Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Menyamakan


__ADS_3

"Aaarhh ...." Diandra yang saat ini terjatuh di atas tubuh pria yang malah sama sekali tidak terkejut karena malah meninggalkan tangan pada punggungnya seperti memeluk erat dan tidak berniat untuk melepaskan kuasa.


Ia yang tadinya terkejut dan memejamkan mata, kini merasa sangat kebingungan begitu menyadari posisi inti mereka. Apalagi awalnya sangat marah pada Austin, sehingga saat berada pada posisi tanpa jarak diantara mereka, refleks langsung berusaha untuk bangkit berdiri.


Namun, tidak bisa melakukannya karena masih ditahan cukup kuat dan mendengar suara lirih Austin.


"Sayang, apakah kamu tidak menyadari bahwa aku adalah tulang rusukmu dan kita benar-benar berjodoh? Bahkan saat kamu menjauh dariku dulu karena sangat membenciku, tetap berakhir bertemu denganku, bukan?" Austin bukan berniat untuk mencari kesempatan dalam kesempitan pada istri sendiri yang tengah marah.


Hanya saya, ketika melihat ada kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya yang selama ini tulus pada wanita yang tengah dipeluknya dan berniat untuk tidak melepaskan, sehingga langsung mengungkapkannya.


Berharap dengan melakukan itu, ia bisa membuat sang istri yang sekeras batu karang tersebut mau memaafkan serta memaklumi kesalahan di masa lalu.


"Juga saat kamu memutuskan untuk menikah dengan Yoshi, mengalami kecelakaan di malam itu juga dan akhirnya membuatku berakhir bersamamu. Aku memang pernah melakukan dosa padamu di masa lalu, tapi saat aku ingin bertanggung jawab, kenapa kamu malah pergi dariku?" Austin saat ini bisa melihat tatapan tajam wanita yang berjarak beberapa senti saja tersebut.


Ia bahkan berpikir jika istrinya saat ini berubah menjadi harimau yang seperti siap untuk menerkam mangsanya. Bahkan saat menelan saliva dengan kasar untuk menormalkan perasaannya agar tidak terlihat takut pada istri sendiri.


"Apa sekarang kau menyalahkanku? Lepaskan!" sarkas Diandra yang kebetulan saat ini ingin membahas mengenai perihal Yoshi.


Hanya saja, ia sangat tidak nyaman berada pada posisi seperti itu dan tidak mungkin bisa berbicara untuk membahasnya.


Refleks Austin melepaskan tangannya karena takut jika sang istri semakin murka padanya. "Maaf."


"Berbaringlah yang benar! Aku ingin berbicara mengenai Yoshi." Bahkan meskipun merasa kesal pada sang suami, ia tetap membantu dengan menaikkan kedua kaki agar bisa berbaring lurus di atas ranjang.

__ADS_1


Bahkan ia sangat berhati-hati ketika mengangkat kedua kaki yang diperban tersebut. Hingga masih berdiri di samping ranjang karena menunggu Austin berada pada posisi paling nyaman.


"Kenapa kamu sama sekali tidak mempunyai pikiran yang sama denganku?" Austin yang saat ini sudah berbaring telentang, berusaha untuk terus mencari tahu bagaimana perasaan seorang wanita yang sangat keras hati tersebut.


Bahkan seandainya bisa seperti di dunia fantasi, ingin sekali rasanya membedah hati wanita yang masih berdiri di hadapannya untuk mengetahui bagaimana isinya.


'Hati istriku sangat tidak mudah ditebak. Apa dia sama sekali tidak tersentuh dengan apa yang selama ini kulakukan? Sampai tetap saja mengingat satu keburukanku di masa lalu yang membuatnya meninggalkanku,' gumam Austin yang saat ini berniat untuk bangkit karena melihat sang istri memijat pelipis.


"Sayang, kamu tidak apa-apa, kan? Duduklah di sini!" Menepuk ranjang perawatan di sampingnya dan berharap wanita yang masih terus memijat pelipis tersebut mau mendaratkan tubuhnya di sana.


Namun, hanya kekecewaan yang dirasakan saat ini karena melihat jika sang istri menggelengkan kepala. "Kamu mengatakan aku bandel, tapi sendirinya juga demikian. Jangan sampai kamu tiba-tiba pingsan dan terhempas ke lantai."


"Aku yang tahu kondisiku dan tidak perlu sok perhatian! Apa kau sama sekali tidak malu mendapatkanku yang amnesia dulu dengan menciptakan sebuah konspirasi? Bisa-bisanya kau berpikir jika semua yang kau lakukan itu benar. Apa menikahiku membuatmu tega melakukan hal jahat pada Yoshi?" Ia takkan mengakhiri perkataannya dengan tatapan mengintimidasi.


