
Berikan alamatmu! Aku butuh bantuanmu sekali lagi untuk menemaniku ke pesta ulang tahun Mirza. Aku tadi lupa mengatakannya.
Diandra yang baru saja membaca pesan di ponselnya, seketika mengumpat kesal karena merasa jika pria yang baru saja dibicarakan barusan sangat menyebalkan.
"Dikasih hati minta jantung. Dasar penjahat wanita menyebalkan!" sarkas Diandra yang kini mengempaskan ponsel di tangan ke atas kasur lantai tipis itu.
"Aku yakin penjahat wanita itu sudah merencanakan dari tadi, tapi sengaja mengatakan saat aku sudah pulang. Ia pasti tahu jika mengatakan saat aku ada di hadapannya, tidak akan mau."
Diandra yang masih tidur telentang di atas kasur tipis sambil mengamati langit-langit kamar, kini sama sekali tidak berniat untuk membalas pesan dan memilih untuk memejamkan mata.
'Bodo amat! Aku tidak mau ambil pusing, daripada stres memikirkan penjahat wanita itu.'
Diandra kini memejamkan mata dan berharap bisa langsung tertidur. Meskipun ia merutuki nasib karena dimanfaatkan oleh Austin dan bisa membaca apa yang diinginkan pria kaya itu.
Meskipun ia belum pernah dekat dengan para pria sekalipun, tapi pengetahuan mengenai lawan jenis melebihi siapapun karena sering menonton film.
Meskipun film hanyalah sebuah cerita fiksi, tapi ia tahu bahwa terkadang diangkat dari kisah nyata. Apalagi mengetahui bahwa pria kaya dan tampan selalu merasa bisa mendapatkan apapun yang diinginkan.
Ia tidak ingin menjadi salah satu hal yang dianggap mudah hanya karena berasal dari kasta rendahan. Itulah yang menjadi pedoman selama ini saat menjaga harga dirinya.
Menyadari bahwa nasi sudah menjadi bubur dan tidak bisa merubah keputusannya, sehingga membiarkan semuanya berjalan seperti air mengalir.
Beberapa saat kemudian, karena kelelahan karena seharian ini interview dan ditolak oleh beberapa perusahaan, suara napas teratur memenuhi ruangan kamar kos tersebut. Diandra kini sudah larut dalam alam mimpi dengan posisi meringkuk ke kiri.
Sementara itu di tempat berbeda, yaitu ruangan kantor sosok pria yang saat ini masih duduk di kursi kebesarannya, tak lain adalah Austin Matteo tengah tersenyum menyeringai sambil menatap ponselnya.
Ia tadi meminta informasi dari CV wanita yang ingin dimanfaatkan sebagai mainan baru. Merasa bahwa Diandra sama seperti para wanita yang mudah didapatkan dengan kekuasaan yang dimiliki, sehingga hari ini berencana untuk membuat wanita itu tunduk padanya.
__ADS_1
"Lihat saja, aku akan membuatmu tergila-gila padaku dan seperti biasa, saat bosan, akan langsung menyingkirkan wanita ini." Austin kini menatap ke arah CV Diandra, di mana ada foto wanita itu.
"Bukan hal sulit menemukan alamat tempat tinggal di Jakarta dan juga nomor ponselnya." Kemudian Austin menyimpan kontak Diandra dengan memberikan nama kelinci kecil.
Ia memang memiliki rencana malam ini untuk bisa bermain-main dengan wajah yang tadi menolak mentah-mentah tawarannya. Hingga ia merendahkan harga diri dengan berbicara lembut layaknya pria sejati agar Diandra berubah pikiran.
Hal itulah yang membuatnya kesal dan ingin memberikan pelajaran pada wanita pertama yang menolaknya ketika ditawari untuk menjadi salah satu kekasihnya.
Kini, Austin menelpon sahabat baiknya yang tak lain adalah Mirza. Begitu sambungan telpon tersambung dan mendengar suara bariton dari seberang, langsung mengungkapkan apa yang diinginkan.
"Ada apa lagi?" tanya Mirza yang baru saja tiba di rumah sakit.
