
Austin yang baru saja berjalan keluar dari ruangan perawatan sang istri, kini meraih ponsel miliknya karena ingin bertanya pada asisten pribadinya mengenai perkembangan tuntutan yang dilayangkan ke kantor polisi mengenai ibunya Yoshi.
Ia memang percaya jika sang istri berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang dilakukan karena tidak mendengarkan larangannya, tapi tetap tidak bisa tenang jika orang-orang jahat yang mengancam rumah tangga mereka masih berkeliaran dengan bebas di luaran sana.
Pastinya masih berusaha untuk menghancurkan kebahagiaannya bersama dengan sang istri dan juga anak-anaknya. "Aku tidak akan mengambil resiko dengan membiarkan mereka menyusun siasat untuk menghancurkanku."
"Aku akan menghancurkan mereka sebelum berniat untuk memisahkanku dengan anak dan istri." Ia kini sudah memencet tombol panggil dan tidak menunggu waktu lama karena suara dari seberang telepon terdengar.
"Halo, Presdir. Apa ada yang Anda butuhkan?" tanya sang asisten yang saat ini baru saja bersiap pergi mandi dan tidak jadi melakukannya ketika ponsel di atas nakas berdering.
Berpikir ada sesuatu hal yang penting dari atasannya karena pagi-pagi sudah menghubungi, kini ia memasang telinga lebar-lebar untuk mendengarkan suara bariton dari seberang telepon.
"Bukankah kau belum menjelaskan padaku mengenai perkembangan dari pihak kepolisian mengenai wanita jahat itu? Bukti yang kukirimkan padamu sudah sampai pada pihak kepolisian, kan?" tanya Austin saat ini duduk di depan ruangan yang berada cukup jauh dari ruangan sang istri.
Sementara di seberang telpon, sang asisten yang tidak jadi pergi mandi, kini mendaratkan tubuhnya di atas ranjang karena kakinya pegal berdiri terus dari tadi.
"Pihak kepolisian masih memeriksa semuanya dan jika sudah selesai, akan langsung mengeluarkan surat penangkapan untuk nyonya Asmita Cempaka setelah bekerja sama dengan pihak kepolisian di sana." Ia memang kemarin pergi ke kantor polisi lagi untuk bertanya karena tidak puas berbicara di telepon.
Apalagi mendapatkan bukti baru berupa video pembicaraan wanita itu yang mengarang cerita. "Jadi, nyonya Asmita Cempaka akan dipulangkan secara paksa jika tidak mau bekerja sama."
"Tapi, Presdir ...." Ia tidak melanjutkan perkataannya karena sedikit bingung untuk menjelaskan dan khawatir jika pria yang sangat dihormatinya tersebut merasa murka.
Austin yang saat ini mengerutkan kening karena merasa jika ada sesuatu yang tidak beres dirasakan olehnya. "Apakah ada sesuatu yang buruk?"
Di dalam apartemen, saat ini pria berusia 30 tahunan tersebut masih menggaruk tengkuknya untuk menormalkan kegugupannya untuk mengatakan sesuatu.
Ia selama ini sangat hafal dengan perangai dari bosnya tersebut dan pastinya akan murka setelah mengungkapkan sesuatu yang sempat didengar dari salah satu polisi.
"Cepat katakan dan jangan buat aku penasaran!" sarkas Austin makin merasa ada yang tidak beres dan berpikir harus segera mengetahuinya.
"Ehm ... sebenarnya polisi sempat mengatakan jika itu hanyalah kejahatan ringan dan tidak perlu sampai bekerja sama dengan pihak kepolisian di London. Apalagi tidak ada korban jiwa dalam kejahatan nyonya Asmita Cempaka." Ia saat ini bersiap untuk mendapatkan kemurkaan, tapi yang terjadi malah sebaliknya.
Sama sekali tidak ada suara yang terdengar dari seberang telepon dan membuatnya yakin jika saat ini bosnya tengah bimbang ketika memikirkan apa yang baru saja ia jelaskan.
'Sepertinya bos saat ini benar-benar merasa kecewa karena usahanya percuma untuk menangkap wanita itu. Apalagi itu hanya dianggap ancaman kecil oleh pihak kepolisian,' gumamnya yang seketika berjenggit kaget mendengar suara teriakan dari bosnya yang murka.
Padahal tadinya berpikir jika atasannya tersebut tengah bersedih karena gagal untuk membereskan wanita yang selalu memberikan ancaman tersebut.
