Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Terjebak cinta segitiga


__ADS_3

Berada di hadapan Austin, Yoshi merasa kecil karena pria di hadapannya tersebut jelas-jelas lebih sempurna darinya. Semua itu ia sadari saat menatap wajah bocah laki-laki yang berada dalam gendongan Diandra saat ini.


'Jadi, bocah laki-laki ini adalah hasil dari perbuatan Austin yang dulu membeli keperawanan Diandra?' gumam Yoshi yang saat ini merasa bahwa ia tidak akan mungkin bisa kembali pada Diandra.


Merasa menjadi seorang pria tidak berguna di hadapan Austin, refleks Yoshi meluapkan dengan meninju wajah pria di hadapannya.


"Aku akan membantumu balas dendam pada si berengsek ini, Diandra!" sarkas Yoshi yang kini bisa mengerti bagaimana perjuangan wanita yang hamil tanpa suami dan membesarkan anak sendirian.


Diandra yang masih belum beranjak dari tempatnya, kini membulatkan kedua matanya begitu melihat perbuatan Yoshi.


'Yoshi langsung tahu apa yang kurasakan pada Austin, sehingga memberikan hukuman pada si berengsek ini. Memang dari dulu hanya dia yang bisa mengerti aku, tapi sayangnya takdir tidak berpihak pada kami,' gumam Diandra yang kini melihat raut wajah memerah dari Austin.


Austin tadi seketika terhuyung ke belakang dengan merasakan nyeri pada wajahnya. Bahkan sudut bibirnya robek hingga mengeluarkan darah hingga merasakan nyeri.


Ia mengusap sudut bibirnya dengan ibu jari dan menatap penuh kemurkaan wajah pria yang sama sekali tidak diketahuinya siapa. Padahal ia bahkan tadi sudah bertanya baik-baik, tapi malah mendapatkan bogem mentah.


"Berengsek! Apa kau sudah gila?" sarkas Austin dengan rahang mengeras dan berniat untuk melakukan hal serupa.


"Aku bertanya baik-baik padamu. Kenapa kau memukulku?" sarkas Austin yang kini mengepalkan tangan dan berniat untuk mengarahkan pada wajah pria yang membuat bibirnya nyeri.


Namun, ia menghentikannya kala mendengar suara dari wanita yang terkesan sinis padanya serta pria di hadapannya.


"Lanjutkan saja! Aku tidak ingin melihat kalian berdua." Diandra yang tidak ingin berhubungan dengan dua pria beristri itu, ingin segera pergi menjauh. Apalagi ia saat ini menatap ke sekeliling.


Bahwa saat ini para pengunjung restoran menatap ke arahnya. Seolah keributan yang dilakukan oleh dua pria itu disebabkan karena dirinya.


'Pasti semua orang berpikir mereka memperebutkan aku. Padahal aku sama sekali tidak ada kaitannya dengan Yoshi dan Austin. Memalukan sekali,' sarkas Diandra di dalam hati.


"Tolong hentikan perbuatan Tuan-tuan!" ucap manager restoran baru saja mendapatkan sebuah laporan dari salah satu pegawai dan ia tidak ingin keributan itu membuat para pengunjung restoran merasa terganggu.


Diandra berjalan pergi tanpa memperdulikan sang manager restoran karena tidak ingin putranya melihat kekerasan dari para orang dewasa.


Namun, keinginannya hanya angan semata saat Austin kembali menahan pergelangan tangan kanannya.

__ADS_1


"Jangan pergi! Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu," ujar Austin dengan harapan besar pada sosok wanita yang telah membuatnya penasaran sekaligus sangat aneh pada perasaannya.


"Maaf karena akulah yang memulai keributan ini dan akan menyelesaikan secara kekeluargaan," ucap Yoshi yang kini menyadari kesalahannya begitu melihat respon dari Diandra yang seolah tidak ingin berbicara dengannya sama sekali setelah lama tidak bersua.


'Aku pun ingin bicara dengan Diandra untuk bertanya bagaimana hidupnya setelah pergi dulu,' gumam Yoshi yang saat ini tengah menatap ke arah Austin yang menghentikan Diandra agar tidak kabur.


"Lebih baik Anda selesaikan di private room agar tidak menganggu ketenangan para pengunjung restoran. Tolong ikut saya!" Kemudian sang manager restoran mengajak tiga orang tersebut menuju ke ruangan yang lebih privasi di restoran tersebut.


Yoshi sebelumnya menatap Austin dan Diandra. "Diandra, ada hal yang harus kita bertiga selesaikan. Memang semuanya sudah berlalu tiga tahun masalah ini berlalu, ada banyak hal yang ingin kutanyakan. Apalagi kamu dulu tiba-tiba pergi dan aku sudah berusaha untuk mencarimu, tapi tidak menemukanmu."


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan!" sahut Diandra yang tadinya menatap kesal Austin dan beralih pada Yoshi.


Sementara itu, Austin masih merasa sangat bingung. "Tolong kerja samanya, Nyonya Diandra."


Tanpa menunggu jawaban dari wanita yang tangannya masih digenggamnya, Austin sudah berjalan mengikuti langkah kaki pria yang sama sekali tidak dikenalnya tersebut.


