
Emran yang saat ini baru saja tiba di perusahaan Austin Matteo, kini dipersilakan untuk duduk di tempat yang ada di lobi perusahaan karena menunggu jawaban dari pemimpin perusahaan apakah mau menerima tamu atau tidak hari ini.
Karena tidak ingin duduk, Emran tetap menunggu di depan resepsionis tersebut saat menelpon. Hingga di saat bersamaan, ia melihat sosok pria paruh baya yang merupakan pemilik perusahaan, yaitu Malik Matteo.
'Malik Matteo? Kebetulan sekali aku bisa bertemu sekaligus dengannya. Jadi, aku bisa berbicara mengenai masalah yang dihadapi oleh Diandra karena perbuatan dari putranya.' Emran tadinya hanya diam menunggu hingga pria itu lewat di depannya.
Apakah Malik Matteo mengingatnya atau berlalu pergi begitu saja. Hingga begitu melihat pria itu semakin mendekat, beberapa detik berhenti dan menatapnya sambil menunjuk ke arahnya.
"Kau? Aku seperti pernah melihat Anda?" Malik Matteo yang tadinya keluar dari lift dengan wajah kesal karena mengingat putranya yang sangat susah diatur, rasa seperti pernah melihat sosok pria paruh baya yang sepantaran dengannya berdiri di depan resepsionis.
Karena bukan merupakan seorang pengusaha terkenal, sehingga membuat Emran mengulurkan tangannya dan tersenyum simpul. "Kita pernah bertemu di salah satu hotel ketika diundang pada salah satu acara ulang tahun pengusaha terkenal. Aku Emran Jazim yang berasal dari puncak."
Malik Matteo kini menjabat tangan pria tersebut sambil menepuk bahu lebarnya. "Aah ... sepertinya benar aku pernah melihatmu. Oh ya, maaf karena tidak bisa mengingatmu. Ngomong-ngomong, apakah datang ke sini untuk bertemu dengan putraku?"
Emran yang saat ini tidak langsung mengungkapkan tujuannya karena mengetahui seperti apa watak dari seorang Malik Matteo.
"Ehm ... sebenarnya aku ingin bertemu dengan Austin Matteo untuk membicarakan mengenai masalah penting, tapi hal ini juga bisa dibilang kaitannya dengan Anda, Tuan Malik." Emran merasa bahwa pernikahan juga harus diketahui oleh pihak orang tua, berbicara dengan pria tersebut yang merupakan ayah dari Austin.
Karena merasa ada sesuatu hal yang penting dan membuatnya penasaran, kini Malik Matteo mengajak pria tersebut duduk di sofa yang ada di sebelah kiri lobby perusahaan dan memang digunakan untuk tempat menunggu para tamu.
"Sekarang katakan apa yang sebenarnya ingin Anda sampaikan padaku dan juga putraku." Berbicara setelah mendaratkan tubuhnya di salah satu sofa berwarna merah tersebut dan melihat pria yang dianggapnya akan membawa berita penting itu menjelaskan.
Sementara itu, Emran yang saat ini tidak ingin membuang waktu karena setelah menyampaikan semuanya, berharap pria paruh baya tersebut mau menyelesaikan masalah yang dialami oleh Diandra yang hamil calon cucunya.
Kemudian ia boleh menjelaskan semua hal yang diceritakan oleh Diandra tanpa mengurangi atau menambah sedikit pun agar tidak ada kesalahpahaman di antara mereka.
Hingga beberapa menit berlalu dan ia mengakhiri ceritanya setelah melihat raut wajah memerah kini tampak jelas dari pria paruh baya tersebut. "Jadi, seperti itu ceritanya. Aku berharap Anda bisa berbicara dengan Austin Matteo yang sudah menghamili wanita bernama Diandra."
"Diandra hanya ingin anak yang dikandungnya mendapatkan status dan tidak disebut anak haram oleh orang lain. Setelah melahirkan, Austin bisa menceraikannya karena pernikahan ini bisa dibilang adalah sebuah bentuk pertanggungjawaban agar bayi tidak berdosa mendapatkan status."
