
"Apa yang sebenarnya terjadi, Diandra?" tanya Citra yang tadi dihubungi oleh pelayan dan mengatakan jika Diandra berteriak di dalam kamar dan tentu saja membuatnya langsung pulang ke rumah setelah selesai dengan urusan mengecek pekerjaan pegawai di kebun teh.
Ia yang masih bisa melihat ponsel milik Diandra teronggok di lantai dengan nasib mengenaskan. Bahkan saat ini bisa melihat raut wajah memerah dan rambut berantakan dari sosok wanita yang tengah hamil itu.
Diandra yang merasa sangat marah, kini langsung mengingat sosok pria yang merupakan suami wanita itu dan membuatnya langsung menceritakan tentang apa yang dilihat.
Ia pun meminta agar menghubungi sang suami agar tidak menemui Austin karena tidak ingin mengemis pada pria yang dianggap sangat berengsek itu.
Akhirnya Citra yang baru selesai berbicara dengan sang suami, kini duduk di samping Diandra dan berusaha untuk menenangkan wanita itu. "Tenanglah, Diandra. Semuanya akan baik-baik saja."
Ia ingin memberikan sebuah ketenangan untuk wanita itu agar tidak mengandalkan emosi begitu mengetahui kenyataan sebenarnya mengenai pria yang hendak dituntut pertanggungjawaban dari janin yang ada di dalam rahim.
Diandra saat ini berpikir bahwa takdir tidak pernah berpihak padanya, tapi selalu dikuasai oleh orang-orang yang punya kekuasaan. "Kenapa nasibku selalu berakhir buruk seperti ini, Nyonya? Apa terlalu banyak dosa yang kulakukan, hingga membuatku selalu tidak beruntung seperti ini?"
"Aku tidak pernah menginginkan hamil benih pria brengsek itu dan juga menuntut pertanggungjawaban darinya, tapi semesta seolah menertawakanku." Diandra melepaskan seluruh keluh kesah di dalam hatinya karena jujur saja ia sangat lelah menghadapi kehidupan yang membuatnya harus rela menderita dengan jatuh bangun berkali-kali.
Padahal ia menjadi anak yang berbakti pada orang tua, tapi berakhir menderita seperti sekarang ini yang hamil di luar nikah dan benar-benar tersiksa karena memikirkan bagaimana jika anaknya kelak disebut anak haram ketika sudah dilahirkan.
Hanya membayangkan hal itu saja membuatnya tidak tega jika anaknya menderita. Ia saat ini menunduk ke arah perutnya yang masih datar dan mengusapnya.
"Apakah lebih baik aku tidak menghadirkannya di dunia ini, Nyonya? Aku sangat takut jika anakku akan hidup menderita dengan sebutan anak haram." Diandra bahkan sebenarnya sudah berjanji untuk tidak menangis dan lebih kuat menghadapi semua cobaan kehidupan yang menimpanya.
Namun, yang terjadi adalah tetap saja air mata lolos dari bola matanya karena selalu mendapatkan kesedihan ketika memutuskan keputusan besar dalam hidupnya.
Saat ini ia berpikir akan menjadi seorang wanita yang dihina hamil diluar nikah. Begitupun dengan anaknya yang akan dihina anak haram.
Citra yang saat ini merasa bingung harus menanggapi seperti apa karena memang dogma di masyarakat sangatlah berat dan sudah mendarah daging. Ia hanya berbicara sesuai dengan apa yang menurut Tuhan benar.
"Kita semua hidup di dunia ini mempunyai banyak dosa, Diandra. Tapi jangan sengaja menambah dosa dengan melanggar sesuatu hal yang dilarang hanya demi pandangan orang lain. Kamu khawatir dengan pandangan orang lain atau penghinaan dari mereka dengan mengorbankan nyawa yang tidak berdosa."
Citra memang bukanlah seorang wanita yang pandai dalam hal agama, selalu memakai logika dan mengetahui mana benar dan salah, serta mana dosa dan tidak.
Jadi, ia tidak berbicara muluk-muluk dengan dalil ataupun hadis sering disebutkan oleh para alim ulama, tapi langsung menyentuh tepat di hati Diandra agar mengerti bahwa semua manusia sudah dikaruniai akal hingga bisa membedakan mana yang baik dan benar.
