Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Menemukan sesuatu


__ADS_3

Diandra yang merasa sangat terkejut dengan perbuatan tiba-tiba Austin yang menciumnya dan sama sekali tidak dibalas olehnya. Jika biasanya ia selalu membalas ciuman dari pria yang selalu membuatnya merasa menjadi seorang wanita paling bahagia, tapi saat ini berbeda setelah ia mengingat tentang masa lalunya.


'Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku pasti akan membuatnya curiga. Tidak, dia tidak boleh curiga dan mengetahui jika aku sudah mengingat tentang masa laluku yang dulu hanya menyisakan kebencian luar biasa padanya,' gumam Diandra yang saat ini memutar otak ketika sang suami mulai menciumnya.


Ia sangat hafal bagaimana hasrat kelelakian sang suami yang selalu bangkit hanya dengan menciumnya dan pasti akan melakukan lebih dari ini, yaitu mengajaknya bercinta karena memang beberapa hari ini suaminya benar-benar tidak pernah membiarkannya tidur nyenyak setiap hari.


Namun, ia sama sekali tidak mau melakukannya ketika perasaan tidak menentu seperti sekarang ini dan begitu mendapatkan sebuah ide di kepalanya, langsung beraksi dengan berpura-pura pingsan agar Austin tidak meneruskan perbuatannya semakin jauh.


Ia benar-benar berakting secara totalitas agar terlihat seperti benar-benar kehilangan kesadaran dan begitu merasakan tubuhnya digendong oleh sang suami dan merebahkan di atas ranjang, merasa sangat lega karena berhasil menghentikan pria itu agar tidak menuntut untuk melayani hasratnya.


'Akhirnya aku bisa menghentikannya hari ini. Aku tidak mungkin menghentikannya setiap hari dengan cara pingsan seperti ini karena pasti akan dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa secara intensif dan malah ketahuan jika sedang berbohong.'


'Mengenai hari selanjutnya, lebih baik kupikirkan nanti saja,' gumam Diandra yang saat ini merasa selamat melayani hasrat sang suami yang tidak pernah padam karena selalu bernafsu semenjak ia bisa berjalan.


Bahkan ia yang selama ini tidak pernah diam karena mengikuti apapun gaya bercinta yang diinginkan oleh sang suami. Namun, kali ini semuanya terasa berbeda dan membuatnya porak-poranda.


Kini, ia bisa mendengar suara bariton dari sang suami yang tengah berusaha untuk menyadarkannya. Bahkan ia masih berpura-pura tidak sadarkan diri meskipun bisa mengetahui bagaimana suara penuh kekhawatiran yang saat ini tertangkap indra pendengarannya.


'Aku benar-benar butuh waktu karena pikiranku saat ini tidak bisa tenang saat memikirkan berbagai macam hal,' gumam Diandra yang saat ini memilih untuk terus menutup mata meskipun sudah beberapa kali mencoba disadarkan oleh Austin yang menepuk lembut pipi serta lengannya.


"Sayang, bangunlah! Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa tiba-tiba bisa pingsan seperti ini?" seru Austin saat ini merasa sangat mengkhawatirkan keadaan sang istri yang masih menutup rapat kedua matanya.


Akhirnya ia mengambil ponsel miliknya dan menghubungi dokter agar segera datang memeriksa karena khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada syaraf sang istri yang memang tidak baik-baik saja setelah kecelakaan hingga mengakibatkan kehilangan memori di beberapa tahun terakhir.


Sampai pada akhirnya ia pun mulai berjalan menuju ke arah pintu keluar karena ingin memberikan perintah pada pelayan agar menyiapkan air untuk mengompres sang istri.


Berharap dengan melakukan itu bisa membuat wanita yang sangat dicintainya itu sadar. Kemudian kembali ke dalam kamar dengan membawa baskom berisi air hangat serta kain untuk mengompres.


Sementara itu, saat Austin sibuk mengompres dan beberapa kali menggantinya, melihat pergerakan dari putranya yang saat ini langsung berpindah posisi dari tengkurap menjadi terlentang dan seketika menangis tersedu-sedu karena merasa kesakitan.


Tentu saja semua itu karena lupa jika punggungnya terluka dan merupakan sebuah kebiasaan yang tidur dengan posisi berganti-ganti.


"Sayang, pasti sakit sekali rasanya. Aksa tidak boleh tidur telentang karena masih terluka. Jagoan Papa tidak boleh cengeng dengan terus-menerus menangis." Masih mencoba untuk menghandle sendiri putranya tanpa melibatkan pelayan sambil memperhatikan keadaan sang istri yang masih memejamkan kedua mata.


