
Yoshi baru saja melihat cleaning service yang baru saja menghilang di balik pintu. Ia pun saat ini langsung memasukkan beberapa nomor yang tadi sempat dicatat olehnya. Mulai dari nomor sang ibu, pamannya, Austin dan terakhir Diandra adalah merupakan orang-orang yang akan ia hubungi.
Kini, ia baru saja selesai menyimpan nomor-nomor mereka dan berniat untuk menghubungi sang ibu. Namun, ia saat ini masih terdiam karena merasa ragu apakah akan memberitahukan niatnya untuk kembali ke Jakarta dengan keadaan kakinya yang masih belum bisa berjalan.
"Mama pasti akan marah padaku jika aku pulang dalam keadaan belum pulih sepenuhnya. Sepertinya aku harus merahasiakan hal ini dari mama dan langsung muncul di hadapannya saja agar tidak membuatnya marah." Yoshi akhirnya tidak jadi menghubungi sang ibu karena berpikir jika itu hanya akan menambah beban sang ibu.
Ia bahkan saat ini merasa yakin jika itu akan membuat sang ibu khawatir pada keadaannya dan juga sekaligus merasa bersalah. "Aku tidak ingin membuat mama merasa bersalah karena menjadi penyebab aku keluar dari rumah sakit sebelum benar-benar pulih dan bisa berjalan normal."
Tadi ia sempat bertanya pada dokter mengenai masalah latihan serta terapi untuk otot-ototnya yang belum terbiasa karena sudah lama vakum karena koma. Ia merasa jika waktu yang dikatakan oleh dokter sangatlah lama dan membuatnya harus rajin serta bersabar agar bisa kembali berjalan.
"Tiga bulan paling cepat dan paling lama 1 tahun? Membayangkannya saja membuatku seperti tidak punya semangat untuk melakukannya. Itu adalah waktu yang sangat lama jika sampai aku harus berjuang selama 1 tahun untuk bisa berjalan lagi," gumam Yoshi yang saat ini mengingat sosok wanita yang ia ketahui juga mengalami hal yang sama.
Ia yang mengetahui semuanya dari cerita Austin ketika mengatakan tentang kejahatan dari sang ibu yang malah memutarbalikkan fakta dengan menyerang pria itu.
"Bahkan Diandra saja menjalaninya selama 1 tahun lebih duduk di kursi roda dan kakinya benar-benar cacat. Sementara aku hanya karena otot-otot yang sudah lama vakum dan tidak berfungsi dengan baik, sehingga berakhir seperti ini." Ia saat ini masih menunduk menatap ke arah kedua kakinya yang diluruskan di atas ranjang.
Ia membayangkan Diandra cacat di kursi roda dan harus berjuang keras melakukan terapi, kini menepuk jidat beberapa kali untuk merutuki kebodohannya karena kalah dengan seorang wanita.
Bahkan saat ini berpikir jika ia adalah seorang pria yang harusnya tidak putus asa ataupun gampang menyerah.
"Aku harus berjuang agar bisa kembali berjalan seperti dulu lagi. Aku hanya membutuhkan waktu 3 bulan atau mungkin satu bulan saja karena akan berjuang dengan keras setelah berhasil mengeluarkan Mama dari penjara," ucapnya yang saat ini menatap ke arah ponsel miliknya.
Ia ini berniat untuk menelpon Diandra dengan nomor barunya tersebut dan pasti tidak akan ketahuan jika di privasi. Namun, ia merasa ragu jika nanti ada posting di samping Diandra dan tidak bisa berbicara secara langsung dengan wanita itu.
"Aku mungkin bisa meminta bantuan Diandra agar mencabut tuntutan dengan membujuk Austin. Ia pasti bisa merayu pria itu agar membatalkan gugatan Karena itu adalah satu-satunya cara untuk membebaskan mama dari hukuman," ucapnya yang saat ini dengan ragu menatap ke arah nomor Diandra dan mempertimbangkan apakah akan memencet tombol panggil atau tidak.
Hingga ia pun kini memutuskan untuk memencet tombol panggil dan berharap Diandra mengangkat saat Austin tidak ada di sampingnya.
Ia saat ini menunggu telepon tersambung. Namun, mengerutkan kening karena tidak berdering dan hanya memanggil. Bahkan ia melakukannya sampai tiga kali dan hasilnya sama saja.
