
Selama beberapa jam Asmita Cempaka putranya sadar setelah proses operasi yang kedua. Hingga ia yang baru saja keluar dari kamar mandi, berniat untuk kembali duduk di sebelah putranya yang terbaring di atas ranjang dengan beberapa alat yang menopang kehidupannya.
Namun, ia yang baru saja berniat untuk mendaratkan tubuhnya di kursi, melihat pergerakan dari jemari dengan buku-buku kuat putranya tersebut.
"Sayang? Putraku?" lirih Asmita Cempaka yang saat ini membulatkan mata begitu melihat pergerakan dari putranya.
Ia saat ini merasa perasaan bergejolak karena pertama kali melihat pergerakan dari putranya setelah lama mengalami koma. Bahkan suaranya saat ini serak karena mewakili perasaannya yang tidak menentu ketika pertama kali melihat putranya perlahan membuka mata.
Ingin melihat respon dari putranya ketika pertama kali melihatnya, ia ingin memastikan apakah masih mengingatnya atau kehilangan memori seperti yang dialami oleh Diandra. Hingga ia ketika membekap mulutnya begitu mendengar suara lirih yang lolos dari putranya.
Suara yang sangat dirindukannya dan juga panggilan yang sudah lama tidak didengar dari putranya dan membuatnya seketika berurai air mata karena tidak bisa menahan rasa haru yang memuncak.
"Mama ...." Yoshi yang tadi pertama kali membuka mata, mengerjapkan mata mencoba menormalkan cahaya yang masuk pertama kali pada retina mata dan perlahan pandangannya semakin terang dan melihat sang ibu yang berdiri di hadapannya.
Hingga ia yang beberapa saat lalu menatap ke arah ruangan kamar yang sudah diduga merupakan rumah sakit, tidak tega melihat sang ibu yang menangis karena berurai air mata dan terlihat jelas saat ini.
"Mama, jangan menangis." Yoshi saat ini mengulurkan tangan kirinya untuk memegang lengan sang ibu agar tidak terus meneteskan air mata begitu melihat ia sadar.
Asmita Cempaka yang merasa sangat terharu sekaligus bahagia begitu melihat putranya sudah kembali seperti semula karena usaha para tim medis yang tidak menyerah untuk menyembuhkan.
Refleks ia langsung menghambur ke arah putranya dan memeluk erat tubuh lemah putranya yang masih terbaring terlentang di atas ranjang perawatan. "Putraku, akhirnya kamu kembali sadar dan bisa memanggil Mama."
Ia bahkan saat ini masih terus menangis tersedu-sedu di dada bidang putranya. Ingin meluapkan semua perasaan membuncah yang saat ini menyeruak di dalam dadanya hingga terasa sesak, sehingga kesulitan untuk berbicara banyak.
Air mata yang saat ini menganak sungai di wajahnya sangat mewakili perasaannya kala bahagia setelah melihat putranya yang telah kembali seperti semula.
Sementara itu, Yoshi saat ini hanya diam membiarkan sang ibu meluapkan semua perasaannya dan mengusap lembut punggung belakang wanita yang telah melahirkannya tersebut. Ia tahu bagaimana perasaan seorang ibu karena saat ini mengingat semua yang terjadi padanya.
Bahwa ia dulu hanya bisa terdiam di atas ranjang tanpa bisa berbicara apapun karena antara otak dan mulutnya seolah tidak sinkron dan sangat sulit untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya melalui mulutnya.
Bagaimana seorang ibu merawatnya dengan baik tanpa pernah mengeluh dan membuatnya merasa sangat bersalah karena malah menyusahkan wanita paruh baya yang harusnya dibahagiakan olehnya.
"Mama, jangan menangis lagi. Aku sekarang bisa berbicara lagi dan tidak akan menyusahkan Mama lagi," ucap Yoshi yang saat ini menatap ke arah jam di dinding yang menunjukkan jika saat ini pukul 10 malam. "Kita saat ini sedang berada di rumah sakit mana, Ma?"
