
Pukul 11 malam, Austin sudah tiba di Jakarta dan sebelum naik pesawat dari Surabaya tadi sudah menghubungi asistennya untuk menjemput. Begitu berjalan menuju ke arah terminal kedatangan, Austin melangkah sambil mengambil ponsel miliknya di dalam saku jas.
Berencana untuk bertanya pada sang asisten, apakah sudah tiba di Bandara atau belum. Namun, ia seketika tersenyum menyeringai begitu melihat ada 2 panggilan tak terjawab dari wanita yang menjadi tujuan utama datang jauh-jauh dari Jakarta ke Surabaya.
"Wah ... ternyata tadi kamu langsung menghubungiku rupanya. Pasti ia sangat marah padaku setelah dihubungi oleh orang tuanya," seru Austin yang kini menghentikan langkahnya begitu membaca pesan dari Diandra.
Begitu membacanya, seketika menepuk kepalanya untuk memastikan apakah ia tidak sedang bermimpi. "Diandra mengajakku untuk bertemu? Aku tidak sedang bermimpi, kan?"
Raut wajah dipenuhi oleh rasa ragu, kini Austin memilih untuk langsung memencet tombol panggil dari kontrak Diandra yang baru. Ia menunggu hingga sambungan telpon diangkat oleh wanita yang sangat dirindukan.
"Kebetulan aku sangat merindukanmu, Diandra, tapi kamu malah asyik berduaan dengan pria sialan itu. Sepertinya usahaku untuk jauh-jauh ke Surabaya membuahkan hasil."
Austin kini tersenyum smirk kala mendengar suara wanita dari seberang telpon yang serak dan menegaskan jika Diandra baru saja bangun tidur.
"Halo, berengsek! Kenapa kau menipu orang tuaku? Kau memang benar-benar pecundang, bajingan!" sarkas Diandra yang beberapa saat lalu terkejut mendengar suara dering ponsel yang diletakkan di sebelah tempat tidur.
__ADS_1
Bahkan begitu mengetahui kontak dari pria yang sangat dibenci, tidak membuang waktu langsung menggeser tombol hijau ke atas dan meluapkan emosi yang membuncah di dalam hati.
"Meskipun kau berusaha melakukan segala cara untuk berusaha menikahiku, aku tidak akan pernah sudi menikah denganmu!" sarkas Diandra dengan raut wajah memerah karena menahan amarah yang meledak di dalam hati.
Bahkan ia sampai melupakan telah mengirimkan pesan pada Austin untuk mengajak bertemu setelah tiba di Jakarta. Hanya luapan kebencian yang dirasakan olehnya saat ini begitu melihat kontak dari pria yang telah membuatnya merasa muak.
Hingga ia seketika tertampar kala suara bariton dari seberang telpon terdengar sangat santai dan sama sekali tidak terpancing emosi.
"Jadi bertemu atau tidak? Atau setelah mengumpatku di telpon, kamu sudah puas? Jika tidak jadi, aku akan mematikan sambungan telponnya." Bahkan Austin tetap mencintai Diandra meskipun ia berkali-kali dihina.
"Tunggu! Jangan ditutup teleponnya!" teriak Diandra yang merasa semakin kesal sekaligus marah, tapi sadar tidak akan bisa menyelesaikan masalah dengan emosi.
'Sialan si berengsek ini! Aku harus mengubah strategi agar ia melepaskanku dan mencari wanita lain untuk dijadikan istri. Bila perlu, aku akan berlutut di kakinya karena hanya ingin menikah dengan Yoshi,' gumam Diandra yang kini masih menunggu suara bariton dari seberang telpon.
Di sisi lain, Austin yang kini memilih untuk menjawab singkat, merasa kemenangan semakin mendekatinya.
__ADS_1
"Apa? Lebih baik cepat katakan karena aku lelah!" Ia berharap Diandra memberitahukan tempat tinggal wanita itu agar bisa langsung meluncur ke sana.
"Aku tunggu kau di depan taman kota! Aku akan berangkat sekarang," ujar Diandra yang merasa keputusannya benar untuk menemui pria yang sangat dibenci itu di tempat umum.
Berpikir jika Austin macam-macam padanya, akan langsung berteriak dan berharap pria itu diberi pelajaran oleh massa.
"Baiklah!" jawab Austin yang kini langsung mematikan sambungan telpon dan menatap ke arah jam tangan di pergelangan kirinya.
"Dasar wanita ceroboh dan bodoh!" umpat Austin yang merasa perbuatan Diandra sangat konyol karena akan keluar untuk menemuinya, sedangkan sekarang sudah hampir tengah malam.
"Apa dia sama sekali tidak takut ada orang jahat saat malam-malam begini? Bagaimana jika ada pria hidung belang yang memperkosanya?" sarkas Austin yang saat ini tengah berjalan cepat menuju ke arah pintu keluar dan mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari keberadaan dari asisten pribadinya.
Begitu beberapa menit berlalu, ia menemukan asisten pribadinya yang melambaikan tangan padanya. "Cepat bawa aku ke taman kota! Ngebutlah karena ada satu hal yang membuatku harus segera tiba di sana."
To be continued...
__ADS_1