
Pria yang saat ini berada di balik kemudi, sekilas menoleh ke arah istri dari majikannya tersebut yang dari tadi sama sekali tidak mengeluarkan suara dan membuatnya khawatir jika terjadi sesuatu hal buruk seperti trauma ketika melihat kecelakaan.
"Nyonya Diandra, apa Anda baik-baik saja? Apakah Anda merasa sangat shock ketika melihat kecelakaan di depan tadi?" Kembali fokus mengemudi dan ingin mendengarkan jawaban dari wanita di sebelahnya tersebut yang membuatnya khawatir jika sampai terjadi sesuatu hal yang buruk.
Ia tadi sudah menyuruh salah satu rekannya untuk mengabari bos mengenai kejadian kecelakaan yang dilihat oleh wanita di sebelahnya tersebut karena berada di barisan paling depan beberapa saat lalu saat berhenti di lampu merah.
Diandra yang tadinya tengah membaca semua informasi mengenai pria yang ingin Ia ketahui bagaimana kabarnya setelah mengalami kecelakaan karena seingatnya saat tersadar dulu, hanya melihat Austin pertama kali membuka mata.
Baru kemudian orang tuanya yang datang dan membuatnya makin tidak mengerti karena menipunya baru datang dari kampung. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah orang tuanya sudah lama tinggal di Bogor dan menjaga putranya.
Saat ia sama sekali tidak menemukan berita tentang Yoshi, ataupun kematian pria itu, masih mencoba untuk berpikir positif. Bahwa Yoshi masih hidup karena tidak ada yang menjelaskan informasi tentang kematian ataupun makam pria itu.
Ia yang tidak ingin membuat bodyguard curiga tentang apa yang dirasakan saat ini, Tini menoleh dan berbohong tentang apa yang dirasakan. "Ya, kamu benar. Aku benar-benar sangat terkejut ketika melihat mobil yang dihantam oleh truk itu terbalik dan ada seorang wanita di dalamnya seperti meminta tolong untuk segera dikeluarkan karena menahan rasa sakit luar biasa."
"Aku sebenarnya ingin sekali menolong, tapi tidak punya nyali dan membuatku bingung sampai terdiam. Itulah kenapa aku tidak tahu apa yang harus kulakukan tadi dan tetap diam di dalam mobil karena ketakutan." Menelan saliva dengan kasar dan perasaan membuncah merebak di seluruh urat sarafnya saat ini.
"Pasti wanita itu sangat kesakitan ketika tubuhnya terhempas begitu mobil terbalik. Aku benar-benar kasihan melihatnya tadi, tapi tidak berani melakukan apapun dan hanya terdiam hingga kamu sadarkan."
Diandra berbicara seperti itu karena bisa mengingat bagaimana rasa sakit yang menghantam tubuhnya ketika dulu kecelakaan bersama dengan Yoshi ketika dalam perjalanan pulang ke rumah setelah pernikahan.
Jadi, seolah mengetahui posisi wanita itu karena pernah mengalami sendiri hingga membuatnya hidup dalam sebuah sandiwara yang diciptakan oleh Austin beserta orang tuanya yang menipunya habis-habisan.
Ia seperti merasa hidupnya adalah sebuah konspirasi dari orang-orang yang dipercaya, seperti orang tuanya dan juga Austin sendiri yang membuatnya terlihat bodoh karena mempercayai perkataan mereka.
Hal yang membuatnya makin miris adalah menyerahkan diri dan mengatakan sangat mencintai pria yang di masa lalu sangat ia benci karena mendapatkannya dengan cara menciptakan konspirasi cinta.
Diandra tidak ingin ke gabah dan membuatnya berpikir jika ia harus berpura-pura masih mengalami amnesia untuk mengetahui semua hal mengenai rencana Austin beserta orang tuanya.
Ia juga ingin mencari tahu tentang Yoshi karena berpikir tidak akan bisa hidup tenang jika belum mengetahui bagaimana kabar pria yang sempat menikahinya dan tidak tahu hal yang selanjutnya terjadi.
Kini ia berpikir bahwa sang suami pasti sudah tahu tentang hal yang baru saja dialaminya karena bodyguard selalu melaporkan semua hal yang terjadi tanpa ada yang ditutupi. Ia sebenarnya ingin sekali melarang bodyguard untuk mengatakan kejadian kecelakaan yang dilihatnya, tapi sangat yakin jika tidak akan didengarkan oleh mereka.
