
Diandra yang menunggu cukup lama di kursi, kini tidak sabar untuk segera bertemu dengan pria yang membawa tasnya. Merasa bahwa saat ini tengah dikejar waktu demi menyelamatkan sang ayah, kini tidak bisa tenang karena setiap detik baginya sangat berharga.
Ia ingin segera menghubungi Austin agar segera menolongnya. Kini, ia bangkit berdiri dari tempat duduk dan berjalan masuk ke dalam IGD untuk mencari pria bernama Yoshi itu.
Karena urusannya sudah selesai setelah menolong wanita yang mengalami kecelakaan tadi. Dengan mengedarkan pandangan ke sekeliling, Diandra bahkan sampai menjadi orang yang tidak sopan karena sedikit meningkat beberapa tirai untuk mencari pasien yang tadi ditolong.
Ia berpikir bahwa pria itu mungkin sedang menunggu kekasihnya di dalam IGD. Hingga ia pun merasa sangat lega begitu melihat siluet belakang pria yang berada di sebelah kanan ranjang.
"Tuan."
Sementara itu, Yoshi yang baru saja selesai mengurus pendaftaran, berniat untuk berbicara dengan wanita yang saat ini sudah sadar. Namun, ia seketika menoleh ke belakang begitu mendengar suara wanita yang sangat dihafalnya.
"Oh ... kamu. Aku baru selesai mengurus pendaftaran dan administrasi untuk kamar perawatan. Kamu menunggu lama, ya?" tanya Austin yang kini masih menatap ke arah sosok wanita yang ada di hadapannya.
"Kenapa wajahmu pucat? Apa kamu sakit?" Yoshi tadinya menunggu jawaban dari wanita yang diketahui bernama Diandra tersebut, kini menoleh ke arah wanita di atas ranjang.
"Siapa wanita ini?" tanya Naura menatap intens dan mengingat-ingat sesuatu, tapi mendadak kepalanya terasa nyeri dan membuatnya meringis. "Aaarggh ...."
Diandra yang awalnya ingin segera mengambil tas miliknya, tadi langsung menggeleng ketika ditanya apakah sedang sakit dan khawatir begitu melihat kondisi wanita di atas ranjang perawatan tersebut.
"Naura? Lebih baik kamu istirahat tanpa memikirkan apapun karena erat benturan di kepalamu membuatmu gegar otak. Nasib baik kamu tidak sampai amnesia dan tidak mengenaliku. Wanita inilah yang tadi menolong dengan membawamu ke rumah sakit,"ucap Yoshi yang gini mengusap lembut lengan Naura.
"Aaah ... pantas saja aku tadi seperti pernah melihatmu. Maaf karena tadi pandanganku kabur saat meminta tolong padamu. Terima kasih atas bantuannya." Kini, Naura mengulurkan tangannya.
Refleks Diandra menyambut uluran tangan itu dan tersenyum. "Sesama manusia sudah selayaknya menolong orang yang membutuhkan. Semoga kamu segera sembuh. Aku harus pergi karena ada urusan penting."
Kemudian Diandra mengulurkan tangan untuk meminta tasnya dan ini segera pergi dari rumah sakit agar bisa segera menemui Austin.
Sementara itu, Yoshi seketika memberikan tas yang tadi ia taruh di atas kursi. Tak lupa memberikan sebuah kartu nama miliknya. "Jika memerlukan sesuatu, hubungi aku di nomor ini. Sekali lagi terima kasih karena sudah menolong Nauraku."
Austin sengaja tidak menceritakan bahwa ia tadi sudah mentransfer uang yang dibutuhkan untuk biaya operasi ayah wanita di hadapannya tersebut karena merasa yakin jika nanti atau besok, pasti akan menghubunginya.
Diandra yang langsung menerima kartu nama berwarna gold dengan simbol elang dan tulisan timbul itu, kini tersenyum simpul serta menganggukkan kepala.
"Baik, Tuan. Semoga kekasih Anda segera sembuh seperti sedia kala. Kalau begitu, saya permisi." Diandra lalu berlalu pergi tanpa mendengar tanggapan dari wanita dan pria yang dianggap adalah pasangan kekasih tersebut.
