Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Suara seseorang


__ADS_3

Beberapa saat yang lalu, Austin menggendong bocah perempuan berusia dua tahun, sekilas melihat sosok wanita yang tengah menggendong seorang putra.


Entah mengapa tiba-tiba ia merasakan denyut di kepala dan sedikit membuatnya memegangi pelipis begitu ber-sitatap dengan sosok wanita yang baru saja dilihatnya tersebut.


'Kenapa kepalaku rasanya sangat sakit seperti ini begitu melihat wanita itu? Siapa wanita itu sebenarnya? Apa aku mengenalnya di masa lalu? Apalagi tatapannya seperti sinis saat melihatku,' gumam Austin yang masih berusaha untuk menahan rasa nyeri di kepalanya.


Ia sebenarnya ingin fokus pada acara yang sudah dibuka oleh MC, tapi tidak bisa melakukannya kala rasa ingin tahunya jauh lebih besar ketimbang berada di acara ulang tahun dengan banyak orang yang merayakannya.


Ada rasa aneh yang membuatnya seperti membangkitkan sesuatu dalam diri. 'Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku?'


Tidak ingin rasa sakit di kepala mendominasi dan menyebabkan acara ulang tahun menjadi hancur jika mengeluhkan rasa sakit luar biasa di kepalanya saat ini.


Apalagi ia merasa jika wanita tadi seolah tidak mau menatapnya saat berpamitan dan membuatnya merasa ada yang aneh. Dengan beralasan ingin memberikan makanan untuk wanita yang terlihat buru-buru pergi, ia sedikit berlari untuk mengejar wanita dengan langkah kaki cepat saat berjalan menuju ke arah mobil.


Begitu melihat wanita yang baru saja masuk ke dalam mobil itu menyalakan mesin mobil, ia buru-buru berlari dengan melambaikan tangan karena ingin berbicara dengan wanita yang entah mengapa membuat kepalanya berdenyut.


"Nyonya, tunggu!" Austin bahkan sedikit berlari agar bisa mengejar sosok wanita yang ingin ditanyainya secara khusus.


Sementara itu di sisi lain, Diandra yang ingin mengetahui apa mau Austin setelah sudah hidup bahagia bersama anak dan istri, yakin jika pria itu tidak akan pernah mengganggunya lagi.


'Aku sangat yakin jika bajingan ini ingin mengancamku agar tidak memberi tahu istrinya tentang masa lalu yang membuatku berakhir menjadi single parent,' gumam Diandra yang kini terpaksa sedikit membuka jendela mobil karena ingin tahu apa mau Austin sebenarnya.


"Apa yang kau inginkan sebenarnya, berengsek?" sarkas Diandra dengan wajah penuh kilatan amarah.


Sementara itu, Austin yang merasa aneh melihat tatapan penuh kebencian dari wanita itu, semakin merasa yakin bahwa ada sesuatu yang terjadi dan berhubungan dengan masa lalu yang sama sekali tidak diingatnya.


'Aku yakin jika ia mengenalku karena memanggilku berengsek,' gumam Austin yang kini makin yakin jika wanita yang tiba-tiba datang dan pergi tersebut pernah mengenalnya.

__ADS_1


"Nyonya, apakah Anda mengenalku? Kenapa aku merasa Anda mengenalku dengan baik?" ujar Austin dengan tatapan intens dan posisinya yang sedikit membungkuk.


Diandra yang mengerjapkan kedua matanya, refleks langsung terbahak begitu mendengar pertanyaan konyol yang baru saja didengarnya dan semakin membuat amarah membuncah.


'Hal konyol apa lagi yang tengah direncanakan bajingan ini. Aku benar-benar tidak bisa menahannya lebih lama karena sangat muak dan jijik melihatnya.'


Merasa kesabarannya telah habis, Diandra memilih untuk segera menginjak pedal gas dan meninggalkan sosok pria yang sangat dibencinya.


Hingga ia merutuki kebodohannya karena melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hanya karena melihat Austin, hingga membuat putranya yang tadinya sibuk menatap ke arah balon, berjenggit kaget dan langsung menangis.


"Sayang, tidak apa-apa. Maafin Mama, ya karena membuat Aksa takut. Mama tidak akan ngebut lagi, Sayang." Diandra langsung menepikan mobil dan merasa sangat bersalah pada putranya.


