Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Jiwa kemiskinan meronta-ronta


__ADS_3

Diandra melihat Yoshi kembali dengan membawa banyak coklat yang tadi dikatakannya. Ia bahkan membulatkan mata karena melihat banyaknya coklat yang saat ini dibawa oleh pria yang terkekeh melihat wajahnya terkejut.


Namun, ia sama sekali tidak bisa berkomentar apapun karena tengah mendengarkan suara dari sang ayah di seberang telepon mengenai masalah uang yang digunakan untuk operasi.


Refleks ia mengarahkan jari telunjuk pada bibirnya agar Yoshi diam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun agar tidak didengarkan oleh sang ayah dan juga ibunya di rumah sakit.


Sementara itu, Yoshi saat ini menganggukkan kepala karena ia sudah bisa menduga siapa yang saat ini berbicara di telepon dengan Diandra. Ia tahu bahwa Diandra tidak pernah berbicara dengan siapapun di telepon kecuali orang tua karena memang mengganti nomor setelah kabur dari Austin.


Ia bahkan melihat bibir Diandra yang tadi mengatakan sedang berbicara dengan sang ayah dan memilih untuk menunggu di sebelah wanita itu.


Hingga ia pun menaruh coklat di atas troli yang tentunya bercampur dengan sayuran dan ikan serta daging. Berharap bisa mendengar pembicaraan dari Diandra bersama sang ayah karena ia juga penasaran dengan apa yang dibicarakan.


'Apa Diandra yang menelpon orang tuanya? Ia pasti kepikiran Austin yang datang ke sana.' Hingga ia pun bisa mendengar suara laki-laki dari seberang telepon.


"Diandra, ibumu sudah mengatakan mengenai uang yang digunakan untuk operasi Ayah adalah dari pria baik bernama Yoshi. Namun, kenapa beberapa saat kemudian ada transferan uang lagi sejumlah yang sama dan ibumu menjelaskan itu adalah pinjaman dari bosmu?"


Diandra saat ini menatap ke arah sosok dia yang berdiri di sebelahnya dan langsung mengungkapkan cerita yang dilandasi dengan kebohongan karena tidak ingin sang ayah khawatir.


"Ayah, sebenarnya mengenai uang dari pinjaman bosku itu datang terlambat setelah Yoshi mentransfer saat aku menolong sepupunya di rumah sakit dan mendengar semuanya dari cerita ibu. Jadi, saat aku mengetahui bahwa bos mengirim uang, berniat untuk, tapi ia tidak mau karena Katanya sudah terlanjur masuk dalam daftar pinjaman."


Diandra sebenarnya merasa sangat konyol berbicara seperti itu pada sang ayah, tapi tidak tahu harus beralasan apa lagi untuk mengatakan bahwa ia mendapatkan uang itu karena menjual diri dan tidak mungkin dikembalikan setelah kehilangan keperawanannya.


Namun, ia juga tidak ingin menikmati uang itu walau satu peser pun. Jadi, karena itulah ia tidak mau sang ibu mentransfer uang padanya.


Diandra bahkan merasa jijik memakai uang hasil dari menjual diri. Kini, ia merasa bahwa apa yang dikatakan oleh sang ayah jelas-jelas menunjukkan rasa curiga padanya dan meminta penjelasan.


Ia berharap penjelasan yang baru saja diungkapkannya itu dipercayai oleh sang ayah dan tidak lagi berpikir macam-macam pada putri sendiri. Meskipun sebenarnya ia sangat takut jika sampai Austin mengatakan hal yang tidak ingin ia ungkapkan pada orang tuanya.


Hingga ia pun berpikir bahwa sesuatu yang baru saja dikarangnya tersebut adalah jalan satu-satunya untuk membuat sang ayah tenang dan tidak berpikir macam-macam lagi.


Diandra saat ini merasakan genggaman erat dari tangan Yoshi seolah memberikan sebuah ketenangan untuknya agar tidak berpikir macam-macam.