"Mama sedang sakit dan harus dikompres seperti ini, jadi tidak bisa menenangkan Aksa." Austin yang saat ini sudah memangku putranya agar tidak terus menangis memanggil sang ibu karena tidak ditolong seperti biasanya.

__ADS_1


Hingga putranya tersebut mendengarkan perkataannya dan tidak lagi menangis karena menatap sang ibu yang masih memejamkan mata.


"Mama ... sakit?" tanya Aksa yang saat ini bergerak untuk mendekati sang ibu dan menyentuh kening dengan telapak tangannya.


Austin yang saat ini merasa terharu melihat perbuatan putranya ketika memastikan keadaan sang ibu, sehingga langsung memeluk erat dan menciumnya.


"Mama hanya tidur sebentar karena pusing. Biar pusing Mama hilang dulu, nanti pasti bangun dan merawat Aksa, lalu mengobati lukanya. Atau Papa saja yang mengobatinya. Papa dari tadi belum melihatnya, Sayang." Kemudian bergerak sedikit mundur dan membuka bagian belakang seragam yang masih dikenakan oleh putranya.


Tadi memang belum sempat menggantikan baju karena sudah tertidur terlebih dahulu di dalam mobil dan berpikir akan menggantinya nanti setelah bangun tidur.


Ia seketika membulatkan mata begitu melihat luka di bagian belakang tubuh putranya yang cukup panjang menurutnya. "Jadi, seperti ini lukanya, Sayang? Nanti biar Papa obati, tapi sekarang ganti baju dulu dengan yang lebih nyaman."


Saat ia hendak mengambil pakaian dari lemari putranya, tidak jadi melakukannya begitu mendengar suara menggemaskan.


"Mamaaa!" teriak Aksa yang saat ini langsung menghambur memeluk ke arah sang ibu begitu melihat membuka mata.


Diandra yang dari tadi merasa khawatir jika benar-benar diperiksa oleh dokter, hanya bisa mengeluh di dalam hati dan berharap jika kebohongannya tidak diketahui.


Jadi, saat ia mencari ide agar tidak ketahuan berpura-pura pingsan ketika dicium oleh sang suami, kini mendengar suara dari putranya dan membuatnya khawatir karena rasa sakit yang dirasakan akibat terjatuh tadi.


Jadi, terpaksa membuka mata agar bisa melihat bagaimana keadaan putranya. Ia khawatir jika rasa nyeri yang dirasakan oleh putranya membuat demam, jadi bener-bener ingin memantaunya dengan baik.


"Syukurlah kamu sudah sadar, Sayang," sahut Austin yang saat ini kembali duduk di sebelah sang istri yang membuatnya merasa sangat khawatir.


Diandra saat ini berakting memijat pelipis dan seperti meringis kesakitan. Padahal ia sama sekali tidak merasa sakit, tapi ingin membuat Austin percaya jika ia tidak sedang berpura-pura.


"Apa maksudmu? Memangnya aku dari tadi tidak sadar?" tanya Diandra yang saat ini masih berusaha untuk akting secara totalitas dan berpikir jika ada audisi akting, akan dengan mudah memenangkan dan mencuri hati para dewan juri.


Apalagi ia benar-benar menunjukkan seperti seorang wanita yang kehilangan ingatan karena tidak mengetahui apa yang terjadi hari ini.


"Kamu tiba-tiba pingsan saat kita berciuman, tadi, Sayang. Aku benar-benar sangat terkejut dan mengkhawatirkanmu. Sebentar lagi mungkin dokter akan tiba. Biar dokter memeriksamu, meskipun sudah sadar." Ia saat ini mengambil kompres di dahi sang istri dan saat berniat untuk melakukannya lagi, dilarang dengan alasan baik-baik saja.


"Tidak perlu memanggil dokter dan suruh saja kembali ke rumah. Aku benar-benar sangat bosan minum obat serta berhadapan dengan dokter karena setiap hari selama satu tahun merasakannya." Diandra saat ini menatap ke arah putranya yang masih memeluknya dengan erat.


"Sayang, biar Mama obati lukanya, ya!" Diandra berniat untuk bangun dan bercanda di punggung panjang, tapi tidak diizinkan oleh Austin yang terlihat sangat mengkhawatirkan keadaannya. Padahal ia hanya berakting semata.