"Sepertinya Austin yang menjadi pelakunya dengan tidak mengaktifkan nomor Diandra agar aku tidak bisa menghubunginya lagi. Apa dia merasa takut jika aku berbicara dengan Diandra?" Yoshi saat ini merasa kesal dan berpikir jika usahanya sia-sia.
Ia pun saat ini membeli untuk menghubungi pamannya. Berharap bisa menyelesaikan masalah sang ibu jika mereka bekerja sama.
Kini, ia sudah memencet tombol panggil pada nomor sang paman. Hingga tanpa menunggu lama, mendengar suara dari seberang telepon yang sangat dihafalnya.
"Halo."
"Paman, ini aku." Yoshi saat ini berbicara dengan suara lirih seperti orang yang tidak punya semangat hidup karena memikirkan serta mengkhawatirkan keadaan dari sang ibu yang entah tidak ia ketahui apakah sudah berangkat ke bandara atau belum.
Ia ingin sang paman yang bertanya pada ibunya agar menyampaikan kepadanya. Itu karena tidak ingin membuat wanita yang sangat disayanginya tersebut bersedih ketika berbicara dengan.
"Yoshi? Kebetulan Om ingin membahas tentang masalah yang menimpa mamamu. Om rasanya benar-benar ingin menghabisi si berengsek itu. Bisa-bisanya dia melaporkan mamamu pada polisi, pada saat ini masih berada di London merawatmu." Sang paman yang saat ini terlihat duduk di kursi kerjanya, benar-benar sangat murka begitu mengetahui apa yang terjadi.
Apalagi saat tadi pertama kali membaca pesan dari sang kakak, membuatnya ini sekali segera datang ke hadapan Austin Matteo dan menghajarnya habis-habisan.
Namun, masih berusaha berpikir positif karena jika melakukan itu hanya akan menambah masalah dan ia pun juga terjerat kasus hukum karena melakukan kekerasan.
__ADS_1
"Om sama sekali tidak takut jika dipenjara. Hanya saja, khawatir jika itu terjadi, tidak bisa membantu mamamu keluar dari penjara jika sampai bukti-bukti memberatkannya." Adi Putra bahkan saat ini berpikir jika Austin mempunyai bukti kuat hingga bisa membuat sang kakak dideportasi agar segera bisa diproses hukum.
Ia mengungkapkan hal itu dan meminta pendapat dari keponakannya. "Menurutmu, apa yang harus kita lakukan jika semua bukti memberatkan mamamu?"
Yoshi memang sudah memikirkan hal itu dan berpikir jika cara yang tadi terlintas di benaknya adalah hal yang tepat untuk dilakukan karena tidak ada pilihan lain demi menyelamatkan sang ibu dari tuduhan.
Namun, ia berniat untuk menyembunyikannya karena tidak ini keluarganya terlibat atas rencananya yang terbilang sangat gila dan besar jika sampai para polisi mengetahuinya.
"Om harus membahas dengan pengacara agar mengetahui apa yang harus dilakukan jika Austin memiliki bukti yang kuat. Aku akan mencari cara untuk membuat Mama tidak berakhir di penjara. Bahkan akan melakukan apapun untuk bisa membebaskannya. Kita sama-sama berjuang untuk menyelamatkan Mama agar tidak dipenjara."
Yoshi masih berusaha untuk menutupi rencananya menculik Diandra jika sampai Austin tidak mau membatalkan gugatan. Bahkan ia merasa sangat yakin jika Austin Matteo akan lebih mengutamakan keselamatan istri yang sedang mengandung anak kembar daripada menjebloskan ibunya di penjara.
Sementara itu, Adi Putra yang memang sudah menghubungi pihak pengacara yang terkait dan membahas tentang masalah yang menimpa sang kakak karena ia juga akan terkena imbasnya.
Itu karena ia juga memberitahu Diandra mengenai masa lalu serta menyuruh orang untuk membuat wanita itu bisa mengingat kecelakaan yang dialami dengan cara mengirimkan video.
Meskipun itu hanya berlangsung beberapa kali saja karena nomor Diandra sudah tidak aktif dan ia mengetahui jika itu karena sudah diketahui oleh Austin Matteo yang selalu over protektif pada sang istri.
