
Beberapa saat lalu, begitu Diandra keluar dari ruangannya, Austin segera menghubungi seseorang untuk mengatakan sesuatu yang dianggapnya akan membuat wanita dengan wajah penuh kekhawatiran itu hilang.
"Halo, Presdir. Apa ada yang Anda butuhkan."
"Katakan pada staf di bagian administrasi untuk tidak memarahi Diandra karena datang terlambat. Bilang kalau Diandra tadi mengalami kecelakaan karenaku dan saat ini memakai jas milikku."
"Baik, Presdir. Saya akan langsung menghubungi dan mengatakan hal itu," sahut sang asisten di seberang telpon.
Kemudian Austin mematikan sambungan telpon dan bangkit berdiri dari tempat duduk. Bahkan ia sudah meliputi lengan kemeja berwarna putihnya, lalu duduk di kursi kebesarannya.
"Aku ingin melihatnya berterima kasih padaku begitu mengetahui bahwa hari ini tidak ada yang memarahinya," ujar Austin yang saat ini tengah membuka dokumen yang sudah siap di atas mejanya.
Sementara itu di sisi lain, Diandra yang tadinya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dengan beberapa staf perusahaan baik laki maupun perempuan tengah duduk di depan komputer, lalu menatapnya seperti hendak menguliti hidup-hidup.
'Rasanya aku seperti seorang pencuri yang ketahuan mencuri saja saat mereka melihatku dengan tatapan penuh penghakiman.'
'Mana aku memakai jas milik atasan di perusahaan ini, lagi!' gumam Diandra yang seketika membungkuk hormat untuk menyapa beberapa orang yang ada di ruangan tersebut.
"Selamat pagi. Perkenalkan, saya pegawai baru yang akan bekerja di bagian administrasi perusahaan ini." Dengan wajah gugup, Diandra kini menelan saliva kasar dan berharap mendapatkan sambutan baik dari semua orang yang akan menjadi rekan kerjanya di sana.
Refleks ia menoleh mencari sumber suara dan kembali membungkuk hormat sebagai tanda penghormatan dan berpikir bahwa pria yang menghampirinya tersebut adalah senior di perusahaan.
Diandra bahkan bersiap untuk menerima omelan dari dia yang baru saja berjalan ke arah mana. Namun, ia merasa sangat aneh ketika melihat ekspresi wajah pria tersebut tidak sesuai dengan ekspektasinya.
"Diandra Ishana!" seru salah satu pria yang memakai setelan jas berwarna biru datang menghampiri.
Kemudian mengulurkan tangan dan menyambut setiap hari yang baru itu. "Selamat datang di perusahaan ini. Semoga kamu bisa bekerja dengan baik di sini."
"Karena kamu sudah memperkenalkan diri pada semuanya, jadi bisa langsung ke meja kerja dan akan dibantu oleh salah satu staf agar mengetahui semua yang akan dikerjakan." Melambai tangan ada salah satu wanita yang duduk di balik komputer sebelah kiri.
"Kemarilah!"
Buru-buru wanita yang dipanggil segera angkat berdiri dan datang menghampiri. "Iya, Pak."
"Ajari semua hal yang akan dikerjakan oleh Diandra hari ini!"
"Baik, Pak. Saya mengerti." Kemudian ia menatap ke arah wanita yang masih memakai jas berwarna hitam tersebut. "Ayo, aku tunjukkan mejamu."
Diandra seketika menganggukkan kepala dan menatap ke arah pria yang sama sekali tidak memarahinya karena datang terlambat hari ini.
"Terima kasih, Pak. Saya pasti akan bekerja dengan baik di perusahaan ini. Oh ya, maafkan saya karena datang terlambat. Tadi ada masalah di jalan."
Diandra sengaja berbohong agar tidak ada pemikiran buruk dari semua orang mengenai kedatangannya yang terlambat. Ia menyadari hanyalah tak baru dan harus mengikuti semua peraturan tanpa terkecuali, termasuk datang tepat waktu.
__ADS_1
Namun, ia mengerjapkan mata begitu mendengar jawaban dari pria di hadapannya dan membuatnya mengerti alasan tidak dimarahi hari ini.
