
Tentu saja saat ini Diandra merasa sangat lega karena pria yang duduk di sebelah kanannya tersebut memenuhi janji dan tidak membawanya ke apartemen.
Bahkan suara hembusan napas lega kini memenuhi mobil yang melaju menuju ke arah apartemen yang tak jauh dari tempat mereka bertemu.
'Syukurlah si berengsek ini benar-benar menepati janji dan tidak menculikku dengan membawa ke apartemen yang bagaikan neraka itu. Apa aku harus menceritakan pertemuanku dengannya pada Yoshi?' gumam Diandra yang saat ini tengah mempertimbangkan apakah akan memberitahu pria yang saat ini tengah mengalami masalah.
Ia yang saat ini menatap ke arah jalanan di sebelah kirinya tanpa menoleh ke arah Austin yang tidak lagi bersuara, berpikir bahwa hanya akan menambah masalah Yoshi.
'Tidak perlu! Aku tidak perlu menceritakan tentang pertemuanku ini pada Yoshi karena ia sendiri tengah banyak masalah saat ayahnya masuk rumah sakit karena serangan jantung. Aku tidak ingin menambah beban pria baik sepertinya hanya karena masalahku yang tidak penting.'
Saat Diandra masih sibuk dengan pemikirannya mengenai hal yang akan ditutupi pada Yoshi, berbeda dengan Austin yang saat ini baru saja mendengar suara dering ponsel miliknya.
Merasa ada hal penting karena tengah malam menghubunginya, sehingga ia langsung mengambil ponsel pada saku jas yang dikenakan dan melihat nomor detektif yang diperintahkan untuk mengawasi keluarga Yoshi.
Refleks ia menggeser tombol hijau ke atas karena merasa sangat penasaran dengan berita apa yang akan disampaikan oleh orang yang dibayarnya mahal untuk mencari kelemahan keluarga pria yang menjadi saingannya tersebut.
"Halo." Melirik ke arah sosok wanita yang ada di sebelah kirinya tengah asik menatap ke arah jalanan dan sama sekali tidak menoleh padanya ketika mengangkat telepon.
Tentu saja hal itu membuatnya lega karena bisa fokus mendengarkan penjelasan dari sang detektif yang sangat diyakini olehnya tengah membawa berita penting. Hingga ia mendengar suara bariton dari seberang telpon.
"Halo, Tuan Austin. Maaf karena tengah malam begini mengganggu waktu istirahat Anda," ucap sang detektif yang saat ini memastikan apakah pria yang ditelepon olehnya kesal atau tidak karena menghubungi saat tengah malam.
Dengan sangat santai Austin menjawab bahwa ia tidak sedang tidur dan sedang dalam perjalanan.
__ADS_1
"Katakan saja semuanya karena aku yakin ada berita penting yang ingin kau sampaikan padaku, hingga tidak menunggu besok untuk mengatakannya." Austin benar-benar tidak sabar dengan berita yang membuatnya merasa sangat penasaran.
Kini, ia memasang telinga lebar-lebar dan mendengarkan saat sang detektif mulai menjelaskan.
"Syukurlah jika Anda belum beristirahat, Tuan Austin. Jadi, tadi ayah dari Yoshi mendapatkan serangan jantung dan dilarikan ke rumah sakit. Saya bahkan membayar seorang perawat untuk mencari tahu perihal itu. Ternyata ada satu hal penting yang mungkin akan membuat Anda merasa sangat senang."
Austin seketika tersenyum menyeringai karena merasa yakin jika detektif benar-benar membawa kabar baik untuknya dan ia sama sekali tidak berkomentar karena hanya melirik sekilas ke arah wanita yang masih terus memalingkan wajah di sebelahnya tersebut.
'Kira-kira apa yang saat ini akan dikatakan oleh detektif mengenai Yoshi. Aku jadi benar-benar penasaran dengan kabar baik itu dan kuharap ini akan menjadi titik terang untukku mendapatkan Diandra,' gumam Austin yang masih memasang indra pendengaran dan seketika tersenyum menyeringai begitu mengetahui apa yang dikatakan oleh sang detektif.