Refleks ia langsung menggendong putranya dan menggendong ke pangkuan. Ia kini bahkan memeluk erat tubuh mungil putranya dan mengusapnya dengan lembut.


Ia masih berusaha untuk menghibur putranya dengan mengarahkan tangannya untuk mengusap bulir air mata dan kembali memeluk dengan sangat erat.


Namun, ia merasa sangat terkejut saat melihat tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depan mobilnya. Belum selesai rasa terkejutnya, ia semakin panik saat melihat sosok pria yang memakai kemeja, tak lain adalah Austin turun dari mobil dan berjalan mendekat.


'Austin? Apa mau si berengsek itu sebenarnya? Apa dia tidak takut rumah tangganya hancur jika aku mengatakan pada istrinya mengenai masa lalu?' gumam Diandra yang masih mengusap punggung putranya dan tidak berniat untuk membuka pintu mobil.


Sementara itu, Austin semakin mencurigai sosok wanita yang seolah menghindarinya. Ia ingin menuntaskan rasa penasarannya. Akibat kecelakaan yang dialami dulu, ia kehilangan sebagian memori.


Ia merasa aneh dan hampa semenjak kehilangan sebagian memori di kepalanya. Apalagi sesuatu yang dilupakannya sama sekali belum diingat sampai sekarang. Bahkan ia sudah menjalani semua perawatan sekaligus terapi, tapi sama sekali tidak ada hasilnya.


'Aku sangat yakin jika wanita itu bisa menjawab semua pertanyaan yang berhubungan dengan masa laluku. Sebenarnya siapa wanita itu dan apa yang terjadi di antara kami?' gumam Austin yang tadi merasa ada sesuatu, seperti sebuah filing dalam dirinya.


Jadi, ia memilih mengejar mobil wanita yang sama sekali tidak diketahui siapa namanya dan kini bernapas lega karena usahanya tadi tidak sia-sia. Kini, ia berdiri di sebelah mobil

__ADS_1


"Nyonya, tolong buka pintunya. Saya ingin berbicara dengan Anda." Austin berteriak dari luar pintu mobil yang masih tertutup rapat itu.


'Aku tidak akan pergi dari sini sebelum mendapatkan jawaban dari wanita ini karena semua orang seolah menyembunyikan sesuatu dariku,' gumam Austin yang masih terus mengetuk kaca mobil.


Berbeda dengan yang dirasakan oleh Diandra saat ini karena semakin marah sekaligus frustasi.


Tidak ingin membuang waktu, Diandra kembali menyalakan mesin dan segera meninggalkan pria yang sangat dibencinya karena tidak ingin semua makin runyam kala Austin mengetahui jika Aksa adalah darah daging pria itu.


'Aku tidak akan pernah membiarkan si berengsek itu mengetahui siapa sebenarnya Aksa.' Diandra kini fokus menatap ke arah depan dan mendengar suara putranya yang sudah tidak lagi menangis, tapi tengah memegangi perut dan mengatakan ingin makan.


Saat sekilas menatap putranya, amarah yang tadinya membakar seluruh jiwanya, mendadak menghilang karena sangat terhibur dengan tingkah menggemaskan putranya.


"Aksa lapar? Baiklah, sekarang kita pergi makan di restoran."


Aksa terlihat bertepuk tangan untuk mengungkapkan kebahagiaannya. "Mamam."


"Iya, Sayang. Kita makan dulu." Diandra mengurangi kecepatan mobil dan mencari restoran dan langsung berbelok, lalu memarkirkan mobilnya.


Setelah mematikan mesin mobil, ia turun dengan menggendong putranya berjalan masuk ke arah restoran dan mencari tempat duduk yang sekiranya nyaman untuk mereka.


"Sayang duduk di sini, ya." Tersenyum sambil merapikan rambut hitam yang terlihat berantakan tersebut.


Kemudian ia memesan makanan setelah waiters datang. Diandra menunggu makanan datang sambil bercanda tawa dengan putranya.


Namun, beberapa saat kemudian, degup jantungnya berdetak kencang melebihi batas normal kala mendengar suara bariton pria yang pernah menjadi satu-satunya orang yang dipercaya, memanggil namanya.


"Diandra ...."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2