"Sebelum kamu menjelaskan, aku sudah tahu karena tadi asisten pribadi presdir sudah menelponku. Bekerjalah yang baik dan jangan mengecewakan orang yang menerima di perusahaan ini." Kemudian berbalik badan dan menuju ke arah ruang yang ada di sudut sebelah kanan.
Sementara itu, Diandra saat ini kembali menelan saliva dengan kasar dan mengetahui penyebab semuanya. Ia merasa tertampar dengan perkataan dari dia yang baru saja pergi tersebut.
'Asisten presdir sudah menjelaskannya? Pasti presdir yang menyuruhnya. Lalu, pria itu pasti berpikir macam-macam padaku. Tadi aku khawatir jika semua staf di perusahaan ini berpikir bahwa aku adalah simpanan bos, tapi sepertinya apa yang kutakutkan menjadi kenyataan.'
'Sepertinya aku harus bersiap untuk menerima segala konsekuensinya karena mungkin sebentar lagi akan ada gosip yang beredar di perusahaan ini mengenai aku yang sering keluar masuk ruangan presdir.'
Lamunan Diandra seketika buyar begitu merasakan sebuah tepukan pada pundaknya.
"Diandra? Halo!" seru wanita bernama Adelia Batari tersebut kalau melihat orang yang diajak berbicara malah melamun.
Ia hari ini baru saja mendapatkan sebuah informasi bahwa akan datang salah satu pegawai wanita menggantikan staf yang resign karena menikah.
Namun, kabar terbarunya adalah tidak boleh berkomentar ataupun bergosip mengenai pegawai baru wanita tersebut jika masih ingin bekerja di perusahaan.
Alasannya adalah wanita yang baru saja memperkenalkan diri itu baru saja berurusan dengan atasan di perusahaan. Bahkan sudah menduga jika jas yang dikenakan oleh Diandra merupakan presiden direktur perusahaan.
"Maafkan aku." Diandra buru-buru membungkuk hormat demi mengungkapkan permohonan maaf agar tidak membuat kesal wanita yang akan mengajarinya.
"Kenapa harus meminta maaf? Ayo, aku tunjukkan meja kerjamu." Adelia selalu berjalan ke arah meja kosong yang memang merupakan tempat untuk staf baru itu dan mengarahkan tatapan tajam pada beberapa pegawai lain agar melanjutkan pekerjaan.
Tentu saja semua orang yang bekerja di ruangan itu merasa sangat iri melihat pegawai baru sudah bisa dekat dengan pemimpin perusahaan, sedangkan mereka yang sudah lama di sana, hanya bisa melihat dari jauh saja.
Diandra berjalan mengekor di belakang wanita yang sama sekali tidak diketahui namanya dan langsung duduk di kursi begitu mendapatkan kode.
Adelia kemudian menarik kursinya dan langsung menyalakan komputer. Ia menjelaskan semua hal yang dikerjakan oleh Diandra. Namun, sebelumnya sengaja ingin mencari tahu sesuatu hal yang dari tadi menari-nari di otaknya.
"Oh ya, apa tidak merasa risih dengan jas yang kamu pakai itu? Sebenarnya Ada apa dengan pakaianmu?"
Diandra merasa bingung untuk menjelaskan, tapi memilih mengatakan hal yang sebenarnya karena tidak ingin ada yang berpikiran macam-macam mengenai penampilannya hari ini.
"Tadi aku mengalami sebuah kecelakaan kecil dan membuat pakaianku sobek, jadi orang yang menabrakku memberi sengaja meminjamkan jas ini untuk menutupinya."
Entah mengapa Diandra tiba-tiba saja mengingat perkataan dari Austin yang menyuruhnya untuk mengatakan baru saja mengalami kecelakaan. Jadi, ia langsung berpikir ke arah sana dan mengatakan sebuah hal yang menjadi karangan semata.
'Tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya bahwa pakaianku terkena air saat minum di ruangan bos. Alasan ini jauh lebih baik dan pasti mereka percaya apa yang kukatakan,' gumam Diandra mengulurkan tangannya.
"Siapa namamu? Tidak mungkin aku hanya memanggil kamu tanpa mengetahui namamu."
