Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Percaya diri


__ADS_3

"Tentu saja jujur. Mana ada orang yang suka dengan kebohongan?" Austin menjawab sambil mengarahkan pukulan pada perut di balik setelan jas lengkap berwarna hitam yang membalut tubuh asistennya karena benar-benar kesal.


Sementara itu, sang asisten hanya meringis menahan rasa nyeri yang dikirimkan oleh bosnya tersebut.


"Bukan maksud saya seperti itu, Presdir. Hanya saja, terkadang kejujuran itu lebih sering tidak memuaskan dan kebohongan itu malah lebih disukai banyak orang."


Daffa sengaja mengatakan hal yang menurutnya sangat sering ditemui dalam dunia kerja. "Apalagi para penjilat biasanya gampang mencari perhatian orang dan lebih disukai karena suka memuji meskipun tidak sesuai dengan faktanya."


Saat ini, Austin melirik sekilas mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Merasa masih punya waktu cukup untuk berbincang sedikit dengan asistennya, sehingga ingin mendengar pendapat pria yang sepantaran dengannya tersebut.


"Bukannya kau sudah cukup lama bekerja denganku? Apa masih tidak tahu bagaimana aku? Bahwa aku sangat muak dengan tipe penjilat."


"Lebih baik jawab saja pertanyaanku tadi. Jangan berputar-putar seperti gasing. Aku hari ini ada janji penting, jadi tidak bisa lama-lama mendengar ceramahmu."


Masih membawa tumpukan dokumen di tangan dan pastinya lama-kelamaan membuat pegal, Daffa pun kini tidak membuang waktu karena ia pun juga ingin segera pulang. Kini, ia menatap iris tajam berkilat di hadapannya.


"Seperti yang saya bilang tadi, tentu saja kekasih Anda jauh lebih cantik daripada wanita yang tadi Anda bawa ke ruangan ini."


"Hanya itu?" Austin mengerutkan kening karena awalnya berpikir jika sang asisten berbicara panjang lebar, tidaklah sesingkat seperti yang didengarnya.


Namun, jawaban pendek tersebut membuatnya merasa seperti tengah membuang-buang waktu berharganya.


"Iya, Tuan. Saya berkata jujur. Beda lagi kalau Anda bertanya, kira-kira manakah yang saya inginkan untuk dijadikan istri. Pasti saya akan langsung menjawab wanita yang bersama Anda di sini tadi karena sangat sederhana dalam segala hal."


"Kebanyakan pria memandang fisik wanita yang sempurna. Mulai dari tubuh seksi, kulit putih dan paras cantik, tapi tidak menyadari bahwa itu semua tidak menjamin kebahagiaan ketika memutuskan untuk membina biduk rumah tangga."

__ADS_1


Daffa ingin membahas mengenai wanita, tapi karena tidak ingin mengganggu waktu berharga bosnya, sehingga hanya sampai di sana.


Berharap atasannya tersebut suatu saat tidak salah pilih istri karena selama ini menjalin hubungan dengan banyak wanita cantik dan bisa dibilang suka sekali meminta ini itu.


Itu semua karena ia mengetahui semuanya saat mengurus beberapa kekasih bosnya yang suka berbelanja barang-barang mewah. Namun, ia seketika merasa percuma kala melihat respon dari pria dengan tubuh tinggi tegap di hadapannya.


Refleks Austin tertawa terbahak-bahak karena merasa sangat heran dengan pemikiran jauh dari sang asisten, sehingga tidak berhenti menepuk bahu Daffa.


"Jauh amat berpikirmu. Memangnya siapa yang mau menikah? Membayangkan hidup hanya dengan satu wanita seumur hidup, yang pastinya akan membuatku bosan, pasti berakhir berselingkuh."


"Kau tahu apa penyebab para pria yang sudah menikah itu berselingkuh? Itu karena mereka bosan dengan istrinya yang lama-kelamaan tidak menarik lagi di mata."


"Menurutku itu normal dan wajar karena para wanita yang sudah berstatus sebagai istri itu selalu tidak menarik lagi dipandang mata. Apalagi jika sudah punya anak. Pasti berubah menjadi sarang lemak di mana-mana."


Bahkan membayangkan hal itu saja membuat Austin bergidik ngeri karena setiap kali melihat wanita gemuk, bergidik ngeri.


