Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Melanjutkan hidup


__ADS_3

Diandra kini mulai mengerti setelah Yoshi menceritakan bahwa sang ibu memanggil namanya saat berbicara di telpon. "Terima kasih, Tuan Yoshi karena berkat kebaikan dari Anda, Ayah saya bisa dioperasi."


Diandra masih merasa sungkan untuk mengajak bertemu karena memang selama ini tidak pernah sekalipun mengajak seorang lawan jenis untuk bertemu.


Jadi, untuk mengajak, rasanya sangat aneh dan tidak tahu harus bagaimana mengungkapkannya. Hingga ia mengerjapkan mata begitu dimudahkan oleh pria di seberang telpon sana.


"Apakah kamu hanya ingin mengucapkan terima kasih padaku melalui telpon saja?" Yoshi saat ini tidak suka berbicara di telpon, sehingga memilih untuk mengungkapkannya.


Sementara itu, Diandra kini masih belum menjawab karena belum menentukan tempat jika ingin mengajak bertemu. Hingga ia pun kembali mendengar suara bariton Yoshi dan membuatnya merasa sangat lega.


"Temui aku di rumah sakit hari ini. Nauraku ingin mengucapkan terima kasih padamu karena semalam kamu terlihat terburu-buru sekali. Jadi, sepupuku belum mengucapkan terima kasih secara benar." Masih menunggu jawaban dari Diandra, Yoshi saat ini merasa jika wanita itu sangat tertutup dan tidak mudah untuk diajak bertemu.


Sementara di sisi lain, Diandra saat ini tidak lagi ragu untuk menyetujui permintaan Yoshi karena justru ia yang harus berterima kasih pada kebaikan pria itu.


Bahkan kebaikannya untuk menolong sepupu pria itu tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan kebaikan seorang pria yang baru ditemui malah mentransfer uang ratusan juta.


Bahkan tanpa ragu pada orang tuanya yang bahkan belum dikenal atau pun ditemui. Hal itulah yang membuatnya tidak akan pernah melupakan kebaikan pria itu.


"Baik, Tuan Yoshi. Saya akan datang ke rumah sakit. Jam berapa Anda datang ke sana?"


Merasa sangat senang atas persetujuan dari Diandra, kini Yoshi tanpa pikir panjang langsung bangkit berdiri dari posisinya yang tadi duduk di atas alat olahraga untuk melatih otot-otot perutnya.


"Jam delapan. Aku akan ke sana jam delapan dan masih tersisa waktu satu jam lagi untuk bersiap. Apa kamu bisa? Atau kamu bekerja?" Yoshi kali ini kembali mengorek informasi yang ingin diketahui dari wanita yang membuatnya merasa sangat penasaran.


Ia ingin tahu apakah Diandra bekerja karena semalam melihat wanita itu mengenakan kemeja kantor dan ingin tahu di mana perusahaan tempat Diandra bekerja. Namun, ia mengerutkan keningnya karena mendengar suara dari wanita yang terdengar lirih.


"Tidak, Tuan Yoshi. Saya sudah dipecat dari perusahaan karena tidak becus bekerja. Kalau begitu, saya akan berangkat setelah bersiap. Sampai jumpa di rumah sakit. Selamat pagi." Tanpa menunggu jawaban dari seberang telpon, Diandra pun langsung memencet tombol berwarna merah.


Kini, ia masih menggenggam erat ponsel yang layarnya retak karena semalam terjatuh di lantai ketika mendengar penjelasan dari sang ibu.


"Layar retak ini bahkan menjadi bukti atas kehancuranku semalam." Kemudian ia melihat jam di ponselnya tersebut.


Karena hanya tersisa waktu satu jam, Diandra kini kembali mengambil roti yang dilempar karena marah. Kemudian kembali memakannya. Meskipun tidak berselera makan, tapi ia harus tetap hidup dan tidak ingin sakit.


Apalagi mempunyai riwayat penyakit lambung dan membuatnya tidak boleh telat makan karena jika sampai penyakitnya kambuh, ia tidak akan bisa bangun dari ranjang dan hanya bisa tiduran karena tubuhnya sangat lemah serta pusing.

