Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Pria berharga


__ADS_3

Sedangkan di sisi yang berbeda, yaitu restoran, Austin yang berniat untuk berpamitan pada Tony Herlambang, seketika menghentikan langkah karena merasa apa yang disampaikan oleh Annisa membuatnya sangat marah.


Bahkan saat ini ia mengepalkan tangan dan terlihat wajah memerah karena memikirkan jika Diandra bertemu dengan seorang pria lain yang memanfaatkan kepolosannya.


Austin sangat yakin bahwa Diandra bukan wanita seperti yang dituduhkan oleh Annisa. Apalagi mengetahui bahwa wanita yang ingin dinikahinya tersebut masih perawan dan hanya dialah yang menikmatinya.


"Siapa? Siapa pria yang tinggal di unit sebelah apartemen Annisa? Aku harus ke sana sekarang untuk membawa Diandra kembali padaku dengan menjelaskan bahwa aku berniat untuk bertanggung jawab padamu dengan menikahinya."


Karena merasa tidak ada yang lebih penting dari Diandra, kini Austin kembali melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah kursi yang menjadi tempat duduk Tony Herlambang.


"Maaf, tiba-tiba aku ada urusan mendadak dan harus segera pergi. Aku menghubungimu lagi setelah masalahku selesai. Ini menyangkut hidup dan matiku karena berhubungan dengan calon istriku," ucap Austin yang berharap jika pria yang terlihat terkejut tersebut mau mengerti dengan menyebutkan kalimat terakhir.


"Wah ... ternyata Anda sudah mempunyai calon istri. Baiklah, tidak masalah karena saya masih berada di sini satu minggu ke depan. Anda bisa datang ke hotel atau menghubungi saya sewaktu-waktu," ucap Tony yang saat ini merasa bahwa seorang playboy di hadapannya telah diluluhkan oleh seorang wanita.


Bahkan beberapa saat lalu, pria itu terlihat sangat datar ketika membahas tentang wanita, tapi sekarang berubah drastis dengan membicarakan calon istri dan membuatnya menghormati pria yang serius menjalani hubungan karena meninggalkan kehidupan kelamnya mempermainkan banyak wanita di masa lalu.


Austin yang saat ini menganggukkan kepala, kini langsung menepuk bahu kokoh pria di hadapannya.


"Terima kasih. Oh ya, doakan aku agar bisa menyusulmu menikah dengan wanita yang kucintai. Aku sangat mencintainya dan hanya ingin menikahinya," sahut Austin dengan wajah penuh semangat karena berpikir bahwa sebentar lagi ia akan menemukan sosok wanita yang memilih kabur darinya setelah digauli.


Bahkan hari ini ia berjanji tidak akan pernah melepaskan Diandra meskipun harus melakukan apapun untuk merantai wanita itu agar selalu berada di sampingnya.


Tony pun beranjak berdiri dari kursi dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


"Itu pasti, Tuan Austin. Semoga kalian bisa segera menikah karena itu adalah tujuan baik demi melaksanakan sebuah ibadah sekaligus kewajiban sebagai seorang pria bertanggung jawab."


"Undang saya di pernikahan Anda nanti. Saya pasti akan datang dan ingin melihat siapa wanita yang telah membuat hati pria hebat seperti Anda luluh dan memutuskan mengakhiri masa lajang."


Refleks Austin menjabat tangan dengan buku-buku kuat tersebut. "Terima kasih doanya. Saya pergi dulu," ucapnya yang melepaskan tangannya.


Kemudian berbalik badan untuk segera meninggalkan restoran dan menuju ke apartemen mantan kekasihnya untuk memastikan apakah Diandra masih berada di unit sebelah seperti yang dimaksudkan oleh Annisa beberapa saat lalu.


Sementara itu, Tony yang saat ini melihat siluet belakang pria yang sudah menghilang di balik pintu keluar, kini mengirimkan pesan pada istrinya agar kembali karena urusannya dengan Austin Matteo sudah selesai.

__ADS_1


Meskipun tidak selesai sepenuhnya karena pria itulah yang mengakhiri terlebih dahulu saat ada urusan yang menyangkut masalah calon istri.


