Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Sebuah mainan


__ADS_3

"Ciee ... ada yang cemburu," seru Patrick ketika dari tadi melihat interaksi dari sahabatnya yang seperti tengah menunjukkan cintanya pada wanita yang dianggap sangat pendiam tersebut.


Sementara itu, Mirza saat ini hanya terkekeh geli melihat ulah sahabatnya. Sebenarnya ia ingin memberikan potongan kue pertama pada pria yang telah membelikan kue ulang tahun palsu tersebut, tapi sengaja menggoda dengan memberikan pada Diandra.


Tentu saja ia sudah menduga semuanya dan kini hanya tertawa melihat sahabatnya tengah memperlihatkan sebuah kecemburuan.


"Maaf karena aku lupa ada seorang pria posesif di sini." Kemudian Mirza kembali memotong kue dan memberikan pada dua sahabatnya yang lain dan terakhir pada Diandra karena tidak ingin Austin kembali kesal padanya.


Saat mengunyah potongan kue yang melumer di dalam mulut dengan rasa coklat tersebut dan itu adalah kesukaannya, Austin menepuk pundak sahabatnya.


"Jika lain kali kau melakukan itu, akan kupastikan membuatmu karena berani melirik kekasihku! Namun, sebelum itu, Happy birthday, Bro. Cepatlah cari wanita yang bisa kau lirik dan juga bisa mencintaimu, sehingga tidak lagi merasakan kesepian karena tidak laku."


"Sialan!" ucap Mirza dengan wajah kesal pada kalimat terakhir yang baru saja diungkapkan oleh sahabatnya tersebut karena bernada ejekan.


Sementara dua sahabat yang lain malah tertawa terbahak-bahak dan tentu saja membuatnya ingin sekali menunjuk lengan kekar mereka, tapi tidak melakukannya karena mendapatkan nada protes dari tempat wanita yang tidak diberikannya kue.


"Apakah kami tidak mendapatkan jatah kue ulang tahun, Tuan Mirza?" tanya empat wanita dengan serempak karena dari tadi menunggu diberikan kue black forest yang sudah membuat mereka meneteskan air liur.


Sebenarnya Mirza tidak ingin berdekatan dengan para wanita penghibur yang memakai pakaian seksi alias kurang bahan tersebut, tapi karena tidak ingin dianggap seorang pria tidak berperasaan, akhirnya memberikan potongan yang sama pada mereka.


"Maaf, aku lupa. Nanti kalian bisa menghabiskan sisanya karena kami menggunakan sedikit saja." Kemudian ia menoleh ke arah wanita yang berubah menjadi pendiam hari ini karena tidak banyak membuka suara.


"Diandra, kalau mau lagi, bisa memotong sendiri kuenya." Berbicara sambil melirik ke arah sahabatnya karena tidak ingin mendapatkan kemurkaan. "Atau kekasihmu saja yang nanti mengambilkan jika ingin lagi."


Peka adalah sebuah hal yang jarang dilakukan oleh seorang Austin karena selama ini para kekasihnya lah yang selalu menuruti perintahnya, sehingga ia tidak perlu susah payah untuk membuat senang semua wanitanya.


Namun, ketika bersama dengan Diandra semua itu tidak terjadi karena ia selalu bersabar menghadapi wanita yang ingin ditaklukannya tersebut.


"Apa kamu mau lagi, Sayang? Bukankah para wanita lebih suka diet ketat dan tidak banyak menikmati makanan manis?" Austin melihat saat Diandra tidak kunjung menghabiskan potongan kue yang hanya berukuran kecil tersebut.


Refleks Diandra menggelengkan kepala karena sebenarnya sangat menyukai kue black forest yang diketahui memiliki harga lebih mahal dari lainnya.


Karena bahan-bahan yang digunakan lebih premium dan juga rasa tidak diragukan lagi ketika melumer di lidahnya. Apalagi ia yang pernah berulang tahun, hanya dibelikan kue biasa dan tentu saja dengan harga lebih murah.

