Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Doa


__ADS_3

Ia berencana untuk pergi ke Bogor dan hidup di sana dengan tenang. Meskipun sudah lama tidak mengetahui kabar pria yang dulu menolongnya dan menampungnya serta menganggap putranya sebagai cucu kandung sendiri, tapi sangat berharap jika kehadirannya diterima dengan baik karena hanya itu satu-satunya yang terpikirkan saat ini.


"Ayo, Sayang." Diandra saat ini membungkuk untuk menggendong putranya sambil mendorong koper miliknya keluar dari ruangan kamar.


Ia tidak berniat untuk membawa mobil karena berpikir datang ke rumah itu tanpa membawa apa-apa dan hanya membawa tubuhnya. Hingga ia mendengar suara dari pelayan yang bertanya begitu melihatnya membawa koper keluar dari rumah.


"Nyonya, Anda mau ke mana bersama dengan Tuan Aksa?" tanya pelayan yang sangat kebingungan sekaligus terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya.


Ia merasa ada yang tidak beres dan berpikir harus mengatakan pada majikannya serta menahan sang nyonya rumah agar tidak pergi sebelum sang suami datang karena pasti ia akan mendapatkan kemurkaan jika membiarkan pergi.


Diandra yang saat ini tidak bisa menjelaskan ke mana ia pergi dan mengenai alasannya. "Jaga diri baik-baik di sini dan dapat tuan dengan baik, Bik."


"Nyonya, jangan pergi! Tuan pasti akan mencari Anda nanti," ucap sang pelayannya saat ini tengah menahan pergelangan tangan majikan yang tengah memegang koper.


Diandra saat ini bersikap seperti layaknya seorang wanita yang sangat kuat di hadapan pelayan yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri. "Tuan mengerti dengan apa alasan aku pergi dari sini, Bik."


Kemudian mengusap lembut pundak dari wanita paruh baya tersebut dan tersenyum simpul. Kemudian kembali melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu keluar.


Ia yang beberapa saat lalu sudah memesan taksi, berpikir bahwa sebentar lagi akan tiba dan tepat ketika berjalan menuju ke arah pintu gerbang, melihat kendaraan sudah datang.


Diandra yang saat ini menatap ke arah 2 bodyguard yang selama ini menjaganya, sama sekali tidak takut dan mengarahkan tatapan tajam. "Minggir kalian!"


Dua pria berseragam hitam yang memiliki badan kekar tersebut saling bersitatap dan merasa kebingungan karena terkejut melihat apa yang dilakukan oleh sang majikan yang membawa koper beserta menggendong putranya.


"Nyonya, Anda mau pergi ke mana?" tanya salah satu bodyguard yang mewakili rekannya.


Diandra yang merasa sangat malas menanggapi dan berpikir tidak punya waktu banyak, kini hanya mengibaskan tangan. "Menyingkir dari hadapanku!"


"Tidak bisa, Nyonya. Tugas kami adalah menjaga Anda kemanapun pergi sesuai dengan perintah dari tuan Austin. Jika Anda pergi, kami akan selalu membuntuti demi keselamatan." Pria satu lagi kini berbicara lebih tegas karena berpikir bahwa jika sampai membiarkan sang nyonya rumah pergi, bisa-bisa ia mendapatkan kemurkaan dari majikan dengan dihajar sampai bapak belur.


Diandra yang beberapa saat lalu melupakan jika ada bodyguard yang selalu membuntutinya, sehingga saat ini merasa bingung harus melakukan apa. Bahkan ia menyadari meskipun menatap tajam dan murka pada dua pria berbadan besar tersebut, tidak akan pernah memberikan izin untuknya pergi.

__ADS_1


'Sial! Aku sampai lupa ada dua pengawal ini. Apa yang harus kulakukan agar bisa segera pergi dari sini?' gumam Diandra yang merasa sangat bingung mencari ide agar terbebas dari para bodyguard yang selalu membuatnya merasa seperti seorang buronan.


Ia mencoba sekali lagi untuk meledakkan amarah agar dua pria tersebut merasa takut padanya. "Cepat menyingkir dari hadapanku sekarang juga!"


"Maaf, Nyonya, saya tidak bisa melakukannya karena harus menuruti perintah tuan Austin." Tak kalah tegas memberikan penolakan karena berpikir jika itu merupakan hal terbaik saat ini sambil menunggu majikannya kembali.


Ia akan meraih ponsel miliknya untuk menghubungi majikan demi melaporkan apa yang akan dilakukan oleh sang nyonya rumah tersebut. "Halo, Tuan Austin. Nyonya Diandra saat ini berniat untuk pergi dari rumah dan sudah membawa koper."


Saat ia baru saja melaporkan, mengerutkan kening begitu mendengar suara dari seberang telepon bukanlah majikannya.


"Apa? Nyonya Diandra berniat untuk pergi dari rumah?" teriak Daffa yang saat ini berbicara untuk mewakili atasannya.


"Iya, tapi Anda siapa?" Sang bodyguard saat ini menatap ke arah ponsel miliknya untuk mengecek apakah benar ia menghubungi nomor majikannya.


