Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Apa kau tidak menyesal menginginkanku?


__ADS_3

Satu bulan sudah ayah Yoshi berada di rumah sakit dan hari ini sudah diperbolehkan untuk pulang. Tentu saja keluarga besar Narendra sudah berkumpul di rumah untuk menyambut kedatangan dari pria paruh baya yang baru saja pulang dari rumah sakit tersebut.


Sementara itu, Yoshi saat ini tengah berada di dalam mobil yang menuju ke rumah keluarganya. Di sampingnya ada sang istri yang sibuk dengan ponselnya.


Tadi, orang tua Rosalia bersama dengan mertuanya berada di depan, sedangkan ia dan sang suami mengekor di belakang.


Nasib rumah tangga mereka sangat hambar karena memang tidak seperti kehidupan pasangan suami istri pada umumnya.


Setelah dulu Yoshi menunjukkan tentang sosok wanita yang dicintai telah kabur dan menyuruh untuk hidup berbahagia bersama dengan sang istri, tapi pada kenyataannya, Rosalia tidak mendapatkan haknya.


Ia awalnya berniat untuk bercerai dengan Yoshi yang sama sekali tidak menginginkannya dan masih mencintai wanita lain, tapi sang suami memohon padanya untuk menunggu hingga mertuanya benar-benar sembuh.


Bahkan saat itu ia yang sangat marah pada Yoshi karena sama sekali tidak berusaha mencintainya, seketika luluh begitu pria itu berlutut padanya untuk memintanya tidak mengatakan hal yang sebenarnya maupun menuntut cerai karena kondisi sang ayah yang masih belum stabil setelah dioperasi.


Akhirnya Rosalia yang merasa iba pada Yoshi karena ia bukanlah seorang iblis tidak punya hati, sehingga sampai sekarang masih bertahan dalam ikatan rumah tangga palsu yang sama sekali tidak berarti apa-apa di hati pria itu.


Mereka selalu berakting mesra di depan orang tua dan mertua. Seolah menunjukkan bahwa mereka hidup berbahagia. Padahal sebenarnya sama-sama tersiksa karena hanyalah sebuah sandiwara bagi Yoshi.


Rosalia selama ini tinggal di rumah keluarga besar Narendra dan tinggal di dalam satu kamar yang sama, tapi sama sekali tidak terjadi apapun di antara mereka.


Setiap malam, Yoshi tidur di atas sofa yang ada di ruangan kamarnya, Rosalia berada di atas ranjang. Seperti itulah kehidupan rumah tangga yang mereka jalani selama satu bulan ini. Namun, Rosalia lama kelamaan memiliki perasaan terhadap Yoshi dan mempunyai rencana untuk membuat pria itu takluk padanya.


Hanya saja ia bersikap datar dan jual mahal seolah tidak menginginkan pria itu karena harga dirinya telah oleh Yoshi ketika merayu di apartemen dengan mencium, tidak bisa membuat pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut menyalurkan gairah padanya.


Semenjak saat itu, ia berjanji akan membuat Yoshi menjadi miliknya dengan cara apapun. Jadi, ia berniat untuk menyusun rencana dengan memanfaatkan orang tua Yoshi. Jadi, hari ini akan beraksi dengan rencananya.


'Jangan panggil aku Rosalia jika tak bisa membuatmu takluk di bawah kakiku, Yoshi! Malam ini, aku akan mulai rencananya,' gumam Rosalia yang saat ini masih fokus menatap ke arah ponsel miliknya untuk scroll video.


Sementara itu, Yoshi yang saat ini fokus mengemudi, melirik sekilas sosok wanita di sebelahnya yang dari tadi sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun karena asli dengan ponselnya.


"Hari ini papa dan mama setiap hari mulai di rumah. Aku harap kamu tidak membuat orang tuaku curiga dengan sikapmu yang dingin seperti itu. Aku khawatir jika ayahku akan merasa curiga dan kembali kambuh jika sampai mengetahui hubungan kita."


Sementara itu, Rosalia yang sama sekali tidak berniat untuk menanggapi perkataan dari pria di balik kemudi tersebut karena jujur saja ia merasa seperti orang yang dimanfaatkan.


Hanya dibutuhkan untuk membuat ayah pria itu tetap bernapas sampai saat ini. Karena memikirkan hal itu, membuatnya merasa sangat emosi dan beralih menatap tajam Yoshi.


"Apa kau sama sekali tidak punya perasaan?" sarkas Rosalia dengan wajah memerah penuh kilatan amarah.


"Apa maksudmu? Apa kamu pikir aku bukan manusia?" Yoshi benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran dari wanita yang dianggap sangat arogan tersebut.


