Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Sushi


__ADS_3

Setelah Mirza pergi, kini Diandra merasa bingung karena berada di dalam ruangan hanya berdua dengan seorang pria yang bahkan baru ditemui.


Ia berniat untuk segera pergi dan tidak ingin lama-lama berduaan dengan pria yang merupakan seorang playboy seperti yang dikatakan oleh sang dokter.


 


"Aku harus segera pergi." Diandra merasa ragu harus memanggil apa


Tidak mungkin ia memanggil hanya nama karena pria itu akan menjadi atasannya, sehingga kini kembali membuka suara, "Jadi, besok aku ... ah, saya benar-benar bisa bekerja di sini, kan, Tuan Austin?"


Austin refleks menarik pergelangan tangan kiri Diandra dan berakhir terempas di sofa sebenarnya.


"Kenapa harus buru-buru? Bukankah aku belum memberitahu mengenai masalah pekerjaan yang akan kau lakukan di perusahaan ini?"


Dengan perasaan tidak enak, Diandra akhirnya terpaksa menganggukkan kepala. "Baiklah, kalau begitu saya akan mendengarkan semua dan langsung pulang,"


Diandra berpikir akan mengucapkan terima kasih karena sudah diberikan kesempatan. Satu-satunya harapan besar untuk mengubah takdir buruk hidupnya saat membayangkan bisa bekerja di sebuah perusahaan besar.


Sementara itu, Zayn kini mulai menjelaskan mengenai posisi yang akan ditempati oleh Diandra besok.


Di sisi lain, Diandra terlihat serius menjelaskan dengan memasang indra pendengaran lebar-lebar agar tidak ada yang terlewat sedikit pun.


Hingga beberapa saat kemudian, Austin tersenyum simpul begitu mendengar suara dari luar dan membuka suara, "Masuk!"


Diandra yang kini menatap ke arah pintu yang terbuka dan ada seorang pria dengan setelan jas lengkap seperti yang dikenakan oleh Austin tersenyum simpul saat menyapa dan membungkuk hormat.


"Ini makanan dan obatnya, Presdir." Kemudian menaruh di atas meja. "Apa ada yang Anda butuhkan?" ucap pria yang tak lain adalah asisten pribadi sang pemimpin perusahaan tersebut.


Refleks Austin hanya mengangkat tangan untuk mengibaskan tangan. "Jika ada, aku akan menghubungimu lagi."


Sengaja ia segera mengusir pria yang terlihat seperti sedang bersikap seperti mata-mata karena selama ini selalu melaporkan semuanya pada sang ayah karena memang diperintahkan untuk mengawasi apapun yang dilakukannya.


Austin kini masih menatap tajam asisten yang langsung berbalik badan dan menghilang di balik pintu. Kemudian beralih menatap ke arah Diandra dengan menunjuk pada makanan dan obat.

__ADS_1


"Makan dan minum obat sebelum pergi! Anggap itu adalah ucapan terima kasihku." Austin tadi mengirimkan pesan pada asisten untuk membelikan makanan dari restoran mahal yang menjadi tempat makan favorit keluarga.


Ia yakin jika wanita itu belum pernah makan makanan mahal karena melihat dari penampilannya. Jadi, ingin menampilkan kekaguman karena langsung memberikan makanan enak dan mahal.


Saat tidak nyaman dan ingin segera hengkang dari sana, tapi tidak kunjung bisa, akhirnya Diandra mengucapkan terima kasih dan mulai membuka makanan di atas meja.


Begitu melihat makanan yang belum pernah ia makan, tapi sering melihat makanan jenis itu, Diandra mengerjapkan mata melihatnya.


Bahkan saliva sudah terjun bebas ke tenggorokan karena ingin segera menikmati makanan khas Jepang itu.


'Wah ... ini sushi. Makanan khas Jepang yang jenisnya ada bermacam-macam, dan mempunyai ciri khas tersendiri. Melihat beberapa dibungkus nori dan nasi dengan isian macam-macam, membuatku ingin segera melahapnya.'


Meskipun hanya bisa mengungkapkan perasaan senang di dalam hati, tapi Diandra berakting biasa karena tidak ingin terlihat kampungan.


"Sebenarnya tidak perlu melakukan ini," ucap Diandra yang melaju mengambil satu potong dengan sumpit.


Namun, ia sedikit kesusahan karena memang tidak bisa memakai sumpit. Bahkan di kampung, ia makan mie ayam hanya dengan garpu ketika disediakan sumpit. Antara tidak bisa dan tidak telaten untuk belajar menggunakan meskipun sudah diajari teman.