"Jadi, ayah dari Yoshi berpikir mendekati ajalnya, sehingga ingin melihat putranya menikah sebelum meninggal. Saya baru saja diberitahu oleh perawat jika besok pagi akan dilakukan pernikahan mendadak di ruangan sebelum dilakukan operasi. Intinya, pria itu dijodohkan dengan seorang wanita yang berprofesi sebagai seorang jaksa."
Kemudian pesan detektif menunggu komentar dari bosnya karena ingin mengetahui apa yang dipikirkan oleh pria yang telah membayar mahal dirinya untuk menyelidiki tentang keluarga pria bernama Yoshi.
'Wah ... sungguh sangat luar biasa akan takdir yang selalu berpihak padaku dan tidak pernah berada di pihak Diandra. Akhirnya Tuhan memberikan jalan padaku untuk bersatu dengan wanita ini karena sudah tidak ada harapan baginya bersama dengan pria yang dibanggakan.'
Austin yang saat ini masih tidak mengalihkan pandangan dari sosok wanita di sebelahnya tersebut, sehingga saat ini sudah memikirkan banyak rencana mengenai pernikahannya dengan Diandra.
Bahkan sudah memikirkan konsep pernikahan yang kira-kira disukai oleh wanita di sebelah kirinya tersebut dan akan menuruti semua keinginan Diandra untuk menikah setelah kembali padanya.
Kini, Austin tidak bisa berkomentar banyak untuk mengungkapkan mengenai kebahagiaannya karena khawatir jika Diandra curiga. Jadi, saat ini hanya berbicara singkat ketika menanggapi.
"Baiklah. Jika ada kabar baik lagi, segera hubungi dan beri tahu aku."
__ADS_1
"Siap, Bos. Kalau begitu, selamat malam dan semoga perjalanan selamat sampai tujuan."
Austin tidak menanggapi karena langsung mematikan sambungan telpon begitu pasang detektif memutuskan panggilan. Hingga di saat bersamaan mobil yang dikendarai oleh asisten pribadinya sudah memasuki area apartemen.
Ia saat ini sudah mengetahui semua hal tentang Diandra tanpa terkecuali sekaligus mendapatkan sebuah kabar baik yang akan membuatnya segera bisa memiliki wanita yang sangat dipujanya tersebut.
"Aaah ... jadi di sini pria yang kamu banggakan itu menyembunyikanmu?" ejek Austin yang saat ini sudah bergerak untuk turun dari mobil begitu melihat Diandra membuka pintu tanpa memperdulikan perkataannya.
Diandra yang tidak ingin berlama-lama bersama dengan pria yang sangat dibenci, sehingga langsung keluar tanpa berpamitan ataupun mengucapkan terima kasih.
Ia hendak berjalan memasuki lobi apartemen tanpa menoleh ke belakang untuk melihat Austin yang juga ikut keluar dari mobil. Namun, tangannya ditahan oleh pria yang saat ini seolah melarangnya untuk buru-buru masuk.
Bahkan ia sangat membenci panggilan dari Austin padanya dan ingin segera meninggalkan pria itu karena benar-benar muak.
"Sayang, tunggu!" teriak Austin yang saat ini mengejar Diandra dan menghentikannya karena belum selesai berbicara. "Ada satu hal yang ingin kukatakan padamu. Lima menit saja!"
Tanpa menoleh ke arah pria yang saat ini berada di sebelahnya masih menggenggam erat pergelangan tangan kirinya, Diandra hanya menatap ke arah kuasa pria itu.
Ia berharap hanya dengan memberikan sebuah kode tatapan tajam, membuat pria itu melepaskan kuasanya dan merasa lega begitu Austin mengerti tanpa ia harus repot-repot menjelaskan.
"Lima menit dan tidak lebih dari itu!" sahut Diandra singkat karena sejujurnya sangat malas berinteraksi dengan Austin lebih lama.
To be continued...
__ADS_1