Bahkan ia berjalan terburu-buru seperti sedang mengejar sesuatu. Tanpa menoleh ke belakang lagi karena hari ini ia sudah mengambil keputusan bulat untuk pertama kali dalam hidupnya dengan mempertaruhkan harga diri sekaligus kesuciannya.
__ADS_1
Sementara itu di ruang IGD, pria dan wanita yang berada di salah satu ruangan itu tertawa karena mengingat perkataan dari wanita yang baru saja berlalu pergi dari sana.
"Kekasih?" Naura terkekeh geli sambil memegangi kepala yang masih terasa nyeri. "Sejak kapan aku menjadi kekasih sepupu sendiri? Astaga! Wanita itu ternyata salah paham padaku."
"Kenapa Brother tidak memberikan uang untuk wanita itu sebagai tanda terima kasih?" tanya Naura biasa aja ingin melihat sepupunya juga tertawa, sama sepertinya.
Yoshi tadinya bersitatap dengan sepupunya begitu mendengar perkataan wanita yang beralu pergi dari ruangan IGD. Kemudian terbahak karena kesalahpahaman.
"Dia pasti salah paham karena aku memanggilmu Nauraku. Wah ... jadi mati pasaran aku. Padahal aku sampai sekarang belum mempunyai kekasih. Sepertinya aku tidak akan memanggilmu lagi seperti itu."
"Salah sendiri," ucap Naura yang menjulurkan lidahnya sambil terkekeh geli karena tidak bisa terbahak ketika kepalanya masih terasa nyeri.
"Kenapa tidak memberinya uang sebagai ucapan terima kasih?" Sekali lagi Naura bertanya karena sepupunya belum menjawab pertanyaannya barusan.
Namun, seketika ia membolehkan mata begitu mendengar jawaban dari sepupunya yang tidak pernah disangka.
"Aku baru saja mentransfer 130 juta ke rekening ibunya yang tadi mengatakan membutuhkan biaya untuk operasi suami. Aku yakin jika wanita yang bernama Diandra itu pasti akan menghubungiku setelah mengetahuinya. Makanya tadi memberikan kartu namaku padanya."
Austin saat ini ingin sekali mencubit pipi sepupunya yang menggemaskan karena mengejeknya habis-habisan saat tulus menolong seseorang.
"Oh ... jadi, nyawamu hanya seharga lima juta?" sahut Yoshi yang saat ini mencoba untuk menyadarkan sepupunya tersebut agar tidak menganggap bahwa uang adalah segalanya.
Bahwa uang tidak akan berharga jika tanpa nyawa. Ia bisa memposisikan diri dalam keadaan apapun dan berharap sepupunya yang masih labil itu sadar bahwa apa yang dikatakan tadi mewakili diri sendiri.
"Apa maksudmu, Brother? Nyawaku jelas mahal lah. Apalagi aku adalah keturunan keluarga Narendra yang termasuk konglomerat di kota ini." Naura benar-benar kesal karena perkataan dari sepupunya.
Hingga ia seketika tersadar karena tertampar dengan penjelasan pria yang merupakan putra dari kakak kandung sang ayah.
"Jika tadi wanita itu tidak cepat menolongmu untuk mengantarkan ke rumah sakit, mungkin saja terjadi pendarahan pada otakmu karena efek benturan di kepala."
"Lalu, kamu koma dan mungkin tidak bisa bangun lagi. Aku bahkan menganggap uang yang baru saja aku transfer tidak ada apa-apanya dibandingkan nyawamu. Apa sekarang kami sadar dengan kesalahanmu?"
Austin yang baru saja menjelaskan panjang lebar demi bisa membuat sepupunya yang manja mengerti bahwa arti uang memang sangat penting bagi manusia, tapi tidak jauh lebih penting dari nyawa atau kesehatan.
Karena sebanyak apapun uang, jika tubuh tidak sehat ataupun nyawa melayang, itu sama sekali tidak berharga. "Makanya ada kalimat 'Nikmat mana lagi yang Kau dustakan'. Itu sudah mewakili apa yang kau jelaskan tadi."
