Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Menikahi wanita lain


__ADS_3

Diandra saat ini terlihat pucat setelah muntah-muntah di kamar mandi di pagi hari. Morning sicknnes yang dialami olehnya benar-benar membuatnya tersiksa setiap pagi karena harus mengawali hari dengan tubuh lemah setelah mengeluarkan semua isi perut.


Ia bahkan sudah beberapa hari libur kerja karena efek muntah-muntah yang membuatnya tiduran di ranjang dan merasakan pusing di kepala. Apalagi pasangan suami istri yang semakin baik padanya semenjak ia hamil, belum mengizinkan ia pergi bekerja setelah keluar dari rumah sakit.


Apalagi setelah usahanya untuk membongkar kinerja beberapa orang yang melakukan penggelapan dana, kini perusahaan kembali berjalan dengan normal tanpa ada kecurangan karena takut jika sampai ketahuan, akan dibawa ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatan.


Bahkan tidak memperdulikan tentang status orangnya, seperti adik laki-laki dari wanita yang merupakan istri dari pemilik perusahaan juga sudah dijebloskan ke penjara.


Itu semua karena sang kakak sudah merasa gagal untuk memberitahu adiknya agar tidak terus mengulang kesalahannya. Diandra saat ini kembali membaringkan tubuhnya yang terasa lemas dan beberapa saat kemudian mendengar suara ketukan pintu dari luar.


"Masuk!" seru Diandra yang saat ini bangkit dari posisinya yang tadinya berbaring, berubah duduk di pinggir ranjang. Hingga ia melihat pasangan suami istri yang baru saja masuk ke dalam ruangan kamarnya.


"Apa kamu masih muntah-muntah, Diandra?" tanya Citra yang saat ini melihat wajah Diandra yang pucat.


"Sebaiknya kamu istirahat saja di kamar dan jangan pergi ke mana-mana. Biar pelayan mengantarkan makanan untukmu. Oh ya, hari ini aku akan ke Jakarta untuk menemui Austin Matteo." Emran memang ingin berpamitan pada Diandra karena sudah rapi.


Ia ingin sampai di Jakarta tidak terlalu siang agar bisa segera kembali. Jadi, sengaja ingin tahu apakah Diandra berpesan sesuatu untuk disampaikan pada Austin Matteo.


Diandra yang memang tidak kuat untuk berjalan dan ingin tiduran saja di dalam kamar, kini menatap ke arah pria paruh baya yang hendak pergi menemui ayah biologis dari janin yang dikandungnya saat ini.


"Apa kamu ingin berpesan pada pria itu? Atau nanti aku akan menghubungimu setelah tiba di sana dan kamu berbicara sendiri dengannya?" Karena tidak ingin melakukan kesalahan, Emran memilih untuk bertanya terlebih dahulu.


Diandra saat ini terdiam sejenak untuk mengatakan hal yang ada di pikirannya. Mungkin terkesan egois dan tidak berperasaan, tapi ia sudah cukup menderita karena perbuatan pria yang telah membuatnya hamil.


Ia memang menyadari memiliki kesalahan yang sama karena datang pada pria itu untuk menjual harga diri demi kesembuhan sang ayah, tapi tetap saja tidak bisa untuk tidak menyalahkan Austin yang membuatnya berakhir hamil.


"Aku tidak ingin berbicara dengannya. Hanya saja, tolong katakan hal yang kuinginkan hanyalah ingin status dari janin di rahimku ini agar mendapatkan nama belakang ayah biologisnya. Itu saja." Diandra menatap ke arah pasangan suami istri di hadapannya tersebut yang seperti tidak puas dengan jawabannya.


"Aku tahu juga ikut andil dalam masalah ini, tapi seharusnya dia tidak membuatku hamil dengan memakai pengaman atau tidak mengeluarkannya di dalam. Aku saat itu benar-benar putus asa dan tidak berpikir sampai hamil benihnya. Setelah selesai, semuanya terlambat dan sekarang berakhir seperti ini."