__ADS_1


Itupun tidak setiap tahun karena terakhir mengingat orang tua membelikan kue saat masih duduk di bangku SD. Sebuah ritual yang jarang dilakukan oleh keluarga dari kalangan menengah ke bawah dan tidak setiap tahun merayakan.


Karena mengingat uang yang pas-pasan dan hanya bisa untuk kebutuhan sehari-hari saja. Bagi di kalangan menengah ke bawah, yang terpenting adalah bisa membeli beras dan juga sayuran serta terkadang lauk pauk.


Meskipun tidak setiap hari membeli lauk pauk jenis protein tinggi untuk memenuhi kebutuhan tubuh karena sarinya membeli kerupuk yang tentu saja harganya jauh lebih murah dibandingkan ikan dan daging.


Bahkan hanya makan daging saat dari kurban saja dan itu pun tidak beli karena diberi. Namun, Sayang sudah menjadi rutinitas tersebut tidaklah membuat Diandra mengeluh saat kecil.


Kini, ia beralih menatap ke arah pria di sebelah kanannya. "Aku dari dulu sangat menyukai kue black forest, tapi hari ini seperti tidak berselera menikmatinya karena memikirkan sesuatu yang mengganggu pikiranku."


Austin yang sebenarnya mengetahui apa yang dipikirkan oleh Diandra, kini hanya berpura-pura untuk bertanya. "Apa yang mengganggu pikiranmu, Sayang?"


Kemudian ia menepuk dadanya untuk memperlihatkan sebuah kesombongan di depan semua orang yang ada di ruangan tersebut.


"Kamu punya aku dan pastinya semua masalah yang kamu hadapi bisa aku selesaikan. Jadi, katakan saja!"


"Tidak, bukan apa-apa." Diandra tidak mungkin berbicara di depan semua orang dan mempermalukan diri sendiri karena ingin menyampaikannya empat mata.


'Mana mungkin aku meminjam uang di hadapan banyak orang? Itu sama saja dengan mempermalukan diri sendiri,' gumam Diandra yang saat ini ingin segera acara yang dianggapnya sangat memuakkan dan membosankan tersebut segera berakhir.


"Di tempat kost ada aturan yang harus dipatuhi ketika berada di sana. Jika melanggarnya, sudah pasti aku akan disuruh keluar dari tempat kos." Diandra berpikir dengan berkata seperti itu akan membuat Austin segera mengajaknya pulang.


Namun, ia sangat terkejut dengan respon dari pria yang malah membuatnya seperti seorang wanita murahan.


"Tenang saja, karena jika kamu diusir dari tempat tinggal sempit dan jelek itu, tinggal saja di apartemenku. Di sana jauh lebih nyaman dan tempatnya lebih luas sepuluh kali lipat dari kamar sempit itu."


Austin yang langsung menyahut dan mengingat ruangan kamar yang dianggap sangat sempit dan menurutnya tidak nyaman itu, seketika mengungkapkan niatnya untuk membuat senang Diandra.


"Kamu adalah wanita pertama yang kutawarkan untuk tinggal di apartemenku. Jadi, kamu harus bangga karena telah meluluhkan seorang Austin yang dingin."


Melihat kalimat bernada rayuan dari sahabatnya, tentu saja membuat tiga pria yang lain merasa mual dan menunjukkan sikap seperti tengah muntah serta tertawa.


Sementara itu, Diandra hanya tersenyum masam menanggapi hal tersebut karena saat ini berpikir bahwa apa yang dikatakan oleh Austin menghina harga dirinya sebagai seorang wanita lajang yang selama ini menjaga kehormatan diri.

__ADS_1


'Apa aku terlihat seperti seorang wanita murahan yang dengan mudahnya menerima tawarannya? Apalagi di dunia ini tidak ada yang gratis dan tidak mungkin seorang penjahat wanita sepertinya tidak mengincar sesuatu dariku ketika menawarkan apartemen.'