__ADS_1


Setelah menghabiskan roti satu buah, langsung meminum obat pereda nyeri dan Paracetamol karena ia merasa tubuhnya demam dan meneguk air mineral cukup banyak.


"Jangan sakit tubuhku karena jika sampai aku hanya bisa tiduran di kamar, akan menyusahkan diri sendiri. Aku harus mencari tempat tinggal sementara karena tidak mungkin terus berada di hotel ini. Yang ada, aku bisa bangkrut."


Diandra kini mengambil pakaian yang pantas untuk menemui pria sebaik malaikat itu demi bisa mengucapkan terima kasih secara langsung.


Mungkin jika bukan pria yang telah mengirim uang untuk orang tuanya, tidak akan pernah mau untuk bertemu karena benar-benar trauma setelah mengalami kejadian nahas dengan seorang Austin Matteo.


Seolah kepercayaan pada para pria telah hilang dan menganggap semua lawan jenis adalah pria berengsek. Namun, semua pemikiran itu dipatahkan oleh seorang pria yang diketahui bernama Yoshi.


Bahkan bisa dibilang sangat kagum pada pria dengan kebaikan luar biasa yang berjasa pada hidup orang tuanya. Kata terima kasih tidak akan pernah cukup untuk pria itu dan ia tidak keberatan untuk mengabdikan seluruh hidupnya pada Yoshi.


Mungkin menjadi pembantu pria itu seumur hidup tidak akan pernah bisa membalas kebaikan serta ketulusan seorang Yoshi dan Diandra bertekad akan membalas budi dengan membicarakan itu.


Setelah dirasa penampilan sangat rapi karena kali ini Diandra memakai pakaian serba tertutup, yaitu celana panjang hitam dengan kemeja juga lengah panjang berwarna merah menjadi outfit pilihannya hari ini.


Setelah rambutnya sedikit kering, ia menyisirnya dan mulai memakai riasan tipis agar tidak terlihat pucat. Kini, ia masih berada di depan cermin dan mengamati penampilannya.


Ia merasa miris saat melihat tubuhnya. Diandra mengingat perkataan dari pria yang telah merenggut kesuciannya.


Refleks Diandra tertawa terbahak-bahak saat mengingat itu dan membuatnya merasa seperti seorang wanita bodoh dan hina. Jika tadi ia sibuk meratapi hidup dengan menangis, tapi saat ini yang terjadi adalah sebaliknya.


Ia tidak berhenti tertawa terbahak-bahak saat mengingat ejekan dari pria yang dianggap sangat tidak berperasaan.


"Pria itu adalah iblis berwujud manusia. Dengan tanpa malu ia menghinaku. Padahal ia sendiri yang menjadi penyebabnya. Jika aku adalah seorang wanita hina yang tidak pantas untuk dinikahi oleh seorang pria, lalu bagaimana dengannya?"


"Apa ia pantas untuk menikahi seorang wanita baik? Semoga kau mendapatkan seorang wanita yang akan menghancurkan hidupmu, Austin Matteo. Kau akan menuai apa yang tuai. Bukan hanya aku yang hancur, tapi kau pun akan merasakan hal sama sepertiku!"


Ingin sekali Diandra meluapkan amarah dengan menghancurkan apapun yang dilihatnya, tapi sadar jika melakukan itu akan dituntut ganti rugi oleh pihak hotel. Jadi, dengan sekuat tenaga ia menahan diri dan hanya bisa mengepalkan kedua tangan dengan wajah memerah.


Wajahnya yang pucat kini dikuasai oleh amarah dan membuatnya merasa seperti iblis yang hanya ingin meledakkan kemurkaan dengan menghabisi nyawa pria yang dibencinya.


"Tahan amarahmu, Diandra! Kau tidak akan pernah bertemu dengan bajingan itu lagi." Dengan mengambil napas teratur, Diandra mencoba untuk menenangkan diri agar tidak dikuasai oleh amarah.