Diandra memang merasa bahwa dirinya sangat bodoh sebagai seorang wanita karena tidak bisa melindungi diri agar tidak hamil dengan minum obat menunda kehamilan atau yang lainnya.


Jadi, ia merasa bahwa penyesalan tidak ada gunanya karena yang terpenting saat ini hanyalah mencari jalan keluar, untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi saat ini tanpa air mata.


Jika dulu ia sering menangis dan selalu terlihat lemah saat mengalami masalah, tapi saat ini tidak ingin selalu seperti itu. Ia berusaha untuk kuat demi janin yang ada di rahimnya, sehingga tidak lagi menangis seperti dulu.


Citra saat ini mendaratkan tubuhnya di sebelah tempat duduk Diandra. Kemudian mengusap lembut punggung tangan wanita yang terlihat sangat pucat wajahnya.


"Aku bisa mengerti apa yang kamu rasakan saat ini karena kita sama-sama wanita. Aku pun pasti akan melakukan hal yang sama sepertimu, Diandra. Sekarang lebih baik kamu beristirahat dan biarkan masalah diselesaikan oleh suamiku."


Kemudian atap ke arah sang suami untuk bertanya. "Apa mau berangkat sekarang, Sayang?"


Emran yang saat ini tengah melirik mesin waktu di pergelangan tangan kirinya menunjukkan pukul enam pagi. "Iya, aku harus berangkat sekarang agar bisa segera tiba di Jakarta. Aku belum lapar. Bawakan saja bekal untukku agar nanti makan di mobil."

__ADS_1


Citra saat ini bangkit berdiri dari posisinya dan berniat untuk melakukan perintah sang suami karena memang tadi menyuruh pelayan untuk memasak lebih awal. Berpikir jika sang suami akan sarapan sebelum berangkat, ternyata ingin membawa bekal.


Jadi, sekarang menatap ke arah Diandra yang masih duduk di atas ranjang tersebut. "Nanti aku akan sekalian mengambilkan makanan untukmu setelah mengantar suamiku berangkat."


"Biar pelayan saja yang mengantarkannya, Nyonya. Anda tidak perlu melayaniku seperti itu. Aku benar-benar tidak enak." Diandra merasa sungkan karena selalu saja mendapatkan kebaikan dari suami istri tersebut.


Apalagi sudah tinggal gratis di tempat yang nyaman dan juga tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk biaya hidup sudah membuatnya merasa tidak enak. Namun, mengetahui bahwa mereka sangat menyayanginya seperti putri sendiri dan akan kecewa jika ia menolak kebaikan.


Apalagi ia sekarang ini menghilang dari orang tuanya, tapi setelah memutuskan untuk menerima Austin, akan menghubungi mereka.


Diandra saat ini sudah menduga respon dari wanita paruh baya tersebut yang sama sekali tidak keberatan untuk mengantarkan makanan ke dalam kamar.


"Sudah, beristirahat saja dan jangan banyak protes, oke. Aku ingin janin yang ada dalam rahimmu tumbuh dengan sehat dan kuat agar nanti dilahirkan dengan normal." Menepuk pundak Diandra untuk memberi semangat.


"Aku bisa menganggapnya sebagai cucuku, bukan?" ujar Citra yang saat ini tersenyum simpul ketika membayangkan rumah yang hanya bisa ramai ketika cucunya datang, kini berharap suasana rumah akan semakin hidup setelah Diandra melahirkan.


Akhirnya Diandra tidak lagi melarang ataupun mengungkapkan nada protes dan memilih untuk patuh pada wanita paruh baya tersebut yang dianggap seperti Dewi penyelamatnya.


"Baiklah, Nyonya. Aku makan patuh dan tidak akan protes lagi." Kemudian ia menatap ke arah sosok pria yang ada di hadapannya tersebut. "Hati-hati di jalan, Tuan Emran. Maaf karena selalu merepotkan Anda." Tetap saja ia merasa tidak enak pada pria paruh baya tersebut yang harus melakukan perjalanan jauh ke Jakarta hanya demi dirinya.


Namun, ia seketika tersenyum simpul begitu mendengar tanggapan dari pria yang saat ini malah mengejeknya.