Emran saat ini memang menjelaskan semua hal yang yang diinginkan Diandra dengan menggaris bawahi bahwa status anak haram merupakan sebuah hal yang paling menyakitkan bagi anak tidak berdosa yang bahkan tidak menginginkan dilahirkan di keluarga yang tidak lengkap.
Sementara itu, Malik Matteo yang dari tadi sudah merasa pusing karena perbuatan putranya yang tidak segera menerima perjodohan dengan Maria Belinda, sudah membuatnya kesal. Namun, kali ini ia benar-benar makin stres begitu mengetahui apa yang baru saja didengarnya.
Apalagi ia saat ini berpikir jika wanita yang berasal dari kasta rendahan dan tidak pantas untuk putranya itu hanya menginginkan harta.
Karena itulah hanya menginginkan marga keluarganya di belakang anak yang dikandung wanita itu. 'Apa dia pikir putraku adalah pria yang bodoh hingga mau menuruti perintahnya?'
'Bisa-bisanya dia menginginkan bercerai setelah melahirkan. Pasti sudah berencana untuk memanfaatkan putraku demi mendapatkan harta.' Malik Matteo saat ini terdiam dan tidak langsung memberikan jawaban atas apa yang baru saja dijelaskan oleh pria tersebut.
Hingga setelah mempertimbangkan dengan baik, kini ia menjelaskan apa yang ada di pikirannya saat ini. "Kenapa wanita itu tidak datang sendiri dan Anda yang mewakili? Aku ingin bertemu dengan wanita bernama Diandra itu karena ingin berbicara secara langsung dengannya."
Sementara itu, Emran yang saat ini mengerutkan kening begitu melihat tanggapan dari pria yang dari dulu tidak disukainya tersebut. Ia seperti sudah bisa membaca apa yang akan dilakukan oleh seorang Malik Matteo pada Diandra, sehingga tidak ingin memberitahu keberadaannya saat ini.
__ADS_1
"Seperti yang saya bilang tadi bahwa, Diandra saat ini tengah hamil trimester pertama dan kondisinya sedang drop. Jadi, tidak bisa pergi ke manapun. Jika Anda ingin berbicara secara langsung dengan Diandra, saya yang akan menghubunginya."
Karena tadi memang sudah berpesan bahwa ia akan menelpon jika diperlukan, memencet tombol panggil pada kontak Diandra. Namun, mengerutkan kening ketika nomor yang dituju tidak aktif.
'Tumben tidak aktif. Apa yang terjadi? Tidak biasanya Diandra mengaktifkan ponselnya,' gumam Emran yang saat ini masih memegang ponselnya dan mematikan panggilan.
Namun, beberapa saat kemudian ponselnya berdering dan melihat nomor sang istri. Kebetulan ia ingin berbicara dengan sang istri untuk memberikan ponsel pada Diandra agar bisa berbicara dengan ayah dari Austin Matteo.
Tanpa membuang waktu, ia langsung menggeser tombol hijau ke atas. "Halo, Sayang. Apa kamu bisa memberikan ponselmu ada Diandra karena aku baru saja menelpon, tapi tidak aktif nomornya."
"Sayang, pulang sekarang!" ucap Citra yang saat ini memang sedang berada di dalam kamar bersama dengan Diandra yang sudah menceritakan semuanya mengenai apa yang baru saja dilihat di media sosial.
Bahkan ia bisa melihat ponsel yang sudah bernasib nahas di atas lantai itu merupakan korban dari kemurkaan Diandra dan saat ini masih sangat marah begitu mengetahui bahwa pria yang ingin dituntut pertanggungjawaban malah berencana menikah dengan wanita lain.
"Sayang, apa maksudmu? Aku sudah berbicara dengan tuan Malik Matteo hari ini. Jadi, ia sudah tahu bahwa putranya telah menghamili Diandra." Emran benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pemikiran sang istri yang menyuruhnya untuk pulang setelah tiba di perusahaan Matteo.
Sementara itu, Citra tidak mungkin menjelaskan di telepon karena terlalu rumit dan akan mengingatkan Diandra mengenai nasib buruknya. Jadi, ia berpikir agar pria itu mengerti setelah ia menyampaikan apa yang dilihat Diandra.