"Kamu fokus aja menjalani pengobatan agar bisa segera pulih dan kembali ke Jakarta. Biar urusan mamamu dan semua yang ada di sini, Om yang mengurusnya," ucap Adi Putra yang saat ini masih berusaha untuk menghibur keponakannya yang pasti sangat syok atas apa yang terjadi pada sang ibu.
Yoshi yang sibuk memikirkan rencana untuk menculik Diandra setelah tiba di Jakarta, kini hanya menjawab singkat nasihat dari sang paman.
"Iya, Om. Aku ingin segera pulih dan bisa kembali ke Jakarta. Tolong hubungi mama, apakah sudah proses pemberangkatan atau belum. Aku sebenarnya ingin menghubunginya sendiri, tapi khawatir jika membuatnya bersedih karena mendengar suaraku," ucap Yoshi yang saat ini berharap bisa mendengar kabar dari sang ibu.
Apalagi sudah beberapa jam berlalu dan ingin mengetahui sekarang sang ibu sudah berada di pesawat atau masih di London.
Ia saat ini bangkit berdiri dari kursi kerjanya dan berjalan menuju ke arah jendela kaca raksasa yang berada di sudut sebelah kiri ruangan.
Melihat pemandangan di bawah perusahaan yang menampilkan lalu lalang kendaraan yang melintas, membuatnya mengingat kejadian saat ia bertemu dengan Diandra di rumah.
"Kenapa wanita itu masih bersama dengan Austin setelah mengetahui semuanya? Apa dia sama sekali tidak mempermasalahkan perbuatan Austin padanya?" Kini, ia mengepalkan tangannya untuk menahan amarah yang bergejolak di dada ketika mengingat sosok wanita yang menjadi pusat masalah dari keluarganya.
Hingga memikirkan jika apa yang dikatakan oleh sang kakak benar adanya. Bahwa Diandra adalah wanita pembawa sial.
"Keluargaku berantakan semenjak wanita itu masuk dalam kehidupan kami. Apa wanita seperti itu sebaiknya disingkirkan saja dari dunia ini agar tidak membuat masalah? Sekarang masalah semakin besar gara-gara Austin," sarkasnya yang saat ini masih tidak berkedip menatap ke arah jalanan ibukota yang padat.
"Rasanya aku ingin mendorong pria itu agar jatuh dari sini." Saat ini, dengan raut wajah memerah, terlihat jelas jika saat ini benar-benar tidak bisa menghilangkan kemurkaan yang dirasakan ketika mengingat pria yang dianggapnya sangat arogan.
Hingga embusan napas kasar memenuhi ruangan kerja yang kini penuh kesunyian itu dan membuatnya tidak bisa mengendalikan amarah yang membuncah di dalam hati.
"Jika sampai kakakku benar-benar harus dipenjara karena perbuatan kalian, aku tidak akan tinggal diam!" Ia pun saat ini mencari kontak dari orang yang pernah ia suruh untuk mengikuti Austin.
Kemudian memencet tombol panggil dan menunggu suara dari seberang telepon.
"Halo, Tuan Adi. Sudah lama sekali," ucap seorang pria yang baru saja menghentikan laju motor untuk mengangkat telepon dari orang yang pernah menjadi bosnya.
Sementara itu, Adi Putra yang saat ini mendengar suara bising kendaraan, menebak jika pria itu tengah melakukan perjalanan.
__ADS_1
"Apa kau berada dekat di sekitar perusahaanku? Jika iya, datanglah ke sini karena ada yang ingin ku bicarakan denganmu. Aku ingin kau menghabisi seseorang," ucapnya yang saat ini berbicara dengan suara yang cukup keras agar bisa didengar oleh pria di seberang telepon.
Saat tadinya berpikir jika ada pekerjaan untuknya begitu bosnya menelpon, sehingga seketika berbinar wajahnya dan berbohong jika apa yang dikatakan pria itu benar. Padahal sebenarnya berada di lokasi yang cukup jauh dari perusahaan.
"Siap, Bos. Saya akan ke sana sekarang," ucapnya yang ini mematikan sambungan telepon begitu bosnya tersebut sudah memutuskan panggilan.
Ia pun mengendarai motornya menuju ke arah perusahaan Narendra yang sangat terkenal di Jakarta.
Sementara di sisi lain, Adi Putra saat ini masih terdiam di tempatnya dan menunggu hingga orang yang akan ia suruh menghabisi Austin datang.
