Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Menyelamatkan putrinya


__ADS_3

"Apa kamu ingin segera menikah dengan Austin, Diandra? Padahal baru tadi Austin mengungkapkan niat baik untuk melamarmu," tanya sang ibu yang tadi mendapatkan sebuah kode dari sang suami agar bertanya pada putri mereka.


Kemudian sang ayah mulai menyahut setelah sang istri membuka perbincangan. "Sepertinya kamu sangat mencintai bosmu itu, sehingga langsung langsung mengatakan bersedia menikah secepatnya di rumah sakit tanpa menunggu kesembuhan terlebih dahulu."


Diandra saat ini hanya terdiam dan bimbang untuk mengatakan yang sebenarnya pada orang tua. Bahwa sebenarnya tengah memikirkan keadaan mereka yang memiliki banyak utang.


Jadi, berpikir ketika menikah dengan Austin akan membantu orang tuanya yang kesusahan. Memang kelihatannya seperti sedang memanfaatkan bosnya tersebut, tapi ia berpikir bahwa melihat kesempatan besar yang bisa mengubah hidupnya, mana mungkin akan disia-siakan.


Apalagi setelah melihat kakinya yang cacat, berpikir tidak akan ada pria manapun yang mau dengannya, sehingga begitu bosnya melamar, sama sekali tidak menolak.


Apalagi ia akui bahwa bos di perusahaan tempat ia bekerja memiliki paras yang rupawan dan juga tubuh ideal, sehingga menjadi idaman banyak wanita.


Dulu ia tidak percaya diri dan berpikir bahwa Austin hanya ingin bermain-main dengannya karena penasaran seperti yang dilakukan pada para wanita yang menjadi kekasih pria itu.


Jadi, mencoba untuk membangun benteng kokoh di antara mereka karena khawatir akan lemah jika selalu bersama Austin yang diketahui sangat pintar mencari perhatian seorang wanita.


Bahkan ketika Austin selalu bersikap manis padanya, sebenarnya merasa berbunga-bunga, tetapi tidak menunjukkan karena berpikir akan terlihat seperti seorang wanita lemah yang gampang didapatkan.


Sementara itu, setelah hari ini pria itu mengungkapkan niat untuk menikahinya ketika keadaannya sangat mengenaskan, sehingga berpikir bahwa Austin merupakan seorang pria luar biasa dan tidak mungkin ditolak ataupun disia-siakan.


Diandra merasa percaya diri ketika ada pria hebat yang melamarnya meski dalam keadaan tidak sempurna sebagai seorang wanita.


Kini, ia memilih untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya, tapi mau menyembunyikan alasan utama ingin memanfaatkan Austin demi mengubah kemiskinan keluarganya karena mengetahui bahwa pria itu memiliki banyak uang dan bisa melunasi utang-utang keluarganya di kampung.


Diandra berpikir bahwa sekarang tidak bisa bekerja dan pastinya akan menjadi beban orang lain, khususnya Austin yang akan menjadikannya istri.


Namun, tekadnya sudah kuat untuk bisa berjalan lagi setelah pria itu mengatakan bahwa akan melakukan apapun untuk bisa membuatnya kembali normal seperti dulu. Ia menganggap bahwa Austin sangat mencintainya dan mau menerima kekurangannya, sehingga tidak akan disia-siakan.


Kini, Diandra menatap orang tuanya yang menunggu jawaban. "Aku merasa sangat terharu begitu mendengar niat baik bosku. Di dunia ini, mana ada seorang pria yang mau menikahi wanita cacat tanpa ragu."


"Bahkan tadi aku melihat bosku itu sangat tulus ketika mengungkapkan niat baik untuk menjadikanku istri. Aku tidak akan pernah menemukan pria sebaik itu. Jadi, tadi berpikir harus segera mengesahkan pernikahan kami karena takut jika ada wanita lain yang mengincarnya."


Saat ini, orang tua Diandra mulai mengerti alasan apa yang membuat putri mereka mengambil keputusan tanpa pikir panjang. Namun, karena ada masalah yang penting dan tidak bisa diterjang begitu saja, sehingga saat ini pasangan suami istri tersebut memutar otak untuk membuat putri mereka berubah pikiran.

__ADS_1


Dimulai dari sang ibu yang saat ini sudah duduk di tepi pembaringan putrinya dan beberapa kali mengusap punggung tangan dengan jemari lentik tersebut.


"Ibu memang sangat menyukai bosmu itu, tapi pernikahan membutuhkan banyak persiapan. Lagipula, kondisimu sedang tidak memungkinkan seperti ini."


Ingin mencoba merubah pikiran putrinya agar tidak terburu-buru untuk menikah karena memang harus menunggu hingga proses perceraian yang diajukan oleh keluarga Narendra selesai, sang ayah saat ini tengah memikirkan sesuatu.


Bahwa semuanya akan kacau jika tiba-tiba pengacara dari pihak keluarga Yoshi datang ke ruangan untuk berbicara dengan Diandra mengenai kasus perceraian.


"Ibumu benar. Kamu harus pulih dulu, baru menikah karena kasihan Austin nanti. Masa pengantin baru, tapi tidak bisa berbuat apapun pada istri yang sedang dirawat di rumah sakit."


Diandra yang mengerti ke mana arah pembicaraan dari sang ayah, seketika merona karena merasa malu. "Ayah bicara apa? Bikin malu saja."