"Baca kabar terbaru dari Austin Matteo karena saat ini sudah tersebar di media sosial. Diandra yang menyuruhmu untuk pulang sekarang dan melupakan semuanya. Aku tutup teleponnya karena ingin menghibur Diandra yang saat ini sangat marah."
Kemudian langsung mematikan sambungan telepon dan beralih menatap ke arah sosok wanita dengan tangan mengepal dan deru napas memburu tersebut.
Sementara di perusahaan, Emran saat ini langsung mengikuti perintah dari sang istri untuk mengetik nama Austin Matteo di mesin pencarian dan seketika mengetahui apa yang menjadi penyebab Diandra menyuruhnya kembali.
Kini, ia segera bangkit berdiri dari sofa dan memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celana. Kemudian mengulurkan tangannya sebagai salam perpisahan.
"Maaf, ternyata saya salah pergi ke sini karena baru mengetahui bahwa putra Anda akan menikah dengan wanita lain. Kalau begitu, lupakan apa yang tadi saya katakan karena Diandra tidak akan meminta pertanggungjawaban dari putra Anda!"
Malik Matteo yang saat ini bangkit berdiri dari posisinya dan terpaksa menjabat tangan pria itu. Namun, ia merasa sangat lega karena tidak mendapatkan masalah saat berencana untuk menikahkan putranya dengan Maria Belanda.
Ia tersenyum simpul dan mengungkapkan apa yang saat ini dirasakan. "Baiklah. Aku menghargai keinginan dari Diandra yang tidak menginginkan pertanggungjawaban dari putraku yang akan menikah dengan wanita lain."
"Tapi jika berubah pikiran, menyuruhnya untuk menghubungiku secara langsung." Kemudian ia mengeluarkan kartu nama dari dalam dompet dan memberikan pada sosok pria yang dianggap hanyalah sebuah perantara saja.
"Ini kartu namaku dan bisa diberikan pada Diandra agar sewaktu-waktu membutuhkan bantuanku, bisa menghubungi di nomor itu." Kini, ia berpikir bawah satu beban berat di pundaknya telah menghilang dan tersisa hanyalah untuk merayu putranya agar segera menikahi Maria Belinda.
Karena merasa bahwa pria paruh baya di hadapannya tersebut tidak punya perasaan pada seorang wanita yang mengandung cucunya, Emran tidak ingin berlama-lama di sana karena sudah sangat muak.
Jadi, saat ini memilih untuk berlalu pergi setelah menerima kartu nama tersebut. Bahkan ketika berjalan keluar menuju ke arah parkiran, ia langsung membuang kartu nama yang dianggap tidak penting karena berpikir bahwa Diandra pun tidak akan pernah meminta bantuan sedikit pun dari pria tersebut.
"Diandra, malang sekali nasibmu, tapi aku akan selalu melindungimu karena sudah menganggap seperti putri kandung sendiri. Aku juga akan menganggap bayi yang akan lahir itu sebagai cucuku," lirih Emran yang saat ini masuk ke dalam mobil dan menyuruh supir melajukan kendaraan untuk meninggalkan perusahaan yang dianggap sebagai neraka tersebut.
Mobil berwarna hitam tersebut kini melaju meninggalkan perusahaan membelah kemacetan ibukota menuju ke puncak.
__ADS_1
Sementara di tempat berbeda, yaitu lobi perusahaan, terlihat Malik Matteo masih duduk di sofa dan memikirkan tentang pembicaraan mereka beberapa saat lalu.
"Wanita itu benar-benar tidak akan mengacaukan pernikahan putraku, kan? Jika sampai ia menipuku, akan benar-benar membuat perhitungan dengannya. Aku tidak yakin jika bayi yang dikandungnya adalah benih putraku. Bisa jadi itu adalah benih orang lain karena mungkin saja suka berganti-ganti pasangan."
Saat Malik Matteo baru saja menutup mulut, mendengar suara bariton dari seseorang yang tak lain adalah putranya datang menghampiri.
"Papa!" teriak Austin Matteo merasa penasaran dengan siapa tamu yang tadi mencarinya dan ternyata berbicara dengan sang ayah.
