
Selama beberapa detik Diandra seperti tersihir oleh perbuatan pria yang selalu ahli dalam mencium. Hingga ia terbawa suasana dan membalas ciuman penuh gairah dari pria yang seolah tidak memperdulikan tempat karena melakukan di dalam mobil.
Padahal ada supir yang pastinya bisa melihat dari spion mobil. Diandra yang merasa sensasi berputar lepas kendali dari ciuman liar Austin, kini mendorong dada bidang itu agar tidak melanjutkan kegilaan.
Meskipun ia sangat menikmati, tetap saja masih memiliki akal sehat karena takut jika mereka berdua terbawa suasana hingga melakukan di dalam mobil.
"Sayang, ini bukan di kamar," bisik Diandra dengan lirih dan napas terengah seperti baru berlari maraton.
Semenjak kejadian ia mengalami ketakutan ketika melakukan hubungan intim, belum pernah sekalipun suami memaksa untuk melayani atau pun atas dasar meminta hak serta menuntut kewajiban sebagai seorang istri.
Hingga ia yang merasa bersalah karena terlalu menyiksa suami untuk menahan gairah. Selama ini mereka hanya tidur berpelukan sebagai suami istri tanpa ada ritual ****. Ia tahu jika suami sebenarnya sangat tersiksa, tapi tidak pernah menunjukkan padanya.
'Maafkan aku, suamiku karena belum bisa menjadi istri yang sesungguhnya untukmu,' gumam Diandra yang kini melihat tatapan berkilat dari iris tajam pria dengan rahang tegas tersebut.
Austin tadinya hanya ingin memberikan hukuman kecil untuk menghukum istri, tapi lagi dan lagi selalu membangkitkan gejolak gairah tertahan yang membuatnya kepalanya serasa meledak.
Ingin ia segera menyalurkan gairah pada istri, tetapi tidak ingin terjadi hal buruk jika sampai kembali tertekan seperti dulu. Akhirnya selama ini hanya bisa bermain solo di dalam kamar mandi.
__ADS_1
'Statusku adalah suami, tapi pada kenyataannya sama seperti masih single karena tidak bisa memaksa istri untuk melayaniku. Semua itu adalah salahku dan harus menerima hukuman atas kejahatan yang kulakukan pada Diandra,' gumam Austin yang kini mencoba untuk menormalkan perasaan membuncah.
"Maafkan aku, Sayang." Austin hanya bisa berbicara singkat karena jujur saja saat ini ingin sekali bisa menyalurkan hasrat karena setiap kali menyentuh wanita yang sangat dicintai, membuatnya susah menahan gejolak gairah.
Hingga ia merasakan sentuhan penuh kelembutan mendarat pada pipi karena jemari lentik istri mengusap di sana. "Seharusnya aku yang meminta maaf padamu, Suamiku karena belum bisa menjadi istri yang sempurna untukmu."
Saat Austin ingin menjawab, tidak jadi melakukan karena melihat pergerakan istri mendekatkan wajah dan berbisik di dekat daun telinga. Hingga ia seketika membulatkan mata begitu mendengarnya.
"Aku rasa, setelah mendengar jawabanmu hari ini, sudah siap untuk menjadi istri sesungguhnya. Kita ke hotel saja." Akhirnya Diandra memberanikan diri berbicara nakal yang pastinya jauh dari sifat aslinya yang tidak pernah sekalipun menggoda seorang pria.
Namun, berpikir bahwa sah-sah saja bersikap nakal pada pria yang sudah menjadi suami sahnya, sehingga tanpa ragu mengungkapkan. Apalagi ia merasa khawatir jika suami mencari kepuasan **** dari wanita lain, seperti sang dokter cantik nan seksi, akan beresiko kehilangan pria sebaik Austin Matteo.
"Sayang, jangan bercanda dengan menyiksaku. Kamu bercanda, kan?"
"Tidak, aku serius." Diandra menjawab singkat dan terkekeh geli melihat reaksi suami yang seperti sangat senang bagaikan seorang anak kecil dibelikan permen.
"Benarkah?" Austin masih mencoba untuk meyakinkan diri sendiri dengan memasang indra pendengaran lebar-lebar.
__ADS_1
Hingga begitu melihat wanita yang langsung menganggukkan kepala, kini seketika membuatnya tidak membuang waktu karena memanfaatkan kesempatan yang telah diberikan oleh istri.
Refleks Austin berubah pikiran untuk pergi ke restoran dan menatap ke arah supir. "Berhenti di depan!"
Sang supir yang tadinya fokus menatap ke arah jalanan ketika mengemudi, merasa sangat heran dengan apa yang dimaksud oleh sang majikan.
Namun, tanpa bertanya, langsung melaksanakan perintah dengan menepikan kendaraan ketika jalanan terlalu ramai siang ini. "Baik, Tuan."
Begitu mobil berhenti, Austin kembali berbicara pada pria di balik kemudi tersebut. "Hari ini, aku ingin mengemudi sendiri. Kamu pulang saja naik taksi."
Kemudian Austin keluar dari mobil dan mengambil dompet untuk memberikan ongkos taksi pada sang supir yang telah keluar.
"Makanlah dulu sebelum pulang."
"Terima kasih, Tuan." Sang supir mengangguk hormat dan membungkukkan badan begitu melihat majikan masuk ke dalam mobil dan mengemudikan meninggalkan dirinya seorang diri di tepi jalan.
"Sepertinya sebentar lagi, akan ada anggota baru di keluarga besar Matteo," lirih sang supir yang kini tersenyum saat melihat mobil yang dikemudikan majikan mulai menjauh dan semakin tak terlihat.
__ADS_1
To be continued...