
Austin saat ini hanya tertawa terbahak-bahak menanggapi perintah dari Diandra yang berapi-api kala murka padanya. Ia bahkan sama sekali tidak tertarik untuk menuruti kemauan wanita yang dianggapnya sangatlah arogan dan keras kepala.
Hingga ia pun kini memilih untuk mengeluarkan ponsel miliknya dan tentu saja menghubungi sosok pria paruh baya yang tadi telah memberikan lampu hijau padanya.
"Lebih baik aku bicara pada calon ayah mertua untuk meminta pendapat darinya." Austin tadi sudah meminta nomor ponsel ayah Diandra dan kini hendak memencet tombol panggil pada kontak yang diberi nama camer.
Namun, belum sempat melakukan itu, ia menatap tajam ke arah Diandra yang secepat kilat telah merebut ponselnya dan kembali mengumpat.
"Aku akan membuang ini di jalan raya agar terlindas mobil jika sampai kau menghubungi orang tuaku!" sarkas Diandra yang kini mengangkat tangan ke atas dan mengancam hanya untuk menggertak saja.
Ia tahu jika benda pipih di tangannya adalah barang mahal dan tidak mungkin bisa ia beli. Akan tetapi, tidak perduli karena yakin jika pria yang terlihat sangat santai di hadapannya seperti sama sekali tidak khawatir jika ponsel di tangannya hancur jika dilemparnya ke jalan raya.
Hingga ia membulatkan kedua mata begitu mendengar suara bariton dari Austin.
"Silakan saja! Aku bisa membeli sepuluh ponsel seperti itu dan sama , sekali tidak akan marah padamu. Ternyata benar apa kata banyak orang. Bahwa wanita itu adalah racun dunia yang bisa menghancurkan pria.
"Kamu tahu, Sayang bahwa aku saat ini hanya ingin bersamamu. Meskipun kamu marah atau menyakitiku, tidak akan mempermasalahkannya karena aku sangat dan sangat mencintaimu. Aku hanya ingin menikah denganmu dan tidak menginginkan wanita lain!"
Austin yang kini seketika menarik pergelangan tangan kiri Diandra yang tidak memegang ponsel miliknya hingga terhempas ke dadanya, lalu menahan pinggang ramping itu saat hendak kabur dari kuasanya.
"Meskipun kamu bilang tidak memakai uang dariku sepeser pun, tetap saja aku tidak akan pernah menerimanya jika sampai kamu berniat untuk mengembalikannya!" Austin yang kini tersenyum smirk kala Diandra bergerak untuk membebaskan diri.
__ADS_1
"Lepaskan aku, berengsek! Atau aku akan berteriak agar kau dihajar massa! Dasar pria bajingan yang tidak tahu malu!" sarkas Diandra yang masih terus berusaha menggerakkan tubuhnya yang tidak ada jarak dengan Austin karena saling menempel.
Bahkan ia sama sekali tidak memikirkan tentang hal seperti ini akan dilakukan oleh Austin karena memilih bertemu di tempat umum. Namun, memang karena saat ini sudah tengah malam, sehingga di sana sangat sepi.
Hanya ada lalu lalang kendaraan yang melintas di jalan raya dan ia berharap jika berteriak, akan ada yang menolongnya jika sampai Austin menculiknya.
Namun, tidak pernah menduga jika Austin berani melakukan hal yang sangat intim padanya dengan memeluknya sangat erat hingga tidak ada jarak di antara mereka.
"Maki aku sesukamu, Sayang karena cintaku tidak akan berkurang sedikit pun. Ingat baik-baik di kepalamu, aku tidak akan pernah membiarkanmu bersama dengan Yoshi." Austin makin mengeratkan pelukannya agar tidak ada jarak di antara mereka.
"Bahkan aku akan melakukan apapun untuk memisahkan kalian, termasuk mengatakan pada orang tua Yoshi bahwa kamu sudah tidak perawan karena telah bercinta denganku!" Kemudian melepaskan tangannya yang dari tadi melingkar di pinggang ramping Diandra.
