
Asmita Cempaka yang tadi merasa sangat senang karena Diandra masuk dalam jebakannya, kini kembali ke dalam ruangan perawatan putranya. Saat melihat putranya sudah kembali tertidur pulas karena efek obat yang tadi disuntikkan oleh perawat lewat infus, membuatnya merasa sangat lega.
Ia pun kini memilih untuk membaringkan tubuhnya di atas ranjang kosong yang memang selama ini khusus untuknya beristirahat. Hingga ia mendapatkan pesan dari sosok wanita yang sangat ingin dihancurkannya.
Ia tersenyum menyeringai dan membalas beberapa pesan dari Diandra. "Jadi, ia berencana untuk kabur dari rumah di hari ulang tahunnya? Wah ... ternyata takdir benar-benar berpihak padaku karena aku tidak perlu menyuruh orang itu untuk menculiknya karena malah datang sendiri padaku."
"Aku sama sekali tidak menyangka jika Diandra hanyalah seorang wanita bodoh yang mudah untuk ditipu. Dia bahkan merasa lebih mempercayaiku daripada orang tuanya serta Austin Matteo. Diandra yang sangat bodoh itu benar-benar tidak punya otak karena tidak bisa berpikir." Ia merasa sangat senang karena jalannya sangat mudah untuk membalas dendam.
"Seandainya dari dulu kau menghubungiku, mungkin aku sudah mengirim ke neraka, Diandra. Kau seharusnya mati dalam kecelakaan itu agar aku tidak tersiksa setiap hari karena dendam. Apalagi setiap hari harus melihat putraku yang koma, sedangkan kau hidup berbahagia bersama dengan bajingan itu hingga sekarang bisa berjalan."
Saat mengetahui bahwa Diandra bisa kembali berjalan, ia benar-benar sangat marah pada takdir. Bahwa putranya sama sekali tidak bersalah, tetapi harus bernasib nahas karena wanita si pembawa sial itu.
"Bahkan meskipun sudah mengalami kecelakaan, kau masih bisa hidup bahagia karena menjadi istri dari Austin Matteo yang ternyata merupakan ayah dari Aksa. Kalian benar-benar pasangan yang sangat menyebalkan! Bahkan lihat foto kalian di media sosial, membuatku ingin sekali menghancurkan dengan melakukan konferensi pers."
"Namun, aku tidak melakukan itu karena fokus pada perawatan putraku dan sekarang sudah hampir pulih, Jadi tibalah saatnya menuntut balas." Mengingat aksi pembalasan, ia langsung menelpon seseorang yang selama ini disuruh untuk membuntuti Diandra. Begitu mendengar suara bariton dari seberang telpon, kini ia langsung mengungkapkan apa yang tadi dikatakan pada Diandra.
"Halo, Bos. Apa ada tugas baru?"
"Rencana untuk menyingkirkan wanita ini jauh lebih mudah karena dia sendiri yang akan datang padamu. Aku akan mengirimkan alamat restoran untuk menjemputnya dan simpan nomor yang baru kukirim. Itu adalah nomor dari Diandra," ucap Asmita Cempaka yang saat ini tengah menatap ke arah putranya.
Ia ingin memastikan bahwa putranya masih tertidur pulas dan tidak mendengar perkataannya karena akan berbahaya dan nanti mendapatkan banyak pertanyaan jika sampai mengetahui pembicaraannya dengan orang suruhannya yang ada di Jakarta.
"Baik, Bos. Saya akan melaksanakannya. Berarti rencana pertama untuk dilakukan eksekusi di sebuah gudang dan membiarkannya menjadi abu tidak berubah, kan?" tanya pria yang saat ini tengah menikmati kopi di salah satu cafe.
"Ya, itu tidak berubah dan sesuai dengan rencana. Dia berpikir akan dibawa ke London untuk menemani putraku, jadi nanti kamu bilang seperti itu saja. Begitu masuk ke mobil, langsung buat ibu dan anak itu pingsan agar tidak mengetahui apapun. Lalu, lakukan sesuai rencana dan buat mereka menjadi abu." Ia pun mematikan sambungan telepon karena tidak ingin berbicara lebih banyak.
