Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Foto bersimbah darah


__ADS_3

Austin yang awalnya berniat untuk melihatkan tubuhnya dengan tidur sambil memeluk sang istri yang sudah larut dalam alam mimpi, tidak jadi melakukannya karena saat ini mendengar bel pintu yang berbunyi.


Ia pun bangkit dari ranjang dan merasa kebingungan karena tadi tidak berpakaian, sehingga buru-buru keluar dan mengambil pakaian. Entah sudah berapa menit berlalu, ia yang sudah selesai berpakaian, langsung menuju ke arah depan untuk memeriksa siapa yang datang.


Saat ia membuka pintu, mengedarkan pandangan ke sekeliling begitu memeriksa. Namun, sama sekali tidak ada orang dan membuatnya memicingkan mata.


"Apa ada orang iseng yang datang?" gumamnya sambil berjalan menuju ke arah luar area rumahnya di depan pintu gerbang kecil yang biasa dilalui oleh para pelayan jika membuang sampah.


Hingga ia menunduk ke arah bungkusan yang berada di bawah kakinya. Merasa curiga ada hal yang tidak beres dan tidak ingin membawa kotak berukuran sedang tersebut ke dalam rumah, sehingga ingin memastikannya sendiri.


Kini, ia langsung mau buka kotak tersebut dan di dalamnya masih ada satu kotak kecil dan membuatnya penasaran apa sebenarnya isinya. Hingga ia pun buru-buru membukanya dan seketika membulatkan mata begitu melihat foto Diandra yang baru saja keluar dari tempat yang selama ini menjadi terapi.


"Bangsat!" Austin saat ini dengan suaranya yang penuh dengan kemurkaan begitu melihat foto Diandra dihiasi sesuatu berwarna merah seperti darah.


"Siapa orang yang berani mengirimkan ini ke sini? Aku akan membunuhnya!" sarkas Austin yang saat ini mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari orang yang mengirimkan kotak tersebut ke rumah.


Namun, sama sekali tidak ada orang yang melintas dan membuatnya berpikir jika sudah pergi saat ia berpakaian tadi karena tidak memencet bel lagi. Ia saat ini kembali menatap ke arah foto Diandra yang dipenuhi warna merah darah di bagian wajah dan tubuh serta kaki.


"Pasti Diandra akan sangat shock jika sampai melihat ini." Ia saat ini berpikir untuk segera membuang ke dalam tempat sampah dan tidak mungkin membawa ke rumah karena akan menimbulkan ketakutan pada sang istri.


"Pasti ini adalah perbuatan dari salah satu keluarga Yoshi. Bisa paman dan ibunya," ucap Austin yang saat ini berniat untuk memasukkan foto Diandra ke dalam tong sampah.


Namun, ia tidak jadi melakukannya karena berpikir jika itu adalah sebuah ancaman dan harus dilaporkan pada pihak berwajib. Apalagi jika sampai terjadi sesuatu hal pada sang istri, akan membuatnya menyalahkan diri sendiri karena gagal melindungi wanita yang sangat dicintai.

__ADS_1


"Aku akan menyuruh Daffa membawa ini ke kantor polisi sebagai bukti," ucap Austin yang saat ini kembali memasukkan foto Diandra yang bersimbah darah tersebut ke dalam kotak.


Kemudian menaruh di balik pohon karena berpikir nanti akan hilang jika tidak disembunyikan. Ia membutuhkan bukti agar polisi bisa membantu menangkap penjahat yang datang mengirimkan kotak tersebut.


Jika biasanya tidak ada CCTV di area rumahnya, kini berpikir untuk memasangnya sebagai sebuah perlindungan istri dan putranya. Setelah dirasa aman, kini Austin kembali masuk ke dalam rumah dan berniat untuk menghubungi asisten pribadinya agar mengambil kotak tersebut dan membawa langsung ke kantor polisi sebagai laporan.


'Semoga Diandra masih tidur nyenyak di dalam kamar,' gumam Austin yang saat ini menuju ke kamar utama untuk mengambil ponsel miliknya.


