
Di sisi lain, Diandra hanya bisa menghembuskan napas kasar karena merasa bahwa pria di belakangnya tersebut terlalu baik padanya dan sama sekali tidak terpengaruh pada perkataan dari wanita yang bahkan belum pernah ditemuinya.
Ia tahu bahwa penyebabnya adalah pria yang sangat dibenci karena membuatnya berakhir dengan rambut berantakan dan rasa nyeri di kepala atas kesalahpahaman yang terjadi.
'Aku bahkan sama sekali tidak punya hubungan dengan bajingan itu, tapi terkena imbas dari perbuatan buruknya yang selama ini mempermainkan perasaan para wanita. Rasanya ingin sekali aku menghancurkan pria sialan itu, tapi aku sama sekali tidak punya kekuatan apapun untuk melawannya.'
'Sadarlah, Diandra! Kamu hanya seorang wanita lemah yang tidak punya kekuatan apapun untuk melawan Austin yang mempunyai kekuasaan dan juga uang yang bisa melakukan apapun, termasuk membeli harga dirimu.'
Saat Diandra masih mencoba untuk menenangkan diri dengan cara mengumpat sosok pria yang membuatnya terkena masalah, kini mendengarkan kembali suara Yoshi.
"Diandra ... jangan diam saja. Aku ingin berbicara mengenai pembatalan yang baru saja kamu lakukan. Aku sangat membutuhkanmu untuk menjadi sekretaris pribadiku." Yoshi sebenarnya merasa sangat ragu sekaligus takut jika wanita yang telah memunggunginya tersebut marah dan kesal padanya.
Namun, ia merasa sangat bersalah pada Yoshi jika sampai melampiaskan pada pria yang bahkan sudah berbaik hati menolongnya tanpa pamrih. Kini, Diandra berbalik badan dan bersih tetap dengan iris berkilat dari pria dengan rahang tegas yang masih menatapnya intens.
"Kenapa kamu mengejarku dan tidak membiarkanku pergi saja karena hanyalah seorang wanita murah seperti yang dikatakan oleh wanita tadi? Kenapa kamu lebih mempercayaiku daripada wanita itu?"
Diandra ingin tahu apa penyebab pria berhati malaikat tersebut selalu saja positif thinking padanya tanpa berpikir macam-macam meskipun sudah ada seseorang yang menghinanya habis-habisan.
"Karena aku bisa melihatnya dengan mataku. Bahwa wanita yang tadi tidak lebih baik darimu. Bagiku, seorang wanita yang baik tidak akan pernah berbuat kasar pada sesama wanita karena sama-sama saudara. Bagaimana mungkin aku mempercayai wanita kasar yang tidak punya sopan santun itu?"
Yoshi bahkan saat ini seketika merebut koper yang berada di tangan Diandra begitu pintu kotak besi terbuka. "Jangan pernah hidup untuk memuaskan pikiran orang lain, Diandra. Ayo, ikut aku!"
"Yoshi, aku tidak bisa!" ucap Diandra yang saat ini merasa sangat takut jika Austin mengetahui bahwa ia bekerja pada pria di hadapannya.
Bahkan ia sangat takut jika sampai Austin tiba-tiba datang ke apartemen untuk menemuinya. "Aku akan tinggal di tempat kos dan sekarang ingin mencarinya."
Yoshi masih menarik koper milik Diandra dan berjalan menuju ke arah parkiran tanpa memperdulikan nada protes dari wanita itu dan memasukkan ke dalam bagasi mobil.
__ADS_1
Ia sudah mengetahui apa yang ada di pikiran Diandra, yaitu ingin segera pergi dari apartemennya karena merasa tidak aman. Kini, Yoshi bisa melihat Diandra yang menghalangi perbuatannya saat menutup bagasi mobil dan hendak mengambil koper yang sudah dimasukkannya.
"Berikan koperku, Yoshi! Aku harus pergi!" Diandra sebenarnya merasa heran kenapa Yoshi memasukkan kopernya ke dalam bagasi, tapi berpikir bahwa saat ini yang ada di pikirannya hanyalah ingin segera pergi dari apartemen untuk mencari tempat kos.
Yoshi memilih untuk menahan tangan Diandra sebelum menutup bagasi dan menatap wajah wanita yang terlihat sangat ketakutan tersebut. Kemudian berusaha untuk menjelaskan idenya dan menganggap itu adalah hal terbaik sebagai jalan keluar.
"Aku akan membantumu untuk mencari tempat kos dan tidak akan menguasaimu untuk tinggal di apartemen ini, tapi tetaplah bekerja untukku karena aku sangat membutuhkannya. Bukankah kamu sedang membutuhkan pekerjaan?"
"Lalu, apa salahnya menerima tawaranku? Setengah jam lagi, aku ada janji bertemu klien di salah satu restoran. Jadi, lebih baik kita berangkat sekarang agar tidak terlambat dan mengecewakan klienku."
Yoshi kemudian melepaskan pergelangan tangan Diandra dan berjalan menuju ke arah mobil untuk membukakan pintu agar wanita itu segera masuk ke dalam dan tidak kabur darinya.