"Jika kamu tidak ingin merepotkanku, nasihat agar bisa membuatku hanya duduk diam di rumah sebagai bos ketika kamu kembali mengurus perusahaan. Jadi, jangan berlama-lama lemasnya. Setelah kamu benar-benar sehat dan kuat untuk bekerja, kembalilah perusahaan." Emran sebenarnya tidak berniat untuk memaksa Diandra segera bekerja di perusahaan.


Diandra seketika membuat gerakan hormat sambil tersenyum. "Siap, Bos. Aku pasti akan segera kembali ke perusahaan setelah kehamilan trimester pertama berlalu. Apalagi kata dokter kemarin, mayoritas wanita selalu mengalami ini."


"Jadi, aku akan menjalaninya dengan ikhlas dan tidak akan mengeluh karena mendapatkan pahala luar biasa untukku dan semoga bisa menghapus segala dosa-dosaku selama ini." Diandra sebenarnya membutuhkan dukungan dari ibu kandungnya untuk sering curhat mengenai kehamilannya.


Namun, ia belum berani berbicara jujur pada sang ibu dan memilih untuk berkeluh kesah dengan wanita paruh baya yang selalu berbuat baik padanya. Diandra saat ini mendengar pasangan suami istri tersebut mengaminkan doanya dan keluar dari ruangan kamar setelah berpamitan padanya.


Ia menatap ke arah siluet belakang pria dan wanita paruh baya tersebut sambil mengucap syukur karena selalu berbuat baik padanya. 'Semoga Tuhan selalu membalas kebaikan mereka.'


Aku benar-benar sangat beruntung bisa bertemu dengan mereka yang mau menampungku saat kondisiku seperti ini. "Terima kasih, Tuhan. Aku akan selalu mendoakan mereka agar selalu mendapatkan yang terbaik dalam hidup dan semoga aku bisa membalas kebaikan mereka."


Diandra kini kembali merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar sambil merusak perut yang masih datar dan mungkin beberapa bulan kemudian akan semakin membuncit.


"Anakku, Mama akan kuat untukmu dan tidak akan terpuruk meski apapun yang terjadi. Aku akan selalu menjagamu serta melindungimu dan kita akan selalu bersama sampai kapanpun." Diandra saat ini terdiam sejenak ketika mengingat tentang sosok pria yang menjadi ayah biologis dari janin yang tumbuh di rahimnya.


"Apakah Austin bersedia untuk bertanggung jawab memberikan nama akan keluarganya setelah mengetahui aku hamil benihnya? Ataukah dia akan memanfaatkan momen ini untuk membuatku tunduk padanya?" Diandra merasa sangat khawatir jika apa yang ditakutkan terjadi.


Ia memang berencana untuk menerima pria itu sebagai suami demi janin yang ada di dalam rahimnya, untuk menjadi seorang istri yang baik layaknya pernikahan normal dengan melayaninya.


"Aku berpikir bahwa hanya ingin mendapatkan status di atas kertas tanpa harus hidup bersama dengan si berengsek itu. Aku tetap akan bekerja di sini dan semoga dia juga tetap mengurus perusahaan di Jakarta agar aku tidak bertemu dengannya setiap hari."

__ADS_1


"Setelah nanti anak ini lahir, aku akan menggugat cerai Austin masalah selesai." Diandra yang masih berbaring telentang di atas ranjang, mengukir banyak rencana ke depannya.


Bahkan ia sudah menjadi membayangkan akan menjadi single parent untuk anaknya nanti. Jadi, berpikir bahwa saat ini harus mempersiapkan diri menjadi wanita mandiri yang tidak bergantung pada seorang pria.


Ia kembali mengusap beberapa kali perutnya yang datar. "Sayang, kamu harus membuat Mama kuat menjalani hidup ini untuk selalu membahagiakanmu."


"Mama ingin bisa kembali bekerja, jadi kamu baik-baik di sana." Diandra saat ini memejamkan mata karena berniat untuk menenangkan diri karena jujur saja ia sangat gugup dengan respon dari Austin setelah bertemu dengan pria yang sepantaran dengan ayahnya.