"Apa pihak kepolisian baru akan bergerak setelah istri dan anakku dihabisi oleh wanita sialan itu?" sarkas Austin yang saat ini benar-benar sangat marah karena kerja kepolisian di negara yang selama ini dibanggakan tidak bisa diandalkan.
Ia tahu jika semua bukti yang mengarah pada wanita itu hanyalah sebuah ancaman semata dan belum membuat sang istri serta putranya terluka, tapi tidak mungkin ia membiarkan orang-orang jahat menyatroni keluarganya dan hanya diam saja.
Bahkan ia tidak memperdulikan tatapan dari beberapa orang yang menatapnya dan merasa terganggu atas teriakannya. Sampai ia berpikir jika sampai pihak kepolisian menganggap laporannya hanyalah sebuah hal kecil, maka akan bergerak sendiri tanpa melibatkan aparat kepolisian yang dianggap sangat lambat.
'Apa perlu aku jadi pria berdarah dingin untuk melindungi anak dan istriku dari kejahatan orang-orang itu? Bahkan perbuatan mereka hampir saja membuat istriku pergi dariku dalam keadaan hamil dan jika sampai itu terjadi, sudah dipastikan semua hal buruk dialaminya,' sarkas Austin yang saat ini memijat pelipis karena merasa pusing ketika masalah tidak kunjung usai.
Meskipun masalahnya telah selesai dengan sang istri karena sudah tidak ada kesalahpahaman di antara mereka, tapi kini masih belum beres mengenai wanita jahat yang bahkan sudah beberapa kali mengirimkan teror dengan foto berdarah.
"Presdir, Anda harus tenang dulu dan tidak mengandalkan emosi dalam masalah ini. Kita akan menunggu pihak kepolisian bergerak karena tidak mungkin hanya membiarkan laporan tanpa penyelesaian," ucap sang asisten yang ingin menghibur atasannya ketika dikuasai oleh amarah.
__ADS_1
Sementara itu di Rumah Sakit, sosok wanita yang baru saja keluar dari ruangan kantor, mendapatkan laporan jika merasa terganggu dengan suara teriakan dari seorang pria yang duduk di luar ruangan.
Apalagi di lantai itu hanya ada beberapa orang kelas atas yang menempatinya dan tidak tenang ketika suara bising menggema di depan ruangan, sehingga kini berjalan mendekati pria yang masih memegang ponsel di tangan.
"Tuan, tolong jangan bising di rumah sakit karena pasien membutuhkan ketenangan untuk beristirahat. Suara Anda yang berteriak, benar-benar mengganggu orang lain, khususnya para pasien." Sebenarnya wanita berseragam biru tersebut merasa tidak enak menegur orang yang diketahui bukan merupakan orang sembarangan.
Bahwa pasien yang berada di lantai itu hanyalah orang-orang konglomerat yang memiliki banyak uang. Ia takut dipecat gara-gara menegur seorang pria yang merupakan pasien VVIP di rumah sakit.
Namun, ia juga tidak bisa mengabaikan protes dari beberapa orang yang melapor dan akhirnya bergerak untuk mendekati pria itu dengan berbicara baik-baik.
Austin yang tadinya ingin kembali meluapkan amarah pada asistennya karena merasa kesal, tidak jadi melakukannya dan mematikan sambungan telepon secara sepihak dan menatap ke arah perawat wanita di hadapannya.
Masih dengan perasaan yang diliputi oleh amarah, ia bagi berdiri dari kursi. "Siapa yang protes dan merasa terganggu? Katakan padaku karena aku akan menemuinya!"
Bahkan saat ini ia rasanya ingin menghancurkan siapapun yang dilihatnya karena saking kesalnya. Hingga suara dari seseorang yang sangat dihafalnya, seketika membuatnya menoleh.
"Austin?" seru seorang wanita yang baru saja keluar dari lift dan berjalan menuju ke ruang perawatan.
Austin yang saat ini menatap seorang wanita dengan memakai setelan panjang tanpa lengan yang berwarna hitam dengan rambut diikat tinggi ke atas dan ada kaca mata hitam yang menghiasi di atasnya.
Wanita yang merupakan sahabatnya ketika semasa kuliah dan sempat menyatakan cinta padanya, tapi ditolak olehnya karena tidak ingin mengubah persahabatan menjadi percintaan.