"Menciptakan konspirasi? Apa maksudmu, Sayang? Aku kenapa tidak paham. Kenapa tidak mengatakan hal yang lebih spesifik daripada hanyalah sebuah kalimat ambigu. Memangnya aku membuat konspirasi seperti apa?" Austin sebenarnya kali ini bersikap seperti orang bodoh agar tidak salah berbicara.


Sedikit saja salah berbicara ketika Diandra sudah mengetahui semuanya, akan terlihat seperti seorang pecundang dan tidak punya harga diri sebagai seorang pria. Jadi, memilih untuk mendengar terlebih dahulu dan mengakhiri dengan menjelaskan agar kesalahpahaman tidak semakin berlarut-larut.


Sebenarnya Diandra tidak ingin menjelaskan karena berpikir membuang-buang waktu, tapi karena saat ini nasib dari pernikahannya belum jelas, sehingga memilih untuk menceritakan tentang pembicaraannya dengan ibunya Yoshi.


Ia mengawali ketika ingat tanya kembali dan menghubungi mantan mertuanya tersebut untuk menanyakan semua hal yang berputar dalam kepalanya.


Sampai diakhiri dengan perbuatan jahat Austin yang telah membuat Yoshi mengalami koma. "Apa kau sama sekali tidak punya perikemanusiaan dengan melakukan hal sekeji itu?"

__ADS_1


Ia bahkan tidak memperdulikan apapun karena meredakan amarah yang memuncak dan bergejolak di dalam hatinya saat ini ketika menyadari malah hidup bersenang-senang dan bahagia saat Yoshi koma dan ada seorang ibu yang setiap hari harus menangisi keadaan tragis putranya.


Austin yang tadinya hanya memikirkan tentang kebencian Diandra saat dulu membeli keperawanannya, seketika membulatkan mata karena omong kosong yang baru saja dikatakan.


"Apa, Sayang? Jadi, kamu diam-diam menghubungi wanita jahat itu? Astaghfirullah!" Austin yang saat ini mengusap dadanya karena ketakutannya kini terjawab sudah.


Ia bahkan merasa sangat lega karena berpikir jika semua hal yang menjadi ketakutannya kini telah hilang karena kesalahpahaman semata. Bahwa sang istri marah padanya atas fitnah yang dilayangkan oleh wanita yang dianggap sangat licik.


Namun, ia tidak ingin menjelaskan sendiri karena kali ini butuh bantuan orang tua Diandra yang menjadi saksi kejadian ketika ibunya Yoshi mengurus perceraian, bukan dirinya yang berbuat jahat dengan memisahkan mereka.


"Tolong panggil orang tuamu karena hanya mereka yang mengetahui kejadian sesungguhnya. Bahwa ibunya Yoshi telah menipumu untuk menghancurkan pernikahan kita, Sayang." Austin bisa melihat rasa penasaran yang dirasakan oleh Diandra.


Hanya saja, memang tidak berniat untuk menceritakan kejadian sesungguhnya karena merasa tidak berhak. "Atau kamu berbicara dengan orang tuamu di luar sana untuk memastikannya. Ceritakan bagaimana ibunya Yoshi mengatakan semuanya padamu. Wanita itu benar-benar sangat licik."


Diandra berpikir bahwa orang tuanya hanya akan membela menantu, jadi kali ini tidak ingin mematuhi perintah tersebut. "Lebih baik katakan apa maksudmu karena aku tahu orang tuaku lebih menyayangimu daripada Putri kandungnya sendiri."


"Astaghfirullah, Sayang! Kenyataannya bukan seperti itu karena orang tua tetap menyayangi anak kandungnya, daripada menantu. Kamu benar-benar salah paham dan otakmu sudah dicuci oleh wanita jahat itu." Ia yang sebenarnya ingin mengusap punggung tangan sang istri untuk menyalurkan aura positif, tapi tidak bisa melakukannya karena jarak yang cukup jauh.


Diandra mengembuskan napas kasar mewakili perasaannya yang berkecamuk. "Lebih baik jelaskan semuanya padaku dan jangan bertele-tele ataupun menyembunyikan sesuatu."


"Aku ingin mendengarnya secara langsung darimu dan nanti juga bertanya pada orang tuaku untuk menyamakan kenyataannya. Aku bukanlah seorang wanita yang bodoh dan bisa ditipu," seru Diandra yang saat ini memilih untuk kembali ke atas ranjang perawatan karena lama-kelamaan tidak kuat untuk berdiri lebih lama.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2