Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Orang ketiga


__ADS_3

Austin yang tadi berbicara dengan sang asisten di telepon telah melaporkan jika wanita yang telah membuat istrinya hampir saja meninggalkannya, kini telah dalam proses dipulangkan dan juga paman dari Yoshi sudah dibekuk oleh polisi atas tuduhan teror.


Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dan merasa sangat lega sekaligus senang karena masalahnya sudah terselesaikan.


Saat menyadari jika itu tidak mungkin terjadi tanpa bantuan dari orang tua sahabat baiknya, sehingga sekarang kembali mengambil ponselnya dan menghubungi Leony untuk mengucapkan terima kasih.


Ia saat ini sudah memencet tombol panggil pada nomor yang sudah disimpannya karena Leony memberikan kartu nama. "Aku bahkan tadi tidak sempat berpamitan karena sibuk mengurus administrasi hingga lupa menemui mereka."


Kini, Austin masih menunggu panggilannya diangkat oleh sahabat baiknya tersebut dan beberapa saat kemudian terdengar suara dari seberang telepon.


"Halo."


"Leony, ini aku," ucap Austin yang membuka pembicaraan terlebih dahulu untuk mengingatkan sahabatnya tentang suaranya ditelepon karena sudah lama tidak saling menghubungi melalui telepon.


Leony yang tadinya berada di ruangan sang ayah sambil menyuapi, sehingga menghentikan dan menyuruh sang ibu untuk melanjutkan karena berpikir ada sesuatu yang penting disampaikan oleh Austin padanya.


"Iya, apa ada sesuatu yang ingin kau katakan? Kau tiba-tiba langsung menelponku, ini bukan seperti dirimu dan pasti ada yang ingin kau sampaikan," ucap Leony yang merasa sangat senang bisa berbicara di telepon dengan pria yang sudah lama tidak ia temui.


Sementara itu, Austin yang tidak bisa berbicara lama karena khawatir jika sampai sang istri protes dan cemburu jika mengetahui ia berbicara dengan sahabatnya tersebut.


"Aku sebenarnya ingin berbicara dengan papamu dan mengucapkan terima kasih atas apa yang dilakukannya untuk membantuku. Sekarang para penjahat itu sudah ditangkap dan mempertanggungjawabkan perbuatannya sebentar lagi."


Austin bahkan saat ini tersenyum lebar saat membayangkan orang-orang jahat yang telah menyakiti istrinya mendapatkan hukuman setimpal.


Sementara itu, Leony menampilkan wajah masam karena tadinya berpikir jika Austin ingin berbicara dengannya, tapi pada faktanya adalah ingin mengucapkan terima kasih pada sang ayah dan itu membuatnya kesal.


Ia yang masih ingin berbicara dengan sahabatnya tersebut, sehingga beralasan agar tidak bisa berbicara dengan sang ayah.


"Papaku sedang tidur, biar nanti aku katakan padanya jika kamu mengucapkan terima kasih atas bantuan dari rekannya di kepolisian. Oh ya, kenapa tidak datang langsung ke sini untuk berbicara dengan papaku." Leony yang baru saja menutup mulut, seketika terdiam dan merasa kesal atas apa yang baru saja diketahuinya.


"Aku sekarang sedang berada di rumah karena hari ini istriku diizinkan pulang. Maaf karena tadi tidak sempat berpamitan pada kalian, tapi aku pasti akan datang nanti untuk menjenguk ayahmu." Austin yang baru saja menutup mulut, mendengar suara teriakan dari sang istri dan seketika membuatnya melambaikan tangan.


"Maaf, aku dipanggil istriku. Aku menelpon hanya ingin mengatakan itu dan tolong sampaikan pada papamu jika aku benar-benar mengucapkan terima kasih padanya."


Leony yang sebenarnya masih ingin berbicara dengan Austin, merasa sangat kesal karena selalu ada saja penghalang dan sekarang istri dari pria itu yang membuatnya sulit menggapainya.