Ia memang mengakui jika wanita yang merupakan sahabatnya tersebut memiliki paras yang cantik dan berasal dari keluarga berada, tapi tidak ingin hubungan pertemanan yang sudah baik dan bertahun-tahun lamanya rusak jika mereka berpisah.
"Leony?" ucapnya yang tersenyum simpul dan sejenak melupakan tentang masalahnya.
Refleks wanita bernama Leony Hapsari berusia 33 tahun itu langsung menghambur memeluk serta mencium pipi kanan dan kiri sahabat baiknya tersebut.
Austin yang sudah lama tidak pernah akrab dengan para wanita, sebenarnya merasa tidak nyaman dengan perbuatan sahabatnya tersebut. Apalagi merasa jika ada hati yang harus dijaganya, tapi karena sudah terlanjur, sehingga membiarkan dan tidak membuat sahabatnya tersebut malu di depan orang lain jika menegur.
"Tentu saja aku masih ingat karena kita sudah lama berteman." Kemudian menatap ke arah perawat. "Bilang pada orang itu jika aku tidak akan berisik lagi di sini. Pergilah sebelum aku menyuruh orang untuk memecatmu dari rumah sakit ini!"
Kemudian mengibaskan tangannya dengan raut wajah penuh kekesalan karena kembali di sudut amarah ketika menatap perawat yang menegurnya karena disuruh oleh orang lain.
Ia tahu jika perawat tersebut tidak bersalah, tapi berpikir jika merupakan orang yang memantik amarahnya semakin besar, sehingga tidak peduli apapun.
Sang perawat seketika menelan saliva dengan kasar dan kebingungan untuk menjawab karena benar-benar takut jika akan dipecat dari pekerjaan. Dengan membungkuk hormat sebelum pergi, ia pun berusaha untuk tidak lagi membuat pria itu kesal.
"Maafkan saya, Tuan." Lalu ia beranjak pergi karena khawatir akan kembali membuat pria berkuasa tersebut benar-benar membuatnya kehilangan pekerjaan.
Sementara itu, Leony saat ini seketika tertawa melihat raut wajah memerah Austin yang tengah marah. "Wah ... ternyata kau masih arogan seperti dulu. Sama sekali tidak berubah."
Austin ya tadinya menatap kesal pada perawat yang kini mulai menjauh darinya dan kembali ke ruangan kantor, seketika menoleh ke arah sahabatnya dan tersenyum kesal.
"Aku sudah berubah karena menemukan pawangnya," ucapnya yang saat ini menatap penampilan rapi dari wanita yang menurutnya semakin bertambah seksi tersebut. "Lalu, kamu dari mana dan mau ke mana? Bahkan kamu terlihat seperti artis saja saat datang ke rumah sakit."
Refleks Leony seketika tertawa mendengar pujian yang membuatnya senang meskipun itu hanyalah sebuah basa-basi dari pertemuan pertama mereka. "Apa aku terlihat cantik?"
"Ya, dari dulu kamu memang sangat cantik. Apa perlu aku mengambilkan cermin besar untukmu?" Austin sebenarnya saat ini sangat malas berinteraksi dengan orang lain ketika suasana hatinya sedang tidak baik, tapi berusaha untuk bersikap normal di depan sahabat yang sudah lama tidak ditemuinya.
__ADS_1
Hingga ia mengingat kalimat yang baru saja lolos dari bibir Austin tadi. "Tidak perlu karena setiap hari aku harus bercermin dan membuatku bosan menatap wajahku sendiri yang cantik ini. Oh ya, memangnya kamu sudah menikah?"
Ia yang selama ini berada di luar negeri karena karirnya sebagai desainer, tidak tahu perkembangan dari sahabat baiknya tersebut. Jadi, sekarang ingin tahu tentang pria yang pernah ia sukai di bangku kuliah.
"Jawab dulu pertanyaanku tadi!" sarkas Austin yang saat ini merasa jika penampilan sahabatnya sangat berlebihan ketika pergi ke rumah sakit.
"Aah ... sepertinya kamu penasaran denganku. Baiklah. Aku akan memberitahumu jika sebenarnya baru saja tiba setelah melakukan perjalanan dari Inggris. Aku selama ini bekerja di sana sebagai ahli mode di salah satu brand ternama." Hingga wajahnya yang tadinya bersemangat karena bertemu dengan sahabatnya, kini berubah meredup.
