Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Sangat malu


__ADS_3

Seorang pria yang saat ini tengah berada di dalam mobil, melihat interaksi antara pria dan wanita yang keluar dari lobi perusahaan. Tidak sia-sia ia menunggu dari tadi dan merasa senang karena melihat pasangan suami istri yang kini sudah diambil gambar beberapa kali berjalan masuk ke dalam mobil.


Ia pun langsung mengikuti kendaraan mewah berwarna hitam tersebut pada jarak cukup jauh agar tidak dicurigai. "Satu minggu lagi tugasku akan berakhir karena bos menyuruh untuk menghabisi wanita yang baru bisa berjalan kembali tersebut tepat di hari ulang tahunnya."


Pria yang merupakan pembunuh bayaran itu sudah 1 tahun ini bekerja untuk orang yang tidak pernah ditemui karena hanya berhubungan melalui telepon dan bayarannya langsung di transfer.


Ia sebenarnya merasa sangat senang dengan pekerjaannya karena hanya memberikan laporan mengenai kegiatan apa saja yang dilakukan oleh wanita yang diakuinya memiliki paras cantik, tapi sayang harus menghabiskan waktu di kursi roda.


Namun, ia diperintahkan untuk menghabisi begitu wanita itu bisa berjalan lagi. Ia sebenarnya menyayangkan wanita cantik itu meninggalkan dunia ini dan berpikir untuk terlebih dahulu menikmati tubuhnya.


Namun, khawatir jika malah akan membuat bosnya tidak mau membayarnya karena berbuat sesuka hati dan tidak mendengarkan perintah. "Wanita itu terlihat sangat bahagia bersama suaminya, tapi sayangnya sebentar lagi harus meninggalkan dunia ini."


"Pasti pria itu akan menikah lagi dan melupakan istrinya karena begitulah sikap para suami yang ditinggal mati," ucap pria dengan tato naga di lengannya yang sawo matang.


Ia saat ini mengerutkan kening ketika mobil yang dibuntuti berhenti di salah satu tempat. "Kenapa berhenti?"


Begitu mengetahui jika tempat itu adalah salah satu kuliner, sehingga berniat untuk memeriksa dan turun dari dalam mobil. Ia masuk ke dalam tempat yang sudah cukup ramai pembeli.


Hingga ia pun mengedarkan pandangan ke sekeliling dan begitu menemukan pasangan suami istri yang dari tadi diawasi, langsung memilih untuk duduk di tempat yang berada di sebelah belakang.


Tentu saja untuk mendengarkan pembicaraan dari pasangan suami istri tersebut karena berpikir akan memudahkannya menjalankan tugas dari bosnya untuk membuat wanita itu meregang nyawa pada tanggal yang ditentukan.


Sementara itu, Diandra yang kini menunggu pesanan bersama Austin, mengedarkan pandangan kau sekeliling untuk melihat beberapa orang yang tengah menikmati segarnya es kacang merah yang membuatnya tidak sabar untuk segera merasakan.


Ia saat ini menatap ke arah sang suami yang tengah sibuk menatap ke arah penjual dan pelayan yang mengantarkan pesanan.


"Cuma jualan es kacang merah, tapi bisa selaris ini?" ucap Austin yang merasa heran saat penjual sampai tidak terlihat ketika melayani pesanan.


"Iya makanya tadi aku membaca banyak komentar di sosial media kalau rasanya enak dan bikin ketagihan," sahut Diandra yang kini merasa sangat senang begitu melihat es yang dipesan diantarkan ke mejanya.


"Silakan, Tuan dan Nyonya." Pelayan tersebut tersenyum simpul dan kembali melanjutkan pekerjaan setelah pelanggan tersenyum.


Austin yang saat ini malah lebih tertarik pada sang istri saat menikmati es, tidak mengalihkan pandangannya. Ia yang dari dulu kurang suka dengan minuman dingin, hanya dua sampai tiga sendok mencoba.


