Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Momen keharuan


__ADS_3

"Sebenarnya tadi Aksa melakukan tindakan kekerasan pada temannya," ucap kepala sekolah yang saat ini memulai bercerita dengan nada lembut karena tidak ingin pasangan suami istri tersebut merasa marah ataupun kesal seperti yang dirasakan balita berusia 3 tahun tersebut.


Refleks Austin dan Diandra bersitatap begitu perkataan dari sang kepala sekolah membuat mereka sangat terkejut sekaligus tidak percaya karena selama ini Aksa belum pernah melakukan kekerasan pada siapapun.


Namun, Austin merasa ingin tahu mengenai apa yang menjadi penyebab putranya melakukan sebuah kekerasan pada teman karena seperti pepatah yang mengatakan tidak akan ada asap jika tidak ada api.


Pedoman itulah yang membuatnya yakin jika putranya melakukan sesuatu pada teman karena marah. Bahkan berpikir bahwa Aksa benar-benar mewarisi gen darinya karena bisa berbuat kasar jika ada yang mengusik ketenangan.


Saat ingin membuka mulut untuk berkomentar, tidak jadi melakukan karena kembali mendengar suara wanita paruh baya tersebut yang menceritakan mengenai kronologi sebenarnya.


"Bukan kekerasan yang terlalu parah, tetapi saya tidak ingin terjadi kesalahpahaman di antara para orang tua yang mungkin akan merasa marah akibat pertengkaran anak. Jadi, tadi saat jam istirahat, Aksa bermain dengan beberapa teman dan ada salah satu anak laki-laki yang mengatakan mengenai perihal nyonya Diandra."

__ADS_1


Sebenarnya, Paula merasa sangat tidak enak melanjutkan cerita, tetapi karena sebagai sebuah tanggung jawab, sehingga mengatakan pada wanita yang duduk di kursi roda tersebut.


"Teman yang bernama Richard mengatakan bahwa Aksa memiliki ibu tidak bisa berjalan. Mungkin karena kasih sayang pada Mommy-nya, jadi refleks memukul beberapa kali dan membuat Richard menangis."


Paula memang tidak mempertemukan antara orang tua dua anak tersebut karena ingin menyelesaikan secara individual terlebih dahulu untuk meminta pendapat terlebih dahulu.


Hal itu bertujuan untuk menghentikan kesalahpahaman antara para orang tua yang mungkin paling merasa benar dan tidak terima jika putranya disakiti.


Ia yang saat ini merasa sangat bersalah sekaligus terharu karena Aksa menunjukkan kasih sayang padanya dengan memukul teman yang menghina mempunyai seorang ibu yang cacat.


Ingin sekali berkomentar, tetapi suara tercekat di tenggorokan karena degup jantung berdetak jauh lebih cepat saat ini ketika ledakan keharuan seperti menyeruak di dalam diri.

__ADS_1


Bahkan jika mungkin membuka suara, tidak kuasa untuk menahan diri karena pastinya akan menangis. Bukan tangis penuh kesedihan, tapi merupakan sebuah kebahagiaan karena Aksa sangat menyayanginya dan menganggap seperti ibu kandung.


'Ya Tuhan, aku tidak menginginkan sesuatu yang muluk-muluk karena sudah mendapatkan semua kebahagiaan setelah bertemu dengan Austin dan Aksa. Aku hanya ingin bisa kembali berjalan dan tidak mempermalukan mereka,' gumam Diandra yang saat ini melihat sang suami berjalan mendekat dan menurunkan Aksa di pangkuan.


"Aksa sangat menyayangimu, Sayang. Jadi, jangan menyalahkannya yang menunjukkan kasih sayang padamu." Austin bisa melihat wajah muram Diandra yang pastinya tengah memikirkan mengenai masalah kaki yang mengalami masalah setelah kecelakaan.


Jadi, hanya bisa menghibur dengan cara menunjukkan kasih sayang seorang anak pada ibu. Bahwa seorang anak tidak ingin mendengar penghinaan ditujukan pada wanita yang telah melahirkan ke dunia.


Begitu melihat Diandra hanya tersenyum simpul sambil mengusap lembut punggung putranya yang memeluk erat, saat ini beralih menatap ke arah kepala sekolah tersebut.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2