Diandra laki-laki hanya bisa berkeluh kesah di dalam hati dan berakting tersenyum seperti sangat senang mendapatkan sebuah tawaran luar biasa yang tentu saja sangat diharapkan oleh para wanita materialistis serta suka mengobral tubuh demi mendapatkan sebuah kemewahan.


"Aku sudah sangat nyaman berada di tempat kos dan tidak ingin pindah ke apartemenmu. Namun, mungkin berubah pikiran jika kita sudah menikah."


Tentu saja kalimat terakhir yang diajukan oleh Diandra seketika membuat para sahabat Austin bertepuk tangan.


"Wah ... ternyata kamu sangat pintar, Diandra karena tidak masuk dalam jebakan seorang Casanova seperti Austin." Oscar berbicara sambil terkekeh dan mendapatkan sebuah bogem mentah dari Austin, sehingga langsung mengangkat jari telunjuk serta tengah.


"Peace, Brother." Tersenyum simpul sambil menampilkan wajah memohon agar dimaafkan dan tidak mendapatkan kemurkaan dari sahabatnya.


"Sialan!" rengut kesal Austin ya saat ini masih mengepalkan tangan dan ditunjukkan pada sahabatnya yang baru saja mengejek.


"Tapi benar apa yang dikatakan oleh Diandra bahwa wanita butuh niat serius dari seorang pria yang menjadi kekasihnya. Justru kau harus bangga pada kekasihmu, Bro." Mirza berbicara sambil menatap Diandra dan mengarahkan ibu jari.


"Bagus, Diandra. Lanjutkan perjuanganmu untuk merubah bajingan tengik ini. Aku adalah orang pertama yang sangat mendukungmu." Kemudian ia ingin memastikan waktu.


"Sudah jam sebelas. Kamu memang harus pulang karena seorang wanita macam dan tinggal di tempat kos memang tidak pantas yang lebih dari jam 12 malam. Nanti malah dikira kamu bekerja di tempat seperti ini."


Kemudian Mirza beralih menatap ke arah sahabatnya. "Cepat antarkan kekasihmu pulang! Jangan sampai mendapatkan teguran dan diusir dari tempat kos karena itu malah menghina harga dirinya sebagai seorang wanita karena dianggap bukan menjadi wanita baik-baik."


Sebenarnya Austin sangat tidak menyukai perintah dari sahabatnya yang seolah mendikte kehidupannya, tapi karena berpikir bahwa semua yang dikatakan oleh Mirza benar, sehingga kini bangkit berdiri dan mengeluarkan tangan pada Diandra.


"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang sekarang karena tidak ingin kekasihku dicap sebagai wanita nakal. Ayo, kita pulang sekarang!" Masih menunggu sampai Diandra menyambut uluran tangan.


Karena memang dari tadi ia menunggu hal itu, seketika Diandra menyerahkan tangannya demi bisa berakting seperti yang diinginkan oleh pria itu.


"Baiklah. Kita pulang sekarang." Kemudian dari menatap ke arah tiga dia untuk berpamitan tanpa memperdulikan empat wanita yang dianggapnya menghalalkan cara untuk mendapatkan uang.


"Kami pergi dulu. Selamat bersenang-senang. Oh ya, selamat ulang tahun, Dokter Mirza. Semua doa terbaik terbaik untuk Anda dan lain kali jangan merayakan di tempat seperti ini lagi karena menodai nama baik seorang dokter yang selama ini menyelamatkan hidup para pasien."


Mirza hanya tersenyum masam mendengar ucapan selamat berakhir dengan sebuah ejekan karena ulah sahabatnya.

__ADS_1


'Itu lebih pantas kau ucapkan pada pria yang ada di sebelahmu,' gumam Mirza yang hanya bisa mengungkapkan dalam hati dan kini menatap siluet sahabat serta wanita yang dianggap hanyalah sebuah mainan oleh seorang Austin Matteo.


To be continued...


__ADS_2