
"Siapa yang mengizinkanmu pergi? Bukankah aku tadi mengatakan temani aku makan!" ucap Austin yang menahan pergelangan tangan kiri Diandra.
"Aku hanya bercanda, jadi jangan diambil hati. Kamu sangat seksi berpenampilan seperti ini." Austin masih tidak melepaskan kuasa dan menarik tangan Diandra agar segera duduk di sebelahnya.
Refleks tubuh Diandra terhuyung ke belakang dan terempas sofa. "Tuan Austin!" rengut Diandra yang merasa sangat kesal karena selalu saja dipaksa untuk melakukan hal yang tidak diinginkan.
Bahkan ia saat ini menggeser posisi duduknya karena merasa sangat tidak nyaman duduk di sebelah pria yang baru saja membual.
"Saya menyadari tidak punya tubuh seksi seperti para kekasih Anda, jadi tidak perlu berbohong dengan mengarang cerita."
Austin kini hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari wanita yang dianggap adalah makhluk maha benar. "Ternyata apa yang dikatakan banyak orang benar. Bahwa wanita tidak pernah salah."
"Ngomong jujur salah, bohong pun tambah salah." Kemudian ia membuka kotak makanan di atas meja. "Lebih baik cepat makan karena jika sampai kamu terlambat di mejamu, sudah pasti akan mendapatkan omelan dari para senior."
Menyadari tidak ada gunanya berdebat karena pasti akan kalah, kini Diandra memilih untuk menikmati nasi kebuli yang merupakan hidangan nasi kaya akan rempah dengan aroma khas bercita rasa gurih.
Ia tahu jika itu adalah makanan yang identik dengan Timur Tengah, tapi belum pernah sekalipun makan. Namun, sering melihat di media sosial dan selalu membuatnya menelan ludah.
Bahkan begitu membuka nasi kebuli itu, seketika cacing-cacing di perut bersorak dan meminta untuk diisi. Hanya dengan mencium baunya saja membuatnya sangat lapar.
Kemudian ia tidak membuang waktu dan mulai menyuapkan satu sendok ke dalam mulut dan seketika melumer di lidah. Kuah kental semur daging yang menjadi lauknya, membuat kelezatan nasi kebuli berlipat ganda.
'Ternyata rasanya seperti ini. Di dekat pria ini, aku bisa makan makanan enak dan mahal yang tidak pernah kumakan. Lumayanlah, bisa menghemat pengeluaran untuk makan,' gumam Diandra yang saat ini mendengar suara bariton Austin.
"Ini adalah salah satu makanan kesukaanku, jadi kamu harus menghafalnya. Bahkan ini sangat populer di kalangan warga Betawi. begitu pula pada masyarakat keturunan Arab di sini." Austin mengunyah sambil menjelaskan, agar wanita di sebelahnya mengerti apa yang disukai dan tidak.
Diandra yang tadinya ingin makan dengan cepat karena takut terlambat ke meja kerjanya, tidak memahami apa yang dimaksud dan membuatnya ingin tahu.
"Buat apa saya menghafalnya? Saya bukan istri Anda. Sebaiknya makan tanpa berbicara karena saya pun harus buru-buru." Diandra kembali menyuapkan makanan dan mengunyah cepat.
Berharap segera habis dan tidak membuangnya karena ia tahu bagaimana susahnya mencari uang demi sesuap nasi di Jakarta.
"Baiklah. Aku tidak akan berbicara lagi karena sangat lapar setelah mendengar omelanmu dan ingin makan tanpa suaramu yang berisik. Habiskan makanannya!" Austin kini menggeser tubuhnya menjauh karena ingin menghadap ke arah Diandra.
Dengan begitu, ia bisa dengan jelas menatap wajah natural yang seperti tidak mengenal make up tebal dan menurutnya jauh lebih cantik.
__ADS_1
Diandra tahu apa yang sedang dilakukan oleh atasannya adalah salah satu cara mendapatkannya.
Ia segera menikmati dan ingin buru-buru pergi dari ruangan yang terasa seperti kesulitan bernapas.
'Jangan pikir aku akan terpesona hanya karena sikapnya yang seperti itu.'
Antara marah dan kesal, semuanya bercampur menjadi satu.
Untuk beberapa menit, suasana hening di dalam ruangan kerja tersebut karena keduanya sibuk mengunyah makanan dan menikmati sensasi kelezatan dari nasi kebuli dengan semur daging.
Diandra bahkan tidak bisa berhenti untuk mengunyah karena merasa makanan di dalam mulutnya sangat lezat.
Beberapa menit kemudian, Austin sudah menyelesaikan kegiatan makan dan melirik ke arah wanita yang masih belum selesai makan. Kemudian ia minum air mineral.
"Aku sudah selesai. Sepertinya kamu akan terlambat ke mejamu. Bersiaplah untuk mendapatkan omelan dari atasan di divisimu."
Sementara itu, Diandra yang merasa sangat kenyang, tidak bisa menghabiskan makanan, tapi sayang membuangnya karena mengetahui harganya.
Jadi, ia memaksa untuk tetap menyuapkan ke dalam mulut. Namun, perutnya terasa penuh. "Berhentilah makan sebelum kenyang, tapi sekarang sudah kekenyangan. Jadi, saya tidak bisa menghabiskannya, Tuan Austin."