"Aku butuh namamu malam ini untuk membuat pesta," ucap Austin yang kini tengah mencari konsep dari pesta malam ini.
"Aku benar-benar sibuk, jadi jangan bertele-tele!"
Seketika terdengar suara tawa dari seberang telpon. Mirza hanya bisa geleng-geleng kepala mengetahui sahabat baiknya tidak pernah puas hanya dengan satu wanita.
"Astaga! Austin ... Austin, awas kena batunya. Sudah berapa banyak wanita yang kamu permainkan? Ingat, karma itu ada. Jangan sampai sifat burukmu itu membuatmu membayar mahal suatu hari nanti. Baiklah, terserah apa yang kamu lakukan. Katakan saja tempatnya nanti."
Sementara itu, Austin yang sama sekali tidak memperdulikan petuah dari Mirza, kini langsung menyahut, "Tenang saja, aku tidak akan menyeretmu jika kena karma. Aku akan memberitahukan lokasinya nanti. Bye."
Tanpa menunggu jawaban dari Mirza, kini Austin memencet tombol merah untuk mengakhiri panggilan. Ia sangat malas mendengar ceramah panjang lebar dari sahabatnya.
"Mentang-mentang ia tidak pernah berhubungan dengan wanita, selalu saja mengoceh dengan memberikan petuah seperti penceramah saja."
Austin kini mengirimkan pesan pada salah satu kenalan untuk menyiapkan acara pesta di salah Club malam. Tentu saja dengan menyewa private room agar privasinya terjaga.
__ADS_1
Kemudian ia beralih menatap ke arah CV di atas meja. Tidak ingin membuang sesuatu yang dianggap berharga karena berisi seluruh informasi mengenai wanita yang membuatnya tertarik, kini Austin menyimpan berkas lamaran itu di laci mejanya dan kembali melanjutkan pekerjaan yang tadi sempat tertunda.
Austin kini kembali sibuk memeriksa beberapa dokumen yang perlu ditandatangani. Hingga beberapa saat kemudian melihat asisten pribadi masuk dan berjalan mendekat setelah sebelumnya mengetuk pintu.
"Ada dua dokumen penting yang harus Anda periksa, Presdir." Daffa Ibrahim kini menaruh dokumen yang dibawanya ke atas meja.
Sementara itu, Austin yang kini menatap ke arah dokumen itu, mulai membuka dan memeriksanya sebelum membubuhkan tanda tangan.
"Aku sampai lupa jika perusahaan Kuncoro dan Bramasta sudah resmi bekerjasama dengan perusahaan." Austin kini mengambil bolpoin dan langsung menandatangani dokumen tersebut.
“Bawa semua ini karena aku sudah menandatanganinya.”
Sang asisten langsung mengangguk hormat dan menjawab perintah. "Baik, Presdir. Saya kembali ke ruangan dulu."
Daffa langsung mengambil beberapa dokumen penting di atas meja dan berniat untuk berjalan keluar dari ruangan kerja atasannya. Namun, suara bariton dari bosnya membuatnya tidak jadi melakukan.
"Menurutmu, wanita yang tadi ada di ruanganku dengan kekasihku, cantik mana?" tanya Austin yang tiba-tiba ingin tahu pandangan dari asisten pribadinya mengenai seorang wanita.
Ia ingin tahu apakah para pria berpikiran sama sepertinya, yaitu suka wanita seksi, cantik dan kulit putih. Ataukah wanita arogan yang susah didapatkan dengan wajah khas yang manis dan tubuh kurus seperti Diandra.
Sementara itu, Daffa yang kini merasa sangat bingung untuk menjawab karena khawatir akan membuat bosnya itu kesal jika tidak sesuai dengan pemikiran pria yang diketahui punya banyak koleksi wanita.
'Memangnya apa yang harus kujawab? Bukankah bos sudah tahu jawabannya? Kenapa tanya segala?' gumam Daffa yang kini merasa ragu untuk membuka suara.
Akhirnya ia terpaksa menjawab sesuai dengan pemikirannya. "Apakah Anda ingin mendengar jawaban jujur atau sesuai dengan keinginan Anda, Presdir?"
To be continued...
__ADS_1