Diandra yang sangat marah, kini mengarahkan pukulan bertubi-tubi pada sosok pria yang menghancurkan harapannya, sehingga kali ini hanya ingin melampiaskan amarahnya.
Namun, meskipun ia sudah meluapkan emosi yang membuncah di dalam hati, tetap tidak bisa mengobati perasaan terlukanya. Hingga ia pun kini merasa tenaganya seolah terkuras habis dan lunglai.
Sampai ia lunglai dan berjongkok di tanah sambil menatap sepatu pantofel hitam berkilat itu. Kini, ia sadar jika amarah tidak membuatnya lepas dari kuasa pria itu.
"Apa aku harus menyembah kakimu agar melepaskanku? Aku mohon jangan ganggu aku dan lepaskan aku karena sama sekali tidak pernah mencintaimu. Ada banyak wanita di dunia ini, jadi jangan menginginkanku karena sampai mati pun, aku tidak akan pernah bisa mencintaimu."
Diandra yang berbicara dengan posisi berjongkok di bawah kaki Austin dan suaranya bahkan terdengar sangat serak karena tengah menahan tangis. Seolah mewakili perasaannya saat ini kala ingin lepas dari sosok pria yang kini malah menyamakan posisi dengan berjongkok di depannya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa karena seperti yang kukatakan tadi, hanya menginginkanmu, bukan wanita lain. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku karena akan memberikan banyak cinta untukmu." Austin kini mengusap lembut pipi putih Diandra yang dari tadi menundukkan kepalanya menatap ke tanah.
Ia sebenarnya merasa sangat terluka karena melihat wanita yang dicintai sangat memelas dan memohon untuk dilepaskan, tapi rasa egoisnya jauh lebih besar karena tidak ingin memikirkan tentang perasaan Diandra yang sama sekali tidak mencintainya.
"Seharusnya dari awal kamu sudah sadar jika usahamu untuk menemuiku tidak akan membuahkan hasil. Jadi, sekarang bangkitlah karena aku akan mengantarmu pulang." Austin melirik jam tangan mahal miliknya yang melingkar di pergelangan tangan kiri
"Ini sudah tengah malam. Tidak baik wanita berada di luar jam segini! Jika kamu tidak bangun, aku akan menggendongmu!" Austin yakin jika Diandra akan patuh padanya kali ini, sehingga kini bangkit berdiri dari posisinya yang awalnya berjongkok.
Hingga ia pun kembali mendengar suara umpatan dari sosok wanita yang mendongak menatapnya dan sama sekali tidak merasa tersinggung atau pun marah.
"Austin, kau benar-benar bajingan tengik! Aku tidak sudi kau antarkan karena bisa pulang sendiri!" Kemudian ia berniat untuk menyeberang jalan, tapi seketika ia menjerit keras kala merasakan tubuhnya terangkat ke atas karena sudah berpindah ke tangan kekar pria yang sangat dibencinya.
"Dasar keras kepala dan arogan! Kamu memang benar-benar lebih suka dipaksa!" sarkas Austin yang saat ini merasa sangat kesal dan tidak perduli pada teriakan Diandra
.
"Turunkan aku, berengsek! Aku akan berteriak agar kau dihajar massa!" Diandra berniat untuk membuka suara dan mengeluarkan lengkingan suaranya untuk meminta bantuan. Namun, tidak jadi melakukannya kala ada dua pria menghampiri.
"Apa yang kalian lakukan tengah malam begini? Apa kalian mau masum di sini?" tanya dia pria yang dari tadi mengamati interaksi antara pria wanita tersebut.
Merasa punya kesempatan, kini Diandra seketika membuka suara untuk meminta tolong karena khawatir jika sampai terjadi sesuatu hal yang buruk jika sampai benar-benar diantar oleh Austin.
__ADS_1
"Tolong aku, Pak! Pria ini berniat untuk menculikku!" teriak Diandra yang kini berharap dua pria itu akan menyelamatkannya .
To be continued...