"Ternyata tuan Austin Matteo memiliki banyak rahasia mengenai hidupnya yang tidak diketahui oleh orang lain." Kemudian ia menatap ke arah sisi sebelah kiri, di mana private room berada dan di dalamnya ada sahabatnya yang dari tadi masih belum keluar.


"Yoshi dan wanita yang disukai belum keluar dari sana." Tony pun meraih kartu nama yang tadi disimpan di dalam saku kemejanya.


Kemudian memasukkan nomor sahabatnya ke dalam ponselnya dan menelepon langsung untuk memastikan apakah benar jika Yoshi belum keluar.


Hingga ia mendengar suara bariton dari sahabatnya dan langsung membuka suara.


"Aku baru selesai meeting dengan tuan Austin Matteo yang tiba-tiba ada urusan dengan calon istrinya. Ia baru saja pergi dan aku sekarang bebas dari pekerjaan. Hari ini kamu sibuk atau tidak, bagaimana jika kita double date. Anggap saja kamu tengah mencoba untuk mencari perhatian wanita yang kamu sukai agar lebih dekat dan tertarik padamu."


Sementara itu, Yoshi yang berada di private room, seketika mengerutkan kening karena penjelasan sahabatnya membuatnya merasa penasaran.


"Jadi, Austin Matteo pergi karena ada urusan penting mengenai calon istri? Apa kamu tahu mengenai calon istrinya? Siapa nama wanita itu?"


Diandra seketika menoleh ke arah pria yang terlihat serius di telpon begitu menyebut nama Austin Matteo. 'Calon istri? Bajingan itu ternyata akan menikah setelah menikmati tubuhku hingga dua kali? Austin Matteo, kau benar-benar adalah seorang pria bajingan yang tidak tahu malu.'


Diandra yang tidak ingin terganggu ritual makannya hanya gara-gara mendengar pria berengsek yang sangat dibenci, kini memalingkan wajah dari Yoshi dan kembali menikmati makanan berupa sayuran yang masih belum habis.


Sementara itu, Yoshi merasa kecewa mendengar penjelasan dari sahabat baiknya tersebut yang mengatakan tidak tahu menahu mengenai calon istri seorang Austin Matteo karena tadi buru-buru pergi.


"Padahal aku sangat penasaran dengan wanita yang akan menikah dengan pria sehebat Austin Matteo. Oh ya, aku tertarik dengan ajakanmu, tapi kami habiskan makan dulu dan keluar dari sini setelah selesai."


Kemudian Yoshi mematikan sambungan telpon setelah sahabatnya setuju dan akan menunggu di luar. Tentu saja ia sangat suka bisa berlama-lama dengan Diandra agar bisa lebih dekat. Apalagi sikap wanita itu sudah tidak datar lagi seperti ketika pertama ditemui.


Kini, ia menatap ke arah sosok wanita yang dari tadi menundukkan kepala ketika menikmati menu makanan dari sayuran. "Diandra, temanku minta tolong untuk menemaninya pergi ke tempat wisata yang ada di Jakarta."


"Kamu tidak keberatan kan jika sepulang dari tempat wisata saja mencari tempat kos?" Yoshi menelan ludah dengan kasar setelah mengungkapkan pertanyaannya karena khawatir jika Diandra menolak dan berniat untuk pergi sendiri mencari tempat kos.


Di sisi lain, Diandra yang dari tadi merasa sangat marah ketika mengingat tentang pria yang tak lain adalah Austin, sebenarnya ingin sekali segera menemukan tempat tinggal dan mengurung diri di dalam kamar sambil meratapi nasibnya yang sangat sial bertemu dengan pria itu.


Namun, pertanyaan dari Yoshi membuatnya berubah pikiran dan ingin membuang beban berat di pundaknya untuk bersenang-senang.

__ADS_1


Paling tidak, untuk beberapa saat ia ingin menghilangkan rasa stres karena memikirkan Austin yang dengan santainya membicarakan masalah calon istri dengan pria yang merupakan sahabat Yoshi.