Ia selalu berakting menjadi seorang wanita yang kuat dan tidak pernah lemah di hadapan pria yang dicintainya tersebut. Kini harus berakting seperti biasa bahwa ia tidak masalah jika pria tersebut tidak memiliki perasaan apapun padanya, padahal hatinya benar-benar sangat sakit dan terluka.


"Ya, baiklah. Aku akan mengatakan semuanya pada papa. Sampaikan salamku pada istrimu dan semoga dia tidak dirawat di rumah sakit lagi." Kemudian langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu Austin berbicara untuk menanggapinya.


Ia bahkan saat ini masih menatap ke arah layar ponsel yang baru saja mati. Jika tadi awalnya merasa sangat senang ketika pria itu menelponnya dan bisa mendengar suara yang selama ini dirindukan karena memang sudah lama tidak berbicara melalui telepon.


Namun, sekarang ini yang terjadi adalah ia tidak bisa lagi berharap pada pria yang sudah mempunyai istri dan anak. 'Aku bahkan telah kalah 5 tahun yang lalu semenjak Diandra muncul dalam kehidupan Austin.'


'Aku dulu bahkan masih sering berhubungan melalui telepon, tapi semenjak Diandra datang, Austin sengaja menutup akses berhubungan dengan para wanita dan hanya fokus pada satu wanita saja. Kenapa Dia sangat beruntung menjadi pemilik hati seorang Austin Matteo,' gumam Leony yang saat ini terdiam di depan ruangan perawatan sang ayah.

__ADS_1


Ia tadi memang sengaja mengangkat telepon di luar agar tidak didengar oleh orang tuanya yang selalu saja masih berharap jika Austin bisa menjadi menantu di keluarga mereka.


Bahkan bukan mereka saja yang berharap pria itu mau dengannya, tapi dulu beberapa teman juga sering menjodohkan mereka dan mengatakan jika adalah pasangan yang serasi jika menjadi suami istri.


Ia saat ini terdiam dan mengingat tentang masa lalu yang menurutnya sangat indah untuk dikenang. "Rasanya aku ingin mengulang masa-masa indah itu agar bisa kembali bahagia seperti dulu lagi."


"Aku sangat bahagia bisa bersama dengan Austin Matteo," ucap Leony yang saat ini menatap ke arah beberapa cleaning service yang baru saja keluar dari ruangan yang ditempati oleh Diandra.


"Ternyata benar jika wanita itu sudah keluar dari rumah sakit." Ia hanya melihat dua orang cleaning service yang baru saja selesai membersihkan ruangan bekas Diandra.


Berpikir jika ia sudah tidak bisa lagi bertemu dengan Austin di rumah sakit, pada awalnya merasa senang bisa bertemu pertama kali di sana.


"Apa dia akan memenuhi janjinya untuk datang ke sini menjenguk papa? Jika itu terjadi, pasti aku akan merasa sangat senang bisa bertemu dengannya lagi." Leony yang saat ini memikirkan bahwa ia benar-benar merasa sangat merindukan sahabat baiknya tersebut dan tadi seolah sangat bahagia pertama kali melihatnya.


"Austin, kenapa kau tidak pernah melirikku sama sekali? Apa hanya karena alasan ditolak pertama kali oleh seorang wanita, sehingga menjadi penyebab kau tergila-gila padanya," ucap Leony yang saat ini mengungkapkan ada protes atas apa yang ia rasakan pada sahabat baiknya tersebut.


Sementara itu, saat ia mengumpat atas nasib buruknya karena tidak bisa mendapatkan sahabat baiknya tersebut, mendengar seorang wanita yang memanggilnya dan seketika menoleh ke arah sumber suara.


"Nona." Sang perawat yang baru saja datang menghampiri sosok wanita yang dianggapnya sangat cantik, ini mengeluhkan sebuah amplop. "Ada surat untuk Anda."


Leony saat ini mengerutkan kening karena merasa aneh mendapatkan surat dari perawat yang bahkan sama sekali tidak ia kenal. "Dari siapa?"


Sang perawat yang tadi mengantarkan pasien hamil yang baru saja pulang, memang mendapatkan sebuah surat secara diam-diam tanpa sepengetahuan suami wanita itu.


