
"Sialan!" Austin saat ini menatap ke arah ponsel yang berada dalam genggaman begitu sambungan telepon terputus sepihak karena Yoshi mematikannya tanpa berbicara apapun.
Ia yang tadi sudah berbicara pada seorang detektif untuk mencari Diandra, merasa sangat aku bisa menemukan wanita yang dicintai karena telah memutuskan kontak serta informasi apapun agar tidak ditemukan.
"Diandra, kenapa hobimu adalah menghilang tanpa pesan? Aku benar-benar sangat iri dengan Yoshi yang malah mendapatkan surat dari meski sudah menikah dengan wanita lain."
"Sedangkan aku yang hanya fokus padamu dan berniat untuk menikahimu, sama sekali tidak kamu perdulikan. Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang? Aku benar-benar khawatir terjadi sesuatu hal yang buruk padamu di luar sana sangat karena ada banyak orang jahat yang mungkin akan menyakitimu."
Austin yang saat ini berada di ruang kerjanya, lanjut pergi dari kursi kemudian kamu beberapa dokumen yang harus diperiksa terlantar di atas meja.
Ia tidak bisa berpikir jernih saat bumi karena otaknya tengah dipenuhi oleh sosok wanita yang pergi tanpa pesan. Kini, ia berdiri di samping kaca raksasa yang berada di sudut ruangan dan menatap kosong ke arah jalanan yang padat merayap.
"Seharusnya aku semalam membawanya pulang ke apartemenku. Karena aku tidak membenciku dengan memaksanya, sekarang malah kehilangan dirinya dan tidak tahu apakah bisa menemukan kembali Diandra." Austin saat ini memutar otak untuk mencari jalan keluar.
"Aku tidak akan pernah membiarkannya pergi lagi jika sudah menemukannya. Bila perlu, aku akan merantainya agar tidak bisa pergi ke mana-mana. Aku tidak akan peduli bagaimana perasaanmu padaku. Bahkan meskipun ia membenciku sekalipun, tidak akan kubiarkan ia pergi lagi jika sudah menemukanmu."
Austin masih sibuk menatap ke arah bawah perusahaan dengan perasaan berkecamuk dan dipenuhi oleh kekhawatiran pada sosok wanita yang menjadi pusat dunianya.
Hingga ia mendengar suara dari ponsel miliknya di atas meja. Namun, sama sekali tidak diperbolehkan karena benar-benar malas menerima panggilan.
Embusan napas kasar lolos dari bibirnya seolah mewakili perasaannya saat ini yang tengah kacau balau. Bahkan saat ini ia tidak bisa melakukan apapun ketika dipenuhi oleh sosok wanita yang sangat susah untuk ditaklukannya meski sudah berhasil merebut kesucian.
"Diandra, apa kamu sama sekali tidak tahu bahwa cintaku jauh lebih besar dari Yoshi? Aku bahkan rela melakukan apapun untuk bisa menikahimu." Austin bahkan sudah melihat beberapa konsep pernikahan dan berniat untuk memakai konsep outdoor.
"Bahkan aku sudah berencana untuk menikahimu di Bali dengan konsep outdoor yang sedang tren saat ini dan berpikir bahwa kamu akan merasa bahagia." Austin kini memijat pelipis ketika mengingat jika wanita yang dicintai sama sekali tidak mencintainya sedikitpun.
__ADS_1
"Ada Banyak wanita yang bermimpi untuk menjadi istriku dan mendapatkan cinta dariku, tapi kamu yang sudah dengan mudah mendapatkan hatiku, sama sekali tidak bersyukur." Ia pun kini kembali mendengar dari ponsel milikmu dan akhirnya berjalan menuju ke arah meja untuk melihat siapa yang mendampingi.
Saat tidak mengangkat ponsel miliknya yang berdering, pintu terbuka tanpa terlebih dahulu diketuk dan membuatnya menoleh. Ia melihat sosok pria paruh baya yang saat ini berjalan mendekat dengan wajah memerah.
"Dasar anak tidak tahu diuntung!" sarkas bisa setia paruh baya minta lain adalah ayah Austin yang tengah memerah wajahnya karena marah saat teleponnya tidak diangkat.
"Papa? Tumben ke kantor. Ada apa?" tanya Austin yang membikinkan mata karena merasa heran dengan reaksi berlebihan dari sang ayah.
Sementara itu, sosok pria paruh baya yang mengenakan jas berwarna hitam, kini mendekati putranya dan seketika mengarahkan tinju pada lengan kekar itu.
"Papa mendengar kau dekat dengan seorang wanita yang merupakan karyawan biasa di kantor ini. Di mana wanita itu? Papa ingin berbicara dengan agar tidak menuntut untuk menjadi menantu di keluarga Matteo."