Meskipun belum selesai menumpahkan perasaan bahagianya saat melihat putranya kini telah kembali normal lagi, kini Asmita Cempaka kembali berdiri tegak setelah melepaskan pelukannya.
Ia bahkan membersihkan bulir air mata di wajahnya agar tidak terlihat menyedihkan di hadapan putranya yang ingin mencari tahu saat ini tengah berada di tempat yang jauh dari Jakarta.
"Sayang, kita berada di London sudah 1 tahun lebih. Setelah kecelakaan yang menimpamu, Mama membawamu ke sini agar mendapatkan perawatan yang lebih baik." Kemudian ia menceritakan tentang diagnosa dari dokter yang menangani putranya setelah dioperasi.
Namun, ia sama sekali tidak mengungkit tentang Diandra karena khawatir jika akan mengganggu kinerja otak putranya yang baru saja pulih. Ia berniat untuk membohongi putranya agar tidak mengalami masalah seperti ketika Austin datang dan memberitahukan semuanya.
"Jadi, aku sudah berada di London selama 1 tahun lebih?" Yoshi yang dari tadi terdiam dan mengingat tentang sesuatu saat Austin Matteo datang, kini ingin meminta penjelasan dari sang ibu karena tidak paham bagaimana bisa pria itu menikahi Diandra, sedangkan statusnya masih menjadi istrinya.
Ia pun juga bertanya-tanya bagaimana Diandra dengan mudah melupakannya dan sama sekali tidak peduli padanya yang mengalami kecelakaan dan malah menikah dengan pria yang dibenci.
"Ma, bagaimana bisa Austin Matteo menikahi Diandra? Apa sebenarnya terjadi selama aku tidak sadarkan diri? Kenapa Diandra sama sekali tidak menjengukku?" tanya Yoshi yang saat ini menatap ke arah sang ibu yang terlihat sangat kebingungan.
__ADS_1
Tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya bahwa ia mengurus perceraian di hari pertama menikah, Asmita Cempaka saat ini mengalihkan pembicaraan karena khawatir jika putranya akan mengalami hal yang sama dengan kejadian ketika Austin datang.
"Mama akan memanggil dokter dulu untuk memeriksamu, Sayang. Masalah itu, kita bicarakan nanti karena bagi Mama, kesehatanmu jauh lebih penting dari apapun." Kemudian ia berbalik badan tanpa memperdulikan putranya yang berniat untuk menghentikannya.
Seolah ia ingin kabur dari hadapan putranya agar tidak ditanya macam-macam karena jika menjawab dengan jujur hanya akan membahayakan nasib putranya.
'Aku harus bertanya pada dokter mengenai apa yang harus kulakukan. Apakah akan berdampak pada kesehatan putraku jika sampai mengetahui tentang kejadian di masa lalu?' gumamnya saat sudah tiba di luar ruangan putranya dan langsung menuju ke arah kantor untuk mengatakan pada perawat jika sudah sadar.
Sebenarnya ia bisa langsung memencet tombol yang ada di dalam ruangan agar perawat dan dokter datang memeriksa putranya yang sudah sadar. Namun, sengaja tidak melakukannya karena tidak bisa menjawab pertanyaan dari putranya yang ingin mencari tahu tentang masa lalu.
Sementara di dalam ruangan, Yoshi yang dari tadi ingin mendengar jawaban dari sang ibu mengenai Diandra yang membuatnya bertanya-tanya, merasa sangat kecewa karena tidak mendapatkan apapun dan malah ditinggalkan meskipun sudah memanggil beberapa kali.
"Kenapa mama malah menghindariku? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa mama jangan khawatir jika aku kembali drop begitu mengetahui semuanya?" lirih Yoshi yang saat ini terdiam menatap ke arah ruangan dengan nuansa putih yang selama ini menjadi tempatnya.
"Diandra, apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahan kita? Kenapa impianku untuk bisa hidup bahagia bersamamu sangatlah susah karena selalu saja ada rintangan yang menghadang?" Saat ia masih menunggu sang ibu kembali bersama dengan para tim medis yang akan memeriksanya, ia mendengar suara dering ponsel.