"Austin Matteo, aku ingin tahu apa keputusanmu setelah aku menghubungimu. Jika kau tidak mau bekerja sama dan membatalkan tuntutan, terpaksa aku harus mengirimmu ke neraka dan membuat wanita itu benar-benar menjadi pembawa sial untukmu."
Ia saat ini tersenyum mencarinya ketika membayangkan apa yang baru saja diucapkan menjadi kenyataan. Kini, ia berani mencari kontak Austin Matteo karena mengetahui jika nomor Diandra sudah tidak aktif dan tidak ada yang mengetahui.
Ia menunggu sambungan telepon darinya diangkat oleh pria yang dibencinya karena menjadi penyebab sang kakak harus dipulangkan secara paksa agar bisa diproses hukum, tapi sampai panggilan terputus, tidak mendapatkan jawaban.
Dengan wajah memerah kesal dan merasa yakin jika Austin Matteo sengaja tidak mau mengangkat telpon darinya karena sudah mengetahui apa yang diinginkannya.
"Apa dia saat ini takut mengangkat telponku? Dasar pengecut!" sarkas Adi Putra yang meluapkan amarahnya dengan mengempaskan tangannya di udara.
Ia bahkan saat ini merasa ada sesuatu hal yang mengganjal di pikirannya, tapi berusaha untuk menghilangkannya dan tidak mau mengambil pusing. Hingga suara ketukan pintu membuatnya menoleh dan melihat sang asisten baru saja melangkah masuk.
"Tuan Adi, ada yang mencari Anda," ucap pria yang menjadi asisten pribadi, merasa tidak enak untuk mengatakannya.
"Siapa?" Adi Putra yang saat ini berbalik badan untuk menatap ke arah asistennya, seketika memicingkan mata begitu melihat dua pria berseragam yang melangkah masuk ke dalam ruangannya.
"Selamat siang, Tuan Adi Putra. Kami mendapatkan laporan tentang Anda dan ingin bertanya untuk informasi yang kami butuhkan," ucap salah satu pria berprofesi sebagai polisi yang saat ini mewakili rekannya untuk memberitahukan tujuan datang ke perusahaan Narendra.
Adi Putra saat ini merasa yakin jika dua polisi tersebut merupakan orang yang menangani laporan dari Austin Matteo yang melibatkannya juga selain sang kakak.
'Austin Matteo, sekarang kau mengibarkan bendera perang pada keluarga Narendra. Baiklah, aku akan melayanimu dan tidak akan pernah melepaskanmu mulai hari ini,' gumam Adi Putra yang saat ini menyembunyikan kemurkaannya dengan tersenyum simpul pada dua polisi yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.
Ia bahkan saat ini memerlukan tangannya untuk berjabat tangan dengan dua pria berseragam tersebut. "Selamat datang di perusahaan keluarga Narendra. Tentu saja saya akan memberikan informasi yang Anda butuhkan, Pak polisi."
Kemudian mempersilahkan dua pria berseragam tersebut untuk duduk dan ia sekilas menoleh pada asisten pribadinya untuk memberikan kode membuatkan minuman.
Sang asisten yang kini mengerti, langsung berjalan keluar dan membiarkan tiga orang itu berbicara. Meskipun saat ini di dalam pikirannya merasa penasaran apa yang sebenarnya terjadi hingga polisi datang ke perusahaan.
Bahkan kabar itu sudah menjadi buah bibir di perusahaan karena beberapa staf melihat jika dua polisi datang ke perusahaan dan menanyakan ruangan dari pemimpin Narendra Grup yang selama ini menggantikan CEO aslinya.
Kini, Adi Putra baru saja mendirikan tubuhnya di hadapan dua pria berseragam tersebut. "Boleh saya tahu tentang informasi apa yang ingin Anda tanyakan pada saya?"
Ia melihat polisi yang saat ini mengeluarkan sesuatu dari dalam dokumen dan memberikannya padanya.
"Ini adalah laporan yang sudah saya terima beberapa hari lalu dan tolong Anda menjelaskan apa yang tertulis di sana." Sang polisi saat ini menunjukkan tentang panggilan telepon serta beberapa video dari nomor yang berbeda dikirimkan ke nomor Diandra.
Memang itu bukan ia yang melakukan karena menyuruh orang, tapi memang mentransfer sejumlah uang menggunakan rekeningnya dan itu menjadi sebuah kecurigaan dari pihak polisi.
__ADS_1
To be continued...