Bahwa pria itu seolah menjelaskan akan selalu bersamanya sampai titik terakhir. Ia benar-benar merasa menjadi seorang wanita berharga ketika berada di samping Yoshi.


Namun, berbeda saat ia berada di dekat Austin, serasa menjadi seorang wanita yang sangat hina karena dinilai hanya dengan tubuhnya. Hal itulah yang membuatnya sangat membenci Austin sampai saat ini.


Bahkan meskipun pria itu datang padanya engan mengatakan akan menikahinya, ia sama sekali tidak tertarik.


Hingga ia pun merasa jika saat ini hanya Yoshi yang bisa menghargainya sebagai seorang wanita. Jadi, merasa pantas untuk bahagia bersanding dengan seorang pria baik seperti itu.


Kini, Diandra kembali mendengar pendapat dari sang ayah setelah ia berbohong.


"Jadi, bosmu tidak mau menerima uangnya karena alasan pinjaman sudah masuk dalam daftar? Lalu, bagaimana caramu untuk melunasinya, Diandra? Lebih baik kamu mengembalikan saja uangnya daripada harus susah payah membanting tulang untuk mencicilnya."


Pria paruh baya tersebut memberikan kode pada sang istri untuk mengembalikan uang yang berada di rekening.


Karena ia tidak pandai bermain ponsel dan menyerahkan semuanya pada sang istri.


"Ini memangnya uangnya mau ditransfer ke rekening Diandra atau bosnya?" tanya wanita paruh baya yang saat ini tengah menatap ke arah sang suami yang seperti dikuasai oleh kekhawatiran karena menyimpan uang banyak yang bukan miliknya.


Apalagi ia sebenarnya juga merasakan demikian dan berniat untuk mengatakan hal itu pada Diandra, tapi berpikir bahwa putrinya sudah berusaha keras untuk melakukan apa saja demi kesembuhan sang ayah.


Jadi, tidak berani untuk membahas karena takut serta khawatir putrinya akan berpikir tidak menghargai usahanya. Hingga sang suami sadar dan sudah jauh lebih baik, sehingga ia membahasnya dan akhirnya memilih untuk langsung berbicara pada putrinya tersebut.


Sementara itu, Diandra yang saat ini terdiam karena merasa bingung harus bagaimana menjawab perintah dari sang ayah. Ia tidak mungkin mengembalikan uang itu pada Austin karena sudah kehilangan keperawanannya.


Namun, ia juga tidak mau menerimanya karena benar-benar merasa seperti seorang wanita murahan jika sampai menikmati uang itu. Apalagi alasan menjual diri juga karena ingin digunakan untuk menyembuhkan sang ayah, bukan untuk bersenang-senang.


Diandra saat ini menatap ke arah Yoshi karena ingin meminta pendapat pada pria yang berdiri di sebelahnya tersebut. Ia bicara sangat lirih dengan gerakan mulut saja agar tidak terdengar oleh sang.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa yang harus kulakukan sekarang?"


Sementara itu, Yoshi saat ini berbisik di dekat daun telinga Diandra. "Bilang saja pada ayahmu bahwa nanti akan bertanya pada bosmu terlebih dahulu mengenai uangnya. Karena belum tahu apa yang harus dilakukan sebelum bertanya pada atasan."


Sementara itu, sang ayah yang berada di seberang telepon, dari tadi menunggu jawaban dari putrinya, tapi tidak kunjung mendapatkan dan membuatnya bertanya apakah putrinya masih ada di sana.


"Diandra? Kenapa diam saja?"


Diandra yang merasa bahwa perkataan dari Yoshi benar, sehingga membuatnya berpikir bahwa sang ayah tidak akan curiga padanya. Kemudian mengungkapkan alasan yang tadi diungkapkan oleh Yoshi.


Berharap sang ayah tidak memaksanya untuk menerima uang yang membuatnya merasa hina sebagai seorang wanita.


Ia berpikir akan mencari jalan lain untuk menyelesaikan masalah uang itu. Bahkan ingin tahu tujuan Austin datang ke rumah sakit menemui orang tuanya.


