Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Menangis tersedu-sedu


__ADS_3

"Dasar! Buat apa aku mengirimkan surat pada pria yang kubenci dan sangat ingin ku remas-remas seperti ini!" sarkas Diandra yang saat ini langsung meremas rambut sang suami yang berada di hadapannya.


Bahkan rambut hitam berkilat yang tadinya sangat rapi tersebut, seketika berubah berantakan dan malah membuat Diandra tertawa terbahak-bahak karena penampilan dari sang suami berubah sangat menggemaskan.


"Issh ... apaan sih, Sayang!" sarkas Austin yang berusaha untuk merapikan rambutnya karena tidak ingin terlihat meratakan dan kehilangan aura ketampanannya.


Namun, sang istri kembali membuatnya berantakan untuk kesekian kali dan membuatnya langsung bergerak menggelitik tubuh Diandra karena kesal.


"Hentikan, Sayang!" seru Diandra yang saat ini bergerak seperti cacing kepanasan dan tertawa karena ulah pria yang baru saja memberikan hukuman padanya.


"Rasakan dan nikmati hukuman dari perbuatanmu." Austin merasa masih belum puas melampiaskan kekesalannya.

__ADS_1


Hingga ia seketika menghentikan perbuatannya begitu melihat sang istri meringis sambil memegangi perutnya.


"Aaarhh ... kenapa tiba-tiba terasa nyeri?" lirih Diandra yang seketika membungkuk.


"Sayang, ada apa? Apa perutmu sakit? Benar kan apa kata dokter. Bahwa kamu tidak boleh kelelahan dan harus benar-benar beristirahat agar tidak seperti ini. Bagaimana jika terjadi sesuatu hal yang buruk padamu dan juga anak-anak kita?" Austin seketika bergerak menggendong tubuh sang istri yang terlihat masih memegangi perut.


Sementara itu, Diandra yang langsung melingkarkan tangannya di balik leher sang suami, kini hanya diam tanpa berkomentar.


Hingga tubuhnya kini direbahkan di atas ranjang dan ia masih meringis menahan rasa kaku di perutnya. "Aku hanya keram saja. Mungkin karena kamu tadi tidak berhenti menggelitik. Berarti ini salahmu," sarkas Diandra yang masih mengambil napas teratur sambil mengusap perutnya.


Bahkan saat ini terlihat Austin benar-benar sangat mengkhawatirkan keadaan dia adalah yang mengandung anak-anaknya. Ia bahkan saat ini sudah melihat ke tubuhnya di tepi ranjang.

__ADS_1


"Maafkan aku, Sayang. Biar aku panggil dokter saja agar memeriksamu karena takut terjadi hal buruk pada anak-anak kita." Ia kemudian mengambil ponsel di saku celana dan tidak membuang waktu langsung menghubungi dokter.


Ketika melihat wajah sang suami dipenuhi oleh kekhawatiran, Diandra saat ini hanya terdiam sambil terus mengusap perutnya yang sudah lebih baik.


"Aku baik-baik saja, Sayang. Katakan hanya kram biasa. Mungkin dokter akan memberikan saran." Saat ia dulu hamil, Diandra juga sesekali merasakannya dan berpikir kali ini juga sama. Bahwa kehamilan merupakan hal yang biasa.


Austin sama sekali tidak mendengarkan perkataan Diandra karena satu-satunya yang ada di pikirannya hanyalah ingin sang istri segera diperiksa. "Sudah diam kita jangan bergerak. Kamu benar-benar harus diam di atas ranjang. Jangan reseh! Ingat anak-anak kita di dalam rahimmu."


Ia saat ini memikirkan tentang beberapa orang yang baru saja ditetapkan sebagai tersangka dan berpikir jika sampai membuat sang istri merasa bersalah, itu akan semakin berdampak buruk.


Dengan bibir mengerucut, Diandra sama sekali tidak berkomentar karena memang diakuinya jika bersalah. Ia hanya fokus untuk mengusap perutnya demi menguatkan hatinya serta anak-anaknya.

__ADS_1


'Lindungi anak-anakku, Tuhan. Aku ingin mereka bisa melihat indahnya dunia ini. Aku akan sangat berdosa jika membuat mereka bernasib buruk,' gumamnya yang di saat bersamaan melihat pintu terbuka dan menampilkan wajah masam sosok anak kecil yang menangis tersedu-sedu.


To be continued...


__ADS_2