"Menurutmu, mana yang lebih penting. Apakah pendapat maupun penghinaan orang lain, ataukah pandangan Tuhan pada umat-Nya?" Citra tahu bahwa pertanyaannya seperti tengah berbicara dengan anak kecil karena ia tahu pilihan mana yang akan diungkapkan oleh Diandra, tapi tetap saja ingin mendengar jawaban wanita itu agar menyadari keputusannya.
Tentu saja saat ini Diandra sudah kembali berurai air mata dan menangis tersedu-sedu di balik pelukan wanita paruh baya tersebut. Ia sadar bahwa perkataannya barusan seperti tengah meragukan kuasa Tuhan dan lebih mengutamakan pandangan dari manusia.
"Aku pasti adalah seorang ibu yang jahat untuk anakku karena selalu saja memikirkan untuk menggugurkannya hanya demi rasa malu. Jika aku malu pada manusia dengan melakukan perbuatan dosa, bukankah itu disebut mengabaikan Tuhan yang menciptakanku di dunia ini?" Diandra berbicara dengan suara yang serak ketika menangis dengan suara tertahan saat mengingat keputusannya yang salah.
Ia saat ini menyadari keegoisannya dan hal seperti ini mungkin tidak akan terjadi ketika ia dulu menerima pertanggungjawaban dari Austin, tapi malah memilih kabur karena sangat membenci pria itu.
"Nyonya, kenapa Anda tidak pernah menyalahkanku setelah mendengar cerita tentang pria yang merupakan ayah biologis dari janin ini?" tanya Diandra yang merasa bahwa wanita itu terlalu baik padanya karena tidak pernah sedikit pun menyalahkannya.
Saat ini, Citra hanya mengusap punggung belakang Diandra karena mengetahui wanita itu membutuhkan sebuah dukungan, kebenaran diri ataupun yang lain.
__ADS_1
Apalagi ia tahu bagaimana seseorang mengalami depresi ketika banyak masalah bertubi-tubi datang dan akhirnya putus asa dan memilih bunuh diri. Ia dulu pernah kuliah dengan mengambil jurusan psikologi, tapi harus putus di tengah jalan karena masalah biaya.
Hingga ia berakhir menikah dengan sang suami yang saat itu tidak sengaja dijumpainya ketika bekerja di salah satu supermarket dan sering datang hingga melamarnya.
"Aku sebenarnya dulu pernah mengambil jurusan psikolog. Jadi, bisa mengetahui bagaimana perasaan orang lain saat putus asa ketika mendapatkan masalah yang datang bertubi-tubi datang," ucap Citra yang ingin menyadarkan Diandra agar tidak selalu menyalahkan diri sendiri karena tidak sepenuhnya salah.
"Mereka hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan keluh kesah mereka, bukan sebuah penghakiman karena itu akan berdampak luar biasa. Aku tidak ingin kamu mengakhiri hidup hanya gara-gara masalah seperti ini." Kemudian ia melepaskan pelukan dan menatap ke arah wanita dengan raut wajah pucat itu.
"Kamu harus menjadi wanita yang kuat dan mandiri meskipun hanyalah seorang single parent. Aku percaya kamu bisa melakukannya, Diandra. Jika nanti ada yang menghinamu atau anakmu, aku dan suamiku akan melindungimu. Sebutkan saja siapa yang menghinamu, detik itu juga akan kupecat jika merupakan pegawai di perusahaan."
Bahkan saat ini Citra menampilkan raut wajah serius seperti tengah marah dan malah membuat Diandra tertawa. Ia yang merasa berhasil menghibur wanita dengan wajah sembab itu, kini sangat lega karena bisa melihat bibir Diandra yang kini tertawa.
"Nyonya ... Nyonya, jika semua pegawai di perusahaan menghinaku hamil tanpa suami, apa Anda akan memecat mereka semua demi aku?" Diandra yang merasa terhibur, ini mengusap air matanya yang menganak sungai di wajah.
Hingga ia kembali tertawa begitu melihat ekspresi wajah lucu dari wanita paruh baya di hadapannya tersebut.
"Tentu saja! Kalau memang benar mereka semua menghinamu setelah mengetahui cerita sebenarnya, aku akan memecat mereka karena berarti semua pegawaiku tidak ada yang baik karena menghujat orang lain dan berpikir mereka semua tidak punya dosa."
Bahkan saat ini ia berapi-api karena merasa sangat kesal jika ada orang yang menghina Diandra begitu mengetahui bagaimana awal mulanya gadis itu sampai hamil.