Ia diberitahu oleh asisten pribadinya ada pria bernama Emran Jazim yang sama sekali tidak dikenal datang ke perusahaan. Bahkan sudah menyuruh untuk masuk ke atas, tapi sudah lama menunggu tidak kunjung tiba.
Akhirnya ia berbicara dengan resepsionis untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dan dijelaskan bahwa pria tersebut berbicara dengan sang ayah.
Namun, saat ia datang, ternyata terlambat karena pria itu sudah tidak ada lagi. "Siapa yang tadi datang ke perusahaan? Pria bernama Emran Jazim yang berbicara dengan Papa tadi.
"Memangnya itu siapa dan ada keperluan apa datang ke sini?" tanya Austin yang saat ini merasa sangat penasaran dan ingin tahu pembicaraan dari orang tuanya dengan pria yang awalnya mencarinya.
Karena tidak ingin memberitahu putranya bahwa yang datang merupakan yang mewakili Diandra untuk meminta pertanggungjawaban atas kehamilan yang dihadapi, kini Malik Matteo, kini mengarang sebuah kebohongan.
"Aaah ... itu, pria bernama Emran Jazim adalah seorang pengusaha yang dulu pernah bertemu dengan Papa di salah satu hotel. Ia menawarkan bekerja sama, tapi karena tadi kebetulan aku mengenalnya, jadi berbicara panjang lebar dengannya mengenai masa lalu."
Namun, tidak menerima lamaran kerjasama darinya karena bagiku sama sekali tidak menguntungkan bagi perusahaan kita. Jadi, dia marah dan pergi." Kemudian ia bangkit berdiri dari posisinya dan menatap ke arah putranya.
"Segera tetapkan hari pertunangan kalian karena kabar sudah tersebar di media sosial. Jika sampai kamu mencemarkan nama baik keluarga dengan tidak menerima Maria, bisa-bisa Perusahaan kita akan bangkrut. Ingat itu baik-baik, Austin!"
Tanpa menunggu tanggapan dari putranya, ia pun melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah pintu keluar. Ia benar-benar merasa sangat lega karena putranya datang setelah pria itu pergi karena sadar diri.
'Syukurlah masalah tidak bertambah semakin rumit karena pria itu sudah pergi,' gumam Malik Matteo yang saat ini masuk ke dalam mobil dan menyuruh supir untuk segera meninggalkan perusahaan.
Di sisi lain, Austin saat ini masih terdiam di tempatnya dan memikirkan perkataan dari sang ayah. "Kenapa aku merasa ada yang disembunyikan dari papa? Karena tidak biasanya papah langsung menolak kerjasama dari rekan bisnis. Biasanya selalu bertanya padaku terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan."
Karena merasa ada sesuatu yang aneh, Austin saat ini berjalan menuju ke arah resepsionis untuk bertanya. "Apa ada yang dikatakan oleh pria bernama Emran yang ingin bertemu denganku tadi?"
"Tidak ada, Tuan Austin karena tadi hanya mengatakan ingin bertemu dengan Anda untuk membicarakan sesuatu hal yang penting," sahut wanita berseragam hitam yang saat ini menjawab pertanyaan dari bosnya tersebut.
Austin makin merasa curiga karena tidak ada kata kerjasama. "Sesuatu hal yang penting? Sepertinya bukan kerja sama. Apa pria itu tadi membawa tas untuk menyimpan dokumen?"
Lagi-lagi wanita tersebut menggelengkan kepala karena tadi memang tidak melihat pria tersebut membawa apapun. "Tidak, Presdir. Pria itu datang dengan tangan kosong."
Karena merasa kecurigaannya berdasar, kini Austin sadar bahwa sang ayah mungkin benar-benar berbohong dan menyembunyikan sesuatu darinya. Ia pun mengangguk-anggukkan kepala pada resepsionis tersebut dan berlalu pergi.
Saat berada di dalam lift khusus petinggi perusahaan, ia kini memikirkan sesuatu. "Aku akan mencari tahu pria bernama Emran Jazim tersebut. Siapa tahu menjawab sesuatu yang membuatku merasa aneh semenjak kehilangan memori dua tahun terakhir."
To be continued...
__ADS_1