Apalagi saat ini ada putranya yang berada di atas ranjang perawatan. Beberapa kali ia menguap karena memang sudah cukup larut dan sangat lelah hari ini setelah banyak proses untuk kesembuhan putranya.
Sampai pada akhirnya ia memejamkan kedua matanya karena merasa sangat mengantuk. Berharap besok pagi bisa bangun dengan tubuh yang segar dan semangat baru karena mengetahui jika putranya sudah perlahan pulih dan sebentar lagi bisa membalas dendam pada wanita yang membuatnya dendam.
Beberapa saat kemudian, suara napas teratur terdengar memenuhi ruangan perawatan tersebut.
***
Suasana di ruangan meeting yang merupakan perusahaan Matteo, kini diliputi aksi saling tuding ketika rapat untuk membahas tentang peretasan data yang baru beberapa jam terjadi. Bahwa ada yang membobol sistem keamanan dari perusahaan dan mengakibatkan beberapa data penting berisiko diketahui oleh para pesaing bisnis.
Austin yang merasa sangat pusing karena tidak mendapatkan jalan keluar serta menebak siapa yang melakukannya, kini bangkit berdiri dari posisinya. Kemudian ia menunjuk ke arah ahli IT yang sudah dipanggil ke ruangan meeting.
"Masalah ini adalah paling buruk sepanjang sejarah aku memimpin perusahaan. Aku tidak tahu siapa musuh yang ingin menghancurkan perusahaan ini, tapi yang jelas benar-benar merupakan pesaing bisnis dan pastinya mengincar tender besar yang juga kita incar."
"Aku beri waktu dua hari untuk menyelesaikan ini karena jika belum selesai, akan memecat dan mengganti tim IT. Apa kalian paham?" sarkas Austin yang saat ini mengarahkan tatapan tajam pada beberapa orang yang bertanggungjawab atas sistem informasi perusahaan yang kebobolan.
"Mengerti, Presdir!" sahut beberapa orang yang secara bersamaan.
Kemudian Austin keluar dari ruangan rapat dan di sampingnya ada sang asisten pribadi. Ia yang kini langsung masuk ke dalam lift, berbicara begitu tidak ada orang lain.
__ADS_1
"Aku yakin ada pengkhianat di perusahaan ini. Kau harus mencari tahu secara diam-diam dengan memeriksa CCTV di setiap sudut perusahaan. Rahasiakan ini dari semua staf perusahaan karena aku ingin segera menangkap penjahat itu. Mengenai pekerjaanmu, aku yang akan menghandle semuanya," ucap Austin yang kini langsung berjalan keluar begitu lift terbuka.
Sang asisten yang tadinya merasa jika pekerjaannya terlalu berat karena harus mencari mata-mata, kini merasa lega karena pekerjaannya dihandle oleh atasannya. "Baik, Presdir. Saya akan memeriksanya untuk mencari mata-mata itu."
"Kerjakan sekarang!" Kemudian Austin kembali ke dalam ruangan kerjanya dan mendengar dering ponsel miliknya berbunyi.
Ia yang kini langsung mengambil ponsel miliknya di saku jas, kini tidak membuang waktu untuk menggeser tombol hijau ke atas dan menyapa seseorang di seberang telpon setelah mengucapkan salam.
"Iya, Bu."
"Austin, apa kamu sibuk?" tanya Laksmi Mustika yang baru saja pulang ke rumah dan duduk di teras depan.
"Tidak, Bu. Aku baru selesai meeting dan sudah kembali ke ruangan. Apa ada sesuatu yang Ibu butuhkan?" tanya Austin yang kini merasa ada hal penting karena tidak biasanya mertuanya menelpon.
"Sebenarnya tidak penting, tapi ini soal kejutan ulang tahun untuk Diandra. Tadi Ibu mengobrol dengannya dan dia mengajak ke salah satu restoran yang katanya pemandangan di sana sangat indah dan menunya lezat-lezat, tapi menunggu Aksa sembuh. Ibu pikir, mungkin memenuhi keinginannya di hari ulang tahun jauh lebih baik. Bagaimana?"