Kemudian Diandra menutup kembali kotak makanan itu. Kemudian mengambil air mineral yang masih utuh karena tadi juga disuruh membeli dua. Namun, ia seketika merasa sangat malu begitu mendengar ejekan pria di sebelahnya.
Diandra langsung tersedak saat minum hingga membasahi kemejanya. "Aaah ... sial!"
Kemudian Diandra segera membuka tas miliknya untuk mengambil tisu dan mencoba untuk mengeringkannya. Namun, menyadari jika itu tidak akan berhasil dan membuatnya merasa sangat kebingungan.
Apalagi kemejanya basah pada bagian dada. Mungkin jika berwarna gelap, ia tidak akan kebingungan seperti ini karena tidak akan jelas terlihat. Namun, sekarang pakaiannya berwarna cerah, sehingga sangat jelas saat basah.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" Diandra merasa sangat kebingungan.
Ia ingin marah pada pria yang kini hanya diam menatapnya, tapi menyadari bahwa itu tidak akan ada gunanya. Embusan napas kasar kini mewakili perasaan Diandra yang dilanda kebingungan sekaligus rasa kesal.
Sementara itu, Austin yang bisa melihat cetakan pakaian dalam milik wanita di hadapannya tersebut merasa tidak menyukainya.
Jika biasanya ia lebih menyukai wanita berpakaian seksi dengan menampilkan lekukan tubuh dan tidak jarang bisa menatap dua gundukan sintal, kini merasa berbeda ketika menatap Diandra.
__ADS_1
Refleks ia melepaskan jasnya dan memakaikan pada Diandra. "Pakai saja ini karena bra hitam yang kamu pakai kelihatan jelas."
Wajah Diandra seketika memerah karena di dekat pria itu, selalu merasakan sesuatu untuk pertama kalinya. Kali ini mendengar kalimat bernada vulgar tersebut, membuatnya malu sekaligus kesal.
'Astaga! Bisa-bisanya dia dengan sangat santai mengatakannya. Apa ia sudah terbiasa berbicara vulgar pada para kekasihnya. Aku jadi penasaran dengan kekasihnya yang selalu dibanggakan itu,' gumam Diandra yang kini merasa sangat bingung jika memakai jas laki-laki dan merupakan milik bosnya.
Kemudian ia memilih untuk melepaskan jas itu. "Saya tidak bisa memakainya karena jika ada yang mengetahui bahwa ini adalah milik Anda, pasti mereka akan berpikir saya adalah wanita simpanan Anda, Presdir."
Austin menahan tangan Diandra agar tidak melepaskan jas yang diangggap bisa melindungi area yang menurutnya paling seksi dari bagian tubuh wanita.
"Semenjak kapan aku perduli pada pemikiran orang? Biarkan saja mereka berbicara sesuka hati. Itulah gunanya ada pepatah 'Anjng menggonggong kafilah berlalu'."
"Kamu tidak boleh menunjukkan dadamu di depan staf pria di perusahaan ini. Oh ya, satu lagi. Besok kamu harus pakai celana panjang. Jangan rok seperti ini karena memperlihatkan kakimu dan membuat para pria berpikiran mesum."
Bahkan Austin berbicara dengan mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi. Berharap Diandra patuh dan tidak membantah atau pun keras kepala seperti biasanya.
Sementara itu, Diandra saat ini Diandra mengerjapkan mata karena merasa jika ancaman atasannya sangat konyol. "Sepertinya apa yang baru saja Anda sampaikan itu sangat cocok dan mewakili Anda?"
"Tadi saya melihat para staf wanita memakai rok ketat dan pendek. Bahkan rok yang saya gunakan tidak sependek mereka. Saya melihatnya saat masuk ke lobi perusahaan dan berada di dalam lift."
Diandra benar-benar tidak terima dengan sikap pilih kasih pria yang dianggap seperti tengah memperlakukannya bak anak tiri.
"Kenapa Anda membedakan perlakuan pada saya dan staf yang lain? Sepertinya Anda sangat dendam pada saya." Diandra yang tidak punya pilihan, kini melihat jam tangannya dan membulatkan mata karena ia benar-benar terlambat lima menit.
"Mati aku!"
Buru-buru ia bangkit berdiri dan berjalan keluar tanpa menoleh lagi ke belakang. Bahkan ia merasa sangat takut akan mendapatkan kemurkaan dari senior.
"Kenapa aku banyak bicara dan tidak langsung pergi saja tadi?" umpat Diandra berlari ke arah lift dan memencet tombol lima.
Saat lift bergerak turun, ia yang merasa sangat kesal karena ulah Austin, kini mencoba menormalkan perasaannya.
"Tenang ... tenang. Terima saja kemurkaan dari senior karena kamu sudah belajar dari pria yang menjadi penyebab aku terlambat."
Begitu pintu lift terbuka, Diandra yang masih merasa sangat gugup sekaligus takut, kini melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke kubikel yang kosong.
__ADS_1
Ia memakai logika bahwa kubikel kosong pasti adalah miliknya. Namun, ia yang berniat untuk menyapa semua staf di tempat masing-masing, seketika merasa malu karena mendapatkan tatapan dari semua orang.
To be continued...