Setelah rasa penasarannya terjawab, kini menjabat tangan wanita di hadapannya. "Adelia Batari. Panggil saja aku Adel."
__ADS_1
"Iya, semoga kita bisa berteman dengan baik, Adel. Mohon bimbingannya, Suhu."
Diandra tersenyum lebar.
Ia merasa sangat lega karena sudah menjawab pertanyaan bernada kecurigaan dari wanita itu dan berharap bisa membuat pandangan semua orang lebih baik dan tidak berpikir macam-macam padanya.
Adelia kini tertawa menanggapi pujian dari wanita yang dianggap bisa mengambil hati semua orang. "Issh ... jangan panggil aku suhu ada yang lebih senior dariku. Kita sama di sini. Oh ya, kembali pada pekerjaan, ya!"
Diandra yang kali ini mencoba serius dan tidak membuang waktu untuk berkonsentrasi ketika wanita di sebelah kanan menjelaskan perihal pekerjaan yang akan dilakukannya.
Selama satu jam ia mencoba untuk fokus dan memahami apa yang dijelaskan oleh Adelia dan begitu mengerti semuanya, seketika langsung mencoba untuk mengerjakannya.
Adelia kemudian bangkit berdiri dari kursi. "Aku akan kembali ke mejaku. Nanti kalau ada yang belum kamu pahami, hanya saja padaku atau yang lain karena semua akan siap membantumu."
Diandra yang merasa sangat senang atas sikap baik dari Adelia, kamu tersenyum simpul. "Iya. Aku akan bertanya jika ada hal yang tidak diketahui. Terima kasih sudah dengan siapa menjelaskan padaku."
Saat Diandra baru saja menutup mulut, mendengar suara notifikasi dari ponselnya yang berada di dalam tas. Bahkan ia seketika bersitatap dengan wanita yang masih berdiri di sebelahnya.
Ia berpikir bahwa yang mengirimkan pesan adalah sang ibu karena ingin mengabarkan mengenai keadaan ayahnya, sehingga kini bertanya agar tidak melakukan kesalahan.
"Apakah saat bekerja, boleh sebentar memeriksa ponsel atau tidak? Sebenarnya ayahku berada di rumah sakit, mungkin ada kabar yang dikirimkan oleh ibuku."
Adelia yang hendak berjalan meninggalkan Diandra, kini tidak jadi melakukannya. "Kalau hanya melihat pesan sebentar, tidak masalah. Namun, jangan asyik menelpon ketika jam kerja juga tidak ingin dipecat dari perusahaan."
Seketika Diandra menganggukkan kepala tanda mengerti. "Iya, aku tidak akan melakukan itu. Kalau begitu, aku periksa pesan dari siapa dulu."
Tanpa menjawab, Adelia langsung kembali ke meja kerja.
Sementara itu, Diandra yang merasa penasaran dengan pesan di ponselnya, seketika mengambil dari dalam tas. Begitu melihat dan membacanya, ia seketika menampilkan wajah masam.
'Astaga! Padahal aku pikir tadi ibu yang mengirimkan pesan padaku untuk mengabarkan keadaan. Ternyata penjahat wanita itu,' gumam Diandra yang saat ini kembali kesal begitu mengingat titah dari pria yang jasnya melekat di tubuhnya.
Jangan lupa saat jam istirahat, langsung membelikan aku makan siang yang ada di restoran sebelah perusahaan. Lalu, langsung bawa ke ruanganku. Jangan lupa pesan dua!
Antara rasa kesal sekaligus senang dirasakan oleh Diandra saat ini karena ia ingin fokus bekerja, tapi malah mendapatkan perintah yang sudah diketahuinya. Seolah ia adalah wanita tua yang pikun karena lupa.
Namun, di sisi lain merasa senang karena bisa makan enak secara gratis. Diandra saat ini mengembuskan napas kasar dan kembali memasukkan ponsel tanpa membalas pesan dari Austin.
"Fokus ... fokus!"
Kemudian mulai fokus mengerjakan laporan di komputer dan berharap bisa bekerja dengan baik, sehingga bisa mendapatkan banyak uang dan melunasi utangnya pada Austin sekaligus orang tuanya yang meminjam pada rentenir.
To be continued...
__ADS_1