
"Bagaimana?" Austin yang baru saja menyiksa sosok wanita dengan wajah memerah di hadapannya, kini ia tersenyum menyeringai.
Bahkan tadi ia mendengar suara ketika wanita yang masih berdiri dengan tegak dan wajah memerah itu belum beranjak dari tempatnya.
Bahkan ia tersenyum menyeringai kala mendengar suara deru napas memburu dari Diandra pertama kalinya.
Sementara itu, Diandra saat ini hanya diam tak berkutik di tempat dan apa yang baru saja dialami hari ini, semuanya adalah pengalaman pertama untuknya.
Awalnya urat syarafnya menegang kala Austin melakukan hal yang tidak pernah ia rasakan. Hingga membuatnya merasakan sensasi berputar kendali hingga seperti ada ribuan kupu-kupu melayang di perutnya.
Bahkan ia tadi sampai gemetar karena perbuatan pria yang sama sekali tidak melepaskannya walau sedetik pun. Ia benar-benar meledak dalam gelombang spektakuler yang dikirimkan oleh Austin.
Hingga ia menyadari dan kembali pada hal paling konyol sepanjang sejarah hidupnya karena malah menikmati semuanya dan kini semua berubah penuh kepalsuan.
Ia membenci dan jijik pada diri sendiri karena sempat merasakan kenikmatan untuk pertama kalinya akibat pria yang menganggapnya hanyalah sebuah pemuas nafsu.
"Bagaimana apanya, Tuan?" Akhirnya Diandra memilih bertanya karena jujur saja ia menyalahkan respon tubuh yang malah mendamba sentuhan seorang pria berengsek yang selalu dipanggilnya penjahat wanita.
"Astaga! Apakah aku harus menjelaskan detail dan gamblang padamu? Bagaimana rasanya? Kau sampai menjerit kecil tadi." Austin mencium singkat bibir sensual Diandra.
Kemudian mendekatkan wajahnya dan berbisik di dekat daun telinga wanita yang terdiam seperti patung manekin itu. "Itu tadi namanya pemanasan. "
"Aku tidak ingin melihatmu menangis tersedu-sedu seperti anak kecil nanti." Austin pun menjauh dari sisi wanita yang sama sekali tidak membuka mulut untuk berkomentar.
Ia tersenyum simpul melihat diamnya wanita yang menurutnya tengah malu dan membuatnya sangat gemas. Ketika berjalan ke pintu utama untuk mengambil makanan yang tadi dipesan, tidak berhenti senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
'Sial! Aku benar-benar sangat gemas pada Diandra dan ingin segera menghabisinya. Rasanya tidak akan cukup sekali,' gumam Austin yang kini tengah membuka pintu dan melihat pria dengan kostum berwarna hijau tengah berdiri di hadapannya.
"Selamat malam, Tuan. Ini pesanan atas nama Austin Matteo di restoran Seafood mama Reni," ucap pria yang kini tengah mengulurkan kantong plastik.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Austin yang kini langsung menerimanya. Ia kini mengingat sesuatu dan mencoba untuk berbicara dengan pria di hadapannya tersebut.
"Mas, apa aku bisa minta tolong? Nanti aku kasih upah, deh!" Austin bicara dengan suara lirih karena tidak ingin kedengaran dari dalam.
"Minta tolong apa, Tuan. Jika bisa, saya pasti akan melakukannya." Sang kurir merasa bersemangat karena mencium bau cuan.
Berpikir ada job tambahan, pasti akan dilakukannya. Hingga ia memicingkan
mata ketika melihat pria itu mendekatinya dan dan berbisik di dekat telinga.
"Belikan aku suplemen penambah stamina paling bagus di apotik." Austin kini mengeluarkan uang dari dompet yang dari tadi dipegangnya. "Bisa, kan?"
Mengerti apa yang akan dilakukan oleh pelanggan, seketika kurir tersebut mengangguk perlahan. "Tentu saja bisa, Tuan. Kalau begitu saya akan pergi ke apotik sekarang."