"Semoga dia tidak mempersulit jalanku untuk mendapatkan status agar anak ini tidak disebut anak haram. Membayangkan hal itu saja membuatku hancur." Mengembuskan napas kasar my.


"Apalagi jika yang disebut adalah anakku, mungkin akan menghabisi siapapun yang menghinanya," ucap Diandra saat ini merasa bosan dengan apa yang dilakukannya saat hanya tiduran di ranjang.


Ia pun kini membuka kelopak mata dan mengulurkan tangan untuk mengambil ponsel yang ada di atas nakas. Karena ingin mengisi kebosanan, ia saat ini memilih untuk scroll media sosial.


Tanpa terasa, setengah jam telah berlalu dan ia mendengar suara ketukan pintu. Karena menduga jika yang datang adalah wanita paruh baya yang tadi mengatakan akan mengantarkan sarapan untuknya, kini Diandra bangkit dari posisinya yang tiduran dan duduk di tepi ranjang.


Namun, begitu melihat wanita paruh baya yang merupakan pelayan melangkah masuk, ia mengerutkan keningnya. "Di mana nyonya?"


"Itu, Nona, barusan ada pegawai yang datang dan melaporkan bahwa hari ini akan ada pengiriman ke luar propinsi dan nyonya disuruh mengecek terlebih dahulu." Sang pelayan wanita paruh baya tersebut meletakkan makanan di atas.


"Ini makanannya, Nona. Jika memerlukan sesuatu, telepon saja agar saya bisa segera membawakannya ke dalam kamar karena tadi nyonya berpesan agar Anda tidak keluar dari kamar."


Diandra mengangukkan kepala karena memang kepalanya benar-benar pusing dan tidak ingin berakhir pingsan atau pun jatuh dari anak tangga jika sampai kehilangan kesadaran seperti ketika berada di ruang meeting.


"Tenang saja, aku pun ingin bermalas-malasan di kamar karena tubuhku sangat lemas. Oh ya, terima kasih sarapannya, Bik." Diandra tersenyum dan melihat wanita paruh baya tersebut mengangukkan kepala sebelum meninggalkan ruangan kamarnya.


Kemudian ia kini meletakkan ponsel miliknya di atas ranjang karena ingin sarapan. "Kita makan dulu, anakku. Mama akan selalu memenuhi gizimu agar bisa tumbuh dengan baik."


Diandra saat ini mengambil nampan dan menikmati menu sarapan berupa SOP ayam dan perkedel kentang karena memang hanya bisa makan makanan yang berkuah semenjak hamil. Bahkan ada potongan buah apel serta susu kehamilan rasa coklat.


Sebenarnya ia tidak nafsu makan, tapi karena saran dokter harus makan sedikit demi sedikit meskipun sering muntah, jadi tidak akan membiarkan perutnya kosong.


Setengah jam kemudian, ia sudah menghabiskan makanannya, tapi buah memang belum dimakan karena sudah kenyang.


Hingga ia pun kini kembali mengambil ponsel miliknya. Tiba-tiba ia ingin tahu kabar terbaru dari seorang Austin Matteo, sehingga langsung mengetik nama pria itu di mesin pencarian.


Namun, ia membulatkan kedua mata begitu melihat kabar dari media sosial tersebut. Bahwa sosok pria yang menghamilinya tersebut ternyata akan menikah dengan wanita yang berprofesi sebagai seorang ahli bedah di rumah sakit terkenal yang ada di Singapura.


Seketika degup jantung Diandra tidak beraturan dan tangannya gemetar karena saat ini memikirkan nasib dari janin yang dikandungnya saat ini.


"Kenapa jadi seperti ini? Saat aku berniat untuk meminta pertanggungjawaban darinya, bajingan itu malah akan menikahi wanita lain!" Karena marah, Diandra seketika melempar ponselnya ke lantai hingga bernasib nahas.


"Kau benar-benar berengsek, Austin!" teriak Diandra dengan raut wajah memerah dipenuhi oleh kilatan amarah.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2