"Nanti kalau kurang, habiskan punyaku, Sayang. Enak ya rasanya? Sayangnya dari dulu aku kurang suka dengan minuman dingin." Itu karena mempunyai sebuah trauma kala ia dulu menghabiskan masa-masa terpuruk dengan minum-minuman beralkohol yang dipadukan potongan es.


Hingga membuatnya seperti mual karena seringnya mengkonsumsi dan berdampak buruk pada organ dalam. Nasib baik setelah ia berhenti, sudah tidak merasakan gangguan pada tubuhnya.


Sementara itu, Diandra yang saat ini tengah lahap menikmati es segar itu, mengerutkan kening melihat mangkok suami diberikan kepadanya. "Kamu tidak suka, ya Sayang? Padahal ini enak lho."


Bahkan ia sama sekali tidak keberatan jika menghabiskan milik dari sang suami. Apalagi mangkok miliknya sudah tinggal sedikit karena cuaca yang sedikit panas hari ini membuatnya benar-benar dahaga dan rasa segar yang menghiasi tenggorokannya seketika memulihkan energi yang sempat terkuras.


Diandra bahkan kini sudah bergerak untuk melanjutkan menikmati es milik sang suami. Seolah sama sekali tidak memperdulikan tanggapan orang di sekitar jika ada yang memperhatikannya hampir menghabiskan dua mangkuk.


"Iya, enak. Sayangnya aku tidak terlalu suka dengan minuman dingin, Sayang." Austin yang saat ini terkekeh melihat ekspresi wajah menggemaskan dari sang istri yang menepuk jidat karena melupakan kebiasaannya yang jarang minum air dingin.


"Maaf, lupa, Sayang. Lain kali aku tidak akan mengajakmu ke sini lagi karena lebih baik memesan lewat aplikasi online dan diantarkan ke rumah. Daripada membuatmu hanya melihatku menikmati ini, rasanya seperti sangat kejam," lirih Diandra yang mengunyah sekarang kacang merah di dalam mulutnya sambil berbicara.

__ADS_1


Saat sama sekali tidak keberatan menemani sang istri dan malah senang karena bisa melihat bagaimana lahapnya wanita yang sangat dicintainya tersebut menghabiskan semuanya, ia menggeleng perlahan untuk mengalihkan pemikiran wanita itu.


"Aku malah lebih suka melihatmu makan seperti ini, Sayang. Jadi, jika nanti ingin datang ke sini lagi, katakan saja." Austin yang saat ini mengambil ponsel miliknya dan memotret sang istri yang tengah menikmati es kacang merah.


Ia pun saat ini sudah sibuk mengambil dokumentasi sebagai kenangan yang sering dilihatnya jika tidak ada pekerjaan. Hingga ia fokus menatap ponselnya untuk mengecek mana yang bagus dan tidak dari hasil jepretannya.


Sampai pada akhirnya ia berniat untuk kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celana, tapi ketika layar gelap, seperti melihat ada sesuatu yang aneh di belakang. Jadi, ini memastikan sendiri dengan menatap melalui ponsel miliknya.


Ia melihat seorang pria yang seperti tengah memperhatikannya dengan sang istri. 'Kenapa dia itu dari tadi menatap ke arah kami? Apa dia adalah seorang pria hidung belang yang suka mengincar wanita bersuami?'


Saat Austin sibuk dengan pemikirannya dan tersadar ketika mendengar suara sang istri. Ia pun masih berusaha untuk berpikir positif karena mungkin kebetulan pria itu menatap ke arah mereka.


"Sayang, habis." Diandra menunjukkan mangkok kedua yang baru saja dihabiskan. Ia bahkan saat ini terkekeh ketika merasa malu bisa menghabiskan milik sang suami.


Refleks Austin mencubit pipi putih sang istri yang dianggap sangat menggemaskan ketika menunjukkan mangkok yang sudah bersih dan berpindah ke dalam perut.


"Kenapa istriku sangat menggemaskan sekali. Apa mau sekali lagi? Biar aku pesankan." Austin yang saat ini berniat untuk memanggil pelayan, tidak jadi melakukannya ketika tangannya ditahan oleh Diandra.