Menyuruh untuk memberikan pada sosok wanita cantik di hadapannya tersebut. "Ini dari pasien wanita yang baru saja pulang dan dirawat di kamar sebelah. Tadi kebetulan saya yang mengantarnya ke depan rumah sakit dan mendapatkan titipan itu agar diberikan pada Anda."


"Terima kasih," ucapnya yang saat ini tersenyum pada perawat wanita tersebut dan mengibaskan tangan agar pergi darinya supaya bisa membaca surat itu dengan tenang.


"Sama-sama, Nona." Kemudian merawat wanita tersebut membungkuk hormat dan berlalu pergi meninggalkan wanita yang tengah membuka amplop dan mulai membaca surat dari pasien.


Kini, terlihat Leony yang sudah membuka surat untuknya dan terlihat serius membaca rangkaian kata yang dituliskan oleh istri dari Austin.


To: Sahabat baik suamiku.


Maaf karena aku diam-diam mengirim surat untukmu tanpa sepengetahuan suami. Aku melakukan semua ini bukan berniat buruk padamu ataupun suamiku. Hanya saja, aku sebagai seorang istri yang sangat dicintai oleh sahabat baik yang kamu cintai, ingin menegaskan bahwa tidak ada ruang untukmu dalam hubungan kami.


Aku harap kamu tidak berhubungan dengan suamiku karena di dunia ini tidak ada yang namanya pertemanan antara seorang pria dan wanita karena pasti ada sesuatu yang lebih dari salah satu mereka.


Aku tidak ingin memberikan celah ataupun satu kesempatan sekalipun untuk membuat kalian lebih dari teman baik. Jadi, aku mohon sadar diri lah dan jangan ganggu kebahagiaan kami dengan atas nama sahabat baik.


Maafkan aku karena menyakiti hatimu dengan kalimat yang kasar, tapi aku hanya ingin melindungi keluarga kecilku dari hal-hal yang berhubungan dengan orang ketiga.


Sekian dan terima kasih.


From : Istri yang sangat dicintai suami.

__ADS_1


Leony yang saat ini baru saja selesai membaca surat dari Diandra tersebut, seketika meremas kertas di tangannya hingga menjadi kusut tidak beraturan. Ia bahkan seketika tertawa terbahak-bahak karena menganggap jika istri dari sahabatnya tersebut sangatlah berani berbicara apa adanya.


"Wah ... seumur-umur, aku baru kali ini membaca surat konyol dari seorang wanita yang merupakan istri dari pria yang kucintai. Sialan! Dia seolah menganggapku adalah pelakor yang berusaha untuk merebut suaminya."


Ia bahkan saat ini semakin meremas kertas di tangannya hingga terlihat tidak beraturan. Bahkan ia membayangkan saat wanita itu menuliskan surat tersebut dengan wajah penuh kebencian padanya.


Hingga ia pun merasa jika sesuatu hal yang membuatnya tidak bisa berkutik adalah dianggap mengambil kesempatan atas nama persahabatan.


"Bukannya dia sangat percaya diri jika Austin sangat mencintainya? Lalu, kenapa masih menuliskan surat padaku agar aku tidak berhubungan dengan Austin lagi? Memangnya apa haknya melarangku untuk berteman dengan Austin yang bahkan sudah lama mengenalku daripada dirinya?"


Leony saat ini benar-benar merasa sangat pusing kepalanya dan kini terlihat memijat pelipisnya untuk menenangkan apa yang dirasakan.


Bahkan tidak hanya kepalanya yang terasa pusing karena debaran jantungnya melebihi batas normal karena saat ini berdegup kencang seperti hendak meledak dari tempatnya.


Ia bahkan sudah mengusap dadanya agar tidak dipenuhi oleh emosi yang berkepanjangan karena memikirkan perkataan sinis dari Diandra padanya.


'Apa Austin akan memarahinya jika aku mengatakan tentang surat yang ditulisnya ini? Bukankah ini jelas-jelas mengatakan jika Austin tidak boleh berteman denganku dan aku pun tidak boleh menemui sahabatku? Apa ini yang dinamakan hubungan rumah tangga?' Ia saat ini tengah mempertimbangkan untuk mengatakan hal itu pada Austin atau menyembunyikannya.


