
Diandra yang tadinya merasa sangat aneh melihat perubahan sikap dari sahabat sang suami ketika ia menyebutkan dirinya memilih. Ia yang kini menatap ke arah sosok pria yang baru saja beralih dari pintu.
"Kenapa dia? Kenapa wajahnya langsung pucat saat aku bilang hamil? Apa dia memiliki perasaan padamu dan merasa sangat kecewa begitu mengetahui aku hamil dan tidak bisa mendapatkanmu?" Tatapan menyelidiki ini diarahkan Diandra pada pria yang ingin ia cari tahu mengenai hubungan persahabatan yang dianggapnya sangatlah tidak masuk akal.
Bahwa hubungan antara pria dan wanita pasti ada salah satu yang memiliki perasaan dan ia ingin tahu apakah sama suami atau sahabatnya yang memiliki perasaan terpendam.
"Mana kutahu, Sayang. Tadi kan aku sudah bertanya padanya, tapi dia sepertinya menghindar." Austin bedain membahas tentang sahabatnya, ataupun perasaan Leony yang menyukainya saat kuliah dulu hingga ditolak olehnya.
'Aku tidak boleh mengatakan perasaan Leony padaku karena sudah dipastikan jika nanti istriku akan kembali murka seperti tadi yang melemparkan botol air minum ke lantai. Bisa-bisa nanti malah wajahku yang dilemparnya,' gumam Austin yang saat ini ingin membahas tentang hal lain yang tadi dikatakan oleh asistennya.
Ia sengaja mengalihkan pembicaraan agar wanita di hadapannya yang seperti tengah mengorek masa lalunya, tidak merasa cemburu dan hubungan di antara mereka akan berakhir buruk.
"Jadi, seperti itu ceritanya, Sayang. Makanya aku tadi sampai lupa berbicara dengan dokter karena sangat emosi dan tidak sengaja bertemu dengan keluarga Leony. Semoga papanya mempunyai kenalan seorang polisi dengan jabatan tinggi di kepolisian yang bisa membantu kita." Saat ia berpikir jika sang istri tidak menyalahkannya lagi karena lupa bertanya pada dokter, seketika beneran saliva dengan kasar karena ternyata usahanya sia-sia.
Diandra hanya mendengar sekilas perkataan dari sang suami karena fokus pada wanita yang merupakan sahabat tersebut pergi dengan wajah muram.
"Baiklah. Apapun yang kamu lakukan, aku menurut saja karena wanita tidak tahu apapun mengenai masalah itu. Aku benar-benar masih merasa penasaran dengan sahabatmu. Apa dia dulu menyukaimu saat kuliah?" Ia saat ini mencari kejujuran di netra pekat berkilat tersebut.
"Aku melihat tatapannya sangat berbeda, seperti meremehkanku karena tidak jauh lebih baik darinya," seru Diandra yang saat ini mengingat tatapan dari wanita yang sudah pergi beberapa saat lalu.
Ia kita akan mengarahkan tatapan tajam untuk membuat sang suami tidak membohonginya. "Jujur dan jangan berbohong karena aku tahu saat kamu menyembunyikan sesuatu dariku."
Austin yang merasa seperti berjalan di atas duri yang membuatnya terluka, saat ini sibuk menormalkan perasaannya yang dipenuhi oleh kekhawatiran jika sang istri kesal kepadanya.
"Sayang ...."
"Jujur!" sarkas Diandra yang memotong perkataan pria itu agar tidak berani membohonginya.
__ADS_1
"Astaga! Kamu membuatku terkejut, Sayang!" Austin yang tadinya berbicara lirih, seketika memegang dadanya karena suara sang istri cukup keras ketika mengancamnya.
Ia bahkan seperti tidak diizinkan untuk bisa bernapas dengan lega, sehingga saat ini seperti merasa sesak karena dicekik boleh tatapan tajam menusuk jantungnya.
Hingga ia memijat pelipis dan mengembuskan napas kasar untuk meluapkan apa yang dirasakannya karena mau tidak mau harus menceritakan semuanya dengan jujur dan tidak bisa lagi menyembunyikan kenyataan sebenarnya.
Akhirnya ia boleh menceritakan semua hal yang berhubungan dengan masa lalunya bersama Leony. "Jadi, seperti itu ceritanya, Sayang. Kamu tidak perlu merasa cemburu padaku karena aku dari dulu hanya menganggapnya teman."
Seketika raut wajah kesal kini mendominasi dan membuat Diandra kembali meluapkan emosi yang seolah meluap dari dirinya. "Nah ... benar, kan apa kataku. Bahwa dia memiliki perasaan padamu karena aku bisa melihat dari tatapannya tadi ketika sangat terkejut melihatku."