"Tidak! Aku sudah benar-benar kenyang, Sayang. Perutku bahkan serasa penuh sekarang," ujar Diandra yang saat ini mengusap perutnya sambil terkekeh.


Ia bahkan tidak menyangka akan menghabiskan dua porsi karena sang suami tidak suka.


Austin yang saat ini berniat untuk tidak langsung pulang ke rumah karena ingin mengajak sang istri membeli furniture. "Sekarang kamu temani aku membeli sesuatu."


Diandra yang saat ini mengerutkan kening karena penasaran dengan apa yang direncanakan oleh sang suami. "Apa, Sayang? Memangnya kamu ingin membeli apa?"


Austin menggelengkan kepala dan segera bangkit berdiri dari kursi. "Nanti kamu juga akan tahu sendiri."


'Aku ingin melihat reaksinya begitu mengetahui apa yang kurencanakan,' gumam Austin yang saat ini sudah berjalan dengan sang istri dan mulai membayar.


Ia bahkan masih mengingat sosok pria yang tadi dicurigainya dan berharap hanyalah salah sangka. Namun, saat ia berjalan keluar dan menuju ke arah mobil, melihat kembali pria itu.


'Sepertinya benar jika pria itu adalah seorang mata-mata yang mau membuntuti kami pergi kemana pun. Lalu siapa yang membayarnya?' gumam Austin yang saat ini masih terus memantau pria yang dicurigai nya akan terus membuntuti.


Berniat untuk memberikan pelajaran dengan pukulannya nanti ketika saatnya tiba. "Sayang, jangan lupa pakai sabuk pengaman."


"Iya, Sayang." Diandra yang selama ini memang tidak suka memakai sabuk pengaman ketika naik mobil, kini dari perintah sang suami.


Austin yang rencana untuk membuat bingung pria yang dicurigai membuntutinya, akan menambah kecepatan saat mengemudi. Jadi, meminta sang istri memakai sabuk pengaman agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.


Meskipun ia tidak akan mengebut terlalu kencang karena khawatir jika sang istri akan trauma pernah mengingat kejadian di masa lalu ketika kecelakaan. Kini, ia sudah menjaga setelah menyalakan mesin mobil.


Begitu mengemudikan kendaraan dengan kecepatan sedang dan memantau dari spion, semakin yakin jika pria yang tadi dilihatnya benar-benar adalah mata-mata yang mengawasinya dengan sang istri.


'Baiklah. Aku akan memberikannya pelajaran dan menyuruh mengatakan siapa yang membayar untuk membuntuti kami." Austin yang saat ini hampir mendekati perempatan yang sudah hijau dan berubah kuning, menambah kecepatan sebelum berubah merah.


Hingga ia berhasil menerobos perempatan dan membuat mobil pria yang tadi membuntutinya terjebak di lampu merah dan tidak bisa mengejarnya.

__ADS_1


Sampai ia menahan rasa nyeri pada lengannya ketika mendapatkan cubitan sangat kuat dari sang istri.


"Sayang, jangan ngebut! Bahaya!" teriak Diandra yang saat ini merasa jantungnya berdegup kencang ketika sang suami menambah kecepatan di lampu merah ketika detik-detik menjelang pergantian lampu.


Ia bahkan langsung mengarahkan cubitan sangat kuat untuk memberikan hukuman. "Jangan laporan hal seperti ini lagi!"


Austin yang tidak mungkin menceritakan ada orang mencurigakan membuntuti, sehingga kini meringis dan mengungkapkan penyesalan. "Maaf, Sayang karena tadi khilaf. Ya ... ya, aku janji tidak akan melakukannya lagi."


Kemudian berbelok ke arah bangunan luas yang menjual berbagai macam furniture perlengkapan rumah tangga. Ia saat ini sudah memarkirkan kendaraan di tempat yang tersedia dan langsung beranjak keluar.


Ia berjalan memutar untuk membukakan pintu sang istri. "Ayo, Sayang."