Saat ini, Daffa membenarkan perkataan dari atasannya tersebut, meski tidak sepenuhnya. Ia memang belum pernah menikah dan tidak mengetahui bagaimana kehidupan berumah tangga.


Namun, satu hal yang menjadi keyakinannya saat ini dan ingin menyatakan pendapatnya pada pria yang selama ini tidak pernah mempercayai cinta, sehingga menjadikan wanita sebagai koleksi.


Seolah bisa dijadikan pajangan dan dipamerkan sana-sini demi mendapatkan sebuah pujian adalah seorang pria hebat karena memiliki banyak kekasih cantik.


"Anda akan menemui jawabannya suatu saat nanti setelah memutuskan untuk mengakhiri masa lajang ketika sudah menemukan wanita yang Anda cintai."


Refleks Austin menggelengkan kepala karena tidak sependapat dengan asistennya tersebut. "Seperti yang kukatakan tadi, aku sama sekali tidak tertarik untuk menikah."

__ADS_1


"Aku mencintai para kekasihku dan sama sekali tidak ingin menikahi mereka."


"Itu bukan cinta, Presdir. Mungkin itu hanyalah sebuah obsesi semu. Saya yakin, suatu saat nanti, akan menemukan cinta sejati dan menjadikannya satu-satunya milik Anda. Saat itu terjadi, pasti akan mengingat tentang perbincangan hari ini."


Tanpa menunggu jawaban dari atasannya yang dianggap tak lebih dari seorang bajingan, Daffa kini membungkuk hormat dan berbalik badan untuk menuju ke pintu keluar.


Selama berjalan, ia sibuk mengumpat di dalam hati untuk melampiaskan kekesalan karena kesal dengan pria yang menganggap bahwa wanita itu adalah sebuah barang.


'Sepertinya hati presdir terbuat dari batu. Bisa-bisanya ia bilang tidak akan pernah menikah hanya karena tidak ingin hidup membosankan dengan satu wanita. Memangnya ia lahir dari batu, apa!'


'Apa saat berbicara seperti itu tadi sama sekali tidak mengingat ibu dan ayahnya yang menikah dan menghasilkannya ke dunia. Astaga, lama-lama aku bisa tertular virus gila jika selalu berdekatan dengan tuan Austin.'


Saat Daffa berjalan masuk ke dalam lift, saat pintu kotak besi tersebut hendak tertutup, bisa melihat bosnya keluar dari ruangan kerja dan berjalan menuju ke arah lift khusus petinggi perusahaan.


"Sebenarnya aku muak melihatnya karena sok kegantengan, sok keren dan sok berlagak, tapi bekerja di perusahaan ini bisa mendapatkan gaji yang lebih besar karena menjadi asisten bajingan tengik itu. Jadi, aku harus bertahan dengan menutup mata atas perbuatan dari seorang pria mata keranjang itu."


Daffa kini melupakan sesuatu dan menepuk jidat berkali-kali karena kebodohannya, sehingga kembali memencet angka pada lift karena kembali ke lantai atas untuk mengambil tas kerjanya di ruangan.


"Gara-gara presdir, aku jadi sebodoh ini." Daffa yang sibuk mengumpat di dalam lift, berharap tidak bertemu dengan atasannya karena sangat malas untuk menanggapi perkataan yang menurutnya sangat konyol.


Di sisi lain, yaitu lift khusus petinggi perusahaan, sosok pria yang tak lain adalah Austin masih tertawa sendiri seperti orang gila karena merasa perkataan asistennya sangat konyol.


"Dasar pria bodoh! Ia pasti adalah salah satu pria bucin yang rela melakukan apapun demi wanita. Aku memang memenuhi keinginan dari para wanitaku, tapi semua itu adalah simbiosis mutualisme."


"Karena kami sama-sama saling membutuhkan dan tidak ada hal yang lebih dari itu. Sama seperti dengan wanita yang saat ini ingin kutaklukkan itu. Diandra Ishana ... sebentar lagi, ia pun akan jatuh ke pelukanku."

__ADS_1


Austin tersenyum menyeringai dan percaya diri karena selama ini belum pernah sekalipun gagal mendapatkan wanita yang diinginkannya.


To be continued...


__ADS_2