Kini, ia menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan. "Tentu saja aku tidak akan menolak karena bisa bersenang-senang tanpa mengeluarkan uang. Bukankah kamu yang akan membayar semuanya? Karena aku saat ini tidak punya uang untuk sekedar have fun di tempat wisata."


Refleks Yoshi menganggukkan kepala. "Tentu saja. Aku yang mengajakmu, pasti akan menanggung semuanya. Kamu tinggal ikut saja untuk menemaniku menunjukkan beberapa tempat wisata yang ingin diketahui oleh sahabatku."


Yoshi benar-benar merasa lega melihat jawaban dari Diandra dan membuatnya memiliki kesempatan untuk lebih dekat dengan wanita yang membuatnya tertarik.


"Sekarang kita habiskan dulu makanannya, baru kita keluar dari sini karena pria itu sudah pergi dari tadi untuk menemui calon istrinya." Yoshi tidak ingin menyebutkan nama yang membuat Diandra akan sakit hati.


Ia hanya ingin Diandra melupakan pria yang meninggalkan kenangan buruk dengan menyebutkan kalimat terakhir yang mewakili bahwa seorang Austin Matteo adalah pria yang tidak pantas untuk dipikirkan.


Apalagi saat ini sudah mengetahui jika pria itu akan menikah dengan seorang wanita dan sama sekali tidak memikirkan Diandra yang seperti trauma hanya dengan mendengar nama Austin Matteo.


Diandra menampilkan wajah datar. Ia tidak ingin menanggapi sesuatu yang berhubungan dengan seorang Austin Matteo dan tidak peduli jika pria itu akan menikah dengan wanita lain.


'Semoga kejadian di apartemen tadi tidak akan pernah terulang lagi karena aku akan sangat malu dan tidak punya muka jika sampai bertemu dengan wanita yang berhubungan dengan bajingan itu.'


'Aku bahkan sama sekali tidak ada hubungan dengannya, tapi mendapatkan rasa malu sekaligus rasa sakit dari wanita yang dekat dengannya. Apakah calon istri yang dimaksudkan adalah wanita yang tadi menarik rambutku?'


Saat Diandra memikirkan perbuatan buruk yang meninggalkan rasa nyeri pada kepalanya, ia tidak membenarkan pemikirannya karena mengetahui bahwa wanita yang tadi sudah tidak ada hubungan dengan Austin karena berpikir ia yang merebut pria itu sehingga memberikannya pelajaran.


'Bukan. Aku sangat yakin jika yang menjadi calon istri si brengsek itu bukan wanita yang menantang aku tadi karena ia sudah menjadi mantan seperti yang dikatakannya dengan menuduhku yang menjadi penyebab putusnya hubungan mereka.'


Saat Diandra menikmati makanan sambil memikirkan berbagai macam kemungkinan mengenai calon istri pria yang telah merenggut kesuciannya, Diandra berjenggit kaget ketika merasakan sebuah tepukan pada bahunya.


"Jangan memikirkan pria yang tidak pantas untukmu, Diandra. Aku akan melindungimu dari pria itu jika sampai berani berbuat macam-macam padamu jika bertemu. Bahkan ia akan menikah dengan wanita lain, kenapa mengganggumu. Apalagi jika bukan pria yang berengsek!"


Yoshi benar-benar tidak tega ketika melihat Diandra kembali berubah murung saat makan dan membuatnya ingin menghibur.


"Sialnya aku tadi harus berakting seperti orang yang menghormatinya. Padahal ingin sekali meninju wajahnya karena telah meninggalkan luka di hatimu hingga menjadi wanita yang takut berdekatan dengan seorang pria."


Yoshi bahkan berbicara dengan sangat berhati-hati agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dari Diandra ketika ia ingin menjadi seorang pria yang bisa dipercaya.

__ADS_1


"Aku berharap suatu saat nanti kamu bisa berbagi cerita denganku karena aku siap untuk menjadi tempat curahan hati," ucap Yoshi yang saat ini ingin menjadi sahabat baik Diandra dan lama-kelamaan berubah menjadi pria berharga di hati wanita yang disukainya itu.


To be continued...


__ADS_2