Refleks Rosalia tertawa terbahak karena Yoshi sama sekali tidak mengerti apa yang ia maksud. Bahkan ia merasa seperti berbicara dengan seorang bayi yang perlu dijelaskan secara detail.


"Kau memang manusia, tapi seolah menganggapku hanyalah alat untuk mempertahankan napas papamu. Apa kamu akan langsung membuangku setelah papamu meninggal?" Saat Rosalia baru saja mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, ia melihat kemurkaan dari wajah Yoshi.


Jika selama ini Yoshi selalu merendahkan harga dirinya di depan wanita itu demi sang ayah. Bahkan sampai rela berlutut di kaki wanita itu agar tetap bertahan dalam pernikahan yang sama sekali tidak didasari cinta.


Namun, mendapatkan sebuah penghinaan yang membuatnya seperti seorang pria tidak berperasaan. Padahal sebenarnya ia membutuhkan waktu untuk bisa menerima pernikahan saat hatinya dimiliki oleh wanita lain, yaitu Diandra yang belum bisa dilupakannya sampai saat ini.


"Apa kamu masih belum mengerti juga apa yang ada di pikiranku? Aku belum bisa menerima pernikahan kita dan tidak bisa melaksanakan kewajibanku sebagai seorang suami karena tidak ingin membuatmu menjadi alat pemuas nafsu semata," sarkas Yoshi yang saat ini ingin menyadarkan Rosalia agar mengerti apa yang ia rasakan.

__ADS_1


"Apa kamu sama sekali tidak keberatan bercinta dengan suami yang mencintai wanita lain? Aku tahu telah melakukan kesalahan karena memohon padamu untuk tetap bertahan saat aku tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu."


Bahkan Yoshi mengemudi dengan wajahmu merah dan meluapkan amarah meskipun masih tetap fokus menatap jalanan ibu kota.


"Tapi kau pun harus memahami bahwa aku tidak bisa bercinta denganmu dengan memikirkan wanita lain. Atau kamu ingin aku menjadi seorang pria munafik yang mengatakan akan berusaha menjadi suami yang baik saat di hati masih ada wanita lain memuaskan nafsu padamu?" sarkas Yoshi yang kali ini meledakkan semua pemarah yang membuncah dalam hati.


Selama ini ia membiarkan wanita itu menghinanya habis-habisan dengan berkata kasar atau ataupun mengumpat dirinya. Itu karena ia menyadari kesalahannya yang tidak bisa memenuhi kewajiban sebagai seorang suami yang bertanggung jawab.


Ia bahkan setiap malam susah tidur karena memikirkan mengenai dosa-dosanya saat tidak bisa memenuhi janjinya pada Tuhan ketika mengucapkan ijab qobul.


Selain itu, tidak bisa dipungkiri jika ia masih memikirkan Diandra sampai sekarang. Apakah wanita itu baik-baik saja di suatu tempat yang tidak ia ketahui. Semua hal itu benar-benar membuat Yoshi merasa sesak.


Apalagi harus memastikan keadaan sang ayah selamat dari maut, merupakan sebuah hal yang lebih diutamakan dari apapun. Namun, meskipun ia saat ini marah pada Rosalia, tetap saja terakhir dengan berujung permohonan maaf.


Karena ia sadar jika wanita itu sama sekali tidak bersalah. Ia yang bersalah dalam hal ini karena sudah mengucapkan janji pada Tuhan, tapi tidak bisa memenuhinya.


"Maafkan aku karena selalu melampiaskan amarahku padamu. Aku akhir-akhir ini benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Berikan aku waktu untuk bisa memenuhi janjiku pada Tuhan untuk menjadi seorang suami yang baik dan juga memenuhi keinginannya agar aku membahagiakanmu."


Yoshi berbicara dengan suara serak karena dadanya serasa sesak saat ini ketika mengingat tentang Diandra yang menyuruhnya untuk menjadi seorang suami yang baik setelah mengikrarkan ijab qobul.


Yoshi tahu bahwa Diandra adalah seorang wanita yang baik yang tidak akan pernah merebut suami wanita lain dan memilih untuk mengorbankan kebahagiaan sendiri. Jadi, ia ingin membuat Diandra bangga padanya karena memenuhi permintaan wanita yang masih dicintainya sampai saat ini.


Sementara di sisi lain, Rosalia yang tadinya melihat kemurkaan dari Yoshi, ingin ikut meluapkan amarah dan mengatakan cerai karena sudah tidak tahan selalu saja pria itu marah padanya.


Bahkan ia sudah bosan disalahkan ataupun dijadikan alasan tidak bisa mencintai wanita sepertinya yang membuatmu sakit hati. Namun, cintanya pada pria itu jauh lebih besar dari buka yang diciptakan oleh Yoshi.