Saat ia berjalan lewat depan ruangan yang digunakan untuk bercinta beberapa saat lalu, mendengar suara benda terjatuh dan khawatir jika terjadi sesuatu pada sang istri, sehingga langsung masuk ke dalam.


Begitu pintu terbuka dan memastikan keadaan sang istri, seketika perjalanan mendekat dan merasa lega karena melihat wanita yang saat ini masih berada di atas ranjang. Namun, di sebelah kiri ranjang ada gelas berisi air yang pecah.


"Sayang, ada apa? Kenapa gelasnya terjatuh?"


Diandra yang sangat malas untuk bangkit dari ranjang dan membereskan kekacauan yang telah dibuat, kini melihat sang suami yang sudah bergerak untuk mengambil pecahan gelas di atas lantai.


"Maaf, Sayang. Kamu memangnya dari mana? Aku bahkan tidak sadar kamu keluar." Diandra yang saat ini bangkit dari posisinya yang telentang di atas ranjang, kini sudah duduk di tepi ranjang.


Austin yang saat ini berhati-hati membersihkan pecahan gelas tersebut agar tidak mengenai kaki sang istri dan juga putranya, masih memastikan tidak ada yang tersisa.


Hingga begitu selesai, mendongak menatap sang istri. "Aku tadi ingin makan lagi karena lapar setelah bergerak aktif di atas tubuhmu. Saat mendengar suara dari dalam kamar, ke sini untuk memastikan tidak ada hal buruk terjadi padamu."


Kemudian bangkit berdiri dan membawa pecahan gelas itu ke tempat sampah. "Apa kamu mau menemaniku makan atau melanjutkan tidur, Sayang?"

__ADS_1


Diandra yang kembali menguap dan sangat mengantuk, kini menggelengkan kepala. "Kamu makan sendiri tidak apa-apa, kan Sayang. Aku ingin minum dan melanjutkan tidur karena sangat capek."


Memang hal itulah yang diinginkan oleh Austin karena tidak ingin sang istri mengetahui jika ia berniat untuk menghubungi asistennya agar datang. Jadi, saat ini mengiyakan permintaan wanita yang berniat bangkit dari ranjang.


"Iya, tidak apa-apa, Sayang. Kamu di sini saja. Biar aku ambilkan gelas lagi." Kemudian berbalik badan dan menuju ke dapur untuk mengambil gelas sebagai pengganti.


Sementara itu, Diandra hanya tersenyum simpul karena merasa senang tidak perlu bersusah payah keluar dari kamar dan bisa melanjutkan kembali istirahatnya setelah minum.


"Suamiku benar-benar pria baik yang memperlakukanku seperti ratu." Saat baru saja menutup mulut, melihat sang suami sudah kembali membawa gelas dan menuangkan air putih dari teko kaca tersebut, lalu memberikan padanya.


"Terima kasih, Sayang. Kamu pergi saja makan. Aku akan tidur lagi," ucap Diandra yang saat ini langsung meneguk air putih di dalam gelas.


Tidak ingin membuang waktu untuk menghubungi asistennya, kini Austin mengusap lembut rambut sang istri dan menganggukkan kepala. "Tidurlah yang nyenyak, Sayang."


Setelah melihat sang istri yang tersenyum padanya, ia pun berjalan keluar dan kembali menutup pintu agar melanjutkan tidurnya.


Tentu saja ia kembali ke kamar utama dan mengambil ponsel untuk menghubungi asisten pribadinya agar datang mengambil kotak yang dikirimkan oleh hak orang asing itu.


Bahkan tidak hanya itu saja karena ia juga menyuruh seorang detektif menyelidiki. Baginya, mengandalkan dua alternatif yang lebih baik dibandingkan hanya mempercayai polisi.


"Akan aku habisi siapapun yang berani menyentuh sehelai rambut istriku," sarkas Austin yang saat ini merasa sangat marah ketika mengingat tentang kotak isi foto Diandra yang bersimbah darah.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2