Asmita Cempaka sebenarnya merasa sangat tidak enak karena seperti terkesan tidak menyetujui rencana menantunya tersebut. Ia benar-benar serba salah berada di antara putri dan menantunya.
Namun, karena ingin putrinya selalu hidup bahagia, sehingga terpaksa menurutinya. Ia menunggu hingga menantunya menjawab.
Sementara itu, Austin yang hari ini sudah dipusingkan dengan masalah perusahaan, kini semakin bertambah karena tiba-tiba mertuanya berbicara seperti itu di hari sebelum acara dimulai.
Bahkan ia sudah memanggil koki khusus yang akan memasak secara langsung dan membuat pertunjukan keahliannya. Jadi tidak bisa membatalkannya karena itu bukanlah chef sembarangan.
Ia bisa dianggap menyepelekan chef top itu jika membatalkannya. Jadi, sekarang tidak langsung menolak rencana sang mertua, tapi ia ingin memikirkannya dulu dan mencari jalan keluar.
Ia saat ini bisa mendengar suara dari mertuanya yang seperti merasa tidak enak padanya.
"Oh iya, Ibu sampai melupakan hal-hal sebesar itu, Menantu. Baiklah. Ada baiknya memikirkan dulu keputusan karena Ibu hanya sedikit menceritakan tentang pembicaraan tadi dengan Diandra. Jadi, bukan bermaksud untuk menyuruhmu membatalkan rencana yang sudah kamu susun matang-matang semenjak beberapa hari lalu. Kalau begitu, selamat bekerja lagi."
Austin yang langsung mengiyakan perkataan dari sang mertuanya, kini sudah mematikan sambungan telpon dan menaruh benda pipih tersebut di atas meja.
"Kenapa ada-ada saja hal yang membuat masalah? Bagaimana mungkin aku membatalkan rencana yang sudah ku susun dua minggu lalu. Bahkan untuk membuat janji dengan koki saja satu bulan lalu karena jadwalnya sangat padat."
Masih terdiam memikirkan apa pilihannya, Austin saat ini mengembuskan napas kasar dan membuatnya bersandar pada kursi kerjanya.
Ia saat ini menatap ke arah langit-langit ruangan kerjanya kala mendongak menatap ke atas. "Selama ini aku selalu menuruti apapun keinginan istriku. Apa jadi masalah untuk mengabaikan hal ini dan bisa kapan-kapan saja ke restoran yang ingin didatanginya itu?"
Namun, ia merasa sangat ragu karena mengetahui jika Diandra jarang menginginkan sesuatu hal seperti itu, jadi saat ini berpikir jika istrinya pasti sangat menginginkannya.
"Rasanya kepalaku mau pecah saja saat ini," sarkas Austin sambil mengacak frustasi rambutnya.
Ia yang kini menatap ke arah banyaknya dokumen di atas meja, merasa sangat pusing harus menyelesaikan hari ini saat pikirannya kacau balau dengan masalah perusahaan.
Ditambah lagi dengan masalah kejutan ulang tahun untuk sang istri. Ingin memastikan sendiri, ia kini menelpon Diandra. Sambungan telpon kini sudah tersambung dan ia tidak pernah menunggu terlalu lama karena sang istri langsung mengangkat panggilan.
__ADS_1
"Ya, Sayang."
"Apa yang sedang kamu lakukan dengan putraku?" tanya Austin yang masih membuka perbincangan.
"Aku baru mau tidur karena barusan ibu pulang setelah tadi mengantarkan rendang. Aksa juga masih tidur karena efek obatnya, sehingga tidur pulas. Oh ya, aku tadi lihat-lihat di pusat kuliner jika ada takoyaki enak di dekat perempatan sebelah perusahaan. Nanti belikan aku yang isi gurita."
Diandra sebenarnya tahu jika sang ibu barusan mengabarkan jika gagal membujuk Austin. Ia ingin tahu apa alasan pria itu menelpon, sehingga masih mengalihkan pada makanan.