Namun, saat mencari arah sumber suara ponsel yang berdering dan menduga jika itu adalah milik sang ibu, mencoba untuk fokus mendengarkan agar mengetahui di mana keberadaan benda pipih tersebut.
"Ada yang menelpon mama," lirih Yoshi yang saat ini menoleh ke arah laci di sebelah kirinya dan mencoba untuk membukanya.
Hingga ia yang menebak jika ponsel milik sang ibu berada di dalam laci karena mendengar suara dari dalam sana, sehingga membuatnya langsung mengulurkan tangan untuk mengambilnya.
Meskipun sedikit kesusahan karena jarak antara ranjang dan juga tubuhnya tidak terlalu dekat, sedangkan kondisinya saat ini belum memungkinkan untuk bergerak bebas karena tidak bisa mengangkat tubuhnya.
Usahanya kini berhasil dan ia sudah mengambil ponsel dari sang ibu, tapi panggilan telepon sudah terputus karena tidak mendapatkan jawaban. Ia saat ini menatap ke arah nomor yang menelpon sang ibu dan melihat jika itu berasal dari negaranya.
Namun, saat hendak melakukannya, pintu ruangan terbuka dan melihat sang ibu datang bersama perawat serta dokter yang berjalan mendekat.
"Sayang, apa yang kamu lakukan dengan ponsel Mama?" Asmita Cempaka yang tadi buru-buru memanggil perawat serta dokter agar memeriksa putranya, saat ini mengerutkan kening begitu kembali yang dilihat pertama kali adalah memegang ponsel miliknya.
Yoshi yang saat ini menunjukkan pada sang ibu tentang nomor tidak terdaftar dengan kode negaranya. "Saat Mama pergi, nomor ini menelpon dan ketika hendak kuangkat, sudah mati."
Kemudian Yoshi menyerahkan ponsel yang diminta sang ibu untuk diperiksa. Ia pun kini beralih menatap ke arah dokter yang bergerak untuk memeriksa keadaannya.
Bahkan sudah beberapa kali bertanya tentang hal-hal yang berhubungan dengan ingatan serta apa yang dirasakan saat ini.
Asmita Cempaka yang tadinya merasa sangat khawatir jika putranya mengecek ponsel miliknya yang berisi tentang banyak perintah untuk membuntuti Diandra dan juga menghabisi wanita itu di hari ulang tahun yang akan jatuh dua hari lagi, kini merasa lega karena tidak mengetahuinya.
Ia saat ini menatap ke arah nomor tidak terdaftar yang baru saja meneleponnya dan membuatnya memicingkan mata karena tidak mengenali nomor itu.
'Siapa yang menelpon? Kenapa nomornya baru?' gumamnya yang saat ini menatap ke arah nomor baru yang tidak terdaftar di ponselnya.
Namun, ia tidak berniat untuk mempedulikan nomor itu karena saat ini yang terpenting hanyalah keadaan putranya yang sudah sadar. Ia pun saat ini mendengarkan sang dokter yang bertanya beberapa hal pada putranya.
Pertanyaan yang membuatnya terkonsentrasi tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh putranya begitu sadar.
"Anda harus banyak beristirahat dan tidak boleh memikirkan apapun selama beberapa hari ini agar kinerja otak jauh lebih maksimal. Jadi, jangan banyak mencari tahu tentang beberapa informasi yang sudah lama tidak Anda ketahui."
__ADS_1
"Anda harus benar-benar pulih dulu, membebankan pikiran dengan banyak hal mengenai semua informasi yang sempat Anda lewatkan," ucap dokter yang saat ini menyuruh perawat untuk menyuntikkan obat pada infus.
Bahwa pasien harus banyak beristirahat dan tidak boleh banyak berbicara karena butuh pemulihan. Kini, menatap wanita paruh baya yang tadi menceritakan semuanya dan sangat mengkhawatirkan keadaan putranya.
"Jangan terlalu banyak mengajak putra Anda berbicara dan biarkan beristirahat." Kemudian berlalu pergi bersama dengan perawat yang sudah menyelesaikan tugasnya.