Austin kini mengarahkan jari telunjuk di dekat bibir. "Nanti jangan pencet bel, tapi telpon nomorku saja. Aku akan keluar, agar wanitaku tidak curiga."
Dengan mengarahkan tangan sebagai tanda setuju, sang kurir kini berlalu pergi meninggalkan pria yang memberinya perintah paling konyol sepanjang ia menjadi pengantar makanan.
Austin yang tadinya hendak masuk ke dalam apartemen, tidak jadi menutup pintu saat melihat pria itu berlari ke arahnya dan bertanya sesuatu.
"Kalau pengaman, Tuan?" tanya sang kurir yang kini ingin tahu apakah pria itu lupa.
"Buat apa?" Austin memicingkan mata karena merasa heran pada pertanyaan pria di hadapannya.
"Aah ... sepertinya Anda adalah pasangan pengantin baru yang tidak ingin menunda memiliki momongan. Maaf karena bertanya. Saya beli dulu di apotik."
Karena tidak mendapatkan tanggapan, kini sang kurir berlalu pergi dan kali ini berjalan agak cepat menuju ke arah lift dan masuk ke dalamnya begitu pintu kotak besi tersebut terbuka.
Sementara itu, Austin yang masih berdiri di tengah pintu, kini mengingat pertanyaan sang kurir. 'Buat apa aku memakainya?'
__ADS_1
'Jika Diandra hamil, tinggal nikahi saja. Apa susahnya? Lagipula aku sudah memilihnya dan selamanya tidak akan pernah kulepaskan.'
Puas beragumen sendiri di dalam hati, kini Austin bergerak masuk ke dalam dan membawa makanan ke meja makan. Ingin merasakan bagaimana dilayani, seketika ia berteriak, "Diandra!"
Sementara itu, Diandra yang dari tadi ada di dalam kamar dan asyik menyalahkan diri sendiri, mengempaskan tubuhnya ke atas sofa saat menunggu pria yang pergi setelah meninggalkannya.
Hingga ia menatap ke arah tas di atas meja dan mengingat ada yang menelpon. "Apa ibu yang menelponku tadi untuk bertanya mengenai uangnya?"
Kemudian Diandra berlari ke kamar mandi dan membersihkan diri. Hingga saat ia baru keluar dari kamar mandi, mendengar suara teriakan pria dari luar yang memanggil namanya. Tanpa berniat untuk menjawab, ia pun berjalan menuju ke arah pintu keluar.
Hingga ia mencium aroma makanan khas yang menusuk indra penciumannya dan langsung membuat cacing-cacing di perut bernyanyi riuh rendah.
"Iya, Tuan Austin," seru Diandra yang kini tengah melihat pria di balik meja makan tengah menatapnya tidak berkedip dan selalu membuatnya merasa risi.
Austin kini mengarahkan dagunya ke arah meja untuk memberikan sebuah kode agar wanita yang kini sudah datang segera menaruh makanan di wadah.
Ia sedang malas banyak berbicara karena sibuk memikirkan sesuatu.
Saat melihat Diandra mengambil wadah untuk makanan, ia kini bergumam sendiri di dalam hati.
'Aku sudah membayar mahal Diandra, sangat wajar jika ia tinggal di sini malam ini.'
Austin kini bisa melihat asap yang mengepul dari makanan yang berwarna merah itu. Ia tadi memesan menu udang saos tiram dan kepiting asam manis yang selalu menjadi makanan seafood favoritnya.
"Aku sudah mentransfer 150 juta tadi, jadi kamu malam ini adalah milikku. Kamu tidak boleh pulang karena malam ini harus tidur di sini. Tanpa aku, mana mungkin ada pria lain yang membeli seorang wanita semahal itu."
"Apalagi para wanita cantik banyak yang mengobral harga 350 ribu. Jadi, kamu harus bersyukur dan berterima kasih padaku karena menjadi satu-satunya pria baik yang membeli dengan mahal."
Austin kini mengarahkan tangan untuk mengambil satu udang di piring dan mengunyahnya. "Kamu tidak keberatan, bukan?"
__ADS_1
To be continued...
I