Ia akan berpikir hanya akan membuat Austin Matteo yang sangat dibenci merasa curiga padanya, jadi memilih untuk bersikap biasa seolah tidak terjadi apapun padanya.
"Apa kalian sudah mengatakan semua yang terjadi hari ini pada bosmu? Pasti dia saat ini sangat mengkhawatirkanku," ucap Diandra yang tengah berakting untuk mencari tahu respon dari bodyguard yang disuruh oleh sang suami.
Sementara itu, pria dengan rambut cepak khas potongan tentara tersebut menganggukkan kepala untuk membenarkan pemikiran dari majikannya tersebut.
"Tuan Austin selalu memerintahkan pada kami untuk melaporkan apapun kejadian yang terjadi. Jadi, tadi langsung mengabarkan pada tuan dengan mengirimkan pesan, tapi belum dibaca dan belum dibalas." Sekilas menoleh ke arah majikannya yang juga tengah menatapnya penuh dengan sorot pertanyaan.
"Mungkin tuan sedang meeting dan belum sempat membuka ponselnya." Kemudian berbelok di area halaman sekolah begitu tiba. "Kita sudah sampai, Nyonya."
Diandra yang saat ini menatap ke sekeliling area halaman sekolah putranya, membuatnya menyadari jika selama ini berdosa karena berpikir jika Aksa adalah putra dari wanita lain yang diceritakan oleh Austin padanya.
Ia yang sudah mengingat semua hal tentang masa lalunya, kini tidak membuang waktu karena sudah beranjak dari kursi mobil begitu melepaskan sabuk pengaman.
__ADS_1
"Tunggu saja di mobil. Aku akan menjemput putraku dan kembali ke sini," ucap Diandra yang saat ini berharap bodyguard itu mau menuruti perintahnya karena jujur saja setelah mengetahui tentang masa lalunya yang dilupakan, seolah ingin kabur dari hadapan para bodyguard dan juga Austin serta orang tuanya karena menipunya habis-habisan layaknya orang bodoh.
Namun, ia merasa sangat kesal karena sama sekali tidak didengarkan. Ia yang sudah berada di luar mobil, melihat para bodyguard berjalan di belakangnya dan membuatnya mengembuskan napas kasar karena tidak bisa berbuat apapun untuk menolak ataupun mengusir mereka dari sekitarnya.
'Aku harus mencari cara lain untuk membuat mereka tidak terus-menerus membuntutiku seperti sekarang,' gumam Diandra yang saat ini sudah disapa oleh salah satu guru di sekolah putranya dan menyuruhnya untuk ikut ke kantor.
"Putra Anda saat ini masih berada di kantor, Nyonya Diandra," ucap seorang guru wanita yang tadi sudah mendapatkan perintah untuk menyambut kedatangan ibu dari anak laki-laki yang terjatuh dari ayunan.
Diandra yang merasa sangat khawatir pada keadaan putranya, berjalan cepat mengikuti wanita yang menyambutnya dan mengajak ke kantor. Bahkan saat semakin mendekat ruangan kepala sekolah, indra pendengaran menangkap suara tangisan dari putranya.
Ia bahkan sama sekali tidak menyangka jika putranya ternyata masih terus menangis dan berpikir jika saat ini tengah kesakitan. Jadi, sudah tidak sabar ingin melihat keadaan putranya dan mencoba untuk menenangkannya agar tidak terus menangis.
"Apa luka di punggung putraku parah? Dia pasti sangat kesakitan karena suara tangisannya terdengar sampai sini," ucap Diandra yang saat ini menatap ke arah wanita yang hanya menjawab singkat.
"Anda bisa melihatnya sendiri, Nyonya. Namun, kami sudah memastikan jika telah melakukan pertolongan pertama dengan memanggil dokter untuk mengobati putra Anda." Kemudian ia mengetuk pintu begitu tiba di ruangan kepala sekolah dan beberapa saat kemudian membukanya.
Ia ini bisa melihat bocah berusia 5 tahun itu tengah menangis di atas sofa dan berusaha ditenangkan oleh kepala sekolah, tapi gagal karena terus menangis.
"Nyonya Diandra sudah tiba, Bu," ucapnya yang beralih pada wanita di sebelah kirinya tersebut agar segera menenangkan bocah laki-laki yang terus menangis dan seketika memanggil sang ibu begitu melihatnya.