Sebenarnya, Diandra tidak berniat untuk ikut Yoshi dan Austin, tapi ia tidak bisa kabur dari kuasa pria yang masih tidak melepaskan kuasanya.


'Apa benar si berengsek ini hilang ingatan? Kenapa sikapnya yang arogan dan berbuat seenaknya sendiri tidak hilang?' Diandra sibuk mengumpat Austin di dalam hati.


"Omm ...." seru Aksa yang memandang sosok pria yang menggandeng sang mama.


Austin dan Diandra langsung menoleh ke arah putranya sebelum masuk ke dalam private room di restoran tersebut.


"Ada apa, Sayang?" tanya Diandra yang merasa khawatir pada putranya dan ia sudah tahu apa yang terjadi setelahnya.


Melihat sang mama digenggam erat oleh orang asing, membuat Aksa menangis tersedu-sedu karena berpikir ada yang jahat dengan ibunya.


Refleks Austin langsung melepaskan genggamannya pada tangan wanita itu. Ia benar-benar merasa khawatir pada anak laki-laki itu.


"Sayang, jangan menangis. Nanti Om akan membelikan banyak mainan dan es krim, ya," bujuk Austin yang sangat hafal dengan kesukaan dari seorang anak kecil.


Apalagi ia selama ini sangat dekat dengan keponakannya yang hari ini ulang tahun dan sengaja merayakan di restoran cepat saji agar menghibur kesepian yang selama ini dirasakan karena sang ayah sudah meninggal dua tahun lalu.

__ADS_1


"Jangan coba-coba merayu putraku!" sarkas Diandra yang merasa sangat kesal sekaligus marah pada Austin karena melihat putranya yang tiba-tiba langsung mengangukkan kepala tanda senang mendengar hal yang dari tadi diinginkan.


Sementara itu, Austin kali ini semakin dibuat tidak mengerti dengan sikap ketus dari Diandra saat melihatnya dan ia sudah tidak bisa menahannya lagi begitu sudah berada di ruangan pribadi di restoran.


"Apa aku dulu pernah melakukan kesalahan padamu? Katakan padaku, agar aku mengerti kesalahanku. Jadi, aku bisa memperbaiki semuanya dengan meminta maaf dan menebusnya."


"Apalagi saat tadi melihatmu, kepalaku benar-benar pusing karena seperti mengingat sesuatu. Hanya saja saat aku berusaha untuk mengingatnya, rasanya kepalaku makin nyeri," seru Austin yang ingin menyelesaikan semuanya hari ini dengan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada wanita itu.


Sementara itu, Diandra tidak berniat untuk mengatakan semuanya karena ingin menyembunyikan jati diri dari putranya. Ia tahu bahwa dengan melihat Austin, membuka luka lama di masa lalu.


'Sampai mati pun, aku sama sekali tidak akan pernah menceritakan apa yang terjadi di masa lalu. Itu hanya akan membuat jati diri putraku terungkap. Tidak boleh! Tapi, Yoshi mengetahuinya. Aku harus bicara padanya agar tidak mengungkapkan semuanya pada si berengsek ini!'


Diandra seketika menatap ke arah Yoshi yang membuka mulut dan membuatnya membulatkan mata.


"Dasar berengsek! Karena perbuatanmu, Diandra jadi ...." Yoshi menghentikan penjelasannya saat mendengar suara teriakan Diandra.


"Stop, Yoshi! Apa hakmu berbicara mendahuluiku?" sarkas Diandra yang langsung menghentikan aksi dari sosok pria yang pernah menjadi orang paling berarti di hatinya.


Yoshi mengerutkan keningnya karena tidak paham apa yang diinginkan oleh Diandra. Apalagi melihat Diandra memperlakukannya sama dengan Austin, yaitu sangat sinis.


Ia bingung kenapa wanita yang masih belum bisa dilupakannya itu membencinya. Padahal dulu di surat yang ditulis, menyuruhnya untuk membahagiakan wanita yang dinikahinya.


Bahkan ia sudah menuruti perintah dari Diandra, tapi dibenci dan membuatnya merasa sangat bingung menghadapi wanita di hadapannya tersebut.


"Diandra, apa salahku padamu? Apa kamu marah padaku karena dulu tidak bisa menolak perintah papaku saat sekarang di rumah sakit? Kamu sudah tahu semuanya dari si berengsek ini, kan? Lalu kenapa kamu menyembunyikannya?"


"Kenapa kamu tidak jujur padaku? Kenapa kamu malah memilih pergi diam-diam dan menulis surat perpisahan menyakitkan itu?" Yoshi benar-benar merasa sesak kala mengingat tentang masa lalu dan hidupnya berantakan sampai sekarang.


'Apa mungkin aku bisa hidup bahagia dengan Diandra jika dulu tidak menuruti perintah papa? Bahkan mungkin aku bisa menjadi seorang ayah untuk anak ini, meskipun bukan ayah biologisnya. Namun, yang terjadi adalah saat ini hidupku sama sekali tidak berarti.'


Diandra saat ini merasa sangat bingung harus menanggapi seperti apa. Ia malah mendengar suara bariton dari Austin dan membuatnya makin frustasi.


"Apa kita dulu terjebak dalam cinta segitiga?" tanya Austin yang kini menebak semuanya setelah mendengar pembicaraan dari pria dan wanita di hadapannya tersebut.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2