Austin yang merasa sangat kesal atas tanggapan dari sang ayah ada wanita yang dicintainya. "Papa apa-apaan sih! Jangan makin membuatku pusing dengan banyak masalah yang kuhadapi saat ini."
"Sebenarnya siapa orang yang menyebarkan informasi itu? Aku benar-benar akan menghabisinya sekarang juga!" Austin pada saat ini sudah dipusingkan dengan kepergian Diandra, kini malah ditambah lagi dengan ulah sang ayah yang tidak memberikan restu.
Hingga ia pun kini kembali mendengar suara kemurkaan dari pria paruh baya yang selama ini dihormatinya.
"Pokoknya Papa tidak akan membiarkanmu menikah dengan wanita yang tidak jelas keluarganya atau tidak baik bibit bebet bobotnya. Apalagi Papa sudah berencana untuk menjodohkan dengan putra dari rekan bisnis yang ada di luar negeri."
Malik Matteo saat ini sudah menatap ke arah ponsel yang baru saja dikeluarkan dari balik satu jas dan mencari gambar seorang wanita yang merupakan putri dari ketan bisnisnya di Singapura.
Kemudian ia miliknya pada putranya agar dilihat. "Ini adalah wanita yang merupakan seorang dokter bedah terbaik di rumah sakit terkenal yang ada di Singapura. Papa bahkan sudah berbicara dengan rekan bisnis untuk membicarakan perjodohan."
Sebenarnya selama ini ada sesuatu rahasia besar yang disembunyikan oleh Malik Matteo dari putranya. Namun, karena putranya memiliki hubungan dengan wanita yang tidak sederajat dengan keluarga, khawatir jika penerus satu-satunya membuat ulah.
__ADS_1
Akhirnya kali ini berniat untuk mengatakan semua hal agar putranya mengerti. Ia menatap ke arah putranya yang saat ini fokus pada gambar yang baru saja ditunjukkan.
Austin merasa sangat penasaran dengan kegilaan yang dilakukan oleh sang ayah tanpa sepengetahuannya, kini mengepalkan tangan dan wajahnya berubah merah, seketika tertawa terbahak-bahak.
"Apa ini? Apa Papa sudah merencanakan ini jauh-jauh hari? Aku bahkan sama sekali tidak tahu dengan rencana konyol ini. Di zaman modern ini, Papa masih menggunakan perjodohan untuk putramu?" Austin katakan sama sekali tidak menyangka jika nasibnya akan sama dengan Yoshi.
Bahkan ia mengejek pria paruh baya itu karena berpikir bahwa perjodohan di zaman sekarang adalah sebuah hal yang sangat tidak masuk akal.
"Aku tidak akan pernah menerima perjodohan ini karena hanya akan menikahi Diandra," sarkas Austin yang saat ini sama sekali tidak perduli pada sang ayah yang sudah memerah wajahnya.
"Jika kau menolaknya, perusahaan terancam bangkrut, Austin!" sarkas Malik Matteo yang akhirnya mengungkapkan sebuah rahasia besar.
Austin kini memicingkan mata karena merasa sangat heran dengan apa yang baru saja diungkapkan oleh sang ayah. "Apa maksud, Papa? Jangan mengarang sebuah hal konyol lagi dan berharap aku mau menerima perjodohan ini."
"Ini bukanlah hal seperti yang ada di pikiranmu, Austin. Karena memang yang kukatakan benar adanya. Sebenarnya lima tahun lalu, Perusahaan kita sudah bangkrut dan ayah dari wanita yang kutunjukkan fotonya tadi menolong sampai akhirnya bisa kembali seperti semula."
Austin Matteo saat ini menatap ke arah putranya yang terlihat sangat terkejut dengan penjelasannya, sama sekali tidak diperdulikan olehnya karena berpikir bahwa yang terjadi di masa lalu harus diselesaikan saat ini.
"Rekan bisnis Papa tidak menginginkan selain kecuali dirimu menjadi menantunya. Bukankah itu merupakan sebuah hal yang paling mudah? Itulah kenapa selama ini Papa membiarkanmu berbuat sesuka hati berhubungan dengan banyak wanita."
"Itu karena berharap kamu bisa memuaskanmu bermain wanita dan menikah dengan putri rekan bisnis Papa." Malik Matteo kini kembali menatap tajam ke arah putranya agar mengerti.
"Bukankah selama ini Papa tidak pernah meminta apapun darimu? Sekarang, Papa hanya meminta satu hal dan kau harus memenuhinya." Tanpa menunggu jawaban dari pertanyaan karena ini memberikan waktu untuk berpikir dan menenangkan diri, kini Malik Matteo keluar meninggalkan putranya yang hanya diam saja.
'Maafkan Papa karena demi bisa menyelamatkan perusahaan. Ini juga demi kebaikanmu karena bisa menikah dengan seorang wanita hebat dan berprofesi sebagai dokter bedah yang terkenal di Singapura.'
__ADS_1
To be continued...