Sebenarnya Diandra masih merasa sangat ragu atas perintah dari Yoshi, tapi lagi-lagi dikalahkan oleh rasa bersalah pada pria yang telah menjadi dewa penolongnya tersebut. Akhirnya Diandra memilih untuk patuh dan masuk ke dalam mobil.
'Apakah jalan yang kuambil ini benar? Semoga tidak akan membuatku terjerat masalah seperti saat menerima tawaran dari Austin. Kenapa selalu seperti ini? rasanya seperti merasakan Dejavu karena berada di posisi yang sama seperti pertama kali bertemu dengan si berengsek itu.'
Lamunan Diandra seketika buyar begitu mendengar suara pintu yang ditutup dari luar dan Yoshi sudah duduk di belakang kemudi sambil memasang sabuk pengaman dan menegurnya.
Hingga ia seketika tersenyum karena kali ini Diandra sudah tidak seperti pertama kali bertemu yang selalu menolak ataupun menghindarinya.
Kini, ia merasa sangat lega karena di antara patuh pada perkataannya. Ia bahkan tadi merasa bersyukur karena Diandra masih belum mengganti seragam yang dikenakan.
Jadi, ia berpikir masih ada harapan dengan berpikir bahwa Diandra tetap bisa bekerja untuknya hari ini. 'Akan lebih baik kamu bersikap seperti ini selamanya karena sama sekali tidak membantahku.'
Kini, Diandra masih tidak berniat untuk membuka suara karena pikirannya tengah kacau dan memilih untuk menuruti perintah Yoshi. Ia memang membutuhkan pekerjaan dan tidak mungkin berkeliaran di sekitar Jakarta untuk mencari.
Itu karena sangat takut jika sewaktu-waktu bertemu dengan Austin. Akhirnya berpikir positif dan memilih untuk tetap menerima tawaran dari Yoshi.
__ADS_1
Kini, Diandra bergerak untuk memakai sabuk pengaman dan melihat sekilas ke arah Yoshi saat tersenyum sebelum mengemudikan kendaraan mewah itu keluar dari area apartemen.
"Kenapa? Kamu tersenyum seperti orang gila saja saat melihatku hanya memakai sabuk pengaman seperti ini." Diandra bahkan berbicara dengan menampilkan wajah masam karena kesal melihat senyuman yang dianggap mengejeknya.
Sementara itu, Yoshi saat ini kembali terkekeh geli melihat bibir mengerucut wanita yang semakin membuatnya merasa gemas dan tertarik. "Sepertinya aku memang gila."
"Stop! Jangan diteruskan!" seru Diandra yang sudah mengarahkan tangannya berhadapan pria di sebelahnya agar tidak melanjutkan perkataan.
Refleks Yoshi memicingkan mata karena merasa heran atas tanggapan dari Diandra ketika ia ingin melanjutkan perkataan. "Kenapa?"
"Aku sudah tahu kelanjutannya." Diandra akan berbicara tanpa menatap ke arah pria yang sudah mengemudikan kendaraan dengan kecepatan sedang.
"Memangnya apa kelanjutannya?" Yoshi masih meragukannya perkataan Diandra dan ini memastikannya sendiri.
"Aku sangat yakin jika kamu ingin mengeluarkan gombalan, bukan? Aku aku bukan tipe wanita yang suka dirayu karena yang ada malah merasa ilfil karena sangat lebay. Jangan bilang jika kamu ingin mengatakan sudah gila karenaku." Diandra sebenarnya bukan tipe wanita berpengalaman dalam hal rayuan maut dari seorang pria.
Hanya saya, ia sering melihat film romantis dan pastinya ada banyak gombalan yang sudah dihafalnya. Ia Sebenarnya bukan tipe wanita yang sangat percaya diri, tapi karena pernah berhubungan dengan Austin, membuatnya seperti sudah hafal dengan perangai seorang pria.
Hingga ia pun menyadari jika pemikirannya saat Yoshi sama sekali tidak menyangkal keduanya dan malah membenarkan.
"Sepertinya kamu benar-benar seorang peramal, Diandra." Yoshi tidak ingin mengatakan bahwa Diandra adalah seorang wanita yang berpengalaman dalam pria karena khawatir jika akan tersinggung ataupun mengingat tentang seseorang bernama Austin Matteo.
Ia tidak ingin suasana yang sudah berubah lebih hangat di antara mereka kembali menegangkan seperti beberapa saat yang lalu.
Jadi, selalu berhati-hati agar tidak menyinggung perasaan wanita yang bahkan sama sekali tidak menoleh ke arahnya saat ia membenarkan tuduhan.
'Paling tidak, Diandra tidak marah padaku dan masih stay di sini. Aku harus lebih berhati-hati mulai sekarang agar tidak membuatnya merasa tersinggung ataupun mengingat tentang pria bernama Austin Matteo.'
__ADS_1
'Austin Matteo, aku harus mencari tahu tentang pria itu. Sebenarnya seperti apa pria yang telah membuat Diandra seperti ini?' gumam Yoshi yang saat ini tengah fokus mengemudi menuju ke arah restoran karena akan bertemu dengan klien.
To be continued...