"Bahkan aku tidak suka dengan orang yang sok suci dan berpikir bahwa orang lain selalu melakukan dosa, sedangkan diri sendiri tidak. Karena justru orang yang selalu merasa punya banyak dosa jauh lebih mulia di mata Tuhan."
"Daripada orang yang ahli ibadah, tapi merasa lebih baik dari orang lain yang dianggap hanyalah seorang pendosa. Jangan sampai kita berpikir seperti itu, Diandra. Apa sekarang hatimu sudah jauh lebih tenang setelah mengungkapkan semua yang kamu rasakan?" Citra saat ini tersenyum simpul begitu melihat Diandra menganggukkan kepala tanpa berpikir panjang.
"Sekarang perasaanku jauh lebih baik setelah berbicara dengan Anda, Nyonya. Anda memanglah seorang wanita yang sangat baik karena bisa mengerti dan memahami perasaan orang lain." Diandra saat ini mau ingin meminta saran dari wanita paruh baya tersebut.
"Sebenarnya tadi aku ingin menghubungi orang tuaku setelah tuan Emran berbicara dengan pria itu, tapi setelah semuanya kacau seperti ini, sebaiknya aku harus bagaimana? Apakah aku harus menghubungi orang tuaku dan mengatakan kehamilan ini atau menyembunyikannya dan menghilang sementara waktu dari mereka?"
Diandra pun menjelaskan bahwa orang tuanya sudah iya berikan uang yang sangat besar dan belum dipakai sedikit pun dari hasil ia menjual harga diri. Ia berpikir orang tuanya tidak akan hidup susah ataupun bingung untuk biaya rumah sakit jika sewaktu-waktu kontrol.
Saat Citra hendak membuka suara, ia mendengar suara dari pelayan yang mengetuk pintu. Ia melihat wanita paruh baya membuka pintu tersebut dan melangkah masuk.
"Nyonya, ada yang mencari nona Diandra."
Diandra seketika bersitatap dengan wanita di hadapannya dan merasa bingung siapa yang mencarinya. "Mencariku? Siapa, Bik? Pria atau laki-laki?"
"Seorang pria, Nona. Tapi saya tidak tahu siapa namanya karena tidak bertanya terlebih dahulu. Tadi saya sudah menyuruh masuk dan menunggu di ruang tamu," ucap wanita paruh baya tersebut yang menunggu perintah selanjutnya dari sang majikan.
Diandra saat ini masih merasa tidak enak badannya dan berniat untuk tidak menemui siapapun. Namun, khawatir ada sesuatu hal yang penting, sehingga membuatnya berpikir untuk menemui pria yang datang tersebut.
"Baiklah, aku akan keluar sebentar lagi dan suruh orang itu menunggu." Diandra saat ini berniat untuk bangkit dari ranjang, tapi tiba-tiba kepalanya pusing dan langsung dipegangi oleh wanita paruh baya tersebut.
"Lebih baik kamu istirahat saja di kamar dan tidak perlu menemui pria itu. Biar aku yang bertanya adanya dan apa yang diinginkan darimu. Oh ya, mengenai pertanyaan mengenai apakah lebih baik menghubungi orang tua atau tidak."
"Ada baiknya kamu terus menghubungi mereka dan katakan semua hal yang terjadi padamu dengan jujur. Semua orang tua di dunia ini lebih mementingkan kabar dari anaknya daripada uang. Jadi, ingat itu baik-baik."
__ADS_1
Citra kini bangkit berdiri dan berniat untuk keluar dari kamar Diandra, saat melihat ponsel yang masih berada di lantai, oleh karena wanita di atas ranjang tersebut.
"Sebelumnya, kamu harus membeli ponsel baru dan lain kali jangan melampiaskan amarah pada benda tidak bersalah. Kasihan ponsel itu menjadi sasaranmu saat tidak melakukan kesalahan," ujar Citra yang saat ini kembali bercanda untuk menguraikan apa perasaan Diandra yang tengah kacau balau.
Diandra yang merasa malu karena mendapatkan ejekan dari wanita paruh baya tersebut, kini menggaruk tengkuknya dan tersenyum. "Iya, Nyonya. Aku tidak akan lagi membanting ponsel setelah membeli yang baru karena sayang uangnya jika sebentar-sebentar membeli ponsel."
Ia pun meraih bekas ponsel di atas lantai itu dan berniat untuk mengambil SIM card miliknya. Hingga ia pun mendengar wanita paruh baya tersebut berpamitan untuk pergi menemui tamunya yang diketahui siapa orangnya.