"Tapi harus pulang karena papaku baru saja terkena serangan jantung. Saat ini papaku dirawat di salah satu ruangan di lantai ini. Sepertinya kita lanjutkan saja pembicaraan ini nanti karena aku harus menemui orang tuaku." Ia sebenarnya ingin tahu banyak tentang perihal sahabatnya tersebut.
Namun, berpikir jika ingin segera menemui sang ayah karena sangat mengkhawatirkan keadaannya, sehingga sekarang mengeluarkan kartu nama dari dalam tas dan memberikannya.
"Hubungi aku jika senggang." Kemudian berjalan meninggalkan Austin untuk mencari keberadaan ruangan dari sang ayah.
Austin yang baru saja menerima kartu nama, gini langsung memasukkan ke dalam saku celana dan mengejar sahabatnya. Ia mengingat jika ayah dari Leony merupakan seorang polisi.
Mendadak ia merasa tertarik dan ingin sekalian menjenguk ayah dari Leony karena sudah lama tidak bertemu. Ia pun berniat untuk meminta tolong jika ayah dari sahabatnya tersebut masih mempunyai kenalan di kepolisian karena berpikir jika pria paruh baya tersebut pasti sudah pensiun.
"Tunggu!"
"Kenapa? Apa kamu masih merindukanku dan tidak rela berpisah secepat ini?" seru Leony yang terkekeh melihat respon kesal dari Austin.
"Dasar kepedean! Aku juga ingin bertemu dengan orang tuamu jika dirawat di sini karena kebetulan istriku dirawat di kamar itu." Ia pun saat ini menunjuk ke arah sebelah kanan ia berdiri.
Leony yang saat ini mengarahkan tatapannya pada pintu yang ditunjuk, sebenarnya merasa penasaran dengan sosok wanita yang berhasil menjadi pawang seorang buaya. Namun, ia masih memikirkan keadaan sang ayah yang belum ditemuinya.
"Baiklah. Ayo, ikut denganku!" Berjalan menuju ke arah ruangan yang ia ketahui merupakan tempat sang ayah dirawat.
Ia mengetuk beberapa kali dan membuka pintu, lalu masuk ke dalam. Saat pertama kali bersitatap dengan orang tuanya, ia seketika berkaca-kaca karena sangat merindukan mereka yang sudah lama tidak ditemui.
"Pa, Ma?" ucapnya dengan berjalan cepat menghampiri sang ibu yang langsung dipeluk olehnya karena sang ayah kini terbaring lemah di atas ranjang dengan beberapa alat yang menempel di tubuhnya.
Sementara itu, Austin yang juga ikut masuk ke dalam ruangan, menatap interaksi antara ibu dan anak yang sudah lama terpisah karena jarak. Ia bahkan ikut merasa terharu melihatnya.
Namun, ia seketika menoleh ke arah pria yang menunjuk ke arahnya dan seketika tersenyum, lalu membungkuk hormat untuk menyapa. "Om."
Sementara itu, sosok wanita paruh baya yang baru saja melepaskan pelukan pada putrinya, kini menatap ke arah pria yang baru saja menyapa sang suami. Hingga ia membulatkan mata begitu melihat pria yang tadi sangat berisik di luar dan membuatnya melaporkan pada pihak kantor agar ditegur.
"Kau kan yang tadi berteriak-teriak seperti orang gila di luar sana hingga membuat suamiku merasa terganggu," ucapnya dengan raut wajah kesal.
Leony yang seketika mengerutkan kening dan menatap ke arah sang ibu yang marah-marah serta pada Austin. "Berteriak-teriak? Siapa, Ma? Austin?"
Wanita paruh baya itu itu menganggukkan kepala sambil terus menunjuk ke arah pria yang datang bersama putrinya.
"Ya, pria ini yang tadi membuat papamu kesal karena tidak bisa beristirahat dengan tenang saat mendengar suaranya yang sangat bising. Bagaimana bisa kalian bersama? Siapa dia?" tanya sang ibu yang kini mengerutkan kening dan mencoba mengingat wajah yang menurutnya tidak asing.
Austin yang tadi mengingat soal perawat menegurnya dan berniat untuk melabrak orang yang protes padanya, seketika menelan saliva dengan kasar begitu mengetahui jika itu adalah orang tua dari sahabatnya sendiri.
Refleks ia membungkuk hormat dan mengungkapkan penyesalannya pada orang tua sahabatnya yang kesal padanya. "Maaf, Tante karena telah mengganggu ketenangan Om saat beristirahat."
__ADS_1
To be continued...