'Sialan! Aku selalu dulu hanya karena ia meminta maaf setelah marah-marah padaku. Benar-benar sangat menyebalkan! Kenapa aku tidak bisa membuatnya jatuh cinta padaku seperti wanita bernama Diandra itu yang berhasil mencuri hati Yoshi.'


"Apa maksudmu memberikan waktu? Apa kamu akan berusaha membuka hati dengan menerima pernikahan kita dan tidak menceraikanku setelah ayahmu benar-benar sembuh?" Rosalia memberondong pertanyaan pada Yoshi karena berpikir jika ia saat ini jawaban pasti.


Apalagi jelas-jelas kalimat pria itu menunjukkan seperti akan bertahan pada pernikahan dan tidak mengakhiri dengan bercerai atau kembali pada wanita bernama Diandra tersebut.


Yoshi saat ini mengembuskan napas kasar dan sekilas menoleh pada wanita yang seperti membutuhkan jawabannya untuk meyakinkan diri sendiri. "Aku tidak akan menceraikanmu jika bukan kamu yang menuntut cerai."


"Karena setelah aku berpikir dengan kepala dingin, janjiku pada Tuhan bukanlah main-main. Karena itulah Diandra menyuruhku untuk membahagiakanmu karena sudah mengikrarkan janji saat ijab qobul." Yoshi memang awalnya menganggap bahwa pernikahannya hanyalah sebuah keterpaksaan.


Namun, seiring berjalannya waktu dan ia selalu introspeksi diri, menyadari jika mengakhiri pernikahan secara sepihak, lupakan orang yang egois dan membuatnya seolah menjadi pria tidak berperasaan ataupun tidak bertanggung jawab.


Tentu saja seketika raut wajah Rosalia mendadak berubah lebih cerah dari yang awalnya gelap karena dipenuhi kilatan amarah. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendengar perkataan seperti itu dari pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut.


Hingga ia pun kini merasa lega karena Yoshi berencana untuk membuka hati untuknya. "Baiklah. Aku akan menunggumu sampai bisa menerima pernikahan kita. Aku pun dari dulu sama sekali tidak ada niat untuk bercerai denganmu ingin menikah satu kali seumur hidup."


Rosalia yang baru saja menutup mulut, kini melihat mobil yang dikendarai oleh sang suami sudah tiba di rumah keluarga besar Narendra. "Kalau begitu, sekarang berusahalah untuk menjadi suami yang baik dan romantis di depan para sanak saudara yang datang memenuhi rumah keluargamu."


Yoshi sudah memikirkan tentang hal itu dan membuatnya mengerti apa yang harus dilakukan hari ini di depan paras anak keluarga yang berkumpul untuk menyambut kedatangan sang ayah yang sudah pulih dari penyakit kronis yang diderita.


"Baiklah. Aku akan berusaha," sahut Yoshi yang kini melepaskan sabuk pengaman, beranjak turun dan diikuti oleh Rosalia.


Hingga ia pun kini langsung berjalan menghampiri sang ayah yang juga baru turun dari mobil dan duduk di kursi roda. "Hati-hati, Pa."

__ADS_1


Ia yang sangat mengkhawatirkan sang ayah, kini kembali menatap ke arah sosok pria paruh baya yang malah menertawakannya karena bersikap berlebihan.


"Sebenarnya Papa sudah sembuh dan tidak perlu memakai kursi roda ini, ada yang berlebihan dan berpikir aku tidak bisa berjalan seperti biasanya," ucap Patrick Narendra hanya saat ini sudah duduk di kursi roda karena tadi diancam oleh putranya tidak boleh kelelahan.


Sementara itu, sang istri yang berdiri di sebelahnya, kini mengarahkan tatapan tajam dan membuatnya mengangkat kedua tangan ke atas seperti gerakan menyerah.


"Sorry, Sayang. Aku akan patuh pada kalian. Aku tidak ingin membuat kalian yang menyayangiku mengkhawatirkanku." Kini ia seketika tersenyum bahagia begitu melihat beberapa sanak saudara yang keluar dari pintu utama dan menyambut kedatangannya.


"Selamat datang kembali di rumah," ucap beberapa orang yang kompak menyambut kedatangan tuan rumah.


"Terima kasih karena kalian sudah datang ke sini untuk menyambutku. Aku serasa hidup kembali karena bisa melihat kalian semua setelah berjuang melawan maut selama 1 bulan di rumah sakit." Patrick Narendra saat ini menoleh ke arah putranya yang menjadi penyebab ia bisa bernapas hingga sekarang.


"Putraku, Papa benar-benar berterima kasih padamu karena memenuhi keinginan terakhir untuk menikah. Padahal Papa berpikir jika hari itu adalah hari terakhir hidup di dunia, tapi ternyata Tuhan masih memberikan umur yang panjang." Patrick saat ini melihat putranya yang tengah berkaca-kaca dan membuatnya meninju ringan lengan kekar Yoshi.