Hingga beberapa saat kemudian, jauh lebih tenang dan mengembuskan napas kasar. Tidak ingin terlambat datang ke rumah sakit dan membuat Yoshi menunggu, Diandra kini bangkit berdiri setelah memakai lipblam pada bibirnya yang terlihat pucat.

__ADS_1


Sebenarnya ia tidak suka merias wajah karena lebih suka dengan penampilan natural, tapi sadar jika hari ini wajahnya sangat pucat dan ada lingkaran hitam di sekitar area mata karena tidak tidur semalaman.


Bahkan kepalanya terasa sangat pusing karena terjaga semalaman demi bisa kabur dari apartemen seorang Austin. Hingga ia menepuk jidat berkali-kali saat menyadari kebodohannya.


"Harusnya aku membuang nomor lamaku agar tidak diketahui oleh bajingan itu. Aku harus membeli nomor baru agar pria itu tidak bisa melacak keberadaanku."


Diandra kini merasa bahwa hotel itu tidak aman karena ia tahu bahwa seorang Austin bisa melacak keberadaannya di sana dengan GPS dari nomornya.


"Aku harus pindah hotel sekarang sebelum Austin menemukanku di sini." Diandra buru-buru berkemas tanpa memperdulikan jika masih punya waktu lama di hotel.


Meskipun ia berpikir rugi mengeluarkan uang, tapi karena tidak ingin jika usahanya untuk kabur dari pria yang dianggap sangat terobsesi padanya, sehingga tanpa ragu harus pergi dari hotel.


Setelah merasa tidak ada lagi yang tertinggal, kini Diandra keluar dengan membawa koper berisi semua pakaian miliknya. Meskipun merasa sangat lelah, harus menahannya karena berpikir jika itu lebih baik daripada bertemu dengan pria yang sangat dibenci.


"Aku harus membeli SIM card dulu agar ibu menghubungi di nomor baru. Tidak akan ada yang mengetahui nomor baruku selain ibu dan tuan Yoshi." Diandra kini memesan taksi setelah tiba di lobi hotel.


Ia tadi sudah mengatakan pada salah satu staf hotel bahwa tidak jadi menghabiskan waktu di sana karena ada urusan mendadak.


Beberapa saat kemudian, taksi yang dipesan sudah tiba dan tanpa membuang waktu, Diandra sudah berada di dalam kendaraan yang akan mengantarkan ke rumah sakit.


"Bisa tolong berhenti sebentar di counter, Pak. Saya ingin membeli SIM card sebentar." Diandra berbicara sambil menatap ke arah sang supir di balik kemudi.


"Baik, Nona. Kebetulan saya tahu ada di sekitar sini," jawab sang supir yang kini langsung menuju ke lokasi.


"Terima kasih." Diandra saat ini sengaja ingin menghabiskan uang milik Austin tanpa memperdulikan bahwa itu adalah dana makan pria itu saat menyuruh untuk membeli sarapan.


Selama dalam perjalanan, ia tidak berkedip menatap pemandangan ibu kota dengan kanan kiri bangunan tinggi menjulang.


Bahkan ia tahu bahwa sebentar lagi akan melewati perusahaan milik pria yang sangat dibenci dan menjadi awal mula musibah yang menimpanya. Ia seketika memejamkan mata karena tidak ingin melihatnya.


'Lupakan semua kemalangan yang menimpamu, Diandra. Bajingan itu akan mendapatkan karma dari perbuatannya. Biarkan hukum alam bekerja tanpa kau mengotori tanganmu untuk membalas dendam,'


Diandra mencoba untuk menguatkan hati agar tidak mempunyai niat untuk membalas dendam karena tidak sebanding dengan pria yang membuatnya harus kehilangan keperawanan saat statusnya belum menikah.


'Semoga aku bisa melanjutkan hidupku tanpa mengingat bajingan itu,' gumam Diandra yang kini tersadar saat kendaraan telah berhenti dan sang supir mengatakan telah tiba di counter yang dituju.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2