"Biar aku ajari!" Austin yang tidak sabar melihat Diandra kesusahan mengambil sushi, kini menunjukkan bagaimana cara memegang sumpit yang benar.


"Jadi, jarimu harus seperti ini!"


Diandra yang kini menatap serius pada jemari Austin, mencoba untuk memahami seperti apa yang benar dan mulai praktek seperti yang ditunjukkan.


Namun, ia gagal karena tetap tidak bisa. "Aaah ... susah. Aku tidak suka yang ribet seperti ini karena terbiasa makan pakai tangan telanjang." Kemudian menaruh sumpit di atas meja dan langsung mengambil dengan tangan dan memasukkan ke dalam mulut sambil mengunyah.


Sementara itu, Austin hanya mengerjapkan mata melihat sikap wanita yang sangat percaya diri di depannya. "Astaga! Kenapa hal sepele saja susah kamu pahami?"


"Bagaimana jika pekerjaan di perusahaan ini membuatmu pusing. Apa kamu akan menyerah?" Austin melihat Diandra memilih sushi kesukaannya dan membuatnya tersenyum simpul.


"Itu adalah Gunkan sushi yang sekilas mirip dengan norimaki, tapi itu bentuknya lebih lonjong dan sedikit tinggi seperti kapal perang, sehingga dinamakan gunkan."


"Tidak hanya dibungkus lembaran rumput laut kering atau nori, gunkan juga sering dibungkus menggunakan irisan mentimun yang tipis atau zukini segar. Enak, bukan?"

__ADS_1


Diandra yang pertama kali mengunyah makanan khas Jepang tersebut, awalnya berpikir jika itu rasanya sangat lezat, tapi ia merasa jika radang sangat aneh dan tidak cocok di lidah.


'Jadi seperti ini rasanya sushi? Aku lebih suka nasi pecel dan nasi tumpang di desaku daripada ini,' gumam Diandra yang kini berakting menganggukkan kepala dan tersenyum.


"Iya, enak. Ternyata makanan para orang kaya seenak ini." Diandra jadi ingat makan nasi uduk dengan sambal terasi dan menurutnya jauh lebih nikmat dari sushi tersebut.


"Kalau begitu cepat habiskan, agar bisa minum obat karena perut tidak boleh kosong." Austin kini merasa bangga ketika ia bisa membuat Diandra kagum padanya karena membelikan makanan mahal sekaligus belum pernah dicoba oleh wanita itu.


Diandra yang merasa mau muntah karena tidak cocok dengan makanan itu, merutuki kebodohannya karena tadi berbohong.


'Bagaimana bisa aku makan semua ini? Bahkan aku merasa seperti mau muntah karena ini isiannya mentah.'


Diandra berpikir ingin menghormati niat baik seorang pria di sebelahnya tersebut dan kembali mengambil sushi jenis lain.


"Sepertinya kamu tidak suka Gunkan itu yang disajikan dengan nasi dibalut irisan kulit mentimun Jepang tipis dan nori. Dengan diberi topping yang melimpah, sehingga dihasilkan ciri khas rasa yang unik dan segar ketika disantap."


"Ada banyak jenis toping yang digunakan. Ada telur ikan, daging ikan, irisan daging sapi atau ayam, udang, gurita, cumi-cumi dan lainnnya. Aku lebih suka udang dan gurita." Austin kini menunjuk ke arah beberapa jenis sushi yang ada dalam kotak tersebut.


"Ini Norimaki, Nigiri, Uramki, Inarizushi. Aku janji pesan empat jenis saja. Sebenarnya ada banyak jenis, tapi pasti kamu tidak akan habis." Austin menoleh ke arah samping kiri.


"Aku sedang meresapi kelezatan dari sushi ini, jadi jangan menjelaskan karena aku bisa tidak konsentrasi saat memakannya."


Merasa jika pria itu sangat cerewet dan berisik, sehingga ingin mengakhirinya. "Setelah makan, ia ingin segera bisa pergi." 


"Sepertinya kamu saat ini menganggap aku sangat cerewet ya? Baiklah, aku akan diam. Habiskan makanannya karena aku harus kembali bekerja."


Austin bangkit berdiri dari posisinya karena tidak ingin mengganggu saat wanita itu menikmati makanan.


"Tuan, apa boleh kubawa pulang makanannya? Ini terlalu banyak, tidak mungkin aku bisa menghabiskan sendiri. Aku juga harus segera pergi karena tidak ingin ada staf yang melihat sedang berada di ruangan ini."


 


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2