaha untuk mengejar pria dan wanita itu.
Ia masih butuh banyak penjelasan mengenai masa lalunya dan tidak ingin kehilangan wanita yang tahu tentang sesuatu yang membuat kepalanya sakit.
"Kamu tidak bisa pergi begitu saja karena aku masih membutuhkanmu untuk menceritakan semuanya, agar aku mengingatnya." Namun, saat ia sudah melalui pintu keluar, merasakan kepalanya yang nyeri dan berpegangan pada dinding sambil memijat pelipis.
"Aaarrh ... kenapa rasanya sangat nyeri seperti ini saat aku tadi berusaha untuk mengingat wanita bernama Diandra itu?" Masih meringis menahan rasa nyeri di kepalanya.
Austin menatap siluet sosok wanita yang kembali membuatnya sakit kepala karena ia mencoba untuk mengingat masa lalunya. Namun, hanya rasa sakit yang membuat kepalanya serasa mau pecah.
Sementara itu, Diandra yang tadi menoleh ke belakang untuk menatap Austin, kini mengerutkan kening.
"Apa dia sakit kepala karena efek kehilangan ingatannya?" tanya Diandra yang kini menatap Yoshi mengulurkan kedua tangannya.
"Sepertinya begitu. Itu adalah karma dari perbuatannya padamu, Diandra. Sini, biar aku membantumu menggendong putramu agar bisa cepat keluar dari restoran. Agar Austin tidak bisa mengejar kita." Yoshi menunggu persetujuan dari Diandra dengan perasaan khawatir ditolak.
Ia merasa mengalami Dejavu seperti bertemu dengan Diandra untuk pertama kali dan menghadapi sifat dingin wanita itu.
'Jadi ini rasanya Dejavu? Aku benar-benar harus berhati-hati pada Diandra agar tidak membuatnya ilfil padaku,' gumam Yoshi yang kini mendengar suara Diandra.
__ADS_1
"Ya, kamu benar. Baiklah. Tolong gendong putraku." Kemudian Diandra berniat untuk memberikan putranya. Namun, bocah laki-laki berusia 2 tahun itu pun sudah menangis tersedu-sedu karena tidak ingin lepas darinya.
"Aaah ... sepertinya putraku tidak mau."
Diandra kini sibuk mendiamkan putranya agar tidak menangis. "Iya ... iya, Sayang. Jangan menangis ya. Aksa sama Mama terus. Kita pergi dari sini dan pergi membeli mainan sekarang, ya."
Karena merasa lega, Aksa kini sudah berhenti menangis dan menganggukkan kepala tanda.
Tanpa mempedulikan Austin yang masih memegangi kepalanya, Diandra berjalan keluar dan ingin segera meninggalkan restoran.
Apalagi ia tidak ingin Austin sampai mengetahui tentang jati diri putranya. Diandra membuka pintu mobil dan mendengar suara bariton dari Yoshi.
"Diandra!" Yoshi kini melihat Diandra masuk ke dalam mobil berwarna hitam dan mengerutkan kening.
Tadi ia berpikir jika Diandra naik taksi dan berniat untuk mengantarkan dengan mobilnya, tapi merasa aneh saat wanita itu ternyata telah berubah total penampilan serta memiliki kendaraan pribadi.
"Bukankah kamu ingin bicara denganku? Aku pun ada banyak hal yang ingin kusampaikan padamu." Yoshi masih berusaha agar Diandra mau berbicara dengannya.
Meskipun sebenarnya ia tahu jika Diandra tadi hanya memanfaatkannya untuk menghindar dari Austin semata.
Sementara itu, Diandra yang ingin menguraikan kesalahpahaman, kini menggelengkan kepala. "Maafkan aku, Yoshi. Aku buru-buru. Tadi aku hanya menipu Austin dengan menggunakanmu. Maaf. Aku harus segera pergi."
__ADS_1
To be continued...