"Silakan masuk, Nyonya Diandra." Sang kepala sekolah langsung bangkit berdiri untuk menyapa ibu dari balita yang dari tadi ditenangkan, tapi gagal melakukannya karena tidak berhenti menangis.
Diandra yang menganggukkan kepala, seketika berjalan menghampiri putranya. "Sayang, Mama di sini. Yang mana yang sakit, Sayang?" Ia seketika memeriksa bagian belakang tubuh putranya untuk memastikan tidak ada luka parah.
Bahkan saat mencoba memeriksa bagian punggung putranya, bisa melihat seragam sekolah berwarna merah tersebut sampai sedikit koyak tepat di bagian luka seperti sebuah garis berukuran 5 cm.
Kemudian langsung memangku dan memeluk erat putranya karena merasa tidak tega. Apalagi putranya yang tadi langsung memanggil dan menghambur ke arahnya, sehingga pembuatnya langsung memeluk erat untuk menenangkan agar tidak terus-menerus menangis.
"Mamaaa ...." Bocah laki-laki itu hanya bisa menangis tanpa mengatakan apapun selain menyebut nama sang ibu.
Sementara itu, sang kepala sekolah menyuruh wanita yang tadi disuruhnya mengantarkan ibu dari muridnya tersebut keluar karena ingin berbicara empat mata.
Begitu itu ditutup dan setelah melihat Aksa jauh lebih tenang setelah dipeluk oleh sang ibu, sehingga tidak lagi menangis tersedu-sedu seperti beberapa saat yang lalu.
"Tuan Aksa tidak sudah diperiksa oleh dokter dan lukanya memang tidak perlu dijahit karena sudah diobati. Memang saya tadi meminta agar tidak di plester agar Anda bisa melihat sendiri bagaimana lukanya, daripada harus dicabut lagi. Jadi, dokter meninggalkan ini jika anda ingin menutup lukanya."
Kemudian ia menjelaskan tentang kejadian yang sebenarnya jika tadi Aksa memaksa untuk ikut ayunan yang sudah penuh dan akhirnya terpaksa berdiri di tepi sambil berpegangan ketika diayun oleh salah satu teman.
"Jadi, salah satu temannya mengayun sangat kuat dan membuat tuan Aksa terjatuh. Kami dari pihak sekolah ingin meminta maaf pada Anda dan juga suami karena ceroboh tidak memperhatikan keselamatan putra Anda." Ia tidak ingin hubungan antara wali murid dan pihak sekolah memburuk hanya karena kejadian seperti ini.
Jadi, langsung mengungkapkan penyesalan agar tidak ada kesalahpahaman di kemudian hari.
Saat ini, Diandra yang masih berusaha untuk menenangkan pikiran karena kejadian hari ini membuatnya tidak bisa berpikir jernih dan menanggapi perkataan dari kepala sekolah itu.
Apalagi saat ini berpikir untuk kabur dari hadapan semua orang yang mengenalnya agar bisa hidup tenang hanya bersama dengan putranya yang saat ini dipeluk erat dan sudah tidak menangis lagi.
__ADS_1
"Saya mengerti, Miss. Bahwa kejadian yang tidak diinginkan seperti ini pasti bisa terjadi di manapun. Apalagi anak-anak yang selalu aktif dan tidak bisa dikendalikan terus menerus, pasti akan mengalaminya. Jadi, Saya tidak akan menyalahkan siapapun di sini."
Diandra melihat beberapa obat di atas meja dan juga plester yang tadi dikatakan oleh kepala sekolah tersebut.
"Nanti biar saya yang mengobati Aksa di rumah, tapi tidak akan membawa plesternya karena hanya akan melambatkan proses pengeringan luka setelah diobati karena tertutup dan tidak mendapatkan udara." Diandra saat ini menatap ke arah putranya yang masih memeluknya dengan erat.
Dulu ia merasa sangat aneh ketika dekat dengan Aksa yang dikatakan merupakan putra dari wanita lain oleh Austin ketika menciptakan sebuah konspirasi besar dalam hidupnya, kini ia menyadari semua alasannya.
"Sayang, Mama ada di sini dan akan menyembuhkan luka Aksa, oke. Jagoan Mama adalah anak yang sangat kuat seperti superhero. Jadi, tidak boleh terus menangis seperti anak perempuan yang cengeng," ucap Diandra yang saat ini berpikir jika putranya hanya bisa diam saat ia tenangkan.
