
Jam makan siang telah tiba dan membuat Diandra berniat untuk makan di kantin, tapi ia khawatir jika mendapatkan tatapan aneh dari para staf perusahaan yang pastinya sudah tersebar gosip mengenai dirinya yang bekerja sebagai sekretaris pribadi pimpinan.
'Bagaimana ini? Aku pergi ke kantin atau tidak, ya?' gumam Diandra yang saat ini menatap ke arah sosok pria di kursi kebesarannya telah terlihat fokus memeriksa dokumen di atas meja.
Bahkan seperti tidak menyadari jika ini sudah masuk jam makan siang. Jadi, Diandra memilih untuk menunggu hingga pria itu mengangkat pandangan dari dokumen yang tengah diperiksa agar menatap ke arahnya dan bertanya apakah akan pergi makan ke kantin atau tidak.
Diandra sama sekali tidak berniat untuk mengajak pria itu makan bersama di kantin karena hanya akan menimbulkan kehebohan di perusahaan. Jadi, berniat untuk makan sendiri. Meskipun ia tidak mengenal satupun staf perusahaan, tetap saja ia akan pergi ke kantin.
Meskipun sendirian dan mungkin tidak disukai oleh pegawai wanita di perusahaan itu yang patah hati karena melihat bos mereka menggandeng tangannya saat masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan.
Bahkan saat masuk ke dalam lift khusus, ia selalu mengingat Austin ketika pertama kali bertemu dengan pria itu dan berurusan dengan pria yang meninggalkan luka di hatinya.
Diandra sebenarnya ingin lepas dari bayang-bayang Austin, tapi tetap saja semua hal yang ia alami ada saja yang berhubungan dengan pria itu. Seperti masuk ke dalam apartemen, masuk ke dalam lift petinggi perusahaan dan juga beberapa hal yang mungkin tidak bisa disebutkan.
'Tidak ada kabar apapun dari bajingan itu. Buat apa aku memikirkan si berengsek itu? Seharusnya kau senang sudah tidak mendengar kabar pria itu lagi. Tapi aku khawatir jika ia sibuk menyusun rencana untuk menghancurkan hidupku.'
Saat Diandra masih sibuk memikirkan berbagai macam kemungkinan yang berhubungan dengan Austin sambil memandang kosong pada layar komputer di hadapannya, beberapa saat kemudian mendengar suara bariton dari pria yang dari tadi ditunggu untuk berbicara padanya.
Bahkan ia merasa berbunga-bunga saat pria di balik meja yang berada cukup jauh darinya tersebut memanggilnya dengan panggilan yang mewakili rasa cinta padanya.
"Sayang, kenapa tidak mengatakan padaku bahwa waktunya kita makan siang? Aku terlalu fokus bekerja hingga tidak sadar bahwa waktu sudah menunjukkan jam makan siang." Yoshi yang tadinya merasa haus dan langsung meneguk minuman di atas meja, sekilas melirik ke pergelangan tangan kirinya yang dihiasi jam tangan mewah Rolex.
Hingga ia merasa sangat terkejut karena sudah lewat 10 menit jam makan siang dan langsung menatap ke arah sosok wanita di depan komputer.
__ADS_1
Ia akan melihat tatapan kosong dari Diandra dan berpikir ada sesuatu hal yang mengganggu pikiran wanita itu, sehingga ini segera memotong kegelisahan agar tidak berlanjut lebih jauh.
'Apa yang sebenarnya Diandra pikirkan saat ini? Apa yang dipikirkannya adalah Austin? Apa ia akan terus memikirkan pria berengsek itu?' gumam Yoshi yang seketika bangkit berdiri dari posisinya.
Hingga ia pun kini bangkit berdiri dari tempat duduk dan berjalan menghampiri sosok wanita yang terlihat sangat terkejut begitu disapa olehnya.
"Aku hanya tidak ingin mengganggu konsentrasimu. Nanti malah akan membuatmu tidak bisa bekerja dengan baik." Diandra mengalihkan pandangannya dari komputer ke arah pria yang saat ini sudah berada di hadapannya sambil mengulurkan tangan.