'Aku harus bisa membuatnya menyetujui permintaanku untuk melakukan pesta ulang tahun di restoran itu. Jika gagal, tidak akan ada kesempatan lagi untukku,' gumam Diandra yang kini masih menunggu tanggapan dari sang suami.
Namun, ia mengerutkan keningnya kala beberapa detik tak kunjung mendengar suara dari sang suami. "Sayang, kamu masih di sana, kan? Kamu mendengarku, kan?"
Di sisi lain, Austin yang memang tengah banyak pikiran, kini benar-benar sangat terkejut dengan suara dari istrinya. "Iya, Sayang. Aku tadi tengah membaca dokumen penting sebentar. Ya, nanti aku akan membelikannya. Apa ada yang lain?"
Ia ingin memancing Diandra agar mengatakan sendiri tentang pembicaraannya dengan sang ibu, jadi berharap jika tidak ada yang dirahasiakan darinya sebagai seorang suami.
"Ehm ... sebenarnya ada sih, tapi kapan-kapan saja karena kondisi Aksa juga sedang tidak baik," ucap Diandra yang berpura-pura membuka dengan kalimat ambigu.
Saat ini Austin seperti tengah mendengar sebuah keraguan dari sosok wanita yang ada di seberang telpon. Jadi, ia benar-benar ingin sang istri tetap mengatakannya dengan sejelas-jelasnya.
"Katakan saja, Sayang. Jangan membuatku merasa penasaran." Saat ia baru saja menutup mulut, akhirnya bisa mendengar sang istri yang menceritakan tentang sesuatu hal yang sama dengan mertuanya tadi.
"Jadi, seperti itu. Aku lihat di media sosial dan tempatnya memang sangat cantik view-nya. Apalagi menu makanan lengkap yang cocok untuk tua muda maupun anak-anak karena beragam. Nanti kita ke sana setelah Aksa sembuh, ya?" Diandra benar-benar berharap jika Austin jawab iya karena pastinya acara kejutan akan dilaksanakan di sana.
Namun, ia kini malah mendengar jawaban ambigu dari sosok pria di seberang telpon.
"Kita lihat nanti saja, Sayang. Aku kembali kerja dulu karena masih ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. I love you." Austin lalu mematikan sambungan telpon setelah sang istri membalas kata cinta darinya.
Ia yang saat ini tengah memutar otak untuk mencari solusinya, kini mendapatkan sebuah ide. "Baiklah. Aku akan mengajaknya ke sana dan merayakan ulang tahun sederhana. Kemudian pulang dan melanjutkan pesta ulang tahun di rumah."
Merasa itu adalah solusi yang tepat dan terbaik menurut versinya, kini Austin akhirnya bisa bernapas lega saat ini. Hingga ia pun kini kembali fokus pada pekerjaannya.
Berharap segera selesai dan bisa pulang karena merasa hari ini sangatlah melelahkan. "Rasanya aku ingin segera pulang ke rumah untuk berpelukan dengan anak istri."
Kini, ia mulai kembali fokus menyelesaikan dokumen yang harus diperiksa hari ini. Hingga beberapa saat kemudian, ia mendengar suara notifikasi dari ponselnya dan begitu melihat sebuah video, merasa sangat khawatir.
Bahkan ada pesan dan langsung dibacanya.
Saat Diandra melihat ini, apa yang kira-kira akan dilakukan?
Video berdurasi 50 detik itu menunjukkan bagaimana seorang Yoshi sudah berbicara dengan dokter, meskipun tidak seperti dulu.
"Apa yang akan dilakukan istriku saat melihat Yoshi sadar untuk pertama kalinya? Apa dia pikir istriku akan menghambur memeluk dan kembali? Sepertinya yang mengirimkan ini terlalu percaya diri," sarkas Austin yang saat ini rendah memikirkan sesuatu, yaitu kemungkinan buruk.
"Tidak! Itu tidak akan terjadi!" ucap Austin yang mencoba untuk menghibur diri sendiri dan juga berpikir positif bahwa Diandra akan selamanya bersamanya dengan hidup berbahagia.
__ADS_1
To be continued..