Saat menatap ke arah kertas yang sudah berubah menjadi bulatan tidak beraturan, terdiam dan beralih ke sembarang arah.


"Aku perlu mengatakan ini atau tidak?" Ia saat ini masih merasa bingung apa yang harus dilakukan ketika keputusannya untuk kembali ke Jakarta dan berpikir bisa sering bertemu dengan Austin, tapi ternyata dilarang keras dengan cara mengirimkan surat.


"Memangnya ini zaman dulu yang main surat-suratan seperti anak kecil atau anak yang mengalami cinta monyet di masa dulu?" Tidak ingin makin dipusingkan dengan pemikirannya mengenai surat yang sudah berubah menjadi bulatan tidak beraturan di telapak tangannya, ia bangkit berdiri dari kursi dan memasukkan apa yang dipegangnya tersebut ke dalam saku celana bagian belakang.


Hingga ia pun kembali ke ruangan orang tuanya untuk menyampaikan pesan dari Austin dan juga menormalkan perasaannya agar tidak dikuasai oleh emosi gara-gara surat dari Diandra.


"Kenapa lama sekali, Sayang?" tanya wanita paruh baya yang baru saja selesai menyuapi sang suami dan mengerutkan kening begitu melihat wajah masam dari putrinya yang baru saja masuk ke dalam ruangan.


Leony yang saat ini terdiam karena sangat malas membicarakan tentang apa yang baru saja terjadi padanya. Ia menghampiri sang ayah dan duduk di kursi yang berada di sebelah sang ibu.


"Austin baru saja menelpon jika orang yang dilaporkan sudah ditangkap polisi dan sekarang dalam proses penyidikan. Juga dia mengucapkan terima kasih pada papa karena telah membantunya untuk mengurus masalah itu." Ia sebenarnya merasa sangat lelah dan ingin sekali pergi tidur.


Namun, pikirannya benar-benar kacau dan tidak mungkin bisa mengistirahatkan otaknya yang serasa ingin meledak saat itu juga.


Sementara itu, sang ayah yang mengerutkan kening karena melihat raut wajah putrinya sangat masam, berpikir jika ada sesuatu yang buruk terjadi. "Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa wajahmu sangat kusut seperti itu?"


"Tidak apa-apa, Pa," ucap Leony yang sangat malas membahas tentang surat yang baru saja dibacanya.


"Kenapa Austin tidak mengucapkan terima kasih secara langsung? Apa dia sekarang ada di ruangannya? Lebih baik kamu panggil saja dia ke sini," ucap sang ibu yang merasa sangat penasaran dengan masalah dari putrinya dan ingin menanyakan pada Austin karena berpikir ada hubungannya dengan pria itu.


Lagi-lagi Leony ya malas berbicara ataupun menjelaskan karena mengingat tentang perkataan sinis dari surat yang dibacanya tadi. "Dia sudah pulang ke rumah jangan lupa tidak berpamitan. Menyebalkan sekali!"


"Memangnya apa beratnya berpamitan terlebih dahulu sebelum pulang dari rumah sakit? Aku benar-benar tidak habis pikir dengan ulahnya yang selalu berbuat sesuka hati dan seenak jidat," sarkas Leony yang sangat malas membahas tentang sahabat baiknya yang dianggap seperti pepatah 'habis manis sepah dibuang'.


'Dasar pria brengsek yang menyebalkan,' umpat Leony yang saat ini meluapkan keluh kesah yang dirasakan dengan tidak lagi ingin menghubungi pria itu.

__ADS_1


'Oke, aku tidak akan berhubungan dengan suamimu lagi sebagai sahabat baik karena akan jauh lebih menarik jika aku menjadi wanita idaman lain untuk suamimu,' gumam Leony yang saat ini memutuskan untuk mengakhiri pertemanannya dengan Austin dan mengubahnya seperti seorang wanita yang disebut oleh Diandra tadi, yaitu orang ketiga.


To be continued...


__ADS_2