
Austin yang baru saja menahan tubuh sang istri, merasa sangat lega karena tidak sampai jatuh terhempas ke lantai dingin Rumah Sakit. Ia bahkan kini langsung membaringkan tubuh lemah Diandra yang kehilangan kesadaran dan membuatnya merasa sangat khawatir.
"Dokter, cepat periksa istriku! Apa yang terjadi padanya? Kenapa istriku pingsan?" Bahkan Austin tidak memperdulikan penampilannya yang sangat berantakan karena tadi benar-benar diberikan darah betulan agar sandiwara terlihat meyakinkan.
Sang perawat saat ini langsung memanggil dokter sesungguhnya agar memeriksa pasien. Hingga beberapa saat kemudian kembali bersama dengan dokter yang merupakan seorang wanita dan langsung memeriksa kondisi pasien.
Begitu memeriksa tanda-tanda vital pasien, sang dokter kini menatap ke arah sosok pria yang membuat kehebohan di Rumah Sakit. "Detak jantung istri Anda sangat lemah dan sepertinya saat ini ada yang harus dipastikan, sehingga perlu diperiksa secara intensif oleh ahlinya dan bukan saya."
Austin yang sangat tidak paham dengan apa maksud sang dokter, kini hanya mengerutkan kening karena merasa bingung. "Lalu ahlinya siapa lagi jika dokter seperti Anda bukan ahlinya?"
__ADS_1
"Dokter Obgyn," sahut sang dokter yang kini mengetahui jika pria di hadapannya tidak paham dengan istilah yang baru saja disebutkan. "Dokter Obgyn disebut juga sebagai dokter kandungan."
Austin kini kembali mengerjapkan mata karena seolah tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh sang dokter. Bahkan ia sekilas menatap ke arah Diandra yang kini terlihat sangat pucat.
"Dokter kandungan? Apakah istriku saat ini tengah mengandung, Dokter?" Austin yang saat ini menatap penuh pengharapan pada sang dokter, berharap langsung diiyakan karena memang yang diinginkan adalah benar.
Bahwa jika sang istri benar-benar hamil, tidak akan pergi meninggalkannya demi anak. 'Aku tidak perduli apapun alasannya, istriku tidak boleh pergi. Meski bertahan hanya demi anak, tidak akan pernah merasa keberatan,' gumamnya yang kini melihat sang dokter hanya bersikap datar.
Austin yang langsung mengucapkan terima kasih pada sang dokter setelah ia mengerti. Senyuman mengembang kini mewakili perasaannya saat ini ketika menatap ke arah sang istri yang masih tidak sadarkan diri tersebut.
__ADS_1
"Sayang, semoga kamu benar-benar hamil anak kedua kita. Kali ini, aku tidak akan pernah membiarkanmu menderita mengurus anak kita sendirian seperti di masa lalu. Takdir Tuhan adalah kita selalu bersama dan jangan mengingkari itu." Austin kini mendengar suara salah satu perawat yang ada di sebelahnya.
"Apa sandiwara Anda terluka dan tengah diobati itu tidak diteruskan?" Sang perawat bahkan berniat untuk membereskan semua peralatan mengobati karena berpikir akan mendapatkan kesialan jika terus di sana.
Austin yang tadi mengangguk perlahan mengenai semua peralatan, saat ini masih menatap ke arah Diandra dan mengusap lembut punggung tangan itu.
"Anggap saja semuanya telah selesai karena saat ini yang kuperdulikan hanyalah keadaan istri dan anakku. Istri dan anakku adalah yang terpenting bagiku," gumam Austin yang ingin segera mengetahui hasilnya positif atau negatif tentang kehamilan sang istri.
Perawat kini mengangguk perlahan dan berlalu pergi untuk segera memanggil dokter kandungan agar langsung memeriksa hasilnya.
__ADS_1
To be continued...