Diandra yang masih kesal, hanya mengerucutkan bibir dan tidak menanggapinya. Namun, ia mengerutkan kening begitu melihat toko di depannya.


"Memangnya mau membeli apa kita ke sini?" Diandra yang saat ini sudah berjalan dengan digandeng oleh sang suami, penasaran apa yang diinginkan oleh pria itu hingga membawanya ke sana.


Sementara Austin sama sekali tidak menjawab karena ingin sang istri melihat sendiri apa yang akan dibeli. Ia sudah disambut oleh pegawai yang bertanya ingin mencari apa.


"Biar saya lihat-lihat dulu," ucapnya yang langsung mencari ke area yang dipenuhi oleh berbagai macam ranjang karena memang ingin membeli yang baru dan menganggapnya malam ini adalah momen bulan madu saat sang istri sudah bisa berjalan kembali.


Sementara itu, ia mulai berjalan memilih ranjang dan membuat gerakan mengukur satu persatu yang sesuai dengan keinginannya.


Awalnya Diandra terus mengikuti sang suami melakukan apapun yang ingin dibeli. Hingga ia mengetahui jika yang akan dibeli oleh sang suami adalah ranjang. Saat berniat untuk mengatakan jika ranjang yang berada di dalam kamar masih bagus dan nyaman, tidak jadi melakukannya ketika melihat perbuatan konyol sang suami.


"Astaga!" Diandra seketika membuka mulut karena otaknya saat ini dipenuhi oleh hal-hal bersifat liar karena tadi sang suami mengukur ranjang yang pas dengan gerakan seperti tengah bercinta.


Bahkan ia menelan saliva dengan kasar kala membayangkan jika nanti suaminya tersebut akan melakukan gaya itu, yaitu ***** *****. Refleks ia kembali mencubit pinggang kokoh pria yang membuatnya sangat malu.


"Astaga, Sayang! Apa yang kamu lakukan? Bikin malu saja tahu nggak!" Ia sebenarnya tidak berniat untuk mengikuti pria yang masih kalau menemukan ukuran yang pas untuk bercinta.


Namun, tidak mungkin sendirian dan seperti orang hilang di tempat yang sangat luas itu, sehingga mau tidak mau tetap mengikuti sang suami yang sibuk memilih ranjang.


"Kenapa? Apa kamu malu? Kita kan adalah suami istri, Sayang. Tidak perlu malu karena memilih ranjang yang pas sangatlah penting," seru Austin yang kembali melanjutkan mencari ukuran yang pas dengan posisi berdiri nanti.


Hingga ia melihat terlalu wajah memerah sang istri yang malu dan hanya ditanggapi dengan terkekeh.


"Dah lah, terserah kamu saja, Sayang." Diandra yang seperti tidak mempunyai muka lagi bersama dengan sang suami yang dianggap sangat mesum dan liar, kini memilih untuk menunggu agak jauh.


Hingga ia seketika geleng-geleng kepala melihat sang suami yang berteriak padanya.


"Sayang, ini yang pas. Kemarilah!" teriak Austin yang sudah memilih ranjang dan berniat untuk meminta pendapat sang istri.


Diandra semakin malu ketika terpaksa menghampiri sang suami. Bahkan ia sampai memijat pelipis ketika mendapatkan tatapan dari beberapa pegawai. 'Rasanya sekarang aku ingin memukul kepalanya karena telah membuatku tidak punya muka di sini.'


"Ada apa?" Ia kini berusaha untuk bersikap biasa dan tidak menampilkan rasa malunya seperti yang dikatakan oleh sang suami karena merupakan pasangan suami istri yang.


"Ini kamu suka atau tidak? Atau mau pilih warna yang lain?" tanya Austin yang masih ingin mempertimbangkan pendapat sang istri.

__ADS_1


Refleks Diandra menggelengkan kepala karena tidak ingin berlama-lama berada di sana. "Sudah, ini saja. Sekarang kita pulang sekarang karena aku sangat malu!" Berbisik di dekat daun telinga sang suami agar segera menuruti keinginannya untuk pulang ke rumah.


To be continued...


__ADS_2