Ia bahkan sangat yakin jika orang tuanya akan membahas mengenai uang itu. Jadi, akan menunggu sampai sang ibu menelpon dan mengatakan mengenai kedatangan Austin ke rumah sakit.


"Oh ... jadi seperti itu? Baiklah Jika kamu ingin bertanya terlebih dahulu pada bosmu. Tapi yang jelas, ayah tidak ingin uang ini tetap berada di rekening karena kita sudah tidak membutuhkan setelah pria baik hati bernama Yoshi itu membantu kita tanpa pikir panjang. Tolong sampaikan ucapan terima kasih kami padanya."


Diandra saat ini melirik ke arah Yoshi dan melihat pria itu tengah tersenyum dengan wajah berbinar. Seperti seorang anak kecil yang belum pernah dipuji oleh orang tua karena terlihat sangat bahagia.


Ia pun merasa geli melihat respon dari Yoshi yang terlihat sangat menggemaskan karena hanya dipuji oleh sang ayah saja, sudah terlihat sangat bahagia seperti mendapatkan rezeki nomplok.


Hingga ia pun mulai mengiyakan perkataan sang ayah sambil masih tersenyum menatap ke arah pria yang dari tadi terlihat berbinar di sampingnya.


"Iya, Ayah. Aku akan menyampaikan terima kasih pada Yoshi atas nama kalian. Kalau begitu, ayah harus segera sehat dan bisa pulang ke rumah karena kasihan ibu menjaga di rumah sakit," ucap Diandra yang saat ini sambil berjalan bersama Yoshi untuk mengambil beberapa bahan-bahan yang lain.


"Baiklah, Ayah juga ingin segera pulang ke rumah. Kamu jaga kesehatan di sana dan jangan lupa makan. Baiklah, Ayah tutup teleponnya."


"Iya, Ayah. Salam buat Ibu." Kemudian Diandra mengucapkan salam perpisahan dan mematikan sambungan telepon begitu sang ayah sudah memutuskan panggilan.


Ia saat ini terdiam setelah memasukkan ponsel ke dalam tas miliknya. Kemudian ia menoleh ke arah sosok pria yang saat ini ada di sebelahnya.


Entah itu untuk modal usaha atau yang lainnya, tidak akan pernah ia halangi karena memang tidak akan menggunakannya.


Sementara itu, Yoshi saat ini juga merasa bingung karena jujur saja ia tidak bisa berpikir mengenai hal itu. Apalagi selalu saja membayangkan jika uang itulah yang menghancurkan Diandra hingga sampai ke titik ini.


"Lebih baik kita lihat dulu apa yang akan dilakukan Austin. Menurutku, orang tuamu akan mengembalikan uangnya langsung pada Austin karena dia sudah datang ke sana," ujar Yoshi yang saat ini membungkuk mengambil satu coklat yang tadi dibelinya.


Kemudian memberikannya pada Diandra agar menikmatinya. "Kamu makan saja coklatnya untuk meredakan perasaanmu yang sangat kacau. Makan makanan manis akan merubah mood mu yang buruk menjadi baik, bukan?"


Diandra yang tadi memang mengatakan hal itu pada Yoshi, kini menatap ke arah coklat yang bahkan belum sampai di meja kasir untuk ditotal.


"Kita bayar dulu," ucap Diandra yang mengembalikan coklat itu ke dalam troli.


Namun, Yoshi geleng-geleng kepala dan kembali mengambil coklat tersebut. "Tidak apa-apa kamu makan dan nanti ditunjukkan pada pegawai kasir. Kalau kasirnya marah saat kamu menikmati coklatnya, aku akan memarahinya."


Diandra saat ini hanya tertawa mendengar perkataan dari Yoshi dan akhirnya ia menuruti perintah pria itu dengan membuka coklat batangan dengan merk terkenal dan harganya sangat mahal bagi kaum menengah ke bawah sepertinya.