"Aku bahkan seperti diremehkan tanpa berkata-kata. Bahwa aku adalah seorang wanita yang tidak pantas menjadi istri seorang Austin Mateo dan hanya dialah yang pantas karena merupakan seorang wanita cantik, elegan, berkelas dan mempunyai karir cemerlang."
Mengingat itu, ia merasa sangat kecil jika bersanding dengan sahabat dari sang suami. Meskipun ada kenyataannya ia lah yang berhasil mendapatkan pria itu, tetap saja ada kekhawatiran yang dirasakan.
Austin seketika memeluk erat tubuh sang istri begitu bergerak mendekat. Bahkan saat ini mengusap lembut beberapa kali dengan di balik seragam Rumah Sakit tersebut.
"Bukankah sudah kukatakan Chika aku dari dulu hanya menganggap Leony teman dan tidak pernah ingin menjalin hubungan lebih dengannya. Oh ya, jika nanti diperbolehkan pulang, aku akan menuruti semua permintaanmu. Kamu mau apa, nanti akan kubelikan." Austin menarik diri dari sang istri untuk bisa melihat lewat wajah cantik itu.
Sementara itu, Diandra masih belum bisa tenang ketika mengingat sahabat suaminya. "Apa dia akan kembali ke luar negeri! Atau tinggal di Jakarta? Aku ini memastikannya."
Austin yang tadi tidak sempat bertanya mengenai rencana sahabatnya karena memang tidak berpikir untuk bertemu lagi setelah keluar dari rumah sakit.
Ia mengendikkan bahunya karena memang kenyataannya sama sekali tidak tahu. "Aku tadi tidak bertanya dan juga tidak ingin tahu, Sayang. Sepertinya istriku ini benar-benar sangat cemburu, ya."
Kemudian mimpi putih sama istri yang menggemaskan. "Gemas sekali aku melihat istriku yang cantik cemburu seperti ini."
Merasa suami memperlakukannya seperti anak kecil karena tidak berhenti menciumnya, seketika membuat Diandra mencubit pinggang kokoh pria itu. "Issh ... lepasin!"
__ADS_1
Ia sampai mendorong dada bidang itu agar melepaskan dan membebaskannya. "Risi, tahu!"
Sementara Austin melihat sang istri yang menampilkan raut wajah masam dengan bibir mengerucut dan refleks langsung dibungkamnya agar tidak lagi kesal padanya.
Awalnya Diandra membulatkan mata karena merasa sangat terkejut dengan serangan tiba-tiba sang suami yang membuatnya sama sekali tidak siap.
Hingga ia kembali mendorong dada bidang itu agar melepaskan ciuman karena khawatir jika tiba-tiba perawat atau dokter masuk karena biasanya tidak mengetuk pintu.
Namun, tangannya malah ditahan oleh sang suami dan masih terus ******* bibirnya hingga ia akhirnya kalah dan lama-kelamaan menikmati ciuman itu. Bahkan saat ini memilih untuk melingkarkan tangannya pada pinggang kokoh itu.
'Aku kalah karena suamiku sangat lihai merayu dan menjadi pencium yang handal, hingga membuatku tidak bisa menolaknya,' gumam Diandra yang saat ini terbawa suasana dan membalas ciuman.
Austin yang tadinya hanya ingin memberikan sedikit pelajaran pada sang istri yang dianggapnya sangat cerewet karena mencurigainya. Padahal sudah jelas-jelas jika yang memenangkan hatinya adalah wanita yang saat ini dilumat bibirnya tersebut.
'Istriku benar-benar sangat cemburu melihatku dekat dengan wanita lain dan tidak merasa malu lagi menunjukkannya secara terang-terangan. Harusnya aku merasa senang dan menghukumnya dengan cara seperti ini,' lirih Austin yang masih menikmati perbuatannya untuk membuai wanita yang mulai membalas ciumannya.
Ia saat ini berpikir jika kemurkaan sang istri perlahan menghilang dengan melakukan hal-hal intim bersama dan berharap ikatan batin di antara mereka makin erat dan tidak terpisahkan hanya karena pemikiran negatif yang tercipta karena cemburu.
Hingga ia seketika merasa sangat terkejut begitu indra pendengaran menangkap suara yang sangat dihafalnya.
"Austin."
Diandra yang tadinya sangat menikmati dan membalas ciuman dari sang suami, seketika mendorong dada bidang sang suami dengan sangat kuat dan menghentikan perbuatan intim mereka.
Ia seketika menatap ke arah seseorang yang baru saja masuk tanpa mengetuk pintu dan membuatnya ketahuan tengah berbuat intim dengan sang suami di ruangan.
To be continued...
__ADS_1