Seketika Naura terdiam karena semua penjelasan dari sepupunya memang benar dan kini ia menyadari kesalahan. "Iya, Brother. Aku sekarang mengerti. Jadi, jangan ceramah lagi karena saat ini aku benar-benar pusing."
__ADS_1
Saat Yoshi geleng-geleng kepala mendengar kalimat terakhir dari sepupunya, ia kini membahas mengenai hal yang sempat dilupakan. "Sekarang ceritakan bagaimana bisa kamu menabrak pohon tidak bersalah yang berada di pinggir jalan."
"Astaga!" Naura merasa kesal mendengar kekonyolan dari sepupunya yang lebih membela pohon daripada dirinya. "Pohon itu tetap bersalah karena berada di sana saat aku kehilangan kendali."
"Kenapa bisa kehilangan kendali? Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kamu ngantuk saat mengemudi? Lain kali bawa supir. Jika sampai paman dan bibi melihat putrinya berakhir di sini, pasti akan merasa khawatir sekaligus memarahimu karena tidak bisa berhati-hati saat mengemudi."
Yoshi yang baru saja menutup mulut, kini bener ngantuk punya tidur siang disediakan sebelah ranjang. "Kenapa lama sekali perawat yang akan membantu memindahkan ke kamar perawatan?"
Sementara itu, Naura kini mengingat kejadian yang membuatnya memilih untuk menabrak mobil saat perasaannya kacau balau setelah diputuskan sang kekasih karena orang ketiga.
"Bajingan Theo itu tadi memutuskanku dan mengatakan sudah punya wanita lain. Sialan! Gara-gara pria berengsek sepertinya, aku jadi berakhir di sini."
Naura benar-benar sangat marah ketika mengingat momen sebelum ia diputuskan. Padahal tadinya ia bersenang-senang dengan para sahabatnya di klab malam, tapi tanpa sengaja melihat sang kekasih bersama wanita lain.
Ia yang merasa murka, menghampiri sang kekasih dan berniat untuk melabrak, tapi malah diputuskan begitu saja. Semua temannya mengetahui dan membuatnya malu. Jadi, hal itu hanya membuatmu membantu setir ke arah pohon besar di tepi jalan raya.
Sementara itu, Yoshi kini mulai mengerti dan sama sekali tidak ingin berkomentar karena hati memang tidak bisa disalahkan dalam hal apapun. Ia membiarkan sepupunya menangis agar melepaskan semua perasaan membuncah.
'Cinta terkadang membuat orang bahagia dan terkadang sakit tak terperi hingga meninggalkan luka yang begitu dalam. Aku ingin memiliki cinta yang hanya memberikan kebahagiaan tanpa meninggalkan luka.'
'Apakah bisa? Apakah di dunia ini ada wanita yang tulus mencintai dan tidak akan pernah mengkhianati untuk menyakiti hati?' gumam Yoshi yang saat ini merasa bahwa ia tiba-tiba menjadi seorang pria naif karena berpikir sesuatu yang tidak mungkin.
Karena ia mengetahui bahwa semua yang ada di dunia ini ada pasangannya. Mulai dari baik dan jahat, kaya dan miskin, pria dan wanita serta masih banyak lagi yang belum disebutkan.
Ia selama ini tidak ingin mencari hubungan dengan para wanita yang selalu mendekatinya karena uang dan kekuasaan yang dimiliki oleh.
Berharap suatu saat bisa menemukan wanita yang sangat tulus mencintainya tanpa memandang harta dan tahta karena ia tidak pernah mempermasalahkan sesuatu yang disebut kasta.
Baginya, kasta tidak berlaku di mata Tuhan karena yang dilihat hanyalah kebaikan hati.
Lamunan Yoshi seketika sirna begitu melihat perawat baru saja datang dan mengatakan akan memindahkan sepupunya ke ruangan terbaik di rumah sakit.
Sementara itu, Yoshi yang berjalan di belakang untuk mengikuti berangkat yang didorong menuju ke ruangan, ini mengingat sosok wanita yang tadi menolong sepupunya.
'Diandra, sepertinya ia adalah seorang wanita yang baik,' gumam Yoshi yang kini mengingat sosok wanita yang dianggap Dewi penyelamat tersebut.
To be continued...
__ADS_1