Itu karena ikatan batin antara ibu dan anak memang sangat kuat dan kini menyadarinya bahwa Aksa ternyata adalah bayi yang dulu dilahirkan dengan mempertaruhkan nyawa tanpa suami yang menemani.
Mengingat akan kejadian di masa lalu, ia kembali memikirkan sosok pria yang telah menipunya hanya untuk bisa menikah dan memilikinya. Mengingat dan menyadari akan hal itu, membuatnya ingin merutuki kebodohannya.
'Bagaimana mungkin aku bisa hidup penuh kepalsuan selama lebih dari satu tahun dengan pria yang bahkan sangat kubenci di masa lalu. Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku benar-benar tidak tahu karena hidupku diawasi oleh para bodyguard suruhan Austin Matteo,' gumam Diandra yang saat ini merasa gelisah dan tidak tenang setelah ingatannya kembali.
"Mama, ayo pulang. Mau es krim," lirih Aksa dengan suara serak karena efek menangis dan masih tidak melepaskan pelukan dari sang ibu.
Saat ini, Diandra seketika menganggukkan kepala dan mengusap lembut kening putranya yang sudah jauh lebih baik karena meminta sesuatu. "Baiklah, Sayang. Kita pulang sekarang dan membeli es krim yang banyak, tapi janji tidak boleh nangis lagi, ya?"
"Iya," ucap Aksa yang saat ini menghapus bulir air mata di wajah.
Diandra saat ini mengambil sapu tangan dari saku dan membersihkan karena tidak tega melihat putranya melakukannya sendiri setelah berjanji padanya.
Setelah melihat putranya sudah jauh lebih baik, ia beralih menatap ke arah kepala sekolah setelah bangkit berdiri dari sofa dan menggendongnya. "Kalau begitu, saya pamit undur diri, Miss. Aksa akan masuk lagi setelah luka di punggungnya sembuh."
"Iya, Nyonya Diandra. Sekali lagi saya minta maaf atas kecerobohan dari pihak sekolah hingga membuat putra Anda terluka. Semoga tuan Aksa bisa cepat sembuh dan kembali masuk seperti biasanya karena pasti teman-temannya sangat merindukannya saat tidak masuk sekolah." Mengambil obat yang ada di atas meja dan menyerahkan pada wanita tersebut.
Diandra yang saat ini menggendong putranya, tersenyum simpul dan menerima obat dari kepala sekolah. "Terima kasih, Miss. Semoga putra saya segera sembuh dan kembali masuk sekolah."
Kemudian ia berjalan menuju ke arah pintu keluar dan seperti biasa 2 bodyguard sudah menjaga di sana. Saat ia baru saja berjalan, mendengar suara bodyguard yang berbicara.
"Biar saya yang menggendong tuan Aksa, Nyonya.
"Tidak perlu karena putraku hanya ingin aku yang menggendongnya saat kesakitan," ucap Diandra yang saat ini mendengar suara dering ponsel miliknya.
Ia tidak berniat untuk mengangkat panggilan karena tengah menggendong putranya, hingga begitu tiba di mobil, duduk di belakang sambil memangku putranya.
Panggilan telepon tadi cepat mati dan kini berbunyi lagi, sehingga terpaksa mengangkat dan sudah bisa menebak siapa yang menelpon karena hanya ada satu orang yang mengetahui nomor barunya, yaitu Austin Matteo yang merupakan suaminya.
Saat ia menurunkan putranya di sebelah kiri agar bisa mengambil ponsel di saku gaunnya, kini seolah menyadari tentang alasan pria itu over protektif padanya akhir-akhir ini.
'Apakah dia melakukannya karena tidak ingin aku dihubungi oleh Yoshi? Jadi, hanya Austin Matteo yang mengetahui nomorku karena Ingin membuatku selamanya tidak mengingat tentang masa lalu yang berhubungan dengan Yoshi?' gumam Diandra yang saat ini masih menatap ke arah layar ponsel yang menunjukkan panggilan dari sang suami.
Ia bahkan merasa perasaannya bergejolak ketika mengingat semua hal yang terjadi padanya dengan pria yang dari dulu sangat dibenci, tapi sekarang merasa bingung dengan perasaannya.
__ADS_1
To be continued...