Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Memiliki peluang


__ADS_3

Sebenarnya Diandra sangat ingin menerima uang dari pria yang masih berdiri di hadapannya tersebut. Namun, ketika mengingat perkataan sebelumnya, membuatnya ingin membalasnya.


Refleks ia mengembalikan uang di tangannya tersebut ke telapak tangan dengan buku-buku kuat itu. "Aku memang orang miskin yang tidak punya uang, tapi juga masih mempunyai harga diri yang lebih penting dari uang satu juta ini."


Meskipun jauh di lubuk hati merasa sikapnya sangat kekanak-kanakan karena malah terkesan ingin bersaing dengan orang yang bahkan tidak selevel dengannya, Diandra kini buru-buru berbalik badan dan berniat untuk masuk pintu.


Bahkan ia ingin membanting pintu agar pria yang dianggap sangat berlagak tersebut segera pergi dari tempat kosnya.


'Aah ... sial! Demi harga diri, aku harus menahan lapar dan berisiko kehilangan kesempatan untuk bekerja di perusahaan,' gumam Diandra yang kini hanya bisa merutuki kebodohannya di dalam hati.


Saat ia hendak menutup pintu, tidak bisa melakukannya karena ditahan oleh tangan pria yang kini menghentikannya.


"Diandra, tunggu! Astaga! Kenapa kamu selalu salah paham dengan apa yang kusampaikan? Aku hanya memberikan bonus, bukan membeli harga dirimu dengan uang satu juta," seru Austin yang tengah berusaha untuk menahan amarah kala mendapatkan penolakan berkali-kali.


Ia tidak menyangka jika niat baiknya untuk memberikan uang pada wanita itu malah berakhir menjadi malapetaka karena jika sampai rencananya gagal untuk mengajak Diandra, sudah pasti para temannya yang diundang akan mengoloknya.


'Tidak akan kubiarkan mereka mengejekku adalah seorang pembual. Mana aku tadi sudah mengatakan pada mereka jika mempunyai mainan baru yang masih polos, tapi sedikit liar dan berbeda dengan para kekasihku lainnya.'


Austin bahkan kini bisa melihat ruangan kos yang menjadi tempat tinggal wanita incarannya tersebut.


Bahkan tiba-tiba merasa sesak melihat ruangan sempit yang terlihat sangat tidak nyaman untuk ditempati.


'Padahal jika ia mau, aku bisa membuatnya tinggal di apartemen. Bukan berada di ruangan sempit ini dan hanya ada satu kasur lantai tipis yang pastinya membuat badan pegal-pegal.'


"Sudah kukatakan aku tidak bersedia untuk ikut denganmu ke pesta ulang tahun Mirza karena simbiosis mutualisme di antara kita sudah selesai siang tadi." Diandra yang merasa kesal, akhirnya berbicara non formal dan sama sekali tidak memperdulikan apapun lagi.


Entah pria yang merupakan pemimpin perusahaan itu akan murka padanya atau pun membatalkan keputusan yang menerimanya bekerja mulai esok, kali ini Diandra sangat kesal jika mengingat kata-kata yang seolah menegaskan hanya orang kaya yang punya harga diri.

__ADS_1


'Mentang-mentang kaya, ia menganggap semua orang miskin tidak punya harga diri dan bisa diinjak-injak dengan mudah.'


Hal yang paling tidak disukai olehnya dan membuatnya merasa dilecehkan secara tidak langsung.


Salah satu hal yang disadari oleh Austin saat ini adalah sosok wanita yang berdiri di hadapannya tersebut sangat keras kepala dan sempat ia lupakan. Jadi, kali ini mencoba untuk berhati-hati kala berada di dekat Diandra.


Selama beberapa menit ia tadi memutar otak untuk mencari sebuah ide demi mengubah keputusan dari wanita itu. Hingga ia kembali merendahkan harga dirinya untuk kesekian kali.


"Maafkan aku. Sungguh aku tidak bermaksud untuk menghinamu dengan uang ini." Austin menatap ke arah tangannya yang kini masih membawa lembaran uang tersebut.


Kemudian ia memasukkan ke dalam saku celana bagian belakang agar Diandra tidak kembali merasa emosi ketika menatapnya.


