
"Sayang, jaga kandunganmu baik-baik, ya. Apalagi tadi dokter mengatakan jika kamu tengah hamil anak kembar. Semua orang benar-benar merasa sangat bahagia mendengar kabar baik ini." Lima Rosmala kini mendekati menantunya yang baru saja kembali berbaring.
Tadi ia diminta oleh putranya agar menenangkan Diandra yang sudah mengetahui semua konspirasi besar yang diciptakan saat amnesia, sehingga kali ini ingin membantu agar biduk rumah tangga yang dibina mereka tidak hancur hanya gara-gara masa lalu.
"Iya, Ma. Aku pasti akan menjaganya dengan baik, jadi tidak perlu khawatir." Diandra yang bahkan sama sekali tidak mau menanggapi perkataan Austin beberapa saat lalu, tidak perduli jika mertuanya melihat perubahan sikapnya yang sinis.
Bahkan untuk menatap ke arah sang suami yang masih tidak berdaya di atas ranjang saja sangat enggan. 'Entah mengapa saat melihatnya, seolah menyadarkanku hanyalah seorang wanita bodoh yang terjebak dalam kebohongannya.'
'Aku tidak bisa menahan diri terlalu lama seperti ini karena rasanya saat ini kepalaku seperti mau meledak saja jika tidak menanyakannya secara langsung pada Austin,' gumam Diandra yang kini beralih menatap ke arah mertua dan orang tuanya.
__ADS_1
"Apa aku bisa meminta kalian semua keluar dari ruangan ini? Aku ingin berbicara empat mata dengan ...." Diandra merasa ragu untuk menyebut kalimat yang selama ini disebutnya.
Namun, ia tidak ingin orang tuanya terkena imbas dari perbuatannya yang kasar dan tidak sopan. "Ada hal yang ingin kubicarakan berdua dengan suamiku. Jadi, apa kalian bisa pulang saja dan tidak perlu mengkhawatirkan kami."
Refleks para orang tua yang ada di ruangan terbaik Rumah Sakit itu saling bersitatap penuh kebingungan. Hingga menoleh juga pada Austin yang berada di sebelah kiri mereka berdiri.
"Kenapa harus berbicara empat mata saat kita di sini adalah keluarga?" Akhirnya Malik Matteo angkat bicara. Apalagi tadi putranya menyuruh untuk tidak pergi dari ruangan meski apapun yang terjadi.
Di sini, ia tahu jika putranya akan mengalah demi cintanya pada Diandra, sehingga yakin bahwa menantunya akan kembali luluh melihat ketulusan seorang suami.
__ADS_1
"Memangnya kamu ingin bicara apa, Sayang? Tidak apa-apa jika orang tua dan mertua mendengarnya, kan? Jadi, katakan saja sekarang," ujar Austin yang masih berakting tenang.
Padahal dalam hati seperti akan meledak karena dipenuhi oleh berbagai macam hal buruk, seperti perpisahan dan kebencian dari Diandra.
'Seumur-umur, baru kali ini aku takut akan sesuatu. Jika biasanya aku tidak takut apapun, tapi sekarang baru menyadari jika kekuatan seorang istri bisa dengan mudah menghancurkan benteng kokoh yang bertahun-tahun kubangun dengan penuh percaya diri,' gumam Austin yang kini mengerjapkan mata karena ternyata Diandra tanpa pikir panjang langsung berterus terang.
Merasa percuma berdebat dan sadar diri tidak akan pernah menang melawan lima orang, kini Diandra yang sudah tidak tahan lagi, menatap satu persatu wajah mereka. Kemudian ia bertepuk tangan dan tertawa miris.
"Baiklah jika ini adalah mau kalian! Aku tidak akan sungkan lagi." Diandra yang merasa tidak nyaman berbicara serius dengan berbaring, kini bangkit dan duduk dengan dibantu sang ibu.
__ADS_1
"Terima kasih, Bu karena sudah menjadi wanita luar biasa untuk putrimu yang amnesia ini. Tapi, aku tidak bisa lagi menyembunyikan ini dari kalian. Bahwa sebenarnya aku sekarang sudah mengingat semuanya. Bahwa amnesia yang kuderita telah pulih," ujar Diandra yang kini bisa melihat ekspresi wajah semua orang yang sangat terkejut.
To be continued..