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkanmu melakukan apapun saat masih belum pulih sepenuhnya. Biarkan dokter memeriksa karena itu tidak ada ruginya untuk mengetahui bagaimana keadaan sebenarnya." Saat baru saja menutup mulut, mengingat jika sang istri pingsan ketika berciuman.


Ia ingin menanyakannya pada sang istri karena berpikir sangat aneh kejadian hari ini merupakan pertama kali yang dirasakan.


"Sayang, apa yang sebenarnya terjadi padamu tadi? Kenapa tiba-tiba pingsan saat kita berciuman? Apa kamu sudah merasakannya ketika awal-awal kita berciuman tadi karena kamu tidak membalas seperti biasanya." Awalnya Austin membiarkan Diandra hanya diam tanpa membalas ciumannya.


Ia tadinya berpikir jika sang istri belum merasakan hasrat naik saat pertama diciumnya. Hingga ia pun saat ini menatap intens wajah sang istri yang tengah sibuk untuk mengusap lengan putranya yang masih berbaring miring dengan memeluknya sangat erat.


"Apa yang sebenarnya kamu rasakan tadi ketika kita berciuman, Sayang?" seru Austin yang saat ini menunggu jawaban yang mengganggu pikirannya dari semenjak menghambur membuka mulut wanita yang dianggap sangat menggemaskan ketika berbicara menjelaskan.


Sementara itu, Diandra yang bakal sama sekali tidak menyangka jika Austin akan menanyakan hal itu, sehingga saat ini sangat kebingungan menjawab karena tidak mungkin jujur.


Refleks ia akhirnya memilih untuk menggelengkan kepala demi mencari aman atas pertanyaan yang membutuhkan jawaban darinya tersebut.


"Ini pertama kali aku merasakannya dan rasanya sangat aneh karena tadi awalnya biasa saja, tapi tiba-tiba pandangan gelap dan membuatku sudah tidak mengingat apapun yang terjadi. Memangnya ada kejadian apa tadi?"


"Jadi, aku sangat heran kenapa tiba-tiba pingsan." Masih berpura-pura seperti orang bodoh yang tidak tahu apapun, sehingga saat ini hanya diam mendengarkan pemikiran dari Austin Matteo.


"Apakah kamu merasa kelelahan dan tiba-tiba kehilangan tenaga, sehingga lunglai dan nasib baik tadi langsung kutahan dan tidak sampai terjatuh di lantai yang bahkan bisa sangat berbahaya."


'Jadi, harus berhati-hati dan menjaga kesehatan, Sayang." Austin saat ini ikut bergerak seperti putranya dengan berbaring di sebelah kanan dan sama-sama saling memeluk seperti bocah laki-laki tersebut.


Ia ada di sebelah kanan dan putranya memeluk di sebelah kiri. "Sayang, Semoga kamu tidak memiliki gejala penyakit karena saat ini ada banyak kejadian malang yang sampai membuat nyawa melayang."


Diandra yang tidak bisa menolak perbuatan dari sang suami, kini hanya diam saja membiarkan pria itu memeluk, sedangkan ia lebih memperhatikan putranya dengan memeluk erat tubuhnya.


"Mungkin mungkin juga seperti itu karena aku pun tidak tahu, Sayang." Diandra saat ini bisa melihat raut wajah penuh kekhawatiran dari sang suami ketika ia menoleh menatapnya.


Sampai pada akhirnya ia mendengar suara bel pintu dan merasa yakin jika itu adalah dokter yang tadi di teleponnya sudah datang tidak berselang lama. Refleks ia segera bangkit dari ranjang karena ingin menjemput sang dokter agar masuk ke dalam kamar.


"Aku temui dokter dulu, Sayang. Nanti sekalian aku suruh untuk memeriksa keadaan putra kita." Ia ingin memastikan tidak ada dampak buruk dari luka yang dirasakan putranya, jadi ingin dapat waspada dan tidak menyepelekan sebuah luka di tubuh.


Diandra saat ini hanya menganggukkan kepala dan berpikir jika ia mendekap erat putranya, sedikit mengurangi rasa sakit karena berpikir kasih sayang seorang ibu bisa menyembuhkan putranya.


'Sayang, maafkan Mama, ya karena kamu hampir saja tadi mengalami kejadian yang buruk. Hingga beberapa saat kemudian ia mendengar suara dari luar ruangan.

__ADS_1


Pada akhirnya ia menemukan sesuatu yang sangat menarik sekaligus membuatnya makin bertanya-tanya tentang semuanya.


To be continued...


__ADS_2