Kemudian menggigitnya dan menikmati rasa manis yang melumer di mulutnya. Ia dari dulu sangat suka coklat karena berpikir bisa mengembalikan mood-nya yang buruk menjadi lebih baik.


Hingga ia pun merasa sangat menikmati coklat itu dan menunjukkan pada Yoshi. "Aku dari dulu sangat suka coklat, tapi jarang membeli coklat merk ini karena harganya sangat mahal."


"Aku selalu mengambil coklat dengan harga paling murah," ucap Diandra yang kembali menikmati satu gigitan coklat batangan itu.


Ia menatap ke arah Yoshi yang hanya tertawa mendengar perkataannya yang kampungan karena mengatakan coklat itu sangat mahal. Ia tahu bahwa harga coklat itu tidak ada apa-apanya bagi pria itu dan merasa sikapnya sangat memalukan karena tidak bisa bersikap elegan seperti para wanita kebanyakan.


"Aku pasti sangat kampungan, bukan? Apalagi selalu saja membandingkan harga paling murah saat membeli sesuatu. Sementara kamu bisa ambil apa saja tanpa melihat harga. Perbedaan orang yang punya banyak uang dan memiliki uang pas-pasan ya seperti ini."


Diandra bahkan tidak merasa malu mengatakan apa yang ada di pikirannya saat ini karena ia adalah tipe perempuan yang bersikap apa adanya dan tidak munafik.

__ADS_1


Hingga ia pun merasakan nyeri pada pipinya karena dicubit oleh Yoshi yang malah tertawa mendengarnya berbicara jujur.


"Aku benar-benar jatuh cinta padamu Diandra. Aku suka sikapmu yang apa adanya dan berbicara sesuai dengan fakta yang kamu rasakan tanpa merasa malu ataupun jaga image seperti kebanyakan wanita sekarang." Yoshi bahkan sering bertemu dengan wanita yang mencari perhatian darinya dengan makan sangat elegan.


Padahal ia jauh lebih suka wanita sederhana yang makan tanpa bersikap berlebihan, seperti makan dengan sangat lambat ataupun sedikit-sedikit memakai tisu untuk membersihkan bibir ketika makan karena khawatir ada noda minyak ataupun yang lain menempel di sana.


Sementara itu, Diandra saat ini hanya tertawa begitu mendengar ungkapan cinta dari Yoshi yang membuatnya jujur saja merasa berbunga-bunga.


"Apa kamu benar-benar jatuh cinta pada wanita kampungan ini?" Diandra kemudian mendekatkan wajahnya untuk bisa berhadapan lebih dekat karena ingin menatap wajah pria yang dianggapnya sangat tampan itu.


"Aku ingin melihat apa yang tidak normal dari matamu," sahutnya yang ingin bercanda dan malah membuatnya kegelian karena mendapatkan gelitikan pada bagian pinggangnya.


"Dasar nakal!" umpat Yoshi yang tidak menunggu lama langsung memberikan hukuman pada Diandra.


Ia benar-benar sangat kesal karena tadi berpikir akan dicium oleh Diandra karena mendekatkan wajah. Hingga ia merasa sangat aneh melihat gelagat Diandra yang agresif, tapi ternyata malah menipunya dengan mengatakan candaan yang menurutnya menyebalkan.


"Rasakan ini!" umpat Yoshi yang saat ini sudah langsung memberikan hukuman agar Diandra merasa geli dengan perbuatannya.


Hingga Diandra yang kegelian dan merasa malu jika sampai menjadi pusat perhatian di supermarket tersebut, ketika menyatukan tangan agar tidak mendapatkan hukuman dari pria yang dari tadi menggelitiknya.


"Maaf. Jangan menggelitikku lagi karena sangat geli. Malu dilihatin orang!" ujar Diandra yang saat ini mengarahkan pandangannya ke sekeliling untuk mengecek apakah ada yang merasa terganggu dengan suaranya yang sangat berisik.


Hingga beberapa saat kemudian mendengar suara bariton dari Yoshi dan membuatnya merasa sangat lega karena pria itu sudah menghentikan hukuman untuknya.