"Sebenarnya Ayah hanya bercanda. Poin penting mengenai pernikahan kalian adalah penyatuan dua keluarga. Jadi, harus menunggu respon keluarga bosmu karena belum berbicara dengan mereka."


"Jika disetujui, mereka pasti menginginkan pernikahan mewah karena hanya mempunyai satu putra yang pastinya akan menjadi pusat perhatian ketika menikah. Keluarganya pasti akan menggelar pesta pernikahan megah di gedung hotel seperti di TV."


Diandra sama sekali tidak berpikir ke sana karena tadinya setuju menikah dengan Austin dan akan secepatnya karena pria itu menginginkannya.


"Baiklah. Aku tidak akan memintanya secepatnya untuk menikahiku. Tadi aku hanya berpikir tidak ingin kehilangan pria tulus sepertinya." Diandra kini mengalihkan perhatian pada pintu ketika mendengar suara gaduh dari luar.


Suara seorang wanita terdengar dan memanggil-manggil namanya serta seperti mengumpat. "Suara siapa itu? Kenapa seperti marah-marah dengan menyebut namaku?"


Refleks orang tua Diandra kini saling bersitatap dan sama-sama memikirkan hal yang sama. Refleks menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Biar Ayah cek dulu," ucap sang ayah yang buru-buru berjalan keluar karena tidak ingin sosok wanita yang tak lain adalah ibu dari Yoahi dan tak lain ibu mertua putrinya membuat keributan di depan pintu itu masuk ke dalam ruangan perawatan.


Begitu membuka pintu, ia menyipitkan mata karena melihat dua pria berbadan gempal berdiri di sana untuk menghalangi Asmita Cempaka masuk.


"Kebetulan sekali kau datang. Sepertinya kau sekarang telah menemukan mangsa baru, sehingga langsung mendapatkan pengamanan seperti putri kalian adalah orang penting saja."


"Bahkan aku yang ingin melihat seperti apa Diandra yang amnesia, tapi dilarang masuk," sarkas Asmita Cempaka yang masih mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi pada dua pria yang lebih tinggi darinya tersebut.


"Anda tidak boleh masuk karena akan membahayakan nyawa nona Diandra. Tugas kami di sini adalah melarang orang masuk demi kesembuhan pasien," ucap pria dengan kulit sawo matang tersebut penuh ketegasan.

__ADS_1


Sementara itu, sang ayah yang tadi sempat mengkhawatirkan jika wanita paruh baya itu mengatakan semuanya pada putrinya, seolah merasa lega karena saat ini tidak perlu merasa bingung dan takut lagi.


Namun, karena merasa penasaran dengan siapa dua pria itu, kini berjalan mengungkapkan hal yang ada di pikiran. "Sebenarnya kalian siapa?"


Salah satu pria mewakili untuk menjawab setelah sebelumnya membungkuk hormat. "Kami adalah orang suruhan tuan Austin yang bertugas di sini untuk melarang siapapun masuk, kecuali orang tua dan bos kami."


"Nak Austin?" Ia kini membulatkan mata karena tidak percaya jika ternyata pria yang dari dulu disukainya dan diharapkan menjadi menantu itu sudah memikirkan berbagai macam kemungkinan buruk.


'Ternyata nak Austin benar-benar sangat menjaga putriku dengan baik. Aku berharap putriku tidak akan menderita lagi karena dari dulu selalu hidup dengan banyak masalah. Semoga ia selamanya menjadi suami untuk putriku hingga ajal menjemput.'


Lamunannya seketika musnah begitu mendengar suara teriakan wanita yang kini terlihat memerah wajah.


"Aku hanya ingin membicarakan mengenai keadaan Yoshi dengan Diandra. Tidak ada yang lain karena hanya ingin wanita itu sadar bahwa sebelum hilang ingatan telah membuat putraku kritis." Asmita Cempaka saat ini benar-benar merasa sangat marah karena usahanya untuk membalas dendam gagal.


'Sial! Padahal aku ingin Diandra merasa bersalah karena telah membuat putraku koma, sedangkan wanita itu sudah sadar. Aku benar-benar tidak terima ini,' gumamnya yang saat ini berniat untuk berteriak memanggil Diandra.


Namun, tidak jadi melakukan itu begitu mendengar suara bariton dari saudaranya.


"Kak, dipanggil dokter untuk membahas masalah Yoshi," ucap sosok pria yang baru saja keluar dari ruangan dan membuat keributan di depan ruangan perawatan Diandra.


Sementara itu, Asmita Cempaka yang saat ini berpikir jika dokter akan membahas mengenai perkembangan putranya untuk dibawa ke luar negeri.


Tanpa memperdulikan apapun, kini ia berlalu pergi menuju ke ruangan dokter yang merawat putranya bersama saudaranya.


"Sepertinya dokter ingin memberitahu perkembangan Yoshi. Apakah bisa segera dibawa ke London atau tidak."


"Sepertinya begitu. Semoga mendapat kabar baik dari dokter," ucap pria yang kini berjalan di sebelah kakaknya.


Sementara itu, sang ayah merasa sangat lega karena Asmita Cempaka tidak bisa menggangu putrinya.


"Aku harus menghubungi nak Austin untuk melaporkan secara langsung." Kemudian mengambil ponsel miliknya dan menelpon calon menantunya yang baru saja menyelamatkan Diandra dari wanita tidak punya perasaan itu.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2