Ia mengerutkan kening karena memang benar nomor atasannya yang ditelepon, sehingga merasa bingung dengan siapa ia berbicara. Namun, seketika membulatkan mata begitu mendengar jawaban dari pria di seberang telepon.


"Aku adalah Daffa. Saat ini aku sedang berada di ambulans yang membawa tuan Austin kecelakaan. Katakan ini pada nyonya jika suaminya mengalami kecelakaan saat membelikannya takoyaki!" Kemudian langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari pria di seberang.


Ia beralih menatap ke arah rekannya dan juga sang punya rumah yang saat ini juga menatapnya dengan terkejut.


"Siapa yang mengalami kecelakaan?" tanya Diandra yang selalu merasakan bulu kuduk meremang ketika mendengar kata itu karena sudah mengingat bagaimana ia mengalami kecelakaan bersama dengan Yoshi hingga mobil terbalik ketika dihantam oleh truk besar dari belakang.


Ia saat ini merasa khawatir jika apa yang ada di dalam pikiran yang benar. Bahwa Austin Matteo mengalami kecelakaan. "Cepat katakan padaku!"


Sang bodyguard yang saat ini merasa harus mengatakan yang sebenarnya pada sosok wanita di hadapannya agar tidak pergi dan segera menuju ke rumah sakit untuk mengecek keadaan majikannya.


"Tuan Austin yang mengalami kecelakaan, Nyonya. Tadi asisten pribadinya yang menjawab telepon dan mengatakan jika saat ini tengah berada di ambulans yang membawa ke rumah sakit." Ia yang baru saja menutup mulut, melihat ekspresi wajah terkejut dan penuh kekhawatiran dari sosok wanita yang berniat untuk pergi dari rumah.


Ia berpikir ada masalah besar yang terjadi antara majikannya, tapi tidak tahu apa penyebabnya dan saat ini bisa melihat bagaimana wanita yang merupakan sang nyonya rumah tersebut sangat terkejut dan mengkhawatirkan keadaan sang suami.


"Dibawa ke rumah sakit mana? Cepat antarkan aku ke sana!" Diandra yang saat ini sudah dipenuhi oleh pikiran negatif tentang keadaan dari Austin yang mengalami kecelakaan, sangat khawatir terjadi sesuatu hal yang buruk.

__ADS_1


Hingga ia pun saat ini menyuruh security untuk membawa koper ke dalam rumah.


Sementara satunya sudah bergerak ke dalam untuk mengambil mobil agar bisa segera pergi ke rumah sakit untuk melihat bagaimana keadaan dari majikan utama.


Diandra merasa sangat khawatir dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, ini menghubungi nomor sang suami dan berharap dijawab oleh asistennya. Namun, sampai panggilan mati, tidak terjawab dan membuatnya makin khawatir.


Ia kapan masih menggendong putranya dan kesusahan untuk menelpon. Hingga ia mendengar suara bariton dari bodyguard. "Biar saya yang menggendong tuan Aksa, Nyonya."


Diandra yang memang merasa kelelahan menggendong putranya, kini bergerak ke arah taksi yang masih menunggu di depan rumah dan bingung karena ia tidak diperbolehkan pergi.


"Maaf karena tidak jadi memesan." Kemudian mengambil uang dari dalam dompet dan memberikan pada sopir dan sebagai bentuk tanggung jawab karena sudah memesan.


"Terima kasih, Nyonya," sahut sang sopir yang saat ini sudah berjalan menuju ke arah taksinya.


Ia malah merasa mendapat rezeki nomplok saat wanita tersebut tidak jadi memesan taksi. Kemudian mengemudikan taksinya meninggalkan area rumah itu.


Sementara itu, mobil berwarna hitam baru saja keluar dari pintu gerbang dan berhenti tepat di hadapan majikan. "Silakan masuk, Nyonya."


Diandra yang masih berusaha untuk menelpon nomor sang suami, tetap tidak diangkat dan membuatnya makin bertambah khawatir. Ia langsung masuk ke dalam mobil begitu bodyguard yang menggendong putranya membukakan pintu dan menurunkan di sampingnya.


"Apa kamu tahu rumah sakit mana suamiku dibawa?"


"Tidak tahu, Nyonya. Saya akan memeriksanya dari GPS di ponsel tuan saja," sahut sang bodyguard yang saat ini sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di depan.


Diandra yang merasa sangat panik pada awalnya karena bodyguard tidak tahu kemana sang suami di bawa, kini merasa lega dengan pemikiran cerdas itu. "Baiklah, begitu saja karena sampai sekarang teleponku belum dijawab oleh Daffa."


Ia benar-benar sangat khawatir tentang keadaan dari sang suami yang mengalami kecelakaan. Bahkan berbagai macam pikiran buruk yang memenuhi otaknya dan degup jantung tidak beraturan karena merasa khawatir jika sampai sang suami mengalami hal yang buruk akibat kecelakaan itu.


Ia seketika merapal doa untuk sang suami agar dilindungi dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kematian dan saat memikirkan hal itu, membuatnya dipenuhi oleh perasaan takut yang sangat luar biasa..


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2