"Makanya, kalau mau mengerjaiku, harus sekalian saja agar aku menyukainya. Tadi kupikir kamu mendekat karena ingin menciumku, tapi ternyata cuma mengerjaiku. Siapa yang tidak kesal?" sarkas Yoshi dengan wajah masam.


Sementara itu, Diandra saat ini hanya terkekeh geli mendengarnya. Ia pun tidak ingin kesalahpahaman dipikirkan oleh pria yang terlihat masam tersebut.


"Seorang Diandra mencium seorang pria? Bisa-bisa nanti ada angin topan begitu kita keluar dari Mall ini. Aku tidak akan melakukannya dan jangan berpikiran macam-macam padaku. Ayo, kita bayar karena menurutku ini sudah terlalu banyak."


Bahkan ia sudah memikirkan berapa nominal dari belanjaan itu. Mungkin jika ia menggunakan tabungannya, tidak akan cukup untuk membayar. Apalagi melihat jika ada daging kualitas super dengan harga mahal yang diambil oleh Yoshi.


Namun, melihat gelengan kepala dari pria itu, Diandra mengerutkan kening. "Kenapa? Apa ada lagi yang ingin kamu beli?"


Refleks Yoshi menganggukkan kepala. Ia dari tadi mengingat sesuatu dan membuatnya kini langsung ingat apa yang ingin dibeli untuk Diandra.


"Iya. Bukankah di kamar mandi tidak ada peralatan untukmu? Aku tidak ingin kamu menghabiskan punya Naura. Nanti ia mengamuk padaku dan meminta ganti dua kali lipat. Ia tidak akan berani kesal padamu dan pasti hanya akan mengomel padaku."


Kemudian Yoshi saat ini menggandeng tangan sosok wanita yang hanya diam saja sambil mengganggukan kepala tanda setuju pada perkataannya barusan.


Kemudian menyuruh wanita itu untuk mengambil peralatan mandi sesuai dengan keinginannya karena ia tidak tahu selera Diandra seperti apa, tapi ingin membelikannya kapan-kapan jika habis setelah mengetahui barang yang disukai wanita itu.


Diandra yang saat ini berdiri di antara hamparan peralatan mandi, membuat wajahnya berbinar karena di sana terlihat sangat lengkap pilihannya. Meskipun sebenarnya ia merasa bingung jika memilih di antara barang-barang yang sangat banyak itu.


Hingga ia pun mengambil peralatan mandi yang selama ini dipakai. Hanya saja, kali ini ada yang berbeda karena tidak mengambil sabun batang seperti biasanya saat menghemat. Ia mengambil sabun cair berukuran besar serta shampo dengan botol berukuran besar.


Padahal biasanya ia hanya menggunakan shampo sachet demi bisa menghemat. Namun, kali ini seolah ia ingin menguras uang sang konglomerat yang tergila-gila padanya.


Kemudian ia berbisik lirih di hadapan Yoshi. "Aku akan menguras habis uangmu hari ini, Bos. Jadi, siap-siap saja!"


Refleks Yoshi langsung menggunakan gerakan hormat dan tertawa. "Siap, calon istri bos. Kalau bisa, kuras setiap hari juga tidak masalah. karena aku bisa kembali mendapatkannya dengan mudah."


"Nanti setelah jadi istriku, jangan suka berhemat saat kuberikan uang belanja. Harus habis agar aku bisa memberimu lagi, oke!" Yoshi saat ini hanya tertawa melihat Diandra yang mengerucutkan bibir karena kesal pada perkataannya yang.


"Kamu benar-benar membuat jiwa kemiskinanku meronta-ronta karena perkataanmu," sahut Diandra yang saat ini menyuruh pria itu mendorong troli dan menuju ke kasir karena sudah cukup ia membeli.


"Cepat jalan, calon suami!" Akhirnya ia mengikuti apa yang dikatakan oleh Yoshi sambil tertawa berjalan meninggalkan pria yang sedang mendorong troli belanjaan.


To be continued...

__ADS_1


"


__ADS_2