"Memangnya siapa yang datang mencariku? Aneh sekali. Aku bahkan tidak banyak mengenal orang di sini karena selama ini selalu menutup diri, ketika ada seorang pria yang datang mencariku?" Diandra benar-benar merasa sangat penasaran, tidak bisa memeriksanya karena kepalanya yang sangat pusing.
Ia memilih menunggu di dalam kamar sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan mengingat tentang pria yang diketahui akan menikah dengan wanita lain.
"Apakah ini adalah sebuah hukuman untukku karena dulu menolak mentah-mentah pertanggungjawaban dari Austin? Hingga aku berakhir hamil dan saat meminta ia untuk menikahiku, tapi malah akan menikahi wanita lain."
Diandra saat ini menyadari bahwa semua yang direncanakan oleh manusia tidak akan pernah bisa melawan kuasa Tuhan. "Manusia hanya bisa berencana dan Tuhanlah yang menentukan."
Diandra saat ini sibuk menyalahkan diri sendiri karena membuat janin yang ada di dalam rahimnya tidak akan bisa mendapatkan status anak dari seorang ayah.
"Anakku, jika kelak kamu lahir nanti dan dewasa, mama berharap kamu tidak membenciku. Mama akan berusaha untuk menjadi ibu dan ayah sekaligus untuk. Meskipun itu sangat berat, tapi Mama akan berusaha membuatmu tidak kekurangan kasih sayang." Diandra baru saja menutup mulut dan di saat bersamaan melihat wanita paruh baya yang saat ini berjalan masuk.
"Nyonya? Apa pria itu sudah pergi? Siapa pria itu?" tanya Diandra yang saat ini merasa penasaran dan ingin mendengar cerita dari wanita tersebut.
Citra beberapa saat lalu menemui kamu Diandra, berjalan mendekati wanita di atas ranjang tersebut dan duduk di sana. "Ternyata diam-diam kamu mempunyai penggemar rahasia, ya rupanya?"
Diandra mengerutkan kening karena tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh wanita itu. "Maksudnya? Penggemar rahasia? Aku benar-benar tidak paham, Nyonya."
"Itu tadi adalah pria yang di kebun sebelah. Katanya ia mengenalmu dari Jakarta memberikan nomor teman orang tuanya agar kamu bisa bekerja di kebun teh." Citra kini bisa melihat respon Diandra yang sudah mengingat pria yang tadi datang.
Diandra seketika mengingat tentang pria yang membuatnya merasa takut mengalami Dejavu itu. "Oh ... jadi supir taksi itu? Tapi bagaimana bisa dia mengetahui aku tinggal di sini? Aneh sekali."
"Namamu sangat terkenal di area sini, Diandra karena berhasil membereskan masalah perusahaan mengenai penggelapan dana yang dilakukan oleh adikku sendiri. Jadi, dia mendengar nama Diandra dan mencari tahu, sehingga bisa berakhir di sini." Citra kini ingin mengungkapkan sesuatu hal yang ada di pikirannya, tapi masih merasa ragu.
Kini, Diandra mulai mengerti bagaimana bisa pria itu tahu tempat tinggalnya. "Memangnya apa yang diinginkannya dariku?"
"Diandra, sepertinya pria itu sangat menyukaimu. Bagaimana jika kamu memanfaatkan dia untuk menikahimu agar anak yang ada di dalam kandunganmu mempunyai nama seorang ayah?"
Refleks Diandra seketika membulatkan mata karena ia sama sekali tidak pernah terpikirkan akan hal itu. Apalagi memanfaatkan seorang lelaki untuk mencari keuntungan demi menutupi aib sendiri.
"Nyonya, apa yang Anda katakan? Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya?" Diandra saat ini tidak menyangka jika wanita baik hati itu memberikan sebuah ide konyol seperti itu.
"Bukankah kamu tadi rasa khawatir dengan status anakmu jika sudah dilahirkan nanti? Apalagi ayah biologisnya sudah tidak ada harapan karena akan menikah dengan wanita lain, bukan?" Citra saat ini menatap Diandra dan menunggu jawaban dari wanita yang tengah hamil muda itu.
Ia bahkan merasa yakin jika pria itu sangat menyukai Diandra dan tidak akan keberatan untuk menikahi wanita yang dicintai. Apalagi melihat kejujuran dari mata pria yang memiliki kulit sawo matang itu.
To be continued...
__ADS_1