"Terima kasih, Dokter," sahut Asmita Cempaka yang saat ini tersenyum pada pria paruh baya yang sudah menghilang di balik pintu.
Kemudian dari menatap putranya yang dari tadi hanya menganggukkan kepala ketika diberikan perintah oleh sang dokter. "Kamu harus banyak beristirahat dan jangan banyak bicara, Sayang. Nanti setelah kondisimu jauh lebih baik, Mama pasti akan menjelaskan semuanya tanpa terkecuali."
Saat Yoshi berniat untuk membuka suara, tidak jadi melakukannya karena kembali mendengar suara dering ponsel sang ibu. Ia saat ini menatap ke arah wanita paruh baya di hadapannya tersebut.
"Sebentar, Mama angkat telpon dulu," ujar Asmita Cempaka yang saat ini menatap ke arah nomor yang tadi menghubunginya.
'Sebenarnya siapa yang menelpon? Aku harus berjaga-jaga agar perut aku tidak mendengar pembicaraan jika ini berhubungan dengan Diandra,' gumamnya yang saat ini membuka pintu.
Sementara itu, Yoshi sebenarnya ingin menghalangi sang ibu keluar dari ruangan karena penasaran siapa yang menelpon.
Namun, tidak jadi melakukannya karena mengingat perkataan dari sang dokter yang menyuruhnya untuk beristirahat total tanpa memikirkan apapun demi kesembuhannya agar segera pulih.
Akhirnya ia hanya diam menatap ke arah siluet belakang sang ibu yang menghilang di balik pintu. "Sebenarnya siapa yang menelpon Mama? Apa ada hubungannya dengan Diandra?"
Yoshi saat ini merasa sangat mengantuk dan beberapa kali menguap, sehingga beberapa saat kemudian kelopak matanya tertutup rapat dan larut dalam alam bawah sadar.
Berbeda dengan sosok wanita yang merupakan asmita Cempaka sudah berada di luar ruangan perawatan putranya. Ia langsung menggeser tombol hijau ke atas untuk mengetahui siapa yang menelpon.
Begitu mendengar suara yang tidak pernah dilupakannya, sehingga membuatnya tersenyum menyeringai.
"Halo, Ma? Ini nomor Mama, kan? Aku Diandra."
Asmita Cempaka yang saat ini tersenyum menyeringai karena ia tidak perlu susah payah untuk mencari nomor Diandra, malah wanita incarannya tersebut kini menelponnya.
'Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Tanpa aku mengeluarkan umpan untuk menangkap ikan, ternyata dengan mudah datang padaku,' gumam Asmita Cempaka yang saat ini ingin mengetahui apa yang diinginkan oleh Diandra darinya.
"Diandra, dari mana kamu mengetahui nomor teleponku? Bukankah kamu mengalami amnesia setelah kecelakaan? Lalu, bagaimana bisa kamu memanggilku mama? Apakah kamu sudah mengingat semua masa lalumu?" Ia ingin mencari tahu jika pemikirannya benar.
Hingga pertanyaannya terjawab sudah begitu mendengar jawaban dari Diandra yang tanpa pikir panjang langsung menjelaskan semua hal padanya.
"Aku sudah mengingat semuanya, Ma. Makanya aku menelpon Mama untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Lalu, di mana Yoshi saat ini? Apa dia baik-baik saja?" tanya Diandra yang saat ini ingin segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya dan juga Yoshi setelah kecelakaan.
Tadi ia langsung menghubungi nomor yang sudah disimpan di dalam ponselnya begitu Austin berangkat ke kantor. Semalaman ia tidak bisa tidur karena memikirkan tentang keadaan Yoshi dan dirinya setelah kecelakaan.
Hal yang paling mengganggunya adalah keadaan Yoshi saat ini. Apakah pria yang dulu menikahinya masih hidup atau tidak. Ia benar-benar sangat takut jika Yoshi meninggal karena kecelakaan itu dan pastinya membuatnya merasa bersalah.
"Yoshi baik-baik saja, kan Ma?"
To be continued...
__ADS_1