"Papa jangan membuat hari bahagia ini diiringi derai air mata karena perkataan sedih itu. Papa akan selalu berumur panjang dan bisa melihat anak-anakku yang lucu." Kemudian ia beralih menatap ke arah Rosalia yang berdiri di sebelahnya.


"Bukankah begitu, Sayang?" Yoshi ingin semakin melengkapi kebahagiaan dari sang ayah agar terus hidup berbahagia dan melihat cucu yang sangat diharapkan.


Semua orang yang berada di sana pun mengaminkan harapan dan doa tersebut.


Hingga ia pun kini berpikir untuk membuka hati dengan menerima pernikahan yang berawal dari perjodohan tersebut. Ia ingin membahagiakan orang tua serta wanita yang dinikahi dan mau memberikan waktu untuknya.


'Diandra, aku akan merelakanmu dan menuruti perintahmu untuk membahagiakan wanita yang kucintai. Aku harap kamu selalu bahagia di manapun berada. Maafkan aku karena tidak bisa memenuhi janjiku padamu, Sayang.'


'Untuk yang terakhir kalinya, aku katakan bahwa sampai sekarang masih sangat mencintaimu dan rasa cinta ini tidak akan pernah hilang meskipun aku berusaha untuk menjadi suami yang baik dan bertanggungjawab untuk istriku."


Saat Yoshi memasang wajah palsu penuh kebahagiaan, tapi hatinya benar-benar menjerit penuh kesedihan. Senyuman yang dari tadi terpatri di bibirnya seolah kepalsuan yang membuatnya lari dari kenyataan sebenarnya.


Sementara hal berbeda kini dirasakan Rosalia yang baru saja mendengar perkataan dari Yoshi ketika menyebut cucu untuk orang tuanya.


'Apa Yoshi berbicara serius saat membahas anak? Ataukah hanya ingin menghibur orang tuanya? Tapi tadi ia menyuruhku untuk menunggu dah berjanji akan menjadi suami yang baik dan bertanggungjawab, bukan? Sepertinya ini adalah awal yang baik untuk hubungan kami.'


'Aku tinggal menunggu Yoshi berubah menjadi seorang suami yang baik untukku karena di zaman sekarang ini, sangat susah mencari seorang pria baik sepertinya,' gumam Rosalia yang saat ini sudah ikut berbaur dengan keluarga besar Narendra yang mendoakan rumah tangganya agar bisa segera memiliki keturunan.


Beberapa jam telah berlalu dan satu persatu sanak saudara yang datang mulai berpamitan. Apalagi saat ini suasana petang mulai berganti dengan gelapnya malam dan dihiasi cahaya bintang yang bertaburan di angkasa dengan bermandikan cahaya rembulan.


Karena merasa sangat lelah, kini Rosalia sudah masuk ke dalam kamar dan langsung membersihkan diri. Saat ia baru keluar dari kamar mandi dan hanya memakai kimono, di saat bersamaan ia melihat Yoshi masuk ke dalam kamar.


"Sepertinya aku masuk di waktu yang tidak tepat," ucap Yoshi yang berniat untuk kembali keluar dan membiarkan Rosalia berhenti pakaian terlebih dahulu.


Namun, ia mendadak berhenti begitu tiba-tiba tangannya ditahan oleh wanita yang berstatus sebagai istrinya tersebut.


"Bukankah kamu tadi sudah menyebutkan tentang anak di depan para keluargamu? Lalu, kenapa tidak kita mulai saja untuk membuatkan cucu untuk orang tua kita?" Rosalia merasa bergairah hanya dengan mengingat perkataan dari Yoshi tadi, sehingga berpikir untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan begitu sang suami masuk.


Sementara itu di sisi lain, Yoshi yang tidak berkutik kala Rosalia bergerak memeluknya dari belakang dengan erat. Ia yang tadi sudah mengikhlaskan semuanya dan memilih untuk membahagiakan keluarga, kini berpikir jika sekarang mungkin saat yang tepat.


Apalagi sang istri mulai menuntut kewajibannya sebagai seorang suami. Akhirnya ia berbalik badan dan menatap sosok wanita yang halal untuk ia sentuh maupun lakukan apapun.


"Apa kamu tidak menyesal menginginkanku?" tanya Yoshi yang kini ingin memastikan jawaban dari wanita dengan wangi khas menusuk indra penciumannya.

__ADS_1


"Sama sekali tidak karena aku mencintaimu, Suamiku," sahut Rosalia yang kini langsung berjinjit untuk mencium bibir tebal Yoshi.


To be continued...


__ADS_2