"Baiklah, sekarang katakan apa keinginanmu saat aku berharap kamu tidak membuatku malu di depan Mirza dan juga beberapa teman lain dengan menghadiri acara pesta ulang tahun sahabatku yang sudah terlanjur menceritakan tentangmu?"


Akal bulus para lelaki yang dikenal dengan sebutan buaya darat sudah sangat dihafal oleh Diandra dan ia kali ini mengungkapkan sesuatu hal di pikirannya.


"Bawa saja kekasihmu yang tadi datang ke kantor. Apa susahnya?" Diandra berharap jika Austin segera pergi karena ia tidak ingin penghuni kos lainnya merasa terganggu.


"Masalahnya adalah Mirza mengatakan bahwa aku punya kekasih baru. Sementara semua temanku sudah pernah melihat para wanita yang menjadi kekasihku."


Refleks Diandra memijat pelipis karena merasa jika ini adalah pertama kali ia menghadapi seorang casanova seperti yang selalu membuatnya ilfil.


"Astaga! Padahal itu adalah salahmu karena mempunyai banyak kekasih. Kenapa malah menyeretku dalam masalahmu?"


Diandra masih terus mengarahkan tatapan tajam dan berharap dengan melakukan itu, pria yang masih menahan pintu tersebut segera meninggalkan tempat kosnya.


Saat ia baru saja menutup mulut, mendengar suara dering ponsel miliknya dan berpikir ada telpon penting, sehingga langsung berjalan menuju kasur tipis di pojok kanan.

__ADS_1


Begitu ponsel yang diambilnya sudah berada di tangannya, seketika ia merasa ada sesuatu hal tidak beres.


"Halo, Diandra."


"Ibu? Tumben menelpon. Biasa ayah yang menghubungi." Diandra memiliki firasat tidak baik karena jarang sekali orang tuanya menelpon.


"Diandra, Ibu terpaksa memberitahumu hal ini. Tadi sore, pria tua itu datang ke rumah dan menyuruh para pengawalnya membawa barang-barang seperti televisi, kursi dan beberapa barang lainnya. Karena terkena serangan jantung, jadi ayahmu sekarang dirawat di rumah sakit."


Embusan napas kasar yang menandakan tengah menanggung beban berat, Diandra seketika menoleh ke arah pintu. Di sana, ia bisa melihat sosok pria yang masih berdiri di dekat pintu.


Seolah tidak ingin pergi sebelum ia mengambil keputusan dan berpikir bahwa itu merupakan sebuah anugerah tersendiri baginya.


Tanpa ia bertanya, Diandra sudah tahu ke mana arah pembicaraan dari sang ibu yang pastinya membutuhkan uang untuk biaya rumah sakit.


'Apakah ini adalah sebuah jawaban atas kemalangan keluargaku? Karena pria itu masih berada di sana menunggu keputusanku untuk setuju melakukan simbiosis mutualisme kedua kalinya?'


Diandra kini kembali fokus pada telpon. "Lalu sekarang bagaimana keadaan ayah?"


"Sudah ditangani dokter dan sekarang sedang istirahat karena pengaruh obat. Diandra, sebenarnya Ibu tidak ingin membebanimu dengan kabar ini, tapi khawatir jika sampai terjadi hal-hal buruk mengenai ayahmu."


Suara tangis menyayat hati di balik telpon, kini membuat Diandra merasakan nyeri di hatinya. Ia benar-benar tidak tega melihat orang tuanya menderita di masa tua.


Ia ingin menjadi putri yang berbakti dan bisa meringankan beban orang tua, sehingga kini menghibur sang ibu sebisanya agar tidak terlalu tertekan karena kesedihan.


Sementara itu, Austin yang bisa mengerti arah pembicaraan dari sosok Diandra saat berbicara di telpon, merasa bahwa keberuntungan menghampirinya.


Ia bahkan tidak berhenti tersenyum ketika memikirkan memiliki peluang untuk bisa menaklukkan Diandra karena sudah mengetahui kelemahannya.

__ADS_1


'Aku yakin jika sebentar lagi, Diandra akan menyerahkan diri padaku. Tanpa perlu bersusah payah, aku akan membuatnya melakukan apapun yang kuinginkan.'


To be continued...


__ADS_2