Ia mengerutkan kening karena heran dengan uluran tangan dari Yoshi. "Mau ke mana?"
"Makan siang. Ke mana lagi," sahut Yoshi yang ingin segera menggenggam erat telapak tangan Diandra saat keluar dari ruangan dan menunjukkan pada semua orang jika ia sudah tidak lagi jomlo.
"Aku tahu akan makan siang, tapi di mana? Aku berencana untuk makan sendiri di kantin dan tidak mau ke sana bersamamu." Diandra saat ini masih belum menyambut uluran tangan Yoshi yang akhirnya diturunkan karena tidak mendapatkan balasan darinya.
"Tidak. Aku akan tidak mau kamu makan di kantin dan menjadi pusat perhatian mereka semua. Bahkan tadi aku sudah mendengar kabar tentang gosip yang menyebar sangat cepat di perusahaan ini.
Bahwa aku kini sudah menjalin hubungan dengan sekertaris pribadi. Apalagi ada pendapat pro dan kontra antara pihak perempuan dan laki-laki. Jadi, pihak wanita tidak suka padamu karena akhirnya harapan mereka pupus. Sementara para pria di sini lega karena akhirnya pesona mereka sudah tidak lagi terhalangi olehku.
Saat Yoshi tadi mendapatkan kabar dari asisten pribadinya, ia benar-benar ingin tertawa. Tapi mengetahui jika sesuatu yang membuatnya tertawa adalah saat para staf pria lega ketika ia sudah tidak menjadi penghalang pesona mereka.
Hal yang sama dilihatnya dari Diandra saat berekspresi tertawa setelah mendengar penjelasan darinya tadi.
"Wah ... sepertinya pemimpin perusahaan mereka benar-benar sangat meresahkan. Aku sangat yakin jika para staf pria memujiku cantik, sedangkan para staf wanita pasti bilang aku jelek," sahut Diandra yang bisa membaca situasi dari pendapat pro dan kontra itu.
__ADS_1
Hingga ia pun kini tertawa melihat respon dari sosok pria yang ada di hadapannya tersebut.
Yoshi seketika bertepuk tangan karena merasa jika Diandra bisa menebak apa yang tidak sempat disampaikannya.
"Wah ... luar biasa. Kamu benar-benar seperti peramal saja. Hingga tahu apa yang dipikirkan mereka tentangmu. Tapi itu memang benar karena itu adalah pikiran mereka tentangmu. Menurutku, penilaian para pria lah yang benar karena mengatakan bahwa kamu cantik."
Karena pada kenyataannya memang calon istriku sangat cantik." Kemudian menatap ke arah pergelangan tangan kirinya. "Sudah 15 menit berlalu. Ayo, kita pergi. Aku ingin mengajakmu makan di luar."
Yoshi berniat untuk mengajak Diandra makan di warteg dekat perusahaan daripada restoran karena ia tahu jika wanita itu lebih suka kesederhanaan. Jadi, ingin mengikutinya agar Diandra merasa nyaman bersamanya.
Sementara itu, Diandra yang memang sudah sangat lapar, akhirnya bangkit berdiri dari posisinya. "Baiklah. Lebih baik aku cari aman saja," ucap Diandra yang kini mengambil tas selempang miliknya. "Tapi kita mau makan ke mana?"
"Warteg di seberang jalan. Kata asistenku di sana makanannya sangat enak. Jadi, aku ingin mencobanya." Yoshi yang baru saja menutup mulut, kini bisa melihat wajah Diandra yang berbinar hanya dengan ia mengatakan warteg.
"Wah ... benarkah? Kalau begitu, ayo kita ke sana! Aku juga ingin mencobanya!" Diandra yang merasa bosan makan di restoran karena menurutnya rasanya tidak lebih lezat dari pedagang kaki lima pinggir jalan.
Sementara itu, Yoshi yang tertawa melihat respon Diandra, kini tidak membuang waktu sudah berjalan keluar bersama wanita cantik itu menuju ke arah lift.
'Padahal aku hanya berbohong padanya, tapi ia sangat senang mendengarnya. Aku tahu warung itu sangat ramai saat lewat di depannya ketika akan meeting di luar.'
To be continued...
"
__ADS_1